Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Tidak Mungkin


__ADS_3

Sesampai di depan rumah anak kecil bernama Raka itu, Regan turun dari mobilnya bersama Raka yang juga turun dari mobil. Regan menatap Raka yang tersenyum lebar padanya sambil mengenggam tangan Regan. Entah kenapa Regan merasa jika anak yang mengenggam tangannya itu adalah anaknya.


"Om itu rumah aku," tunjuk anak itu ke rumah sederhana di depan mereka.


Regan manggut-manggut kan kepalanya. "Kalo gitu, kita ketemu mama kamu, ya?"


Raka menganggukan kepalanya dengan semangat lalu menarik tangan Regan ke dalam rumahnya dan Regan mengikutinya saja. Dia sangat penasaran siapakah anak ini? Mengapa dia merasa mempunyai ikatan dengan anak itu padahal mereka baru saja bertemu?


"Ya ampun Raka, kamu abis darimana aja?" Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dan dia langsung menatap Regan dengan bingung.


"Nenek!" Raka berseru, melepaskan gandengan tangan Regan dan berlari memeluk bu Amira.


Bu Amira masih menatap Regan dengan bingung. Dia mungkin merasa tidak asing dengan wajah pria di hadapannya atau mungkin dia merasa wajah Raga mirip dengannya?


"Maaf, kamu siapa ya?" Tanya bu Amira pada Regan.


Regan tersenyum sopan pada bu Amira, mungkin nenek Raka itu bingung cucunya pulang dengan orang asing.


Raka tersenyum, dia menarik-narik daster yang dikenakan bu Amira. "Nenek, om ini om baik, dia mau jadi papa baru aku." Kata Raka menjawab pertanyaan bu Amira pada Regan.


Bu Amira semakin bingung, ini pertama kalinya dia melihat pria di hadapannya. Apalagi Raka menyebutnya sebagai papa barunya, secara kan Raka anak yang sulit dekat dengan orang lain apalagi dengan orang asing.


Melihat kebingungan bu Amira, Regan dengan sopan menjawab pertanyaannya. "Saya hanya ingin menghantar Raga pulang, saya melihat dia sendirian ditepi jalan." Jawab Regan dengan sopan.


Bu Amira kini menatap Raga. "Raga kamu kenapa main ke jalanan lagi? Kalo nanti mama tau, kamu dimarahin lho."


Raka diam saja, sepertinya dia juga takut dengan hal itu.


Tatapan bu Amira kembali ke Regan, sekarang dia tersenyum pada Regan. "Ibu berterimakasih sudah menghantar Raga, kalo gak, gak tau apa yang terjadi sama Raga." Ucap bu Amira.


Regan menganggukan kepalanya. Dia membungkukkan badannya, menatap Raga. "Kalo gitu, Raka om pulang dulu ya." Pamit Regan pada Raga.


"Tapi kan om belum ketemu mama ku?"


"Besok om kesini lagi buat ketemu sama mama kamu dan bawa mainan yang banyak buat kamu, oke?"


"Om janji?"


Regan menganggukan kepalanya, dia menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil milik Raka. "Om pergi dulu ya, temen om udah nunggu soalnya."

__ADS_1


Raka menganggukan kepalanya. "Iya, dadah om ganteng!"


"Kalo gitu bu, saya permisi pergi dulu. Permisi." Pamit Regan lalu beranjak pergi dari sana.


Kenapa Regan tidak ingin jauh-jauh dari anak itu. Dia merasa sesuatu ketika bersama anak itu. Regan merasa seperti anak itu adalah anak kandungnya, namun siapa kah mamanya? Padahal Regan sangat penasaran tapi yasudah lah.


"Udah ketemu anaknya, papa Regan?" Ledek Dito begitu Regan masuk ke dalam mobil.


Regan berdecak sebal. "Berisik!"


......................


"Adera, kamu besok malam ikut pesta ulang tahun perusahaan kan?" Tanya rekan kerja Adera bernama Kiran.


Adera menoleh ke Kiran dan rekan kerjanya lainnya. Mereka tengah berkumpul membicarakan pesta perusahaan besok malam hanya Adera saja yang tampak tidak peduli dengan itu. "Gak tau deh," jawab Adera.


Lagi pula Adera tidak tertarik datang kr pesta perusahaan, dia lebih baik dirumah bersama anak tersayangnya daripada harus pergi ke pesta itu dan lagi dia malas bertemu dengan Zayn, CEO menyebalkan itu.


Kiran dan teman kerja Adera lainnya langsung menyebu meja kerja Adera dan itu membuat Adera yang tengah berkerja langsung terkejut begitu rekan-rekan kerjanya mendekatinya.


"Ra, aku tau kamu itu udah punya anak, tapi sekali-kali lah reflexing." Ucap rekan kerja Adera yang bernama Cantika.


"Ya males aja, gak tertarik dateng ke pesta gitu-gituan." Jawab Adera.


"Yang bener aja, aku denger-denger ada banyak cogan-cogan yang mapan yang datang ke pesta itu. Ya lumayan kan buat cari papa buat Raka."


Adera menghebus nafasnya. Baiklah kali ini saja dia akan datang ke pesta membosankan itu daripada mendengar rekan kerjanya berisik. "Iya deh, aku ikut. Aku dateng pake baju kebaya nanti." Kata Adera dengan malas.


"Nah gitu dong, kita-kita nanti mau fitting baju nih. Kamu mau ikut gak?" Tanya Kiran.


Adera menggelengkan kepala. "Gak lah, sayang uangnya, hehe," Adera cengengesan.


Rekan-rekan kerja Adera mendengus mengetahui ibu anak satu itu banyak kebutuhannya karna dia single mom jadi dia yang harus membiayai semuanya sendirian. Dan mereka tidak ingin memaksakan Adera.


"Dandan yang cantik ya, siapa tau pak Zayn terpana."


"Idih apaan, cantik di depan dia? Gak akan pernah. Kecantikan saya hanya untuk orang-orang pilihan terkecuali dia." Sahut Adera dimana membuat rekan-rekan kerjanya tertawa.


"Iya deh mama Adera tsundere."

__ADS_1


......................


Sepulang dari kantor, Adera melihat Raka yang sudah tertidur pulas di kamarnya, dia tersenyum melihat anaknya yang tertidur itu sambil membelai rambutnya dengan kasih sayang.


Bu Amira datang ke kamar Raka, dia membawakan teh hangat untuk Adera padahal Adera tidak memintanya membuatkan itu untuknya.


Adera yang menyadari kehadiran bu Amira menoleh, apalagi ketika bu Amira menyodorkan teh hangat itu padanya. Mau tak mau Adera menerimanya walau dia tidak meminta bu Amira membuatkannya. "Ibu, repot-repot aja. Aku bisa bikin sendiri kok." Kata Adera, menerima teh hangat dari tangan bu Amira.


"Ya gak papa, sekali-kali. Ibu tau kamu capek kan setiap malam harus lembur buat Raka." Kata bu Amira.


Adera tersenyum pada bu Amira. "Ya kan emang itu semua buat Raka, bu dan juga buat ibu."


Bu Amira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Adera, ibu mau bilang sesuatu ke kamu."


Adera yang meneguk sedikit teh hangat itu langsung menatap bu Amira lagi dengan kedua alis terangkat. "Iya, ada apa bu?" Tanya Adera.


"Tadi sore, ada seorang pria yang menghantar Raka kesini, katanya dia ngeliat Raka duduk sendirian ditepi jalan tapi," bu Amira menggantung perkataannya membuat Adera penasaran.


"Tapi kenapa bu? Jangan bikin aku penasaran, ah."


"Tapi ibu penasaran, muka pria itu mirip sekali dengan Raka, bahkan sampai warna matanya juga sama. Muka dia persis seperti Raka, walau Raga masih kecil, ibu bisa ngeliat kemiripannya. Dan juga Raka kayaknya udah deket sama dia, Raka bahkan bilang kalo dia papa barunya." Cerita bu Amira membuat Adera terkejut.


Tidak mungkin, mana mungkin itu dia. Masih banyak orang lain yang mirip dengannya, itu tidak mungkin dia. Benar, itu tidak mungkin.


Melihat ekspresi Adera membuat bu Amira semakin curiga namun dia menyembunyikannya sendiri. "Adera?" Bu Amira menyentuh bahu Adera.


"Raka deket sama orang asing itu bu? Kenapa bisa? Raka itu kan orang yang susah dideketin. Kenapa bisa?" Tanya Adera.


"Ibu juga gak tau. Tapi Raka suka orang itu, dia bahkan cerita ke ibu terus tentang orang itu."


Adera menggelengkan kepalanya tidak percaya. Hati Raka terbuka dengan orang asing itu? Bagaimana bisa? Sejauh ini Raka sulit sekali di dekati namun mendengar cerita dari bu Amira sepertinya Raka dan orang itu baru saja bertemu. Tapi bagaimana bisa?


"Bu, aku minta tolong sama ibu. Kalo misalkan orang itu kesini lagi atau ketemu Raka lagi, aku minta tolong buat tanya namanya."


Bu Amira menganggukan kepalanya. "Iya, ibu juga penasaran sama itu orang."


"Makasih ya bu,"


Adera benar-benar penasaran. Siapa kah orang yang menghantar Raka dan bagaimana bisa dia bisa sedekat itu dengan Rala dalam waktu sesingkat itu? Apalagi ciri-ciri yang disebutkan bu Amira mengingatkannya pada orang itu. Tidak mungkin kan kalau itu dia?

__ADS_1


__ADS_2