Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
30: Dia Pergi?


__ADS_3

Karna hari ini dia libur ngampus, jadi Adera akan membuatkan Regan makanan yang sangat lezat. Dia akan membuat sesuatu yang membuat Regan memujinya saat satu suapan pertama.


Adera mengaduk-aduk masakannya di dalam penggorengan. Dia yakin kalau Regan sebentar lagi terbangun dan dia akan membuat perut Regan merasa kenyang akan kelezatan masakannya. Lihat saja nanti.


Adera mencicipi masakannya dipenggorengan. Merasa masakannya sudah terasa pas, Adera langsung mematikan kompor lalu dia memindahkan masakannya ke piring besar.


"Masak apa lo?" Suara Regan tepat dibelakang telinga Adera membuat Adera merinding seketika.


Adera menoleh ke belakang dimana Regan berdiri dibelakangnya. Dia menatap Regan yang juga menatapnya dengan lekat. "Bisa gak sih gak usah bikin orang merinding mulu?" Omel Adera.


Sebelah alis Regan terangkat. "Hah? Lo kira gue setan?"


"Emang." Sahut Adera dengan kesal. Dia kembali memfokuskan diri memindahkan masakannya ke piring.


Regan terkekeh pelan. Dia berjalan ke lemari es, mengambil air disana lalu meneguknya. "Lo gak ngampus?" Tanya Regan setelah meminum air.


"Enggak. Libur tuh dari sananya." Jawab Adera tanpa menoleh.


Regan manggut-manggut. "Kalo gitu gue juga libur." Katanya.


Adera menoleh ke Regan lagi. Kedua alisnya terangkat. "Gak usah. Pergi sono ke kantor."


"Dih, seterah gue lah. Sibuk lo." Regan mengikuti cara bicara Adera diakhir perkataannya.


Adera mengangkat sudut bibirnya. "Idih, apaan ngikutin bae." Cibir Adera.


"Ribet lo. Gue pengen libur kenapa lo yang ribet?"


"Udah sana ke kantor aja." Usir Adera.


"Seterah orang dong."


"Ribet ih." Adera kesal. Dia menduga kalau Regan ada dirumah, Adera dibuat kesal terus-terusan oleh Regan.


"Kok lo yang ribet. Suka-suka gue dong mau libur apa enggak."


"Yaudah kalo gitu, aku mau maen ke rumah Rina daripada dirumah berduaan sama orang nyebelin disini." Kata Adera.


Regan mengangkat sudut bibirnya keatas sambil berkacak pinggang. "Lo pikir gue ngizinin? Gak ada. Suami dirumah, istri harus dirumah!"

__ADS_1


Adera memutar bola matanya malas. Dia sudah menduga kalau Regan tidak akan membiarkannya pergi kemana pun.


"Suruh teman-teman lo main kesini aja. Jangan lo yang keluar." Ucap Regan membuat Adera menyatukan kedua alisnya.


"Asal jangan teman cowok lo yang kesini!" Lanjut Regan.


Adera tidak menggubris perkataan Regan. Lagipun siapa yang ingin membawa teman laki-lakinya ke apartemen ini? Tidak ada tuh.


Adera berjalan ke meja makan, menaruh masakan terakhirnya itu disana. Melihat semua masakannya sudah jadi, Adera menghebus nafasnya. Memasak untuk seseorang itu bagaikan kebahagian sendiri untuk Adera.


"Regan, ada yang telpon tuh." Kata Adera ketika dia mendengar suara dering dari ponsel Regan yang ditinggalkan di atas meja makan.


Regan langsung mengambil ponselnya dan mengangkat telfon itu sambil menjauh dari Adera.


Adera penasaran siapa yang menelfon Regan. Tapi masa bodo lah, paling juga yang menelfon sekretaris Dito, tidak jauh kalau bukan dia. Adera kembali menaruh-naruhkan masakannya ke atas meja.


"Dera," panggil Regan dengan nada melemah. Entah dari kapan Regan sudah ada disebelah Adera.


Adera menoleh, dia mengerutkan keningnya melihat Regan menundukkan kepalanya. "Kamu kenapa?" Tanya Adera.


Regan mendonggakan kepalanya. Dia menatap Adera. Seketika Adera dibuat kaget ketika Regan menangis dihadapannya. "K-kamu kenapa?" Tanya Adera.


Adera tidak tahu apa yang membuat Regan menangis seperti ini. Pertama kalinya dalam hidupnya Adera melihat seorang laki-laki menangis dihadapannya. Dan juga pertama kalinya, Regan menangis didepan gadis seperti itu dan gadis itu adalah Adera.


"Regan?"


Kedua bahu Regan bergetar. Dia menangis dalam diam sambil memeluk Adera erat-erat seperti ingin memberi tahu kesedihannya pada Adera. "Mama," lirihnya.


"Mama kenapa?" Tanya Adera, dia bingung.


"Mama meninggal, Ra."


Adera terkejut, sampai-sampai dia tidak bisa berkata apa-apa. Padahal baru kemarin dia bertemu dengan mertuanya dan ternyata dia sudah... Tanpa sadar Adera ikut menangis. Dia tidak percaya dengan kabar itu.


Kedua tangan Adera sontak bergerak membalas pelukan Regan. Dia ikut meneteskan airmata di dekapan Regan.


......................


Setelah selesai memakamkan Rose, Adera dan Regan kembali ke apartemen. Sedari pulang dari pemangkaman, Regan tidak berbicara sedikit pun padahal biasanya dia akan bawel alias banyak bicara. Dan Adera merasa sedih akan hal itu.

__ADS_1


Adera tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita sayangi. Itu benar-benar menyakitkan. Namun apalah daya kita yang hanya manusia biasa yang hanya bisa mengiklasan kepergian orang yang sayangi? Sebagai manusia biasa kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiklaskan.


Regan langsung duduk disofa, dia menutupi wajahnya dengan tangan sambil merenung. Tatapannya benar-benar kosong.


Adera pun ikut duduk disebelah Regan. Dia ingin sekali mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan bilang kalau Regan tidak sendiri jadi dia tidak bersedih begitu terus-terusan. Namun lidahnya keluh. Mengatakan sepatah katapun dia tidak bisa.


Tangan Adera tanpa sadar terangkat ke punggung Regan. Dia mengusap-usap punggung Regan dengan lembut. "Jangan sedih begitu." Cuma kata itu yang bisa dikatan Adera padahal dia tidak ingin mengatakan itu.


Regan terdiam membiarkan Adera mengusap punggungnya. Dia memijit-mijit pelipisnya sendiri. "Gue keliatan menyedihkan ya?" Katanya.


Adera menggelengkan kepalanya. Itu tidak benar. "Gak. Gak ada yang bilang begitu." Tukas Adera, membantah keras apa yang dikatan Regan.


Regan tertawa pelan namun tawa itu terdengar begitu menyakitkan.


Adera menarik kepala Regan ke pahanya. Membiarkan Regan bertiduran dipahanya. "Lepasin aja. Jangan ditahan. Apa yang kamu rasain sekarang, lepasin aja." Ucap Adera dengan lembut.


Regan yang sudah tertiduran dengan kepalanya direbahkan di paha Adera, tertawa sambil menangis tiba-tiba di paha Adera. Mengeluarkan semua kesedihannya di paha Adera. Melepaskan perasaan sedih dan rasa bersalah pada kepergian mamanya. Dia mengeluarkan semuanya disana.


Tangan Adera mengelus kepala Regan dengan lembut. Melihat Regan menangis sambil tertawa cukup membuatnya ikut bersedih. Dia cukup lega Regan mengeluarkan rasa sedihnya dipahanya. Setidaknya Regan tidak perlu menyembunyikan perasaannya lagi dengannya.


Airmata Regan terus berjatuhan dicelana bahan Adera. Dia menangis dengan tawaan yang begitu terdengar menyakitkan. Dipaha Adera, dia mengeluarkan, melepaskan perasaannya. Dipaha Adera, Regan menangis dengan begitu penuh emosi padahal nyatanya selama ini Regan tidak pernah menangis seperti itu apalagi di depan oranglain dan seorang gadis.


"Jangan pernah sembunyiin apapun dari gue. Gue mohon." Gumam Adera, dia menatap Regan yang masih menangis dipahanya.


Setelah sudah lega mengeluarkan semua emosinya. Regan menutupi matanya dengan lengannya. Dia tidak mau Adera melihat kelemahannya seperti ini.


Tangan Adera masih mengelus kepala Regan. Adera membelakangi rambutnya ke belakang telinga lalu dia menundukkan kepalanya.


Cup!


Adera mengecup bibir Regan cukup lama. Dia memejamkan matanya. Dia berharap kalau kecupannya memberikan kekuatan pada Regan.


"Jangan sembunyiin apa-apa dari aku. Aku tau kamu selalu nyembunyiin perasaan kamu ke semua orang. Pura-pura senyum saat hati kamu sakit, tertawa saat hati kamu hancur. Tapi aku mohon jangan sok kuat didepan aku." Bisiknya, dia belum mejauhkan bibirnya dari bibir Regan.


Regan terdiam kaku. Bisikan Adera itu seperti sebuah kekuatan untuknya. Regan bangun. Dia duduk membelakangi Adera. "Makasih." Ujarnya.


"Buat?" Tanya Adera.


"Semuanya." Setelah mengatakan itu Regan langusng pergi menjauh dari Adera.

__ADS_1


Adera memandangi punggung Regan yang pergi. Dia sudah membulatkan tekadnya, dia akan menepati janjinya pada alm mama mertuanya bahwa dia akan menjaga Regan.


__ADS_2