
"Pokoknya tugas lo sebagai istri dimulai besok ya? Jangan harap bisa lari dari tanggung jawab lo jadi istri!" Kata Regan, dia menatap Adera yang sedang membenahi baju-baju kesehariannya yang baru saja dibelikan Regan untuknya tadi.
Adera menoleh ke Regan dimana lelaki itu sedang tertidur menghadapnya diatas ranjang dengan kepalanya ditumpukkan ke tangannya.
"Iya, bawel lo." Cibir Adera, lalu dia kembali merapikan baju-baju barunya ke dalam lemari Regan.
Ada banyak ringkisan baju yang di bawakan bodyguard-bodyguard Regan tadi. Bajunya pun banyak pilihan, bahkan baju-baju itu semuanya adalah pakaian sehari-hari favoritenya. Dan di ringkisan itu juga, terdapat beberapa pakaian dalam.
Sebenarnya Adera malu mengakuinya, namun kenapa Regan bisa mengetahui ukuran pakaian dalamnya? Apa ini kebetulan?
"Awas aja kalo lo lari dari tanggung jawab sebagai istri. Gue laporin lo, atas tidak pernah melayani suami dengan benar." Ancam Regan.
Adera terdiam dan menoleh lagi ke Regan dengan cepat. "Emang bisa dilaporin?" Tanya Adera.
"Bisa lah. Gue banyak uang, jadi apa aja bisa gue lakuin." Ucap Regan dengan sombongnya.
Adera mengangkat sudut bibirnya, mencibir Regan. "Cih!" Decihnya.
Adera mengeluarkan baju lagi dari dalam ringkisan. Ketika dia mengeluarkan bajunya, keningnya mengkerut bingung. Baju yang dipengangnya sekarang seperti baju seksi namun tidak teransparan. Baju apa itu sebenarnya?
Adera menunjukkan baju di tangannya ke Regan. Keningnya masih mengkerut bertanda dia bingung. "Ini baju apa? Kenapa lo jua ngebeliin gue baju gituan?" Tanya Adera.
"Itu baju seragam lo saat melayani suami." Jawab Regan santai. Dia sekarang mengotak-atik remot tv, mencari channel tv yang menarik.
"Seragam? Gue buang ya, gak sopan begini bajunya." Ucap Adera sambil melihat-lihat baju seksi itu lagi.
Regan berdecak. "Kalo lo buang bajunya, berarti lo gak ngehargai pemberian suami."
"Terus buat apaan? Gue gak mau ya pake baju beginian."
"Harus mau lah, biar suami senang."
"Yaudah lah, gue simpen dulu." Gumamnya, dia melipat baju seksi itu dan menaruhnya ke dalam lemari.
"Nah selesai. Gila, niat banget lo beliin baju sebanyak ini buat gue. Padahal baju gue di rumah bapak banyak." Kata Adera setelah sudah menaruh semua baju yang dibelikan Regan ke dalam lemari.
"Bilang apa lo."
"Thanks." Ucap Adera tidak niat.
"Apaan, yang bener, yang lemah lembut, juga dengan kata-kata yang romantis!"
Adera menatap Regan datar. Dasar menyebalkan. Dengan malas, Adera duduk di atas ranjang tepatnya disebelah Regan tiduran.
Regan menatap Adera, menunggu aksi Adera dalam misi mengucapkan terimakasih padanya dengan romantis.
Adera mengambil salah satu tangan Regan, menggenggamnya. Lalu dia memasang wajah yang sok imut. "Telimakasih udah beliin baju balu buat Adela.." ucap Adera seperti anak kecil.
"Pffttt," Regan menahan tawanya.
"Udah kan."
__ADS_1
"Apaan belom. Kan gue suruh romantis bukan sok imut begitu, jijik gue. Coba lagi."
Adera benar-benar kesal dengan Regan. Bisa-bisanya mempermainkannya seperti ini.
"Ayo." Regan sudah tidak sabar dengan aksi Adera selanjutnya.
Cup!
Secara mendadak Adera mengecup pipi Regan, secepat kilat dia langsung menjauhkan wajahnya.
Regan yang menerima kecupan dari Adera tersenyum, dia menyentuh pipinya sendiri. Regan menyukai cara Adera berterimakasih padanya.
"Terimakasih." Kata Adera. "Udah ah, gue mau mandi, pake baju baru, yuhuu." Adera turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi dengan melompat-lompat kecil.
Regan yang melihat Adera masuk ke kamar mandi terkekeh. Padahalkan Regan sudah melarangnya menggunakan kamar mandi itu tapi tetap saja Adera ngeyel.
"Jangan lama-lama!" Teriak Regan.
Adera membuka lagi pintu kamar mandi dengan pakaian yang masih melekat ditubuhnya. "Kenapa emangnya?" Tanyanya.
"Cari makan diluar." Kata Regan.
Adera tersenyum lebar, tahu saja Regan kalau Adera lapar. "Iya, semenit juga gue udahan." Kata Adera dan selanjutnya menutup kembali pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
"Cepet, lewat sedetiknya gue cancel!"
"Bawel!" Sahut Adera dari dalam kamar mandi.
"Lo lama, jadi gak jadi makan diluar!"
Adera yang sudah rapi-rapi tidak menyangka Regan membatalkan makan diluar dengan gampangnya.
Padahal dia sudah berusaha cepat-cepat mandi, dan juga berpakaian bahkan dia tidak sempat mngeringkan rambutnya. Dan seenaknya lelaki itu membatalkannya? Adera tidak terima.
"Lama apaan, gue cuma ngabisin waktu lima menit ya buat mandi sama pake baju!" Protes Adera.
Regan yang duduk disofa dengan gaya angkuhnya, mengangkat sebelah alisnya. "Perjanjiannya cuma satu menit dan lo makan waktu lima menit. Jadi, gue batalin." Ucap Regan dengan santainya.
"Idih apaan, emang gue tanya lo bisa mandi cuma satu menit?!" Adera protes lagi.
"Gue? Tentu aja gak bisa. Gue butuh bersihin diri sebersih mungkin, jadi gue gak mau sejorok dan sebau lo."
Adera tidak habis pikir dengan Regan. Dia beneran orang gila bukan sih? Kok nyebelin banget.
"Kok lo gitu sih?" Kesal Adera.
"Ya itu salah lo lah. Kenapa lama?"
Adera menghebus nafas kasar. "Heh, gue itu cewek paling cepet ya! Cewek lainnya malah sampe satu jam. Satu jam!"
"Tetep aja sama. Lo sama-sama bikin gue nunggu." Regan menyenderkan kepalanya di senderan sofa sambil memperhatikan Adera yang kesal dengannya.
__ADS_1
"Mati aja kek lo sono!" Kesal Adera, dia beranjak pergi ke kamar lagi dengan menghentak-hentakan kakinya kesal.
Regan yang melihatnya hanya tersenyum, dia puas sekali mempermainkan gadis itu. Padahal dia juga tahu, Adera adalah satu-satunya gadis dengan pemecah rekor berdandan paling cepat. Ya, walaupun dia sepertinya tidak pernah berdandan sih.
Namun entah kenapa Regan menyukai wajah kesal Adera. Itu menjadi kesenangannya sendiri.
Padahal Regan membatalkan makan diluar karna dia sudah memesan makanan online untuknya dan juga untuk Adera namun menjahilinya ternyata seru juga.
Di dalam kamar Adera mengumpati Regan berulang kali. Kenapa sih lelaki itu senang sekali mempermainkannya? Memang dia tidak tahu apa, kalau Adera sangat bersemangat saat dia mengajak Adera makan diluar?
Huft, kalau begitu tadi Adera tidak terlalu bersemangat dengan ajakan lelaki itu. Tapi perut Adera sangat lapar sekarang.
"Deraaaa!" Teriak Regan dari luar.
Adera yang mendengar suara teriakannya semakin kesal. Suara teriakannya itu mengganggu telinga Adera.
Adera tidak mempedulikan teriakan itu, dia hanya duduk di tepi ranjang seperti kambing conge yang meratapi perutnya yang kelaparan.
Ting!
Suara pesan masuk.
Adera mengambil ponsel dari atas nangkas. Dia membaca pesan tersebut dan betapa malasnya malah Regan yang mengirimnya pesan mana spam lagi.
Orang gila.
Cepet keluar!
Lo berani ninggalin suami sendirian diluar?
Keluar cepetaannn!
Sayang, keluar suami mu ini menunggu mu diluar.
Adera merasa jijik di pesan terakhir dari Regan. Apa-apaan dia, sok romantis sekali padahal aslinya sok ngatur, ribet, menyebalkan.
Karna tidak ingin membuat manusia itu berisik lagi, Adera akhirnya memutuskan keluar menemui lelaki itu lagi.
Dan ketika Adera keluar dari kamar, Regan menoleh kearahnya dan tersenyum. "Cepet nih makan kalo gak gue buang." Titahnya.
Senyum Adera mengembang, dia dengan cepat bergabung dengan Regan duduk di sofa. Banyaknya makanan di atas meja membuatnya bersemangat kembali.
"Makannya pelan-pelan. Mati keselek nanti malah gue yang repot" Tegur Regan ketika Adera makan dengan lahapnya.
"Iya-iya."
"Abis makan jangan lupa hadiah buat gue ya." Kata Regan.
Adera menatap Regan. Ternyata makanan itu tidak dibelikan dengan tidak cuma-cuma?
__ADS_1
Regan mendekatkan bibirnya ke telinga Adera. "Gue tunggu hadiahnya di kamar." Bisiknya.