
"Pokoknya lo harus ngejelasin apa yang dibilang cowok kemarin, Ra." Tekan Rina pada Adera yang sedang makan mie ayam.
"Wahhh, mie ayam kantin mantap, Na." Bukannya menjawab pertanyaan Rina, Adera malah memuji mie ayam kantin yang ia makan.
Dengan kesal karna diabaikan Adera, Rina mencubit pipi Adera membuat sang empu berteriak kesakitan.
"Ahh sakit, Na, sakit!" Teriak Adera.
Rina melepaskan cubitannya di pipi Adera. Dia terlihat kesal dengan Adera.
"Iya-iya gue jelasin. Dia itu orang yang gue ceritain ngelamar gue mendadak." Jelas Adera.
Rina terkejut. "Seriusan? Itu dia?"
Adera menganggukinya.
"Kenapa bisa cowok seganteng dan sempurna itu yang ngelamar lo? Gue kira bapak-bapak atau om-om gitu."
Adera mengaduk-aduk mie ayamnya. Apa bagi semua orang dia seberuntung itu menikah dengan lelaki asing? Namun baginya tidak sama sekali.
"Dan sekarang dia udah jadi suami gue." Kata Adera dengan lemas.
Mata Rina melotot, bibirnya kebuka lebar. "APA?! LO NIKAH?!" Heboh Rina membuat Adera menjadi pusat perhatian seisi kantin.
Adera meringis pelan, dia menatap Rina dengan tatapan tajam dan Rina yang ditatap tajam hanya bisa menyengir kuda.
"Lo seriusan udah nikah sama dia? Kapan?" Tanya Rina dengan nada suara rendah.
"Kemarin, mendadak. Dan sekarang dia udah resmi jadi suami gue."
Rina bisa melihat ekspesi Adera yang berubah. Sebagai sahabatnya yang sudah enam tahun bersama, Rina mengetahui ekspresi itu.
Rina pun memeluk Adera yang sedang malahap mie ayamnya. Adera adalah sahabatnya yang tidak pernah bercerita apapun tentang masalah pribadinya, dia menganggap masalah pribadinya suatu privasi yang harus dia rahasiakan.
Sampai sekarang pun, Rina belum mengetahui apa-apa tentang Adera padahal Adera sering mendengarkan dan mengerti dirinya.
"Kalo emang lo tersiksa sama pernikahan lo, gue siap kok menggantikan lo sebagai istri dari suami lo. Gue rela, Ra." Ucap Rina membuat Adera tersenyum.
Adera membalas pelukan Rina, sekarang pipi mereka saling bersentuhan. "Ouhh, sahabatku..."
"Sahabatku..."
Adera dan Rina melepaskan pelukan mereka dan saling tertawa. Begitulah pertemanan mereka, sangat lucu.
"Oh iya, Ra. Kemarin Toni cemas banget nyariin lo. Gue aja sampe cemburu ngeliat dia cemas begitu sama lo." Kata Rina.
__ADS_1
Kening Adera mengkerut. "Toni? Dia cemas sama gue, kenapa?"
Rina mengangkat kedua bahunya tidak tahu. "Emang lo gak ngeliat Toni di kelas?"
Adera mengangguk. "Gue ketemu dia, tapi kayak biasa aja tuh. Dia nyapa sambil senyum kayak biasa." Jawab Adera.
Rina cemberut secara tiba-tiba. "Tuh kan, gue udah duga kalo Toni cuma begitu sama lo doang. Dia gak pernah tuh nyapa sama senyum ke gue."
"Ah apaan, dia emang begitu ke semuanya, oon." Elak Adera.
Rina menatap Adera yang kembali memyantap mie ayamnya. Sepertinya Adera tipe orang yang kurang peka. Masa dia tidak tahu kalau Toni hanya bersikap ramah padanya? Apa dia belum menyadarinya?
"Ra,"
Adera mengangkat kedua alisnya pada Rina. "Apa?"
"Kalo misalnya Toni tiba-tiba menyatain perasaan dia ke lo gimana?" Ujar Rina dengan serius.
"Ngaco lo. Mana mungkin dia begitu. Gue sadar diri, Na."
"Tapi aneh deh. Gue ngerasa suka ngeliat mukanya Toni, soalnya kan dia ganteng begitu. Tapi gue gak punya perasaan ke dia." Kata Rina.
"Ya emang lo sukanya cowok ganteng kan? Mangkanya lo kurang paham."
"Gitu ya? Tapi kalo gue pacaran sama Toni pantes gak ya?"
"Apa gue tembak aja ya Toni."
"Jangan dong nanti Toni mati."
......................
Gue pulang malam, lo pulang sendiri aja.
Begitulah pesan yang ditinggalkan Regan di whatsapp. Kalau tahu dia tidak akan menjemput dan pulang lambat. Lebih baik dia pulang dengan Rina tadi. Ngapain dia harus menunggu orang gila itu menjemputnya disini.
"Ckk, sekarang gue sendirian. Udah nunggu dari tadi itu orang disini, eh dianya gak jemput." Celoteh Adera diakhiri dengan decakan sebal.
Seharusnya kan lelaki itu mengabarinya sejak awal jadi dia tidak akan menunggunya panas-panasan begini di tepi jalan. Dan seharusnya dia pulang bersama Rina saja tadi.
Huft, Adera sangat kesal dengan Regan. Awas aja nanti, dia akan meminta bayaran setimpal karna sudah membuatnya menunggu selama ini.
Adera menatap kejala raya, sekarang dia akan menunggu angkot datang datang saja. Namun matanya menangkap sesuatu.
Matanya memicing melihat siapa yang berada di warung di sebrang jalan. Dia sangat mengenali orang itu, si ketua bem siapa lagi kalau bukan Toni. Sepertinya Toni baru saja ingin pulang dan dia mampir ke warung untuk membeli minuman.
__ADS_1
Karna tidak ingin menunggu lagi, Adera akhirnya memutuskan untuk meminta tumpangan pada Toni. Toh, Toni sering menawarkan tumpangan padanya.
Segera Adera berlari ke sebrang jalan walaupun banyaknya mobil-mobil dan motor-motor yang berlalu lalang, Adera tetap berlari sambil mengangkat tangannya di udara.
Mendengar suara berisik klakson mobil dan motor, perhatian Toni menjadi teralih, seketika mata Toni melihat Adera yang berlari dan sepertinya berlari kearahnya.
Toni bangun dari jok motornya, dan berlari menarik tangan Adera ketika ada mobil yang hampir saja ingin menabraknya. Sontak Toni memeluk tubuh Adera dan itu membuat Adera terkejut.
Toni melepaskan pelukannya, dia menatap Adera dengan cemas. "Lo gak papa kan?" Tanyanya.
Adera menggelengkan kepalanya. "Gak papa." Jawabnya masih sedikit terkejut karna kejadian tadi.
"Lo gimana sih, udah tau banyak mobil sama motor malah lari begitu. Kalo lo tadi beneran ketabrak gimana?" Omel Toni namun terdengar seperti menasihati Adera karna nada bicaranya yang rendah.
"Sori ya?" Adera menyengir.
Toni mendengus. Dia hampir saja copot jantung melihat Adera hampir saja tertabrak mobil dan kenapa reaksi gadis itu santai-santai saja?
"Lo ngapain disini? Kenapa belom pulang?" Tanya Toni.
"Sebentar ya, Ton. Gue haus, traktirin gue minum ya?" Tanpa persetujuan Toni, Adera mengambil minuman dingin dari kulkas warung.
"Bu, sekalian dia yang bayar ya?" Kata Adera pada ibu warung.
"Iya, neng." Sahut ibu warung.
Karna sudah sangat haus, Adera membuka tutup botom minuman itu dan langsung meneguknya hingga tersisa sedikit. "Wuaahh, seger." Gumam Adera sambil menyentuh lehernya. Dan Toni hanya memperhatikannya saja.
"Tadi lo nanya apa, Ton?" Tanya Adera setelah dahaganya sudah hilang.
"Lo ngapain disini? Kemana lo belom pulang? Kemana Rina?" Tanya Toni lagi.
"Gue tadi nunggu jemputan seseorang jadi gak pulang bareng Rina. Eh gak taunya, dia gak jadi jemput gue. Yaudah, jadilah gue dihadapan lo." Jawab Adera.
Toni terdiam. Apa Adera menunggu lelaki yang menyebutkan dia suaminya di kantin kemarin? Entah kenapa Toni tidak suka dengan hal itu.
"Lo kemarin gak papa kan?" Tanya Toni lagi.
"Gak papa, tenang aja. Kata Rina lo cemas banget sama gue ya? Thanks ya udah cemas sama gue." Kata Adera.
"Beneran?" Toni memastikannya sekali lagi.
Adera mengangguk.
"Syukurlah." Gumam Toni. "Yaudah langsung pulang aja yuk." Ajak Toni.
__ADS_1
"Yaudah ayo."
"Tunggu, gue bayar minumannya dulu."