Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
79: Sengaja atau Tidak?


__ADS_3

"Maaf ya, aku gak sengaja." Kata seorang wanita cantik kepada Adera. Ya lebih tepatnya dia adalah seseorang yang menumpahkan sop di baju Adera.


Wanita cantik bak dewi itu dengan cepat mengambil tisu lalu mengelapi blouse Adera dengan itu. "Aduh maaf ya, aku gak sengaja." Katanya lagi.


"Gak papa kok, gak papa." Adera tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya memberi tahu kalau dia tidak apa-apa.


"Tapi baju kamu jadi kotor karna aku, maaf ya." Ucap wanita cantik itu sekali lagi.


Adera menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sopan. "Gak papa, saya gak masalah."


Wanita cantik itu menggambil sesuatu dari tas mewah yang ia bawa. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Adera. "Aku bakal ganti rugi. Ini diterima ya." Ucap wanit itu sambil memberikan sejumlah uang berwarna merah pada Adera.


"Eh, gak usah. Saya gak papa kok." Tolak Adera dengan sopan.


"Tapi aku udah numpahin sop ke baju kamu loh."


Adera tersenyum lagi. "Saya gak papa."


"Tapi saya harus tanggung jawab," wanita itu kembali menondorkan beberapa uang itu pada Adera namun Adera menolaknya dengan lembut.


"Gak ada yang dipertanggung jawabin, jadi gak usah, terimakasih." Ucap Adera.


Wanita itu tersenyum akhirnya dia menaruh kembali uang-uang itu ke dalan tasnya.


"Ya ampun, Ra, kamu gak papa kan?" Alisia khawatir pada Adera.


Adera menggelengkan kepalanya. "Gak papa kok, mbak." Jawab Adera.


"Kalo gitu, aku pergi ya. Maaf udah bikin baju kamu kotor." Sekali lagi wanita itu mengucapkan itu.


Adera menganggukan kepalanya. Semoga saja kejadian ini tidak sampai ke telinga Regan, dia tahu Regan pasti akan memarahinya dan mungkin juga akan sangat khawatir padanya padahal itu hanya masalah sepele.


"Kamu baik banget sih, kalo kita ketemu lagi, kita temanan ya."


Adera menganggukan kepalanya. Sepertinya wanita itu sedang berburu-buru. "Iya,"


"Kalo gitu, aku pergi ya." Pamit wanita itu lalu beranjak pergi dari sana.


Seperginya wanita itu, Alisia dengan cemas langsung membawa Adera pergi dari sana. Sop yang ditumpahkan ke baju Adera sangat panas, Alisia bisa merasakannya walau hanya setetes saja. Dan itu membuat Alisia cemas bukan main.


"Mbak, makanan kita belum habis loh." Kata Adera.


"Kita harus ke toilet, Ra."


Saat sudah di toilet, Alisia menyuruh Adera membuka blousenya yang kotor dan basah itu. Dan Adera menurutinya, toh memang dia tidak nyaman memakai baju basah seperti itu.

__ADS_1


Setelah membuka blousenya dan hanya menggunakan tanktop saja, Adera melihat Alisia langsung mencuci blousenya diair mengalir di wastefel.


"Mbak aku gak papa loh," ujar Adera.


Alisia berdecak. "Kamu diam aja. Mbak udah nyuruh orang ngebawain jaket mbak, kamu tunggu aja."


Adera menganggukan kepalanya.


Selesai membersihkan bajunya, Alisia langsung mendekati Adera. Benar kan dugaannya, pasti dada Adera memerah karna sop itu.


"Ra, liat tuh, dada kamu merah banget, melepuh begitu." Kata Alisia sambil menyentuh kulit Adera yang dimana membuat Adera meringis pelan.


"Mbak tuh udah yakin, orang tadi emang sengaja numpahin sop itu ke kamu. Siapa sih dia? Kamu kenal?"


Adera mengangkat kedua alisnya. Masa iya wanita tadi memang sengaja menumpahkan sopnya padanya, tidak mungkin. Mereka kan tidak saling mengenal. "Gak ah mbak, dia gak sengaja. Aku juga gak kenal sama dia." Jawab Adera.


Alisia menatap Adera dengan serius. "Kamu itu orang yang gampang banget dibohongin ya."


"Ah mbak, emang dia gak sengaja tau. Mukanya aja kayak orang baik."


"Gak nyambung kamu tuh."


Adera tertawa, dia tidak ada berpikiran kalau wanita tadi sengaja menumpahkam sop panas itu padanya. Tidak sama sekali. Atau mungkin benar kata Alisia, kalau Adera mudah dibohongi? Tidak tahu lah, Adera tidak peduli dengan itu semua. Jika pun ada orang tadi menargetkannya untuk kejahatan, dia akan melawannya. Tapi sepertinya tidak.


......................


Saat ini Adera dan Friska berada di mall, mereka menghabiskan waktu berdua karna Rina sedang bucin-bucinnya dengan pacarnya jadi kali ini dia tidak ikut main bersama mereka.


Seperti sekarang sudah selesai berbelanja, Adera dan Friska berada ditempat makan cepat saji. Mereka sudah banyak membeli barang dan mereka membeli itu semua menggunakan kartu kredit Regan.


Tapi jujur saja, Adera dan Friska bukan gadis yang menikmati berbelanja seperti ini. Mereka jarang-jarang berbelanja dan sekalinya berbelanja mereka akan ke pasar tapi kali mereka berbelanja di mall.


Ya sekali-kali tidak apa-apa kan, lagipun sayangkan kartu kredit yang diberikan Regan tidak Adera gunakan. Sudah sering Regan menyuruh menghabiskan uangnya dan berbelanja sesuka hatinya namun yang namanya Adera tetaplah Adera.


"Ra, ini sumpah gak papa? Lo ngebeliin gue banyak banget lho." Kata Friska kepada Adera. Dia tidak enak dibelikan barang-barang bagus dan lagi itu menggunakan kartu kredit Regan.


Adera menatap Friska, dia tersenyum. Bisa dibilang dia dan Friska adalah kembaran lah, karna dari keluarga yang sederhana, cara berpikiran mereka juga sama. Dan itu yang membuat Adera nyaman bersama Friska. "Gak papa, Fris. Anggap aja ini hadiah ulang tahun lo." Ucap Adera dengan senyuman lebar pada Friska.


Friska berekspresi seperti hendak menangis, tapi ingat itu hanya bohongan. Dia langsung memeluk Adera yang duduk disebelahnya itu. "Uchhh, sahabatku!" serunya.


"Sahabatku!" Seru Adera juga sembari membalas pelukan Friska.


Dan aksi mereka itu malah membuat para pelanggan lainnya menatap kearah mereka.


Friska dan Adera melepaskan pelukan mereka dan mereka saling tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan.

__ADS_1


"Oh iya Ra, lo mau tau gak sih?"


"Apa tuh?"


"Rina sama Rivaldo katanya mau tunangan tau." Kata Friska sambil melahap hamburgernya.


Adera menganggukan kepalanya. "Tau gue."


"Eumm, masa cuma gue yang masih jomblo, sedih.." Friska cemberut, merasa dirinya yang paling menyedihkan karna kedua sahabatnya sudah mempunyai kekasih sedangkan dirinya belum.


Adera tertawa melihat Friska. "Eh lo gak jomblo, ege." Adera berusaha menyemangati Friska.


Friska menatap Adera dengan kedua alis terangkat. "Lo ngejek gue, Ra? Parah sih lo, udah lah musuhan aja lah kita."


Adera tertawa sambil melambai-lambaikan tangannya. "Bukan gitu, anjir. Lo gak jomblo, seenggaknya kan lo punya Toni. Iya kan?" Adera menaik-turunkan kedua alisnya.


Mengingat tentang Toni, pipi Friska seketika memerah. Benar juga, walaupun Friska belum mempunyai kekasih tapi kan ada Toni, teman laki-laki yang menyuruhnya menunggu itu.


Melihat Friska terdiam dengan wajah yang menjijikan, Adera mengangkat sudut bibirnya dan langsung memukul lengan Friska yang memegang hamburger. "Kenapa lo? Wah, Friska lo-- lo mikir jorok ya? Sama siapa? Ya ampun Fris, gak nyangka gue." Ledek Adera.


Friska berdecak dia menatap datar Adera. "Ah lo mah!" Rengek Friska dan Adera tertawa lagi.


"Eh tapi, Ra. Lo serius pas deket sama Toni waktu itu gak ngerasain apa-apa? Maksud gue sebelum ketemu sama mas Regan. Lo beneran gak suka sama dia?" Tanya Friska dalam mode serius.


Adera menyeruput coca-cola lalu menaruh minuman itu dimeja lagi. "Eumm, gak sih. Gue gak ngerasain apa-apa tuh, gue gak ngerasain perasaan apa-apa sama dia." Jawab Adera jujur.


"Serius? Gak ada sama sekali? Ya ampun, Ra, lo itu gak normal ya?"


Mata Adera melotot mendengar kata tidak normal dari mulut Friska. "Apaan! Gue normal!" Tidak terima Adera.


"Gak gak, maksud gue.. yang bener aja lo gak punya perasaan apa-apa sama dia. Gue aja suka--" buru-buru Friska menutup mulutnya yang hampir keceplosan.


Dia memang belum memberitahu tentang perasaannya dengan Toni pada Adera dan dia ingin merahasiakannya darinya namun sepertinya tidak bisa.


Adera menatap Friska dengan mata memicing. "Lo suka sama siapa?" Tanya Adera.


Friska menggelengkan kepalanya, dia mengambil minuman coca-cola dan menyeruputnya, berusaha menutupinya dari Adera.


"Fris, cerita gak! Kalo gak nanti gue sebar foto aib lo ke Toni!" Ancam Adera dimana membuat Friska melotot sempurna.


"J-jangan, Ra! Iya-iya gue ceritain,"


"Ceritain apa?" Tiba-tiba ada seseorang yang menyahut perkataan Friska dan suara itu terdengar tepat di telinga Friska dimana membuat Friska meremang.


Friska dan Adera secara bersamaan menatap orang yang baru datang itu. Dan seketika mereka melotot melihat Toni yang berdiri disana dengan memasang wajah dingin.

__ADS_1


__ADS_2