Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Takdir?


__ADS_3

Suara peralatan rumah sakit terdengar jelas ditelinga Regan, dengan alat-alat rumah sakit yang mengelilinginya. Akhirnya Regan membuka matanya. Dia akhirnya membuka matanya setelah tiga hari hanya tertidur diatas bangkar panjang itu dengan nafas buatan dari selang dihidungnya dan juga infusan di tangannya.


Mata Regan menatap ke atas langit-langit rumah sakit, kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Dia masih butuh waktu untuk kembali sadar sepenuhnya.


Tak lama kemudian, papa Jay datang ke ruangannya, dia langsung terkejut melihat Regan sudah siuman dari komanya selama tiga hari. Segera papa Jay mendekati bangkar Regan dengan rasa bersyukur dan bahagia karna melihat putranya kembali membuka matanya.


Papa Jay berdiri disebelah Regan dengan senyuman bahagia. Dia memastikkan kalau Regan benar-benar sudah membuka matanya dan itu ternyata benar. Dengan cepat, papa Jay menekan tombol disebelah bangkar Regan. Dia memanggil dokter untuk memastikan kondisi Regan.


Walau tanpa menoleh ke papa Jay, Regan menyadari kehadiran papanya. "Papa," panggilnya dengan suara lemah.


Dan papa Jay kaget karna Regan memanggilnya. "Ada apa, nak? Sebentar, biar dokter periksa kondisi kamu dulu " Sahut papa Jay.


Saat dokter sudah tiba, dan langsung memeriksa kondisi Regan. Dokter memastikkan pada papa Jay kalau Regan sudah berhasil melewati masa kritisnya dengan waktu secepat ini dan tentu itu membuat papa Jay meneteskan airmata karna bersyukur karna sang putra sulungnya itu kembali sadar.


Hampir saja papa Jay berpikir kalau Regan juga akan meninggalkannya seperti mamanya, dia bahkan belum siap lagi jika dia harus kehilangan putra satu-satunya itu. Regan belum pergi kemanapun, dan dia bersyukur pada tuhan karna itu. Karna hanya Regan lah, harta berharga yang kini ia punya.


Papa Jay duduk dikursi sebelah ranjang bangkar Regan, dia melihat Regan masih menatap keatas langit-langit ruangan. Seperti ada yang tengah dia pikirkan. "Regan," panggil papa Jay sambil memegang tangan Regan yang dibius.


Dan akhirnya Regan mencoba menolehkan kepalanya ke papa Jay. "Adera, Adera pah," kata Regan dengan suara yang masih melemah.


Benar dugaan papa Jay, jika nantinya Regan terbangun hal yang pertama yang ia tanyakan pasti adalah Adera. Namun sampai saat ini, papa Jay belum ada kabar dari bawahannya yang mencari tentang keberadaan Adera.


Dan papa Jay hanya menggelengkan kepalanya. Dia belum menemukan keberadaan Adera padahal dia sudah menyuruh semua bawahannya untuk mencarinya namun sampai sekarang belum ada kabar dari siapapun.


Jawaban papa Jay membuat Regan menghebus nafasnya berat, ternyata dia benar-benar kehilangan Adera dan itu bukan mimpi. Adera benar-benar meninggalkannya. "Ternyata itu bukan mimpi." Gumam Regan, airmata keluar dari sudut matanya.


Buru-buru papa Jay menghapus airmata putranya itu, dia tahu bagaimana sedihnya Regan kehilangan Adera, orang yang sangat ia cintai apalagi dia menyalahkan diri sendiri karna kejadian ini semua.

__ADS_1


"Maafkan papa, Regan. Papa gak bisa berbuat apa-apa untuk kamu. Seharusnya papa bisa mencegah kepergian Adera, maafkan papa, nak." Sesal papa Jay, perasaannya penuh dengan penyesalan.


Regan menggelengkan kepalanya. "Papa gak usah merasa bersalah, ini semua salah Regan. Salah Regan yang buat Adera pergi, jadi jangan merasa bersalah lagi." Ucap Regan.


Papa Jay tidak tahu harus menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang ini melihat putra satu-satunya ini mengalami ini semua. Dia sedih, kecewa dan juga tidak kuat melihat kondisi Regan seperti ini namun bagaimana lagi semua sudah terjadi.


"Pah, boleh minta tolong panggil Dito kesini? Aku butuh dia." Pinta Regan dan papa Jay menganggukinya.


......................


"Regan, Regan, kenapa kisah cinta lo berakhir teragis begini." Kata Dito melihat kondisi Regan yang masih melemah diatas ranjang bangkar.


Regan menatap Dito yang sekarang menemaninya duduk disebelah ranjang bangkarnya. Karna papa Jay ingin pulang dahulu ke rumah, Dito menggantikannya untuk menjaga Regan dirumah sakit.


Dito menatap sahabatnya itu dengan sedih, dia tidak pernah menyangka jika kisah cinta Regan tidak semulus ini. Ada saja masalah yang datang, padahal kemarin baru saja dia membangun kembali rumah tangga bersama Adera. "Lo gak papa?" Tanya Dito dengan cemas.


"Sori, Gan. Gue gak ada disebelah lo saat lo ngehadapin semua ini sendirian." Kata Dito dengan sungguh-sungguh.


Karna dirinya Regan menahan beban sendirian, bagaimana dia berusaha menyembunyikan kehamilan Saskia pada Adera, dan juga berusaha membuat rumah tangganya tetap baik-baik saja tapi semua itu akhirnya berakhir seperti ini.


Adera pergi, meninggalkan Regan tanpa jejak, mungkin Regan sangat sedih dan terpukul sekarang ini. Dan Dito menyesal tidak ada disisi sahabatnya itu disaat masalah genting seperti ini.


Regan tertawa mendengar perkataan Dito yang dramatis begitu. "Jijik gue ngedengernya."


Dito berdecak sebal, padahal dia betul-betul serius mengatakannya kenapa Regan malah menanggapinya begitu. "Ckk, gue serius, ******." Decak Dito sebal.


Regan memberhentikan tawanya. "Lo udah cari Adera? Gimana hasilnya? Udah ketemu?" Tanya Regan dengan kedua alis terangkat menandakan jika dia berharap dengan jawaban Dito.

__ADS_1


Dito menghebus nafasnya, dia menggelengkan kepalanya. "Gue belum ketemu jejak dia. Gue udah coba cari dia kemanapun, gue juga udah ngecek dari nomer hp, email, kartu kreditnya tapi dengan pinternya dia ninggalin itu semua diapartemen. Dia pinter ngilangin jejak, Gan." Jawab Dito.


Regan kecewa, bahkan semua orang berusaha mencari Adera kemanapun, tapi belum satu orang pun yang berhasil menemukan gadis itu.


Istrinya itu pandai sekali menghilangkan jejaknya dan sekarang Regan bingung harus melakukan apa lagi karna semua sudah ia lakukan agar menemukan Adera tapi masih belum ada hasilnya.


"Gue bingung, To. Sumpah, gue bingung. Apa ini emang takdir gue yang selalu ditinggalkan?" Ucap Regan dengan suara lemah.


Dito ikut turut sedih. Disetiap kesedihan yang dirasakan Regan, dia juga merasakannya bagai anak kembar yang bisa merasakan penderitaan masing-masing itulah persahabatan Regan dan Dito.


"Gue pengen tanya sama lo sekali lagi, To. Apa bener gue yang udah ngehamilin Saskia malam itu?" Tanya Regan untuk berulang kalinya pada Dito.


"Gue gak tau, malam itu gue sibuk sama yang lainnya sampe gak sadar sama lo yang hilang entah kemana." Jawaban yang masih sama yang keluar dari mulut Dito.


Regan menghela nafasnya panjang. "Sebelum pergi, Adera nyuruh gue buat tanggung jawab, To. Dia minta sama gue buat bertanggung jawab dengan apa yang gue lakuin ke Saskia juga sama anaknya. Tapi entah kenapa gue selalu menentang kalo anak yang dikandung Saskia itu anak gue."


"Gue tau, mungkin lo belum bisa nerimanya. Dan gue mau tanya sama lo, apa lo beneran mau tanggung jawab kalo emang anak yang dikandung Saskia itu anak lo?" Tanya Dito dengan serius.


Memang sulit bagi Regan namun karna janjinya pada Adera, dia akan melakukannya. Bertanggung jawab pada Saskia dan anaknya, dia akan melakukannya walau memang berat baginya. "Gue bakal nikahin dia, kalo emang itu bener-bener anak gue."


Dito menghebus nafasnya gusar. "Itu keputusan lo. Tapi gue saranin, lo tunggu sampe anaknya lahir dan lo buktiin kalo emang itu anak kandung lo. Karna sejujurnya gue juga gak percaya lo ngelakuin itu ke dia walau dalam keadaan mabuk sekali pun."


Regan tersenyum, saran dari Dito ternyata benar juga. Hanya Dito yang bisa memahaminya. "Thanks, lo udah selalu ada disaat gue terpuruk begini." Ujar Regan pada Dito.


Dito ikut tersenyum. "Ya, karna kita temen? Lagi pun, lo juga selalu ada buat gue disaat gue terpuruk. Kita saling menguntungkan satu sama lain."


Dan Regan dan Dito tertawa bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2