Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
35. Ketakutan Adera


__ADS_3

"Eh anak magang," panggil seorang wanita yang katanya adalah ketua tim. Dan dia wanita yang mengetawai Adera dan mungkin juga yang sengaja menyelengkat Adera.


Adera menoleh ke wanita yang berdiri disebelah mejanya itu. Dia mengangkat kedua alisnya. "Iya, ada apa?" Sahut Adera.


Wanita itu melipat kedua tangannya didada sambil memutar bola matanya, bersikap angkuh. "Ada hubungan apa lo sama sekretaris Dito?" Tanyanya dengan nada tak bersahabat.


Adera mengerutkan keningnya. Kenapa dia mencurigainya dengan sekretaris Dito? Aneh sekali. "Maksudnya apa ya?"


"Alah gak usah sok polos lo. Masih muda udah berani ngegoda suami orang ya. Waw." Cibir wanita itu.


Apa? Adera dibilang penggoda suami orang? Apa-apaan sih wanita itu. Main nunduh saja padahal tidak tahu kenyataannya. Kalau saja dia tahu Adera adalah istri dari Regan, presiden direktur Mahardika Groups ini, apakah dia akan bungkam? Namun Adera tidak ingin tenar dengan nama Regan, karna dia membenci itu.


"Saya gak ngerti apa yang dibicarakan anda." Kata Adera dengan tegas. Walaupun dia masih junior disana, tetap saja dia tidak boleh ditindas senior semena-mena seperti wanita itu.


Wanita itu tersenyum sinis kepada Adera. "Udah lah. Gue tau kok. Keliatan dari mata lo yang menyirat penggoda rendahan." Sinis wanita itu.


Mendengar itu tentu saja Adera tidak suka. Dia direndahkan seperti itu oleh orang asing yang bahkan tidak mengenalnya. "Penggoda rendahan? Bukannya itu anda ya. Mencoba menggoda presdir dengan sejuta godaan anda." Adera balik menskakmat wanita itu.


Wanita itu marah. Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia marah dengan ucapan Adera. "Dasar anak magang gak tau diri! Tau apa lo!" Wanita itu membentak Adera.


Ini tidak ada yang memisahkan Adera apa? Mereka malah memperhatikan saja seperti sebuah pertunjukkan yang sangat seru. Dan juga kenapa Alisia tidak kembali juga dari toilet?


"Sama seperti anda. Saya melihatnya tuh." Ucap Adera sambil tersenyum.


Wanita itu menggertakan gigi-giginya. "Kurang ajar banget lo!"


"Eh ada apa sih ini?" Akhirnya Alisia kembali dari toilet. Dia langsung terkejut melihat suasananya menjadi tegang begitu.


Alisia menatap wanita itu dengan mengangkat kedua alisnya. "Kenapa sih, Oliv?" Tanyanya dengan lembut.


Wanita bernama Olivia itu menggeram kesal dan pergi dari sana. Dia akan membalas Adera, lihat saja nanti.


Alisia kembali duduk dimeja kerjanya disebelah Adera. Dia menatap Adera yang seperti biasa-biasa saja. Memang Olivia itu sangat sensitif dengan anak baru atau anak magang gadis apalagi seperti Adera. Dan seharusnya Adera tidak dikirim ke tim ini, yang ketuanya saja selalu semena-mena pada seniornya.


"Adera, kamu gak papa?" Tanya Alisia pada Adera.


Adera menoleh ke Alisia, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Alisia. "Gak papa kok, Mbak. Cuma ada sedikit kesalahan." Jawab Adera.


"Kalo ada apa bilang aja sama Mbak ya." Ucap Alisia dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Adera heran, kenapa wanita secantik Alisia dan selembut dirinya bisa ditinggal suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dan lagi dia harus merawat anaknya sendirian karna katanya mantan suaminya tidak ingin anak itu mengganggu rumah tangganya yang baru.


Jujur setelah mendengar cerita dari Alisia tentang rumah tangganya, Adera menjadi takut. Takut dimana Regan jatuh hati pada wanita lain dan meninggalkannya. Dia takut Regan meninggalkannya, sungguh tapi dia tidak bisa mengartikan perasaannya itu kenapa.


"Ayo bengongin apa?" Tegur Alisia melihat Adera begong saja.


Adera tersadar dan menggelengkan kepalanya. "Gak kok, Mbak." Jawab Adera.


"Kirain mikirin cowok kamu," goda Alisia.


"Ih apa sih, Mbak."


Alisia tertawa kecil. Perlu diketahui, Alisia itu ternyata adalah sahabat dari Ratih, istri Dito. Pantas saja Dito mempercayakan Alisia untuk membantu Adera, karna memang dia sudah mengenal Alisia. Tapi Adera lega, ternyata masih banyak orang baik disekitarnya.


"Heh anak magang!" Ternyata oh ternyata, wanita bernama Olivia itu masih saja membuat masalah dengan Adera. Contohnya dia kembali lagi ke meja Adera dengan membawa beberapa lembaran ditangannya.


Adera menoleh lagi. Sebenarnya dia malas meladeni wanita itu namun dia harus tetap bersikap sopan pada seniornya apalagi dia adalah ketua tim.


Olivia memberikan beberapa selembaran itu ke Adera dan langsung Adera terima. "Kerjain tuh, itu laporan penting. Awas aja kalo lo gak becus ngerjainnya." Perintah dan ancaman Olivia pada Adera.


"Oliv, mending mbak aja yang ngerjain. Adera kan baru kerja satu hari, masa udah disuruh ngerjain kerjaan begituan sih?" Kata Alisia.


"Udahlah, mbak. Jangan ngatur dan jangan ikut campur. Dia kesini buat magang kan? Jadi, jangan sampe gue laporin ke kampus lo kalo lo gak becus kerjanya." Ucap Olivia dengan sikap angkuhnya.


Adera menghebus nafasnya. "Yaudah, saya kerjain. Sesuai perintah anda." Adera setuju mengerjakan itu.


Olivia tersenyum menang. "Nah dia aja mau tuh, mbak." Ujarnya. "Kerja yang bener ya, cantik." Lanjutnya kepada Adera lalu dia pergi ke mejanya lagi.


Adera melihat surat lampiran laporan itu. Dia hanya harus menyalinnya kan? Tidak apa-apa. Adera masih bisa melakukannya.


"Adera mending mbak aja yang ngerjain." Kata Alisia, dia khawatir pada Adera.


Adera tersenyum pada Alisia. "Gak papa mbak. Saya bisa kok." Selanjutnya Adera langsung mengerjakan surat lampiran laporan itu dengan cepat.


......................


Di apartemen. Adera langsung mendaratkan bokong disofa. Hari keduanya jadi karyawan magang sudah melelahkan. Tapi tidak apa, memang itu frekuensinya berkerja kan? Jadi Adera tidak apa-apa.


Adera menatap Regan yang juga mendaratkan bokongnya disofa sambil membuka dasinya dan jasnya. Adera bingung. Haruskah dia bilang ke semua karyawan di kantor Regan kalau dia adalah istri Regan? Dia tidak tahu apakah dia tahan kedepannya dengan perlakuan senior-seniornya dikantor yang semena-mena padanya.

__ADS_1


Merasa ditatap terus, Regan langsung menatap Adera yang menatapnya sambil bengong. Tangannya akhirnya terangkat menyentil dahi Adera membuat Adera terpekik sambil memegangi dahinya. "Bengongin apa lo, heh?" Tegur Regan.


Adera berdecak sebal. Dia mengelus-elus dahinya yang kena sentilan dari Regan tadi. "Seterah orang lah." Sahut Adera kesal.


Regan terkekeh malah mendengar sahutan Adera. "Kenapa lo? Ada masalah tadi?" Tanya Regan seperti tahu apa yang terjadi pada Adera tadi dikantor.


Adera terdiam sebentar lalu membuka suaranya lagi. "Gak, gak kok." Jawab Adera.


Jawaban Adera barusan malah membuat Regan semakin yakin Adera ada masalah. Dia menatap Adera lekat-lekat membuat Adera gugup seketika. "Kasih tau gue kalo ada yang bikin lo gak nyaman." Kata Regan.


Adera menatap mata Regan. Mata Regan sangat indah, warna coklat terang yang seakan mengipnotisnya dalam sekejab. Adera seakan hanyut dalam mata Regan yang indah itu.


"Apa nanti kalo kita punya anak, anak kita punya mata yang sama kayak kamu?" Celoteh Adera tanpa sadar membuat Regan mengangkat sebelah alisnya.


Adera tersadar apa yang baru saja dia katakan. Dia menepuk kedua pipinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa bisa-bisanya dia bicara seperti itu?


"Ngomong apa sih Adera!" Gumam Adera.


Regan terdiam. Dia pun ingin Adera segera mengandung anaknya namun sepertinya dia harus menundanya dulu, dia akan menunggu Adera sampai Adera benar-benar menyukainya. Karna dia tidak ingin Adera merasa dipaksa olehnya lagi.


"Kenapa lo gak berhenti aja?" Kata Regan membuat Adera menatapnya dengan bingung.


"Berhenti apa?" Tanya Adera bingung.


"Berhenti kuliah."


Adera mengerutkan keningnya. "Gak lah. Gak kepikiran buat berhenti."


"Kenapa? Kan ada gue."


Adera tertawa pelan. "Ya, gak selamanya kan kita sama-sama terus? Ya mungkin aja nanti kita pisah karna apa. Dan aku harus ada pegangan buat nanti kan?"


Regan menatap Adera dengan datar. Dia tidak suka ucapan Adera yang seakan percaya kalau mereka akan berpisah. Regan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. "Kenapa lo ngomong begitu? Seakan kita emang pengen pisah?"


"Ya kan cuma perumpamaan. Kan bisa aja nanti kamu ninggalin aku kan? Karna kan kita gak tau kedepannya kayak gimana."


Rahang Regan mengeras. Dia sangat tidak suka Adera berbicara begitu. Namun dia menyeringai. "Segitu pengennya lo pisah dari gue?"


Adera terdiam. Dia hanya takut bernasib sama seperti Alisia. Ditinggal saat sedang cinta-cintanya. Dia selalu kepikiran tentang itu dari tadi.

__ADS_1


Regan bangun dari sofa. Dia meninggalkan Adera sendiri disana. Rahangnya masih mengeras bertanda kalau dia marah Adera berbicara seolah-olah dia memang menginginkan perpisahan dengannya. Dia sangat marah dan benci akan hal itu.


Adera masih terdiam. Bahkan saat Regan meninggalkannya ke kamar dia masih terdiam. Dia hanya bimbang dan takut. Jika perasaannya benar-benar sudah subur didalam sana, dia takut kalau nasibnya akan sama seperti Alisia. Dia hanya takut di tinggalkan untuk beberapa kalinya.


__ADS_2