Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
16: First Kiss


__ADS_3

Pagi harinya Adera membuatkan sarapan untuk Regan dan juga untuknya tentunya. Dia membuatkan nasi goreng, telur ceplok, juga sosis goreng. Dia sebenarnya bingung ingin membuat sarapan apa tapi tiba-tiba dia kepikiran ingin membuat nasi goreng.


Adera menyediakan dua piring untuk Regan dan juga dirinya diatas meja makan, lalu dia menaruh nasi goreng yang sudah ia masukkan ke dalam mangkuk kaca besar juga telur ceplok dan sosis goreng.


Adera menghebus nafas lega. Akhirnya semua masakannya sudah jadi dan tinggal dihidangkan. Sambil menunggu Regan keluar dari kamar, Adera duduk di kursi. Dia ingin cepat-cepat tahu bagaimana pendapat Regan tentang rasa masakannya.


Tak lama kemudian, Regan datang dengan pakaian kerjanya yang sudah lengkap. Dia menarik kursi dan duduk disebelah Adera, matanya tidak bisa teralihkan dari makanan yang dihidangkan Adera hari ini.


"Wah, lo masak hari ini?" Kata Regan, hidungnya di manjakan dengan wangi nasi goreng buatan Adera.


Adera tersenyum lebar. "Iya, anggap aja ini debut gue masakin sarapan buat lo." Kata Adera dengan bersemangat.


Regan menatap Adera yang bersemangat begitu. Dia juga ikut tersenyum. "Mulai sekarang sampai seterusnya lo harus masakin gue, ngerti?" Perintah Regan.


Adera berdecak dan menganggukkan kepalanya. Cuma hanya disuruh masak setiap hari, Adera juga bisa tanpa disuruh.


"Lo gak layani suami lo?" Sindir Regan.


Adera baru ingat, dia bangun mengambil centong dan menyendoki nasi goreng ke piring Regan dan juga piringnya. Lalu dia mengambil telur ceplok dan sosis yang dipotong seperti kembang ke piring Regan dan juga piringnya.


Setelah itu Adera kembali duduk sambil tersenyum-senyum menunggu Regan memakannya dan mengomentari rasanya.


Merasa tergoda dengan masakan Adera, Regan langsung memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya, merasakan rasanya.


Adera menatap Regan dengan mata berbinar. Dia sudah tidak sabar dengan komentar Regan. Dia bahkan belum menyentuh makanannya karna menunggu pujian dari Regan.


Regan menguyah nasi goreng itu di dalam mulutnya, dia menatap Adera yang menunggu pujian darinya. Regan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lumayan." Katanya.


Jawaban Regan malah berbeda dengan ekspetasi Adera, Adera langsung cemberut karna jawaban Regan berbeda dengan apa yang diinginkannya. Dengan wajah cemberut Adera juga mulai memakan masakannya sendiri.


Melihat wajah Adera yang tadinya bersemangat menjadi berubah cemberut. Regan terkekeh pelan, sebegitu pentingnya bagi semua istri untuk mendengarkan pujian dari suaminya tentang masakan yang mereka buat?


"Bapak sama papa nelfon gue tadi katanya mereka mau main kesini nanti sore. Pokoknya nanti sore lo harus ada dirumah, jangan ngeluyuran kemana-mana, ngerti?." Ucap Regan sambil melahap masakan Adera dengan lahap.


Adera yang sedang menguyah makanannya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Regan.


"Jangan ngangguk doang!"


"Iya!" Adera menjawab dengan kesal dan itu malah membuat Regan terkekeh pelan.


"Lo ngambek sama gue?"


"Gak!" Ketus Adera.

__ADS_1


"Jelek lo."


"Bodo."


Regan mengahabisi nasi goreng dipiring, dia sangat menikmati hidangan Adera. Dan jujur, makanan buatan Adera sangat cocok dilidah Regan namun dia tidak memujinya karna dia tidak ingin.


Regan bangun dari kursi, dia membersihkan mulutnya dengan tisu. "Antar gue ampe pintu." Kata Regan.


"Idih, gitu aja minta anterin." Cibir Adera namun dia menurutinya. Dia bangun dari kursi dengan perasaan kesal yang belum juga reda. Dia terpaksa mengikuti Regan dari belakang, menghantar Regan sampai depan pintu.


"Inget, jangan keluyuran apalagi jalan sama si Tino lagi. Awas aja sampe gue tau, lo liat apa yang gue lakuin." Kata Regan membuat Adera jengah.


"Iya, ngerti gue." Sahut Adera malas.


"Gue pergi." Pamit Regan dan Adera mencium tangannya sebelum pergi, itu sudah menjadi kewajiban seorang istri kan.


"Iya sana." Usir Adera.


"Oh iya." Secara tiba-tiba Regan menundukkan tubuhnya dan mengecup bibir Adera singkat membuat Adera terkejut bukan main bahkan dia sampai mematung ditempat.


Regan tersenyum pada Adera yang kaku seperti patung. "Hadiah buat lo karna udah masakin sarapan buat gue." Ucap Regan. "Dan satu lagi."


Regan kembali mengecup bibir Adera sekali lagi. "Masakan lo enak." Pujian untuk masakan Adera yang tadi dia tahan.


Seperginya Regan, Adera menyentuh bibirnya sendiri. Dia masih berdiri di lorong apartemen dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Itu ciuman pertamanya!


......................


Kantor pusat Mahardika Groups


"Selamat pagi, pak." Sapa para karyawan pada Regan yang berjalan melewati mereka.


Karna hari ini suasana hati Regan sedang baik karna Adera, Regan membalas sapaan mereka dengan senyuman tipis.


Para karyawan yang melihat Regan membalas sapaan mereka dengan senyuman hanya menganga tidak percaya. Pasalnya baru kali ini Regan tersenyum pada mereka walaupun senyumannya sangat tipis. Bahkan para karyawan wanita yang melihatnya langsung heboh, karna senyum Regan itu sangat limited edision.


Regan masuk ke dalam lift lalu dia menekan tombol nomer lantainya. Menunggu sampai lift itu terbuka, Regan tersenyum-senyum sendiri disana. Untungnya hanya ada dia yang ada di dalam lift itu.


Mengingat betapa menggemaskannya wajah terkejut Adera saat dia tiba-tiba mengecup bibirnya itu membuatnya tidak bisa melupakannya apalagi saat Adera mematung begitu tadi. Agh, rasanya Regan ingin segera pulang ke apartemen dan mencium Adera lagi.


Saat lift terbuka, Regan langsung keluar dari lift dan berjalan ke ruangannya.

__ADS_1


"Pagi, pak." Sapa karyawan lainnya yang memberhentikan langkahnya dihadapan Regan.


Regan tidak menjawabnya dia hanya tersenyum bukan tersenyum membalas sapaan karyawan tadi, tapi dia masih mengingat wajah Adera diotaknya.


Karyawan itu terkejut karna hari ini secara ajaibnya Regan tersenyum pada karyawannya. Ini pertama kalinya. Karyawan itu penasaran, apa sebelum ke kantor, kepala Regan terbentur sesuatu hingga membuatnya begitu?


Regan tidak mempedulikan karyawan itu, dia melewati karyawan itu dan masuk ke dalam ruangannya dengan hati yang gembira. Dia menutup kembali pintu ruangannya menggunakan kaki lalu dia duduk meja kerjanya. Menyenderkan kepalanya disenderan kursinya.


Karna terus memikirkan Adera sambil tersenyum. Regan mengingat sesuatu. Hari ini kan hari kembalinya sekretarisnya yang mengambil cuti selama sebulan karna baru ingin menikah.


Regan mengambil telefon kabel dimejanya, dia menekan tombol kecil. "Panggilkan sekretaris Dito ke ruangan saya."


......................


"Hallo bapak Regan Geraldo Mahardika!" Sapa sekretaris Dito yang sudah seperti teman dekat Regan.


Regan memutar bola matanya malas, sekretaris Dito memang temannya, teman masa kecilnya yang ia jadikan sekretaris karna memang ayah Dito sebelumnya adalah sekretaris papanya.


Mungkin semacam keturunan keluarga Dito yang diharuskan berkerja menjadi sekretaris keluarganya. Karna hanya keluarga dari papa Dito yang keluarga Regan percaya.


Dito duduk disofa ruangan Regan. Dan bagaimana Regan melihatnya? Dia biasa saja. Karna memang sudah terbiasa dan juga mereka kan teman orok.


"Gimana pernikahan lo yang sebulan itu?" Tanya Regan, agak menyindir Dito


Ya bayangkan saja, Dito mengambil cuti sebulan karna ingin menikah di hawai katanya. Dan lagi dengan enaknya, Dito meninggalkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.


Dito hanya menyengir. "Ouhhhh, lancar dong." Jawab Dito.


"Hebat banget lo ya." Ketus Regan, dia kesal, sangat kesal dengan sekretarisnya itu.


"Iya dong." Bangga Dito.


Regan benar-benar kesal dengan Dito. Selama sebulan Regan dibuat pusing karna harus mengerjakan perkerjaan yang seharusnya menjadi perkerjaan Dito. Bagaimana dia tidak kesal? Dan dengan menyebalkannya, dia malah berbangga diri.


Saking kesalnya dengan sekretarisnya itu, Regan menimpuk berkas-berkas yang ada diatas meja kerjanya ke Dito yang duduk disofa. "Karna lo udah balik, jadi kerjain itu semua. Gue gak mau tau, hari ini juga harus selesai!" Perintah Regan.


Dito menganga tidak percaya. Padahal dia baru saja pulang dari liburan bersama istrinya. Dan sekarang malah diberi perkerjaan yang berat lagi.


"Oh iya, gue pengen kasih tau lo sesuatu." Kata Regan.


"Apaan?" Tanya Dito sambil membenahi berkas-berkas yang dilempar Regan padanya tadi.


"Gue udah nikah." Ungkap Regan yang membuat Dito membuka mulutnya terkejut dengan ungkapan sang boss.

__ADS_1


__ADS_2