
Malam ini, sepulang dari kantor, Regan sudah bersiap akan pergi dengan membawa sedikit pakaiannya yang dimasukkan ke dalam koper. Dia akan bersiap pergi meninggalkan apartemen ini, apartemen yang menjadi saksinya mencintai Adera.
Dia sudah menghubungi Dito untuk menjemputnya dan dia juga sudah membeli apartemen di daerah lain untuk ia tinggali disana. Sendirian. Biarlah apartemen ini untuk Adera, dia memberikannya pada Adera.
Setelah sudah memasukkan bajunya ke dalam koper, Regan langsung keluar dari kamar dengan membawa koper itu bersamanya.
Dan ketika dia keluar dari kamar, tatapannya langsung bertemu dengan Adera yang sepertinya ingin ke dapur karna kamar Regan dekat dengan dapur. Mereka saling bertatapan beberapa saat.
Tatapan Adera teralih ke koper yang dibawa Regan dan tatapannya kembali menatap Regan. Dalam hatinya, apakah Regan akan pergi keluar kota? Atau dia akan pergi bersama Olivia?
"Gue bakal pergi." Kata Regan membuat kening Adera mengkerut.
"Kemana?" Tanya Adera tanpa sadar.
Regan menatap Adera dengan senduh. Dalam benaknya dia ingin sekali memeluk gadis itu namun tidak mungkin dia melakukannya. "Gue bakal pergi dari apartemen ini." Jawab Regan. "Gue bakal ninggalin apartemen ini." Lanjut Regan.
Mata Adera terbelakak tidak percaya. Kenapa tiba-tiba Regan ingin meninggalkan apartemen ini? Ini apartemennya, seharusnya Adera yang pergi bukan dia. "Kenapa?" Tanya Adera.
"Karna gue ngerasa lo gak nyaman kalo gue masih ada disini. Mungkin lo risih karna gue masih tinggal disini padahal kita udah pengen pisah." Kata Regan dimana membuat Adera menggelengkan kepalanya.
"Tapi tenang aja, apartemen ini udah jadi milik lo. Lo bebas ngelakuin apapun mulai sekarang." Ucap Regan.
Mata Adera berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya. Bukan ini akhir yang ia inginkan, bukan.
"Oh iya, Lo gak usah khawatir karna gugatan cerai dilaksain besok bukan dua minggu lagi. Jadi lo gak usah khawatir tentang itu."
"Maaf, bikin lo gak bahagia karna gue. Gue berharap lo cepet nemuin kebahagiaan itu."
Adera menggeleng keras. Dia tidak mau bercerai dengan Regan, dia tidak menginginkan itu. Kenapa Regan malah memutuskannya bercerai besok? Kalau saja dia bisa membuat Regan tetap bersamanya.
"Bahagia, Ra. Gue gak mau bikin lo tersiksa lagi karna gue. Makasih buat semuanya, makasih udah hadir dalam hidup gue walau cuma sesaat." Ucap Regan dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lo jadi kurusan sekarang, makan yang banyak. Walaupun kita udah pisah, seenggaknya kita masih bisa jadi teman kan?" Tangan Regan tergerak mengacak-ngacak rambut Adera. "Selamat tinggal," pamitnya sambil tersenyum lalu dia berjalan melewati Adera dengan membawa kopernya. Dia meneteskan airmata dan dia tidak ingin Adera melihatnya.
Kata selamat tinggal itu menjadi kata-kata terakhir yang diucapkan Regan pada Adera. Kata selamat tinggal yang membuat keduanya terluka.
Namun tiba-tiba langkah Regan terhenti ketika Adera menarik baju yang ia kenakan. Dia terdiam tanpa menoleh kebelakang dimana malah membuatnya tidak rela berpisah dengan Adera.
Kedua bahu Adera bergetar, dia menarik baju Regan. Dia tidak ingin Regan pergi meninggalkannya, dia tidak ingin berpisah dengannya karna bukan ini yang di inginkan Adera. Bukan. Dia tidak pernah menginginkan perpisahan dengan Regan. Tidak pernah.
"Jangan pergi," lirih Adera.
Regan tetap melanjutkan melangkah keluar apartemen namun Adera menahannya lagi dengan memeluknya dari belakang dimana membuatnya memantung ditempat.
"Jangan pergi, aku mohon..." isak Adera.
"Gue harus pergi, Ra."
Adera menggelengkan kepalanya sambil menangis. Dia memeluk Regan dengan erat, dia tidak akan membiarkan Regan pergi. "Aku gak mau kamu pergi... Jangan pergi..." lirih Adera.
"Kamu harus bahagia, Ra."
Adera menggeleng lagi. "Gak mau, aku gak mau cerai. Jadi aku mohon jangan tinggalin aku.. aku mohon.."
"Ra, jangan begini.."
"Enggak. Aku gak mau! Ini bukan salah kamu, ini salah aku... Ini salah aku, jadi aku jangan tinggalin aku, Regan.." isak Adera makin menjadi.
"Aku suka kamu, Regan. Aku gak mau cerai... aku mohon jangan tinggalin aku.." lirih Adera.
Regan membeku ditempat mendengar pengakuan Adera barusan. Adera menyukainya? Jadi, Adera sudah menyukainya? Dan artinya Adera mempunyai perasaan padanya?
Regan sontak membalik tubuhnya menghadap Adera. Dan dia langsung menyerang bibir Adera tanpa berkata-kata lain. Mencium bibirnya yang ia rindukan akhir-akhir ini.
__ADS_1
Dia mendorong tubuh Adera sampai punggungnya menempel pada tembok. Dia tidak memberi jeda untuk Adera, dia terus menciumnya, melu mat bibirnya dengan panas. Dan begitu pun Adera, dia memang sedikit terkejut dengan perlakuan Regan tiba-tiba namun dia pun mulai menikmatinya dengan mata terpejam.
Tangan Adera sontak melingkar dileher Regan, memeluknya dengan erat agar dia bisa membalas ciuman Regan. Memang ciuman Regan sangat panas dan itu membuatnya yang belum mahir dalam berciuman kesulitan mencari oksigen namun dia mencoba membalasnya dengan melu mat bibir Regan juga.
Mendapat balasan dari Adera, membuat Regan makin menggecarkan aksinya. Dia memeluk pinggang Adera lebih erat agar dia bisa leluasa masuk ke dalam mulut Adera, bergelut dengan lidahnya disana.
Tidak puas hanya berciuman disana, Regan mengangkat tubuh Adera, menggendongnya ala kuala lalu membawa Adera ke kamar mereka dengan tidak melepaskan pangutan mereka.
Sesampai di kamar, Regan menidurkan Adera diatas ranjang. Mereka berciuman disana dengan panasnya dengan Regan yang berada diatas tubuh Adera.
Adera mulai merasakan kehabisan oksigen. Dia menepuk-nepuk bahu Regan memberitahunya jika dia kehabisan oksigen dan itu membuat Regan menjeda aksi ciuman mereka.
Regan melepaskan pangutannya dan membiarkan Adera mengambil oksigen sebanyak mungkin agar dia bisa melanjutkan aksinya.
Sebelum melanjutnya, Regan membuka bajunya sendiri sehingga dia telanjang dada dan hanya memperlihatkan dada bidangnya.
Setelah Adera sudah mengambil oksigen yang cukup, Regan kembali menyerang bibirnya. Dia tidak akan membiarkan Adera malam ini. Malam ini dia akan membuat Adera menjadi miliknya seutuhnya.
Tangan Regan tidak hanya diam. Kini tangannya bergerak mere mas dada Adera dengan lembut dimana membuat Adera melengkuh ketika tangan kekar dan besar Regan meremas dadanya.
Ciuman Regan beralih ke leher Adera. Dia mencium, mengecup lehernya berkali-kali dan juga dia membuat stempel kepemilikan disana sebanyak mungkin. Adera yang merasakan sensasi yang baru saja dia rasakan, merasa geli. Bukan geli karna ingin tertawa, namun geli dimana membuatnya ingin mengeluarkan suara desa han dari mulutnya.
Adera menahan desa hannya dengan mengingit bibir bawahnya kuat-kuat. Walau dia ingin sekali mengeluarkan suara itu, seberusaha mungkin Adera menahannya. Tapi dia baru ingat sesuatu.
Regan menatap wajah Adera yang memerah. Dia tersenyum puas melihat Adera menikmatinya. Ibu jarinya menghapus liur yang ia tinggalkan disudut bibir Adera. "Jangan ditahan, sebut namaku." Kata Regan.
"R-regan,"
Tangan Regan bergerak membuka kancing baju tidur yang digunakan Adera. "Hng?" Dehamnya.
"A-aku lagi datang bulan." Ucap Adera dimana membuat tangan Regan terhenti.
__ADS_1