Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
40: Private Room


__ADS_3

Adera terbangun ketika mendengar suara shower yang terdengar jelas ditelinganya. Adera membuka matanya, merasakan ada sesuatu didahinya, dia mengambil itu dan melihatnya. Ternyata handuk basah yang baru saja diganti seseorang.


Adera terbangun dan terduduk menyeder disenderan ranjang. Dia menatap sekeliling kamar yang ia tiduri semalaman. Kenapa dia merasa sangat asing dengan kamar itu? Itu bukan kamarnya diapartemen. Tapi dimana dia sekarang?


Regan yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar dilehernya. Dia menatap Adera yang duduk bersender diranjang dan juga Adera yang menatapnya. Tatapan mereka bertemu seketika, menjadikan dunia hanya milik mereka berdua dalam beberapa menit.


Tersadar Adera sudah bangun, Regan segera mendekati Adera diranjang. Tangannya terulur ke dahi Adera, memastikan panas Adera memang sudah turun setelah dikompres dan meminum obat tadi malam. "Udah mendingan?" Tanya Regan dengan nada lembut.


Adera menganggukan kepalanya. Tadi malam dia mengingat samar-samar wajah Regan saat mengganti kompres di dahinya dan juga merawatnya semalaman, dia mengingat itu dengan jelas walau hanya samar-samar.


Regan menghebus nafas lega begitu Adera menganggukan kepalanya. Dia lega akhirnya demam Adera turun.


"Kita dimana?" Tanya Adera, merasa asing pada kamar yang ditempatinya.


"Di private room gue. Tenang aja, gak akan ada siapa-siapa disini selain lo sama gue." Jawab Regan.


Pipi Adera memanas. Padahal baru saja demamnya turun, dia sudah dibuat malu lagi oleh Regan mengetahui bahwa mereka berada di dalam private room hanya berduaan saja.


"Kenapa, hng?"


Adera menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa nada bicara Regan lembut sekali membuat hati Adera luluh dengan caranya bicara pada Adera? Apa karna dia sakit jadi Regan perhatian begitu?


Regan mengacak-ngacak rambut Adera. "Lo bikin gue cemas mulu, tau gak?" Kata Regan membuat Adera menatap Regan.


Apa katanya dia selalu cemas pada Adera? Kenapa kata-kata itu membuat hati Adera menghangat?


"Maaf," sesal Adera.


Regan tersenyum. "Lo cuma perlu kasih tau gue apapun itu, bisa?"


Adera terdiam. Hanya menatapi Regan tanpa bicara apa-apa. Dia semakin takut jika perasaan itu tumbuh subur dihatinya, dia semakin takut jika Regan hanya ingin mempermainkannya saja. Dia takut jika semua yang dikatakan Regan hanya bualan semata. Semakin lama, semakin dia dekat dan mengenal Regan secara perlahan, banyak yang membuanya takut. Takut semua hal yang menyangkut Regan.


"Gak usah banyak mikir!" Regan mendorong pelan dahi Adera.

__ADS_1


Adera memanyunkan bibirnya. "Ribet! Udah sana pake baju!" Suruh Adera.


Mata Regan tidak sengaja melihat dada Adera yang tereskpos jelas dari kemeja putih yang dia kenakan. Seketika Regan membuang pandangannya kesembarang arah. Melihat dada Adera yang terlihat jelas dari kemeja putihnya membuat Regan berpikiran mesum.


Kening Adera mengkerut melihat Regan tiba-tiba membuang pandangannya darinya. "Kenapa?" Tanya Adera bingung.


"Gak,"


"Jangan-jangan sekarang kamu ketularan aku lagi?" Adera turun dari ranjang dan berdiri dihadapan Regan yang duduk ditepi ranjang. Adera menundukkan tubuhnya, memeriksa suhu badan Regan lewat dahinya.


Begitu Adera menundukkan tubuhnya tepat di depan matanya, Regan bisa melihat jelas dada Adera yang tidak mengenakan bra lewat kancing atas yang terbuka lebar. Regan melototkan matanya. Apa Adera tidak sadar kalau sekarang dia tidak mengenakan bra dan hanya memakai kemejanya?


"Kayaknya gak deh. Tapi-- ehhh!" Pekik Adera terkejut karna tiba-tiba Regan menariknya ke ranjang dengan dia diatas kungkuhannya.


Mata Adera membulat seketika. Regan ada diatasnya sekarang dengan dada telanjang. Dan dia tidak bisa apa-apa selain hanya diam saja.


"Lo sengaja?" Kata Regan membuat Adera bingung.


Regan mendengus. Karna pemandangan yang disunguhkan Adera barusan, sekarang adik kecilnya memberontak keluar dari dalam celananya.


"Lo sengaja bikin dia kebangun." Ucap Regan yang makin membuat Adera tidak mengerti.


"Siapa?"


Regan menggeram kesal. "Lo gak berasa apapun?"


"Berasa apa?" Beonya masih tidak mengerti.


Mata Regan kembali tertuju ke dada Adera. Ah sial. Kenapa puncuk dadanya seakan memintanya untuk--- sial-sial-sial, Regan semakin ingin mencubui dada Adera itu.


Adera mulai merasakan kalau tatapan Regan selalu tertuju pada dadanya. Dia pun merasa kalau tidak ada yang tidak beres padanya. Karna selalu terbiasa tidak memakai bra saat masih dirumah bapaknya, jadi Adera tidak merasakan apapun.


Namun begitu dia melihat Regan menatap dadanya, dia jadi merasakan kalau puncuk dadanya bergesekkan dengan kemeja yang digunakannya. Dia tidak memakai bra!

__ADS_1


Mata Adera melotot. Kalau biasanya dia nyaman tidak memakai bra saat dirumah, kini dia jadi tidak nyaman saat Regan menatapnya dengan liar begitu.


Sekarang Adera mengerti apa yang dimaksud Regan kalau dia membangunkan sesuatu. Otak Adera tidak sepolos itu sampai tidak mengerti apa yang dimaksud Regan cuma dia hanya baru menyadarinya.


"Aku baru sembuh lho." Adera beralasan agar bisa melarikan diri dari Regan dengan alih-alih kalau dia baru sembuh dari sakitnya.


Tentu saja Regan mengetahui itu, dan itu yang membuatnya menahannya sekuat tenaga dari tadi.


"Plis, tunda dulu. Baru sembuh lho ini." Pinta Adera dengan wajah polos.


Menundanya? Apa itu seperti lampu hijau untuk Regan untuk menunda mencumbuinya lain kali?


Regan menjauh dari Adera. Dia duduk ditepi ranjang, membelakangi Adera. Sial, berulang kali dia menggerutu. Adik kecilnya masih terbangun.


Adera ikut terbangun, dia langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi. Dan ketika dia ingin masuk ke dalam kamar mandi. Dia baru menyadari kalau dia hanya menggunakan kemeja putih yang ke besaran ditubuhnya. Dan lagi panjang kemeja itu hanya sampai pahanya saja.


"Ini kemeja siapa?" Tanya Adera tanpa menoleh pada Regan.


Regan memalingkan pandangannya, melihat Adera berdiri dengan menggunakan kemejanya yang melekat ditubuh Adera membuat Regan merasakan aliran darahnya mengalir deras.


"Kemeja gue." Jawab Regan.


Adera tidak percaya. "Terus siapa yang ganti baju aku?" Tanya Adera lagi.


"Gue,"


Jawaban Regan membuat Adera melotot sempurna. Dengan secepat kilat dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan kencang. Jantungnya berdekup lebih cepat.


Di dalam kamar mandi Adera memegangi dadanya sendiri. Jadi Regan yang menggantikannya baju, melepaskan bajunya tadi malam? Juga kemeja yang melekat ditubuhnya adalah kemeja Regan. Adera lemas, dia duduk dilantai kamar mandi dengan menyender dipintunya.


Jadi Regan sudah melihat seluruh badannya? Seluruh tubuhnya, juga-- aghhhh! Rasanya Adera ingin berteriak saja.


Sedangkan di luar, Regan membaringkan tubuhnya diranjang. Dia memejamkan matanya menelisir hawa nafsunya juga mencoba menindurkan kembali adik kecilnya. Sial, Adera benar-benar meresahkan. Dan itu membuat Regan ingin cepat-cepat menerkamnya.

__ADS_1


__ADS_2