
Semalaman Adera menjaga Regan yang sedang sakit sampai tidak sadar dia ketiduran disofa single. Dan untungnya Adera tidak kesiangan bangun, dia langsung bangun saat subuh dan beraktifitas seperti biasanya.
Membuatkan sarapan, bekal untuk Raka juga sekaligus membuatkan bubur untuk Regan yang sedang sakit itu. Adera tidak mengeluh tentang itu semua, karna itu semua kewajibannya menjadi seorang ibu dan juga dia sudah terbiasa.
Setelah sudah membuatkan sarapan, menaruh semuanya diatas meja makan dan menyiapkan bekal untuk anak kesayangannya, Adera langsung duduk dimeja makan. "Raka!" Panggil Adera sambil memindahkan nasi goreng ke dalam piringnya dan juga Raka.
Siapa yang dipanggil siapa yang datang. Padahal Adera merasa tidak salah memanggil nama tapi kenapa malah Regan yang kelihatan dan langsung duduk disebelahnya dengan yang wajah pucat.
Regan menidurkan kepalanya diatas meja dengan kedua tangannya menjadi tumpukan kepalanya, dia menatap Adera sekarang.
"Regan, ngapain kamu jalan-jalan? Istirahat Regan, kamu itu masih sakit." Kata Adera dengan lembut, tangannya terangkat ke dahi Regan memeriksa suhu badannya lagi. Memang sudah agak mendingan daripada tadi malam, tapi tetap saja Regan tidak seharusnya ke dapur, dia seharusnya beristirahat saja.
Tangan Regan menarik tangan Adera dari dahinya, dia menggenggam tangan Adera diatas meja. "Kamu mau ke kantor?" Tanya Regan.
Kedua alis Adera terangkat. "Kamu pikir aku ngebiarin kamu sendirian disini?" Jawab Adera.
Regan tersenyum, dia mencium tangan Adera dimana membuat pipi Adera merona dan langsung menarik tangannya dari genggam Regan.
"K-kamu istirahat dikamar aja sana." Kata Adera dengan gugup.
Regan tersenyum melihat rona merah dipipi istrinya juga melihat kegugupan Adera. "Aku mau disini aja. Ngeliat kamu," ucap Regan.
"A-Apa sih."
Adera memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya, mengalihkan rasa gugupnya dengan Regan. Tapi ketika Adera memakan nasi goreng itu dan Regan hanya melihatnya, Adera merasa jahat karna tidak menawarinya kepada Regan juga.
Akhirnya Adera kembali menatap Regan yang sedang memperhatikannya. "Kamu mau? Aku udah buatin bubur buat kamu." Adera menawari.
Regan langsung menganggukinya. "Aku maunya nasi goreng kamu plus pengennya di suapin kamu." Katanya.
__ADS_1
Adera menghela nafasnya, dia ingat kalau Regan masih sakit jadi dia akan menurutinya. Adera langsung menyuapi Regan nasi gorengnya dan Regan pun menyuapnya dengan senyuman yang tertahan.
"Regan," panggil Adera pelan seraya menyuapi Regan nasi gorengnya lagi.
Regan mengangkat kedua alisnya. "Kenapa, hng?" Tanya Regan.
Adera terdiam sejenak, dia berperang dalam pikirannya sendiri. Setelah Regan mengatakan jika kehamilan Saskia saat itu bukan dirinya yang perbuat, Adera masih ragu jika memulai kembali dengan Ragan. Bukan apa-apa, Adera cukup merasakan rasa sakit begitu dia pergi dari Regan dan membesarkan Raka sendirian.
Hari-hari yang begitu menyakitkan dia jalani, bagaimana dia terus dipandang rendah karna hamil tanpa seorang suami. Juga bagaimana dia seberusaha mungkin kuat membesarkan Raka padahal kematian bapak Iqbal membuat Adera sangat tertekan.
Namun apakah dia akan tersakiti lagi jika dia memulai hubungan kembali dengan Regan walau Adera tahu Raga sangat membutuhkan sosok papa dalam hidupnya?
Melihat Adera terdiam membuat Regan langsung menggenggam tangan Adera lagi dan itu cukup membuat Adera terkejut. Dengan senyuman menghangatkan yang Regan berikan pada Adera. "Jangan dipaksa, kalo emang belum bisa nerima aku lagi, gak papa. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, aku akan menunggu kamu entah sampai kapan pun kamu siap, selalu." Ucap Regan.
Jujur melihat Regan, Adera juga tahu bagaimana tersakitinya dan tersiksanya Regan selama ini. Mereka sama-sama tersakiti satu sama lain, tapi tidak bisa dipungkiri kalau Adera menatap mata penuh cinta Regan yang menatapnya membuat Adera serasa ingin jatuh kepelukannya.
Mendengar suara Raka, sontak Adera langsung menarik tangannya yang digenggam Regan lagi, dia langsung menatap anaknya yang berpura-pura sebal. "Kenapa sayang?" Tanya Adera.
Raka berjalan kearah mamanya dan naik kepangkuan Adera, biasalah anak itu sedikit cemburu pada papanya. "Kok papa ada disini? Papa kan sakit, kenapa gak bobo aja?" Tanya Raka dengan wajah polosnya.
Regan menghebus nafasnya, dia lupa dia sudah punya anak jadi wajar saja anak itu mengganggu waktunya dengan Adera namun Regan sedikit kesal pada anak itu. "Emang papa gak boleh ikut makan sama mama?" Jawab Regan.
"Ya kan papa masih sakit, nanti cepet meninggal gimana? Aku sih gak masalah, tapi aku gak sedih juga sih." Kata Raka.
Dimana malah membuat Adera gemas, saking gemasnya Adera langsung menciumi pipi Raka berkali-kali dan dimana membuat Regan merasa cemburu dengan Raka.
"Kok gemesin sih anak mama?" Kata Adera seraya menciumi kedua pipi Raka berulang-ulang.
Raka menatap sang papa, dia mengangkat kedua alisnya seakan meledek papanya jika hanya dia yang mendapatkan ciuman dari Adera dan tentu membuat Regan kesal setengah mati dengan anaknya yang polos nakal itu tapi menyebalkan kebangetan.
__ADS_1
"Mah, papa kasian tuh. Minta dicium juga kayaknya dia." Ucap Raka membuat Regan kembali bersemangat. Dia langsung melupakan rasa kesal pada anaknya begitu Raka mengatakan itu.
Dalam hati anak itu, anggap saja nanti Raka akan meminta hadiah yang setimpal karna bantuannya itu pada papanya.
Adera langsung merasa gugup, dia menatap Regan yang seakan siap ingin diciumnya namun dengan cepat dia mengalihkan pembincaraan. "Kamu sarapan dulu deh, nanti langsung ke sekolah ya?" Kata Adera, mengalihkan pembicaraan.
Regan yang tidak dapat apa-apa dari Adera sedangkan Raka mendapatkan kecupan darinya merasa kecewa. Sangat amat kecewa.
"Hahaha kasian papa gak dapat ciuman dari mama. Kasian deh." Ledek Raka sambil melewekan lidahnya pada papanya.
"Raka kok gitu sih sama papa? Papa lagi sakit lho, kejam banget." Kata Regan sekaligus sindirian untuk Adera.
"Lah kok aku? Mama lah, mama kan gak mau cium papa. Berarti bukan salah aku, dong?" Raka membela diri.
Regan berdecak sebal. "Iya-iya deh, kalo gitu papa minta dicium Raka aja." Ucap Regan.
Namun Raka menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak mau, papa lagi sakit nanti aku nular lagi." Tolak Raka mentah-mentah membuat Adera menahan tawanya melihat betapa menyedihkannya Regan sekarang.
"Jahat ya?" Regan mencubit pipi Raka yang membuat Raka tertawa.
"Udah ah, jangan bercanda. Sekarang kamu sarapan, terus kita langsung berangkat ke sekolah." Kata Adera, menyendoki nasi goreng dan menyuapi Raka.
"Aku gak sekolah ya, mah." Lagi-lagi Raka drama dipagi hari, drama setiap hari saat ingin berangkat ke taman kanak-kanak.
"Apa lagi alasannya sekarang, hah?" Tanya Adera.
"Aku ketular papa, aku sakit mah." Rengek Raka dimana membuat Adera langsung memarahinya sambil menjewer telinganya walau tidak kencang tapi membuat Raka teriak minta bantuan dari papanya yang sedang sakit itu.
Regan tersenyum, entah mengapa hatinya menghangat setiap melihat Adera dan anaknya. Seadainya Regan lebih cepat menemukan Adera dan menjelaskan padanya tentang kesalah pahaman itu, mungkin Regan bisa merasakan pertumbuhan Raka dari saat dia masih dalam kandungan Adera.
__ADS_1