
Sudah lebih seminggu Regan berada dirumah sakit, karna tidak nyaman terus berada disana dan juga kondisinya sudah jauh lebih membaik, Regan akhirnya diperbolehkan pulang.
Namun kali ini, Regan pulang kembali ke rumah papanya. Karna baginya kembali ke apartemen itu hanya membuatnya terus mengingat dan merindukan Adera sampai membuatnya gila jadi untuk sementara waktu dia akan tinggal bersama papanya berhubung sekarang bapak Iqbal tidak ada, jadi dia akan menemaninya.
Regan kembali ke kamarnya dirumah papanya. Kamar yang dahulu menjadi tempat favoritenya dirumah ini. Regan menatap sekeliling kamar bernuasa dark itu, dia merasa bernostalgia.
Dulu, sebelum dia pindah ke apartemen, Regan tidak ingin beranjak dari kamarnya, bahkan untuk makan saja dia tidak mau keluar dari kamarnya kecuali kalau dia ingin menongkrong bersama teman-temannya.
Karna sering berada dikamar bukan berarti Regan menjadi tidak dekat dengan papanya, bahkan sangat dekat walaupun jarang bertemu. Tapi hanya saja saat itu papanya menikah lagi dengan wanita yang sangat Regan benci jadi Regan jarang menampakan diri karna malas saja.
Sudah cukup bernostalgianya, Regan langsung membanting tubuhnya diranjangnya. Sudah lama sekali dia tidak kembali ke kamar ini, dia jadi merindukannya.
"Re," panggil papa Jay begitu dia membuka pintu kamar Regan.
Regan terduduk ditepi ranjang, menatap sang papa yang berdiri diambang pintu. "Kenapa, pah?" Tanyanya.
"Mau makan dulu? Kamu belum makan lho dari rumah sakit." Kata papa Jay.
Regan tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. "Aku gak laper, pah." Jawab Regan.
"Yaudah, nanti makan ya. Baru sembuh mau balik ke rumah sick lagi?"
Regan tertawa. "Iya, pah. Nanti Regan makan, bareng janda tetangga kalo perlu."
Papa Jay ikut tertawa. "Yaudah, papa mau keluar sebentar ya."
"Mau godain janda lagi?"
__ADS_1
"Iya papa butuh janda bening-bening agar menjernihkan pikiran."
"Asal jangan dinikahin aja itu janda." Sindir Regan dimana membuat papa Jay tertawa lagi kali ini dia tertawa cukup keras.
"Kamu itu kenapa sih gak ngijinin papa kawin lagi? Papa kan butuh istri baru, Re."
"Sadar umur, pah. Udah bau tanah juga." Cibir Regan.
"Udahlah papa mau ketemu janda cantik, bye!" Papa Jay menutup kembali pintu kamarnya.
Seperginya papa Jay membuat Regan terkekeh pelan. Namun dia segera berdiri, dia akan pergi juga. Dia ingin menyelesaikan sesuatu dengan seseorang. Sesuatu yang membuat Aderanya pergi. Dia harus menyelesaikannya.
......................
"Regan!" Senyum Saskia melebar begitu melihat Regan datang ke rumahnya dengan cepat dia langsung berlari ke arah Regan dan memeluk Regan seperti sudah lama tidak bertemu saja.
"Hati-hati, Kia." Kata Regan menyuruh Saskia berhati-hati karna wanita itu tidak bisa berhati-hati padahal ada janin dikandungannya.
Saskia menyengir bukannya mikir. Dia melepaskan pelukannya dari Regan, dia menatap Regan dengan tatapan memuja. "Kamu udah sembuh? Aku denger kamu sakit, trus aku juga mau jengukin kamu dirumah sakit tapi papa Jay gak ngebolehin. Tapi sekarang kamu udah gak papa kan?" Tanya Saskia.
Regan menggelengkan kepalanya. Lagipun bukan dia yang Regan harapkan untuk menjenguknya, Regan malah berharap istri tercintanya kembali. "Papa gak ngebolehin emang belom diperbolehin dijenguk sama dokternya. Mangkanya papa ngelarang."
Saskia manggut-manggutkan kepalanya. Apa papa Jay mengadu pada Regan apa yang dia lakukan malam itu ketika papa Jay melarangnya ke menjenguk Regan? Tapi semoga saja tidak, lagipun apa yang dia lakukan tidak terlalu buruk kepada papanya.
"Kia, ada yang perlu dibicarakan." Kata Regan dengan wajah serius.
Kedua alis Saskia terangkat lalu menganggukan kepalanya, dia menarik tangan Regan ke sofa agar Regan duduk disana. Dan Regan hanya menurut saja. Toh tujuannya kesana ingin memastikannya sekali lagi kepada Saskia.
__ADS_1
Setelah duduk disofa dan Saskia juga duduk disebelahnya, Regan memulai pembicaraannya. "Kia, ceritakan tentang kejadian malam itu ke aku. Kasih tau aku biar aku yakin kalo anak dikandungan kamu itu anak aku." Kata Regan dimana membuat Saskia panik.
"K-kamu mau aku ceritakan malam itu?" Tanya Saskia, wajahnya cemas bukan main.
"Iya, ceritakan, setelah aku yakin kalo itu adalah anakku, darah daging ku, aku akan bertanggung jawab sesuai kemauan kamu." Ucap Regan.
Saskia gelegapan. Dia bingung apa yang harus dia jawab lalu sebuah ide terlintas dipikirannya. "Malam itu, diclub, kamu mabuk bersama teman-teman kamu. Dan malam itu juga kebetulan aku lewat club itu dan aku ngeliat kamu mabuk dan aku langsung masuk ke club itu tanpa berpikir panjang. Dan hal yang pertama saat aku masuk ke club itu, aku langsung digoda beberapa pria hidung belang.
Pria hidung belang itu ingin melecehkan aku, tapi disaat itu kamu melihat aku yang dicelehkan. Kamu langsung menghampiri aku, memukul pria hidung belang itu bahkan kamu bilang ke pria belang itu kalau aku milik kamu.
Setelah itu tiba-tiba kamu menarik tangan aku, ke tempat yang aku pun gak tau itu dimana yang pasti itu kayak kamar yang ada di club itu. Kamu bawa aku kesana, dan bodohnya aku malah nurut aja sampai akhirnya kamu melakukan itu ke aku, kamu mengambil keperawanan ku. Walau kamu gak ingat semua itu, tapi itu masih berbekas dikepala aku sampai sekarang.
Dan bodohnya aku malam itu gak bisa nolak apa yang kamu lakukan ke aku, sentuhan kamu buat aku lupa semuanya. Tapi setalah itu terjadi kamu malah mengabaikan aku seakan-akan aku kupu-kupu malam yang sehabis dipakai langsung dibuang. Kamu tau, itu menyakitkan." Setetes air mata keluar dari mata Saskia.
Regan yang mendengar itu tidak percaya. Kenapa dia bisa berlaku seperti pria bajingan seperti itu? Tidak, haruskah Regan mempercayai cerita Saskia? Tapi entah kenapa kepalanya jadi sakit.
Sulit baginya mengingat semua itu, dia tahu betul kalau pun dia mabuk dia bisa mengingat semua kejadian yang ada tapi kenapa dia tidak bisa mengingat kejadian itu? Regan memegangi kepalanya sendiri, kepalanya kembali sakit. Jadi itu benar, dia melakukan itu pada Saskia?
Melihat Regan memegangi kepalanya membuat Saskia cemas. "Regan kamu gak papa?" Tanya Saskia dengan cemas.
Regan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Kia. Maafkan aku, aku emang bajingan dan aku ngerti sekarang seorang bajingan kayak aku gak pantas untuk Adera, sekarang aku tau semua jawaban itu. Maaf dan terimakasih karna udah ceritain semuanya." Ucap Regan.
Dan Saskia tersenyum mendengar itu. Benar, Regan tidak pantas dengan Adera karna Regan hanya miliknya seorang. Hanya dia yang boleh memiliki Regan, hanya dia sendiri.
Saskia memeluk Regan, dia menaruh kepala Regan ke dadanya. "Kamu hanya perlu bertanggung jawab ke aku dan anak kita, Regan. Itu udah cukup."
"Juga kamu harus segera nikahi aku, Regan."
__ADS_1