Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Sedang Apa Dia?


__ADS_3

Di taman kanak-kanak, Adera menghantarkan Raka sampai ke kelasnya. Karna bisa saja kalau Adera tidak mengantarnya, Raka akan kabur seperti yang sering dia lakukan jika ada kesempatan.


Dan sudah sudah Adera duga , jika dia mengantar Raka sampai ke kelasnya, secara langsung dia akan bertemu pak guru Rian, guru yang mengajar anak-anak dan itu membuat Adera berjaga-jaga jika Raka nantinya mengamuk ketika gurunya mendekatinya.


Walaupun pak guru yang mengajar Raka itu masih terbilang muda, bahkan dia masih terbilang mahasiswa, tapi tetap saja membuat Adera agak sedikit kurang nyaman karna orangtua lainnya mengira yang tidak-tidak padanya.


"Selamat pagi, bu Adera cantik nan imut bak seorang barbie," sapa Rian, guru muda yang mengajar Raka itu dengan senyuman dibibirnya.


Adera membalas senyuman guru Raka itu, tidak enak juga jika dia bersikap jutek pada guru Raga. "Selamat pagi, pak Rian." Sapa Adera juga.


Sedangkan Raka, dari tempat duduknya memperhatikan mamanya yang tengah digoda gurunya. Mulai memicingkan matanya, dia tidak suka gurunya itu mendekati mamanya.


"Bu Adera makin hari makin cantik aja ya. Bikin saya makin jatuh love." Ucap Rian dengan senyuman khasnya, memperlihakan kedua lesung pipinya yang menawan.


Adera mengangkat kedua alisnya dengan tersenyum. Dia memang tidak risih didekati guru muda itu tapi hanya saja dia canggung pada orangtua murid-murid lainnya yang menatap ke arahnya.


"Pak Rian bisa aja, saya tau kok saya cantik, haha." Adera menanggapi guru itu dengan tawaan kecil.


"Aduh, Raka, pak guru udah boleh belum jadi papa sambung kamu?" Kata Rian pada Raka ditempat duduknya.


Raka yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. "Gak boleh!" Larang Raka dan itu membuat Adera dan Rian tertawa.


"Yaa, bapak kan bisa jadi papa baru kamu. Juga bisa jadi suami buat mama kamu. Gimana? Boleh gak?" Tanya Rian sekali lagi sembari menggoda Raka.


Raka memasang wajah galak namun malah terlihat menggemaskan. "Gak boleh, aku bilang gak boleh ya gak boleh! Mama cuma punya aku!" Tegas Raka namun matanya berkaca-kaca.


Adera pun mendekati Raka, dia terlalu gemas dengan anaknya itu. Dikecupnya pipi anaknya itu. "Gak sayang, iya, mama gak akan nikah lagi apalagi sama pak Rian. Jangan nangis ya, sayang?" Bujuk Adera pada putranya itu.


Raka menghapus airmatanya yang sudah jatuh di pipinya. Sudah Adera bilang, jika Raka itu sangat sensitif jika ada seseorang yang mendekatinya dan juga Raka adalah tipe yang sulit di dekati.


Melihat Raka menangis karna ia jahili membuat Rian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang menyukai mama dari Raka, walaupun Adera lebih tua darinya beberapa tahun dan juga seorang janda anak satu namun dia memang naksir pada mama dari Raka itu.


Sudah berulang kali Rian mendekati Raka agar mendapat restu darinya namun sepertinya anak itu tidak rela jika mamanya menikah lagi. Mengingat betapa sulitnya Rian mendekati Raga.

__ADS_1


"Jangan nangis dong, Raka. Nanti bapak kasih es cream mau? Nanti bapak juga kasih t-rex juga deh." Ucap Rian pada Raka.


"Diem dasar Rian jelek, bau, gak bisa pargoy!" Kata Raka mengatai Rian dan Rian hanya diam saja walau sebenarnya dia kesal.


"Udah ya jangan nangis, masa anak mama nangis cuma gitu aja? Berantem aja gak pernah nangis masa diledekin pak Rian nangis sih?" Ujar Adera pada Raka.


Raga menganggukkan kepalanya.


"Nanti pulang dari kantor, mama beliin mobil-mobilan yang kamu pengen, mau?"


Raka menganggukan kepalanya lagi. "Mau, tapi mobil remote ya?"


"Iya nanti mama beliin buat Raka." Adera menganggukkan kepalanya. "Kalo gitu, mama berangkat ke kantor dulu ya? Raka gak boleh nakal, harus nurut sama pak Rian. Ngerti?"


"Tapi Rian jeleknya itu tuh!" Raga menunjuk Rian.


"Yaelah, gini amat pengen dapat restu dari calon anak." Gumam Rian.


"Udah ah gak boleh begitu. Kalo gitu mama pergi ya," Adera mengusap rambut Raka dengan kasih sayang, juga dengan senyuman hangat dibibirnya dan Raka menganggukan kepalanya.


"Rian, tolong jaga, Raka ya. Awas aja sampe Raka sampe nangis lagi, bukan cuma gak dapet dari restu Raga, tapi aku juga." Ancam Adera pada Rian.


Rian yang mendengar itu langsung murung. "Iya, kak Adera tersayang." Sahut Rian dan Adera tertawa melihatnya.


Setelah itu Adera beranjak pergi dari sana setelah mencium pipi Raka sekali lagi lalu pergi dari sana. Dia tidak ingin terlambat ke kantor, dengan berlari Adera keluar dari sekolah taman kanak-kanak. Untung saja ojek laganannya sudah menunggunya di depan gerbang.


......................


"Besok ada meeting sama perusahaan Anggara. Jangan lupa!" Dito mengingatkan Regan yang duduk kursi belakang. Dia menyetir mobil sambil melirik Regan yang tengah menatap keluar jendela lagi-lagi tatapannya kosong dan mungkin Regan tidak mendengarkan perkataannya berusan.


Dito menghebus nafasnya gusar, ini sudah lima tahun bahkan hampir enam tahun semejak Adera meninggalkan Regan namun tidak ada perubahan dari Regan. Tidak ada yang berubah dengan Regan, sama sekali tidak ada.


Bahkan sampai sekarang Regan masih memikirkan tentang istrinya yang hilang itu. Dan juga semakin hari Regan seperti tidak bersemangat menjalani hari-harinya, seperti tidak punya hasrat melakukan apapun, itulah Regan sekarang.

__ADS_1


"Gan, lo dengerin gue gak sih?" Dito membesarkan suaranya.


Dan kali ini Regan tersadar, dia berdecak dan menoyor kepala Dito yang tengah menyetir mobil di depannya. "Gak usah teriak! Gue denger!" Decak Regan.


"Lagi kerjaan lo begong mulu setiap hari. Lo itu banyak kerjaan bukan cuma begong doang!" Cibir Dito.


Sekali lagi Regan berdecak dengan sebal. "Lo pikir kerjaan gue cuma begong doang?"


"Lah emang iya kan?" Sahut Dito.


Regan kembali menatap ke luar jendela dengan menopang pipinya. "Cih!" Decih Regan.


Dito menghela nafasnya. "Gan, Gan. Banyak cewek cantik dan seksi yang udah gue kenalin, tapi gak ada yang buat lo tertarik. Gue juga udah kenalin cowok-cowok kece buat lo terus lo malah malah marah-marah. Aneh gue tuh sama lo." Ucap Dito.


"Ya lo bego, lo pikir gue apa ngenalin cowok-cowok begitu? Gila aja lo!" Sewot Regan.


"Ya abis gue kenalin cewek-cewek yang cantik plus montok lo gak mau malah ngusir. Maunya apa sih lo?" Sewot Dito juga.


Regan mendengus, sambil menatap keluar jendela. "All i want only her." Jawab Regan dengan suara parau.


Dito menggelengkan kepalanya. Sepertinya sulit bagi Regan untuk melupakan Adera tapi melihat Regan terus seperti itu membuat Dito tidak tega juga. Wajahnya muram seperti tidak bersemangat mejalani apapun dan itu berbeda sekali dengan Regan yang ia kenal. Memang Regan yang sebelumnya juga selalu murung namun kali ini berbeda.


"To, Adera lagi ngapain ya sekarang?" Tanya Regan pada Dito.


"Ya mana gue tau, mungkin dia udah move on dari dan mungkin udah nikah lagi. Hidup bahagia sama suami barunya, mungkin." Jawab Dito asal.


"Lo jangan ngedoain yang enggak-enggak ya, bhajingan!" Kesal Regan.


"Ya lagi lo nanya gue, gue mana tau, lol!"


Regan mendengus kesal. Percuma saja berbicara dengan Dito hanya membuatnya darah tinggi saja.


"Besok, kita ada meeting. Jangan sampe lupa lagi!" Kata Dito, mengingatkan Regan sekali lagi dan Regan hanya berdeham.

__ADS_1


Dehaman Regan itu malah membuat Dito darah tinggi entah kenapa. "Jangan dehem doang, b*ngs*t! Jawab yang bener!"


"Males." Sahut Regan dengan malas.


__ADS_2