Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Merindukannya


__ADS_3

Sepulang dari kantor, dengan membawa mainan yang dijanjikannya pada Raka, putranya. Adera masuk ke dalam rumahnya yang tidak terkunci itu. Adera menduga kalau ibu Amira, tentangga disebelah rumahnya yang suka membantunya menjaga Raka masih menemani Raka sekarang.


Dan kabetulan saja Adera membeli martabak manis dan mertabak telur untuk mereka makan bersama. Jujur saja, Adera mengganggap bu Amira sebagai ibunya. Semenjak bapak Iqbal meninggalkannya sejak dua tahun yang lalu, bu Amira lah yang selalu menemaninya.


Saat dia terpuruk dengan semua yang ia alami, bu Amira lah selalu ada disampingnya, memberinya semangat dan karna itu pula Adera menganggap bu Amira sebagai ibunya sambungnya, mengingat betapa perhatiannya dia pada keluarga Adera hingga kini.


"Mama pulang," kata Adera begitu dia masuk ke dalam rumahnya.


Bu Amira dan Raka yang kebetulan sedang menonton televisi bersama di ruang tamu langsung menoleh secara bersamaan.


Raka yang melihat mamanya baru saja pulang langsung berlari menghampiri Adera dengan senyuman lebar dibibirnya. "Yeay, mama pulang!" Serunya dengan ceria.


Adera tersenyum, dia membungkukan tubuhnya menerima pelukan anaknya. "Uhh, anak mama yang ganteng ini." Ucap Adera.


Raka melepaskan pelukannya, dia masih tersenyum lebar. Mungkin dia sangat menantikan apa yang Adera janjikan tadi pagi.


Adera yang seakan tahu tatapan anaknya itu, langsung memberikan bingkisan ditangannya kepada Raka. "Sesuai janji mama tadi, ini untuk tuan muda kesayangan mama." Kata Adera sembari memberikan bingkisan berisi mainan untuk Raka.


Dan Raga langsung menerimanya dengan senang. "Asik! Makasih mama, i love u." Raga mengecup pipi Adera dimana membuat hati Adera berbunga-bunga karnanya.


"I love u too," balas Adera dengan senyuman dibibirnya.


Bu Amira yang melihat Raka yang kesenangan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Seneng tuh dibeliin mainan baru,"


Raka menoleh ke bu Amira, dia menyengir lebar. "Iya dong, nenek Amira gak punya kan kayak Raka?"


"Mangkanya nenek pinjem ya nanti."


"Iya, nanti aku pinjemin ke nenek. Tenang aja."


Adera yang mendengar percakapan Raka dengan bu Amira tertawa. Anaknya itu selalu bersemangat jika dibelikan mainan baru dan itu membuat Adera senang, setidaknya Raka tidak akan menanyakan tentang keberadaan papanya lagi beberapa waktu.


Adera menghampiri bu Amira, dia menyalimi tangan bu Amira seperti orangtuanya sendiri lalu duduk disebelahnya.


"Kok baru pulang, Ra? Dari tadi si Raka nungguin kamu pulang tuh, sampe gak mau tidur dia." Kata bu Amira pada Adera.


"Iya bu, lembur aku, lumayan kan uangnya buat Raka beli mainan." Jawab Adera, dia menaruh kantung plastik berisi martabak diatas meja kopi. "Aku bawa martabak kesukaan ibu nih. Untung ibu belum tidur."

__ADS_1


Bu Amira tersenyum lebar. "Wah, tau aja kamu, Ra ibu lagi ngidam martabak."


"Sama nih bu, jangan-jangan Raka bakal punya adek sebentar lagi?" Mata Adera melotot menakuti bu Amira.


Bu Amira memukul pelan bahu Adera. "Ada-ada aja kamu."


Adera tertawa kencang sambil memakan martabak bersama bu Amira dengan Raka yang sudah sibuk dengan mainan barunya.


Padahal tentangga lainnya sering menyindir Adera dan mencibir bahkan mencap Adera sebagai jal*ng karna Adera pertama kali pindah kesini bersama bapaknya dalam keadaan hamil. Mereka berasumsi kalau Adera hamil tanpa pertanggungan orang lain dan mereka juga malah mengganggap Adera sebagai kupu-kupu malam yang sedang apes.


Namun hanya bu Amira yang menerimanya disini, bu Amira juga yang berusaha menguatkannya agar tidak mendengar cemohaan tentangga lainnya yang suka menyindirnya. Dan Adera tidak bisa melupakan kejadian-kejadian menyakitkan itu sampai sekarang walau adanya bu Amira tetap saja dia tidak bisa melupakan penderitaan yang menimpanya.


"Ibu mau bawa pulang ya"


......................


Disisi lain, Regan baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang digunakan untuk menggeringkan rambutnya yang basah.


Mendengar ponselnya berdering, Regan berjalan ke nangkas dimana ponselnya diletakan disana. Dengan malas dia membuka ponselnya dan ternyata notifikasi pesan dari Dito, selalu saja dia. Regan sampai bosan karna selalu dia yang selalu mengirimnya pesan.


Dengan mendengus, Regan menaruh lagi ponselnya diatas nangkas seperti semula. Dia sudah malas memainkan ponsel, percuma saja tidak ada yang spesial terkecuali sekretaris sialannya itu yang mengirim spam pesan padanya.


Mengapa hanya dia merasakan rindu yang tak tertolong ini? Apakah gadis itu juga merindukan sama halnya dengan Regan? Atau memang benar seperti ucapan Dito tempo hari, bahwa gadis itu sudah melupakannya dan mungkin sudah memulai hidup baru bersama lelaki lain.


Namun entah kenapa Regan tidak yakin dengan itu? Dia merasa memang dia sudah melupakan Regan namun Regan tidak yakin kalau dia akan menikah lagi dengan lelaki lain secara kan Regan masih suami sahnya. Tidak mungkin dia melupakan itu.


Apakah Regan sudah mencarinya? Tentu saja. Tidak pernah absen Regan berusaha mencari keberadaan Adera bahkan sampai kini dia tidak henti-hentinya mencari keberadaan Adera bagaimana pun caranya dia sudah lakukan tapi entah kenapa Regan tidak bisa menemukannya.


Seakan tuhan tidak memberi kesempatan lagi padanya untuk menemui kekasih hatinya. Regan tidak bisa menemukannya sampai sekarang. Dan yang bisa Regan lakukan hanya menunggu dan berharap jika dia dipertemukan kembali dengan gadis pujaan hatinya.


Setelah mengering rambutnya, Regan melempar begitu saja handuk kecil itu. Lalu dia merebahkan tubuhnya diranjang. Semejak kepergian gadisnya, setiap hari Regan merasa tidak bersemangat atau bisa dibilang dia tidak bersemangat menjalani hari-hari tanpa dirinya.


Tubuhnya lelah, namun dia tidak dapat beristirahat dengan nyenyak. Bahkan dia tidak pernah tidur terlelap semejak kepergian Adera, dan dia lupa kapan terakhir kalinya Regan tertidur dengan nyenyak.


"Adera, aku rindu kamu, selalu," gumam Regan, lalu berusaha menutup matanya walau dia tahu dia tidak akan bisa tertidur.


......................

__ADS_1


"Mama," panggil Raka.


Adera yang tengah melipat pakaian Raka menoleh ke anaknya yang tengah berbaring diranjang, memperhatikannya yang sedanv melipat baju ditepi ranjang. "Iya kenapa?" Sahut Adera.


"Mama bilang aku gak boleh bohong ke mama kan?" Kata Raka.


Adera menganggukan kepalanya. "Iya, emang Raka bohong apa ke mama, hm?" Tanya Adera dengan lembut.


Raka bangun dan duduk bersila diatas ranjang. Dia menatap Adera dengan wajah bersalah dan Adera pun mengetahui itu. "Aku gak bohong ke mama. Cuma aku mau cerita ke mama, tadi aku berantem sama temen lagi." Raka berkata jujur pada mamanya.


Adera memberhentikan gerakannya melipat baju, dia menatap Raka dengan kedua alis terangkat. "Jadi kamu berantem lagi, Raka?" Tanya Adera.


Adera sangat tidak suka Raka terus bertengkar dengan teman-temannya. Bukan, lebih tepatnya Raka lah yang memukul mereka semua, dan itu pun sudah berapa kalinya Raka melakukannya. Dan Adera tidak suka anaknya suka bertengkar dengan temannya walaupun dia tidak tahu alasannya.


Bayangkan saja seorang anak berumur lima tahun sering bertengkar dengan temannya, bukan bertengkar, malah Raka membuat teman-temannya terluka dan itu sudah sering terjadi, bahkan sampai pernah orangtua mereka datang ke rumah karna anak mereka terluka karna Raka.


Raka dengan takut menganggukkan kepalanya, dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Adera. "Iya, aku berantem." Jawab Raga cicit.


Adera menghebus nafasnya gusar. Dia mencapit kedua pipi Raka, melihat luka di wajah Raga namun tidak ada satu pun luka yang terlihat dimana pun. "Bukan berantem kan? Kamu mukul siapa lagi, Raga?"


Raka meremas bajunya. Dia hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Adera.


"Raka, kasih tau mama. Kenapa kamu selalu mukulin mereka, hm? Apa yang buat kamu marah sampe mukul mereka? Kasih tau mama, sayang." Kali ini Adera mencoba berbicara dengan lembut pada Raka.


"Mereka bilang aku gak punya papa, mereka juga bilang aku anak haram. Tapi aku gak marah mereka bilang begitu, aku marah karna mereka jelek-jelekin mama. Aku gak suka, ada yang jelek-jelekin mama. Maaf, aku mukul mereka." Jelas Raka membuat Adera terdiam.


Jadi itu alasan Raka memukul teman-temannya? Kenapa Adera baru mengetahuinya, Adera orangtua yang bodoh. Dia selalu saja langsung memarahi anaknya tanpa mendengar penjelasannya dahulu, Adera seketika merasa bersalah pada anaknya.


Dengan memberanikan diri Raka menatap Adera lagi. Dia menggenggam tangan Adera. "Mama gak marah sama aku kan? Aku minta maaf," kata Raka.


Adera menggelengkan kepalanya, dia menangis. Dia merasa telah melukai anaknya, dia seharusnya tahu kalau anaknya itu bukan anak nakal yang sukanya bertengkar. Seharusnya dia mendengarkan penjelasannya dahulu.


"Gak sayang, mama gak marah." Adera memeluk anaknya, dia menangis. Mendengar penjelasan Raka membuat Adera sedih, apalagi mendengar teman-temannya selalu mengejeknya dengan mengatainya anak haram.


"Maafin, mama sayang." Adera mencium pipi Raka berulang kali.


Raka membalas pelukan Adera, dia juga ikut menangis. "Raka janji Raka gak mukul orang lagi, mama jangan nangis, huhu,"

__ADS_1


"Raka sayang mama."


__ADS_2