
Adera memegangi dadanya yang sesak. Saat ini dia bersembunyi dibalik pohon. Dia terduduk direrumputan sambil menangis diam-diam. Kejadian hari ini sungguh tidak Adera sangka. Regan, lelaki itu menemukannya dan lagi lelaki itu kembali membuat hati Adera kembali sakit.
Adera menutup mulutnya kencang-kencang, menahan tangisnya ketika mendengar suara teriakan frustasi seseorang yang Adera kenali adalah Regan. Adera seberusaha mungkin tidak mengeluarkan suara karna dia tidak ingin Regan menemukannya.
Dia takut, takut menemui Regan yang mungkin juga menyakitinya lagi. Adera takut, sangat. Adera tidak ingin menemui Regan karna jika dia menatap wajahnya lagi, Adera takut dia akan jatuh dalam pelukan Regan lagi yang mungkin akan menyakitinya lagi.
Raka. Nama putra berusia lima tahunnya itu terlintas dikepalanya. Apakah Adera jahat jika dia tidak mempertemukan Raka pada ayah kandungnya? Mengingat wajah anaknya yang polos itu membuat hati Adera semakin sakit.
Tidak mendengar suara Regan lagi dan meyakinkan kalau Regan sudah tidak ada disana. Pada akhirnya tangis Adera tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis disana seorang diri, dadanya benar-benar sesak. Adera tidak bisa menahannya lagi.
"Adera?" Kaget Zayn melihat Adera dengan senduh menangis dibalik pohon sendirian.
"Raka," dalam tangisnya Adera menyebutkan nama putranya. Dia benar-benar mengingat wajah sang putra dan itu menyesakkan.
Zayn menatap Adera dengan senduh. Zayn memang tidak tahu apa yang terjadi pada Adera dan juga Regan tapi melihat kondisi Adera begini, Zayn yakin ada sesuatu yang menyakiti Adera hingga membuatnya menangis begini.
Tapi jujur, Zayn baru pertama kali melihat sosok Adera seperti ini. Karna Adera selalu tampak kuat di depan semua orang seakan tidak punya masalah setiap harinya namun hari ini Zayn melihat sosok lemah Adera yang membuat hati Zayn semakin. Ah entahlah.
Dan Akhirnya Zayn memilih menemani Adera, dia berjongkok disebelah Adera terduduk direrumputan. Zayn akan menemani Adera dan itu murni keinginan hatinya yang bergerak. Tidak peduli dengan pestanya, yang Zayn prioritaskan saat ini adalah Adera.
"Adera," dengan lembut Zayn memanggil nama Adera.
Adera yang menyadari adanya Zayn, langsung mengusap airmatanya dengan cepat. "Pak Zayn ngapain disini?" tanya Adera tanpa menatap Zayn. "Pak Zayn mau marahin saya lagi karna saya ninggalin pesta, iya?" lanjut Adera dengan nada dingin.
"Adera, saya..."
"Kalo pak Zayn mau marah sama saya silahkan. Saya gak masalah, tapi jangan sekarang. Saya mohon, saya... Huhu," kata Adera yang akhirnya kembali menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Zayn hanya diam, menatap Adera yang kembali menangis. Walau dia tidak apa yang terjadi pada Adera tapi Zayn yakin hati Adera tersakiti saat ini. Dan itu membuatnya enggan meninggalkan wanita itu.
Tak lama kemudian Adera mulai memberhentikan tangisnya. Matanya yang sembab akhirnya menatap Zayn yang masih setia berjongkok disebelahnya. Entah kenapa Adera merasa jika Zayn sengaja masih berada disana untuk menemaninya.
__ADS_1
"Udah nangisnya?" Zayn akhirnya membuka suaranya lagi.
"Pak Zayn masih mau marahin saya?" tanya Adera dengan kedua alis terangkat.
Zayn menghebus nafasnya. "Kamu masih berpikir begitu? Saya tidak akan memarahi kamu Adera." jawab Zayn.
"Kalo begitu boleh saya izin pulang, Pak?" tanya Adera.
Zayn menganggukkannya, itulah tujuannya menemani Adera dan juga menghantarnya pulang. "Saya hantar kamu pulang." kata Zayn.
"Tapi pesta bapak?"
"Kamu pikir saya peduli dengan pesta itu? Saya akan hantar kamu pulang, tidak usah menolak!" Zayn kembali berdiri dan dia mengulurkan tangannya kepada Adera. "Ayo kita pulang." ucap Zayn dengan senyuman dibibirnya.
Adera menatap tangan Zayn yang terulur di depannya, lalu dia menerima uluran itu dan ikut berdiri.
Begitu Adera berdiri, Zayn malah membuka jas hitam yang melekat ditubuhnya membuat Adera yang melihatnya bingung. Setelah itu Zayn memakaikannya ditubuh Adera dimana membuat Adera merasa tidak percaya dengan kebaikan yang baru saja Zayn lakukan padanya.
"Pakai, udaranya lagi dingin. Ayo." kata Zayn.
Zayn membukakan pintu mobil untuk Adera, dia menatap Adera yang hanya diam saja. Seakan tengah memikirkan sesuatu. "Adera?" tegur Zayn.
Dan Adera tersadar, dia tanpa bicara lagi langsung ke dalam mobil Zayn. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan lelaki itu, karna pertemuannya dengan Regan hari ini.
Zayn menutup kembali pintu mobilnya lalu dia berlari kecil mengelilingi mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya.
......................
"Argg!" teriak Regan di dalam mobilnya sembari memukul setir mobilnya.
Lagi-lagi Regan kehilangan Adera untuk kedua kalinya dia lalai tidak bisa menahan kepergian Adera padahal Adera sudah di depan matanya kenapa dia tidak bisa menggapainya.
__ADS_1
Regan marah pada dirinya, bisa-bisanya dia lalai pada akhirnya Adera melarikan diri lagi darinya. Sekali lagi Regan membenci dirinya sendiri karna tidak bisa menangkap Adera ke dalam pelukannya.
"Adera, kenapa kamu suka banget ngelariin diri? Segitu gak maunya kamu ketemu sama aku, heh?" gumam Regan, dia mengusap wajahnya dengan gusar.
Lagi dan lagi Regan menangis karna Adera. Itu sudah beberapa kalinya Regan mengeluarkan air matanya untuk Adera, istri tercintanya. Regan menjadi lemah, Regan lemah karna gadis itu.
"Adera," lirih Regan memanggil kekasih hatinya.
......................
"Terimakasih sudah menghantar saya sampai ke rumah, pak Zayn." ucap terimakasih Adera pada Zayn saat sudah sampai dipekarangan rumahnya.
Zayn menatap wajah Adera, ingin sekali dia mengatakan kalau dia ingin bersama dengannya lebih lama namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat berhubung kondisi hati Adera sedang tidak baik-baik saja.
"Adera,"
Adera mengangkat kedua alisnya menatapa Zayn dengan mata sembabnya. "Iya, kenapa pak?" tanya Adera.
"Kamu gak papa?" tanya Zayn dengan hati-hati.
Adera tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. "Saya gak papa, bapak tenang aja. Oh iya, maaf buat pesta perusahaan berantakan karna saya, saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi." Adera meminta maaf karna dia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Saya tidak peduli dengan pestanya, saya bisa buat pesta itu lagi lain kali. Tapi saya sangat mencemaskan kamu, Adera." kata Zayn dengan tatapan yang sulit Adera artikan.
Adera terkejut. Apa Adera salah dengar? Zayn mencemaskannya? Padahal Adera kira Zayn hanyalah manusia berhati dingin yang tidak mempedulikan semua orang ternyata dia salah.
Adera tersenyum lagi, kali ini dia tersenyum dengan hangat. "Terimakasih sudah mencemaskan saya, pak Zayn. Saya sudah salah menilai bapak." ucap Adera dimana membuat jantung Zayn seakan jatuh dari porosnya saking kencangnya detak jantungnya saat ini.
Melihat senyuman yang tidak pernah Adera tunjukan padanya membuat Zayn terpesona. Senyuman yang manis yang baru saja Adera berikan padanya dan ini pertama kalinya.
Zayn berusaha menetralkan kegugupannya, dia berdeham karna tiba-tiba tenggorokannya menjadi kering karna saking gugupnya. "Kamu gak mau keluar dari mobil saya?"
__ADS_1
Adera lupa, buru-buru dia langsung membuka pintu mobil Zayn dan keluar dari sana. Sebelum menutup pintu mobilnya kembali, Adera kembali mengucapkan terimakasih pada Zayn sekali lagi.
Setelah Adera mengucapkan itu dan menutup kembali pintu mobilnya, Zayn langsung menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Adera dengan detak jantung yang belum juga kunjung normal. Astaga kenapa bisa Zayn seperti ini, Zayn merasa sekarang dia tidak normal karna dunianya mulai hanya tertuju pada wanita beranak satu itu saja. Dan dia tidak tahu kenapa.