Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Patah hatinya Rian


__ADS_3

"Ya ampun mama muda calon istrinya aku, nganter anak kita ya hari ini." Kata Rian sekaligus menyapa Adera yang menghantar sang putra ke kelasnya dan kebetulan dia bertemu Rian, si mahasiswa yang menjadi guru TK. Si yang paling ingin menjadi papa sambung Raka dan suami Adera.


Adera tersenyum pada Rian yang bersemangat melihatnya, memang akhir-akhir ini Adera tidak menghantar Raka ke sekolah dan Regan yang mengantikannya melakukannya, ya kebetulan orang itu saat ini sedang sakit jadi Adera yang menghantar Raga ke sekolahnya seperti sebelumnya.


"Iya nih." Sahut Adera.


Rian tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang indah pada Adera. Adera yakin kalau pemuda itu menjadi populer dikampusnya melihat wajahnya yang setampan itu. "Kak, kemana aja? Aku kangen tau ngeliat kakak sampe gak bisa tidur gak bisa makan sampe gak bisa boker gara-gara mikirin kakak." Kata Rian.


"Gak kemana-mana cuma kan sekarang ada yang gantiin buat nganter Raka, hehe." Jawab Adera dengan cengengesan.


"Tunggu," Rian berpikir sebentar mendengar jawaban dari Adera lalu kembali menatap Adera dengan serius. "Cowok itu maksud kakak? Yang ngaku-ngaku papanya Raka?" Rian memastikan dengan wajah yang serius.


Adera sudah menduga jika Regan akan mengatakan itu pada Rian ya mungkin karna Raka yang memberitahunya jika guru tk itu suka menggodanya. Tapi Adera tidak percaya jika Regan melakukan hal kekanakan begitu, apa karna mungkin Regan cemburu?


"Kak jawab kek, malah diem. Bikin penasaran aja." Rian terlihat sangat penasaran. "Cowok sok ganteng itu siapa sih?" Tanya Rian seakan sangat ingin Adera menjawabnya.


"Itu, Rian. Dia emang papa Raga, papa kandungnya, maaf ya gak ngasih tau kamu." Jawab Adera akhirnya, dia sangat menyesal.


Mendengar jawaban dari Adera, membuat Rian sakit jantung dadakan. Dia memegang dadanya dengan gaya yang sangat dramatis seakan baru saja terkena serangan jantung dadakan. Dia sakit hati, tapi serasa seperti sakit jantung saking dramatisnya.


"Kakak, bercanda kan? Bukannya kakak itu janda?" Rian masih tidak percaya. Pujaan hatinya, padahal baru saja ingin melamar Adera sebagai istrinya walaupun janda, eh ternyata Adera bukan benar-benar seorang janda dia masih punya suami. Itu membuat hati sang Rian hancur berkeping-keping.


"Kan aku gak pernah bilang begitu," jawab Adera dengan suara pelan. Memang dia kan tidak pernah bicara pada semua orang kalau dia seorang janda tapi mereka saja yang asal bilang begitu.


"Tapi kenapa dia baru muncul sekarang kak? Dia masih suami kakak? Atau udah cerai?" Tanya Rian lagi, sepertinya dia  masih tidak puas dengan semua itu. Dia butuh jawaban yang bisa meyakinkan hatinya.

__ADS_1


Adera berpikir sejenak, dia memang belum cerai dengan Regan bahkan Regan saja tidak pernah menalaknya tapi apakah berarti itu juga bercerai secarakan Adera dan Regan sudah berpisah lima tahun lamanya. "Aku belum cerai sama dia, Rian. Dia juga belum nalak aku, jadi bisa dibilang kita belum bercerai." Jawab Adera lagi.


Rian patah hati mengetahui jika wanita idamannya ternyata masih berstatus istri orang. Apakah dia harus menjadi pembikor agar bisa merebut Adera dari suaminya itu? Tapi tidak mungkin, bagaimana kalau Adera mencintai suaminya? Astaga Rian seketika bingung sendiri sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Melihat kebingung Rian membuat Adera langsung menyentuh bahu pemuda itu. Adera tahu jika Rian mempunyai perasaan padanya hanya saja Rian tidak menyadari apa arti perasaan itu. Tapi melihatnya seakan kecewa padanya membuat Adera tidak enak hati.


Merasakan sentuhan Adera dibahunya membuat Rian menatap Adera lagi dengan kerutan di dahinya. "Aku patah hati kak, huaaaa," dramatis Rian lagi.


Adera tertawa kecil. "Haha, lucu banget si gurunya Raka." Gemas Adera pada Rian.


Rian menatap Adera lagi yang menertawakannya, dia tersenyum diam-diam. Walau patah hati tapi tidak bisa dipungkiri kalau Rian sangat senang Adera bisa seceria ini walaupun mungkin karna kedatangan suaminya lagi.


"Pak guru, cepetan masuk gimana sih. Niat ngajar gak sih?" Omel Raka yang menyembulkan kepalanya dari jendela.


"Iya-iya bawel banget mantan calon anak!" Sahut Rian.


Sepulang dari menghantar Raka ke sekolah taman kanak-kanaknya, Adera kembali ke rumahnya. Dia menenteng bahan-bahan masakan untuk nanti sore kebetulan ada tukang sayur laganannya diperjalanan pulang tadi.


Begitu Adera pulang, Regan langsung menyadari kehadiran istrinya itu. Regan yang sedang merebahkan tubuhnya disofa menunggu Adera pulang langsung bangun dan terduduk. Dia langsung menatap Adera yang berjalan menghampirinya.


"Ya ampun Regan, kan aku bilang istirahat dikamar aku, kalo gak mau dikamar aku dikamar Raga kan bisa. Kenapa malah disini?" Tegur Adera, seraya duduk disebelah Regan dan mengecek suhu tubuhnya lewat dahinya dengan tangannya.


Regan menatap wajah Adera lekat-lekat. Teguran lembut dari Adera membuatnya senang, teguran lembut yang ia rindukan selama lima tahun ini. "Aku udah agak baikan, tenang aja." Jawab Regan sembari mengganggam tangan Adera yang berada di dahinya.


Kedua alis Adera terangkat. "Yakin? Tapi kamu tetep harus istirahat, Regan."

__ADS_1


"Maaf," ucap Regan kepada Adera dengan wajah yang tulus menatap gadisnya.


Adera terdiam sejenak lalu menghebuskan nafasnya. "Buat apa lagi?" Tanya Adera dengan kerutan di dahinya.


"Semuanya. Aku bener-bener minta maaf." Ucap Regan lagi, dia mengusap pipi Adera dengan lembut.


Adera menatap Regan sejenak lalu membuang pandangannya. "Belom minum obat kan? Kalo gitu, aku ambilin ya." Kata Adera malah mengalihkan pembicaraan. Adera tidak suka jika Regan terus meminta maaf padanya padahal disini yang paling merasa bersalah adalah Adera.


Adera bangkit, dia membawa bingkisan yang tadi ia bawa lalu berjalan ke dapur, dia akan menaruh bahan-bahan masakannya untuk nanti sore di dalam lemari es. Sembari mengambil obat Regan sekalian.


Setelah itu, Adera menghampiri Regan lagi dengan membawa obat dan air putih digelas untuk Regan. Dia mendudukan bokongnya lagi di sebelah Regan, langsung memberikan obat dan air putih itu pada Regan. "Minum dulu nih,"


Regan langsung menelan obat yang diberikan Adera dan juga meminum air putih.


"Dera," panggil Regan setelah sudah meminum obatnya.


"Udah gak usah dera-deraan. Sekarang ke kamar, istirahat!" Titah Adera.


Regan terkekeh pelan. "Ke kamar siapa?" Tanya Regan.


"Ya seterah kamu, mau pake kamar siapa. Kamar Raga juga bisa, kamar aku juga bisa." Jawab Adera dengan santai.


Regan tersenyum. "Aku masih lemes. Anterin ke kamar kamu." Kata Regan dengan manja. Itu hanya alasan Regan saja ya, gays. Sebenarnya dia cuma alergi biasa tapi dilebay-lebay-in aja biar dapet perhatian Adera.


Adera menghebus nafasnya, lalu dia membantu Regan ke kamarnya. Sebenarnya Adera tahu Regan hanya ingin bermanja padanya dengan alasan 'masih lemas'. Adera akan mengikuti sampai mana Regan akan bermanja padanya.

__ADS_1


Sesampai dikamarnya, Adera menindurkan Regan diatas ranjangnya. Dia menatap Regan yang juga menatapnya. "Udah sekarang istirahat." Kata Adera seperti terdengar titahan untuk Regan.


Saat ingin beranjak pergi dari sana, dengan cepat Regan menarik tangan Adera hingga tubuh Adera terjatuh diatas tubuh Regan yang dimana membuat Adera terpekik terkejut karna tiba-tiba Regan menariknya dan membawa tubuhnya ke dalam dekapannya.


__ADS_2