
"Lo ngapain disini, ege!" Ucap Friska pada Toni yang bergabung duduk dimeja mereka.
"Gue tadi ngeliat muka bulux lo dari jauh, yaudah gue deketin aja." Jawab Toni santai. Tatapannya langsung beralih pada Adera. "Hai, Ra." Sapanya sambil tersenyum.
"Eh, Ton, hai," sapa Adera balik, dia juga tersenyum.
Friska memutar bola matanya melihat Toni begitu ramah pada Adera tapi tidak dengannya. Huft, dasar cowok tidak bisa move on!
"Ton, gue tau lo, lo ngestalkerin gue sama Adera ya?!" Tuduh Friska menunjuk wajah Toni.
Toni berdecak, dia menepis pelan tangan Friska yang menunjuk wajahnya. "Pengen banget lo gue stalkerin."
"Dih bisa aja kan, berhubung gue lagi jalan sama Adera terus lo ngikutin gue deh sama Adera, iya kan? Atau lo itu seorang dukun, jadi tau keberadaan kita berdua?"
"Fris, mending lo diem deh. Tunduhan lo gak masuk akal, bodoh!" Celetuk Adera.
"Masuk akal, Ra!" Mata Friska melotot.
Melihat Friska seperti itu, Toni pun mencubit pipinya membuat sang empu mengaduh kesakitan. "Gak masuk akal, lol." Kata Toni.
Setelah Toni melepaskan cubitannya, Friska cemberut sambil memegangi pipinya. "Sakit, ego!"
Adera yang melihat adegan barusan itu, memicing matanya seakan tengah mengitimidasi Friska dan Toni. Dia merasa ada yang tidak beres dengan mereka, entahlah, Adera merasa seperti itu. "Kalian ada apa hayo? Fris, gak ada yang lo tutup-tutupin dari gue kan?" Goda Adera.
Pipi Friska seketika memanas. Dia belum memberitahu Adera tentang apapun terkait Toni dan itu membuatnya seperti orang bodoh. "Apaan sih lo. Dia suka sama lo ege." Cetus Friska. Mulutnya itu memang blak-blakan jadi Toni maupun Adera memakluminya.
Perhatian Adera seketika teralihkan dengan suara detaran dari ponselnya di dalam tasnya. Dengan segera dia mengambil ponselnya itu dari dalam tas dan melihat siapa yang menelfonnya. Regan, nama itu tertera disana dimana membuat Adera tersenyum. Ternyata suaminya itu yang menghubunginya.
"Siapa?" Tanya Friska.
Sedangkan Toni hanya diam saja sambil menatap Adera. Dia sudah menduga siapa yang menelfon gadis itu.
"Eumm, my husbandto, kalo gitu gue ijin angkat dulu ya." Izin Adera lalu beranjak menjauh dari sana mencari tempat yang pas untuknya mengangkat telfon dari suaminya itu.
Saat sudah ditempat yang nyaman untuknya telfonan dengan sang suami, Adera dengan cepat mengangkat telfon dari Regan lalu dia menempelkan ponselnya itu di telinga.
"Halo,"
Terdengar suara Regan yang bergumam tidak jelas disebrang sana. "I miss u, Adera." Ucap Regan akhirnya.
__ADS_1
Adera tidak habis pikir dengan suaminya itu, padahal mereka hanya berpisah beberapa jam saja kenapa dia bisa merindukannya? Aneh.
"Apa? Kok bisa?"
"Ya mana aku tau. Aku kangen kamu, udah itu doang."
Adera terkekeh mendengarnya. "Nanti kan kita ketemu lagi. Toh kita kan tinggal satu atap."
"Tetep aja. Aku kangen kamu, sayang. Dan ini buat aku gila."
Tidak dapat dibohongi bahwa hati Adera serasa ingin meledak mendengarnya. "Aku lagi dimall sama Friska."
"Have fun, huh?" Tanya Regan.
"Iya, aku senang-senang."
"Serlock, aku kesana." Ucap Regan.
"Eh, ngapain?"
"Pokoknya serlock, ya kalo kamu gak mau. Aku gampang bisa nemuin lokasi kamu sih."
"Gak tau, pokoknya kamu harus stay disana. Kalo kabur awas aja." Ancam Regan.
"Iya, cepetan nanti aku keburu pulang duluan." Goda Adera.
"Awas aja kalo berani!"
"Iya iya, udah ya." Tanpa izin Adera mematikan panggilan lalu dia kembali bergabung dengan Friska dan Toni lagi yang mungkin menunggunya.
......................
Regan menatap Toni dengan tajam begitupun dengan Toni yang menatapnya dengan tatapan tak kalah tajam. Mereka seakan tengah bertarung lewat tatapan mereka.
Regan datang kesana karna ingin melihat istrinya itu bersenang-senang dengan sahabatnya namun setelah dia datang malah mendapati laki-laki yang pernah membuat rumah tangganya kacau.
Dan Adera langsung meringis pelan melihat Regan, dia lupa jika ada Toni. Begitupun dengan Friska, melihat mereka bertatapan saja, dia sudah merasakan pening dikepalanya.
"Kenapa dia ada disini, Adera?"
__ADS_1
"Kenapa dia ada disini, Friska?"
Secara bersamaan mereka bertanya hal yang sama pada kedua gadis yang sedang dilanda panik itu. Dan kedua gadis itu bingung ingin menjawab apa.
"Regan, kamu tenang dulu ya." Adera berusaha menenangkan Regan, berharap jika tidak ada perkelahian disana.
Regan malah melempar tatapan tajam pada Adera membuat Adera kicep seketika. "Maksud kamu ini yang dinamain senang-senang, Adera?" Kata Regan pada Adera.
Adera meringis pelan. "Bukan gitu ih. Dengerin dulu mangkanya." Bujuk Adera.
"Jadi kamu senang-senang sama dia? Adera, apa aku kurang ganteng, kurang hot dimata kamu? Astaga Adera, kamu tega yah. Aku lebih segala-galanya dari dia, sayang, aku pun lebih kuat juga bisa buat kamu puas diranjang---" ucapan panjang Regan terhenti ketika Adera langsung memukul kepalanya yang dimana membuat Regan langsung bungkam seketika.
Perkataan Regan barusan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Dan lagi ucapannya yang ngawur itu membuat Adera emosi. "Dengerin dulu, kenapa sih!" Kesal Adera.
Sedangkan Friska yang mendengar perkataan Regan barusan begong dan hidungnya keluar cairan merah karna membayangkan apa yang dikatakan Regan barusan.
Dan Toni yang menyadari itu langsung kesal, dia pun menoyor kepala Friska hingga membuat Friska tersadar. Toni kesal jika Friska menatap Regan seperti itu.
Adera menghebus nafasnya. "Toni, dia baru datang juga. Kayak kamu, dia juga mau nemuin Friska bukan aku. Jadi kalo kamu ngomong ngawur lagi atau apapun, kamu bener-bener ya!" Jelas Adera.
"T-tapi why gitu lo dia kesini." Tatapan Regan beralih ke Toni. "Lo masih suka sama bini gue, iya? Gak bisa move on lo?" Kata Regan dengan dingin pada Toni.
Sekali lagi Adera memukul kepalanya kali ini lebih kencang dari sebelumnya. "Kamu itu apa-apaan sih!" Omel Adera.
Regan menatap Adera dengan tatapan penuh cinta. Seakan baru saja mendapatkan kasih sayang dari Adera, dia bersikap seperti kucing kurang belaian pada Adera.
"Dih, menjijikan!" Cibir Toni dimana membuat Regan menatapnya lagi.
"Apa lo bilang? Lo mau mati?!" Regan bangun dari kursinya dan bersiap berkelahi dengan Toni begitupun dengan Toni yang sudah bersiap baku hantam dengannya.
Dengan cepat Adera dan Friska langsung menahan mereka berdua. Takut mereka berbuat rusuh, ya walaupun sudah rusuh sih semejak Regan datang. Tapi mereka tidak ingin terjadi kerusuhan yang lebih parah.
"Regan! Jangan mulai!" Adera menahan Regan. Regan dan Toni sama-sama orang yang cepat emosi jadi tidak heran juga mereka akan berkelahi.
"Ton, sabar Ton. Inget martabat lo sebagai good boy. Jangan ngotorin martabak lo eh martabat lo." Sama halnya dengan Adera, Friska pun berusaha menahan Toni agar tidak terjadi perkelahian.
"Kita pulang aja!" Kata Adera. "Fris, ajak Toni pulang ya."
Friska menganggukkan kepalanya. Dengan tenaga yang ia punya dia langsung bisa menarik Toni menjauh dari sana. Tapi dia tidak akan melupakan bingkisan dari Adera, dia membawa Toni pergi sambil membawa semua belanjaannya.
__ADS_1
Adera menatap Regan dengan tegas. "Kita pulang!" Ajak Adera, menarik tangan Regan dari sana.