
Sepulang dari kantor, Adera memasak untuk makan malam. Hatinya merasa lebih baik jika dia memasak, jadi malam ini dia akan memasak makan malam walau dia tidak yakin kalau Regan akan memakannya atau tidak.
Adera memasak ayam goreng, sayur labu dan lainnya. Dia juga memasak makanan kesukaan Regan. Dia ingat betul bagaimana Regan sangat bersemangat ketika makan makanan kesukaannya saat itu, dia pun memakannya dengan lahap.
Tanpa sadar Adera tersenyum mengingat itu, mengingat Regan menghabisinya sendirian bahkan dia hanya dibiarkan mencobanya saja sedikit.
Adera merindukannya. Padahal mereka beberapa kali berpapasan hari ini, namun tetap saja Adera merindukan sosoknya yang menjahilinya, yang menyebalkan dan hanya membuatnya kesal saja.
Setelah sudah selesai memasak semua makanan, Adera mematikan kompor listrik itu dan dia langsung memindahkan masakannya ke rantang kaca lalu berjalan ke meja makan dimana semua masakannya sudah tersusun dengan rapi disana.
Dia menaruh lauk terakhir yang ia masak ke atas meja lalu dia duduk dikursi. Menunggu Regan keluar dari kamar lainnya, karna dia tidak tidur dikamar yang sering mereka tiduri, tetapi dikamar lain.
Lama menunggu, akhirnya Regan keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian kasual seperti ingin pergi keluar.
Adera yang menunggunya langsung menatapnya begitupun Regan yang juga menatapnya. Seketika mereka saling tatap-tatapan untuk beberapa saat karna selanjutnya Regan langsung memalingkan wajahnya dan pergi dari sana tanpa menyapa atau berbicara pada Adera seperti biasanya. Dia berlaku seperti orang asing kepada Adera.
Adera terus menatap Regan sampai Regan keluar dari apartemen lalu dia menatapi semua masakan buatannya yang sia-sia karna Regan sepertinya tidak akan memakannya.
"Huh, jadi dia gak makan?" Celoteh Adera. Dia mengambil nasi ke dalam piringnya lalu beberapa lauk lainnya.
Malam ini dia makan sendirian, tanpa Regan. Dimeja makan ini biasanya ditempati dia dan Regan makan sekarang hanya dirinya sendiri. Adera menghebus nafasnya panjang. Mau bagiamana lagi, Regan tidak ingin makan dengannya lagi.
Penglihatan Adera menjadi guram membuatnya segera mengedipkan matanya. Setetes airmata jatuh dari matanya dengan cepat dia menghapusnya. Namun tetesan air mata itu tetap saja keluar tanpa izin dari matanya. Dia tertawa sendiri sambil menangis.
Padahal ini semua adalah kesalahannya, kenapa dia jadi begini? Awalnya pun dia menginginkan perceraian dengan Regan, ini kan yang dia inginkannya? Jadi untuk apa dia merasa kesepian dan sedih?
"Ahh, jangan nangis dong, Adera.. Ini salah lo. Jadi lo jangan nangis oke?" Celoteh Adera namun tetap saja airmata itu keluar bahkan semakin deras.
Kedua bahu Adera bergetar. Dimeja makan ini, untuk pertama kalinya dia merasa kesepian tanpa adanya Regan.
"Huhuhu, jangan nangis gue mohon..." isak Adera. "Berhenti nangis... gue mohon... huhuhu... berhenti nangis Adera..."
__ADS_1
......................
Friska dan Rina sekarang berada di restoran mewah milik orangtua Rina. Mereka sedang merayakan perayaan ulangtahun Rina yang ke dua satu tanpa Adera, hanya mereka berdua saja.
Kata Adera, dia sedang sibuk jadi dia tidak datang ke perayaan ulangtahun Rina. Mau bagaimana lagi, Adera pasti kelelahan karna sudah mulai magang berbeda dengan mereka berdua yang masih santai-santai. Jadi mereka memaklumkannya.
"Sumpah ya, restoran ortu lo mewah banget. Pokoknya gue mau makan disini, tapi gratis ya?" Kata Friska dengan cengiran dibibirnya.
"Yeuuhh, bangkrut dong bisnis orangtua gue. Kalo lo kencan sama cowok baru tuh gue kasih gratis." Kata Rina.
"Yeehhh, lo bilang begitu sengaja kan? Karna belum ada yang ngajak gue kencan jadi lo ngomong begitu!" Kesal Friska.
Rina menganggukan kepalanya sambil tertawa. "Iya, hahahaha." Tawanya.
"Sialan lo." Umpat Friska.
Rina memberhentikan tawanya. "Btw gue kangen ngumpul bertiga sama Adera." Ucap Rina, mengingat salah satu sahabatnya yang tidak datang yaitu Adera.
Friska mengangguk setuju. "Gue pernah cerita kan sama lo? Kalo Toni udah nyatain perasaannya sama Adera."
Friska menganggukan kepalanya. "Toni nyatain perasaannya ke Adera, dia bahkan cium Adera."
"Tunggu. Cium? Di bibir?" Tanya Rina terkejut.
Friska mengangguk lagi. "Iya, dia cium Adera dibibirnya tapi gak taunya disana ada mas Regan. Gue ngeliat dia emosi terus mukulin Toni disitu juga." Cerita Friska.
"Terus?"
"Gue yakin pas pulang Adera sama mas Regan berantem sih. Gak mungkin kan mas Regan gak marah ngeliat istrinya dicium sama cowok lain apalagi di depan matanya."
Rina mengangguk setuju. "Iya, setuju. Tapi gue aneh deh sama Adera. Kenapa dia gak mau jujur aja sama Toni kalau emang dia udah nikah? Lama-lama kesel gue tuh sama Adera." Omel Rina.
__ADS_1
"Mungkin dia punya alasan lain buat nutupin dari Toni." Hanya Friska yang paling mengerti Adera.
"Tapi gue yakin, ada bertengkaran besar diantara mereka malam itu. Gue jadi khawatir apa Adera baik-baik aja?" Rina menunduk, dia sangat khawatir pada sahabatnya itu.
"Lo pikir lo doang yang khawatir, sama, Na. Gue juga."
Rina memanyunkan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya. Namun matanya tiba-tiba menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. Matanya yang cantik itu mendapatkan Regan tengah bersama wanita lain di restoran orangtuanya.
Rina memukul-mukul lengan Friska dengan mulut terbuka dan itu membuat Friska kesal.
"Kenapa sih lo?" Kesal Friska.
"Itu mas Regan, Fris. Liat deh!" Rina memberitahu pada Friska bahwa Regan ada direstoran ini namun tidak bersama Adera tapi bersama wanita lain.
Buru-buru Friska menoleh kebelakang dimana Rina menunjukkan apa yang ia maksud tadi. Mulutnya juga terbuka melihat apa yang dikatakan Rina, itu Regan bersama wanita lain.
"Foto, Fris, foto!" Heboh Rina, menyuruh Friska memotret Regan sekarang bersama wanita lain.
Friska sudah menyiapkan kamera ponselnya namun tiba-tiba menggurungkan niatnya. Seperti memotret Regan bukan hal yang bagus. Bisa jadi itu membuat Adera dan Regan bertengkar lagi dan dia tidak ingin Adera bertengkar dengan suaminya.
"Jangan deh, Na. Kita biarin aja. Mungkin itu kenalannya." Kata Friska, menaruh kembali ponselnya diatas meja.
"Tapi dia mesra, Fris. Liat tuh si cewek centil banget sama mas Regan, sok cantik banget dia." Emosi Rina.
"Udah lah, Na. Itu rumah tangga Adera, kita gak berhak ikut campur."
"Tapi gue khawatir sama Adera, Fris. Kita kan udah tau dia gimana. Dia emang keliatannya kuat di depan semua orang tapi aslinya hatinya rapuh, gimana jadinya kalo dia ngeliat suaminya selingkuh sama wanita lain." Kata Rina.
Friska setuju. Adera memang sosok yang kuat yang ia kenal tapi disosok itu terdapat Adera kecil yang rapuh. Dia sudah lama bersahabat dengan Adera, jadi dia sangat mengenal Adera.
"Pokoknya kita labrak itu cewek. Berani banget dia ngerusak rumah tangga sahabat kita. Bully yuk!" Ajak Rina dengan berapi-api.
__ADS_1
"Ya! Rina!" Teriak Friska lalu dia tersenyum lebar. "Ayo!" Sahutnya.
Lihat saja pelakor, berani sekali dia menyentuh rumah tangga Adera. Lihat saja pembalasan dari sang sahabatnya. Mereka tidak akan membiarkan dia begitu saja.