
"Dia udah gak bisa nahan lagi, dia mau langsung masuk ke tubuh kamu. Boleh?" Regan bertanya dengan Adera dengan suaranya yang terdengar seksi.
Adera yang juga sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin lebih dari ini. Dan Adera pun menganggukan kepalanya.
Regan langsung melepaskan celananya dan juga melepaskan CD Adera. Seketika mereka berdua seratus persen naked, tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka lagi.
Mata Adera tidak sengaja tertuju pada benda milik Regan yang mengeras dan berdiri dengan tegak. Matanya melotot seketika melihat benda itu secara langsung, benda itu memang besar dan panjang. Tidak sadar, Adera menelan slivanya susah payah karna merasa takut pada benda itu.
Mata Regan tertuju juga ke benda miliknya ketika Adera menatapinya dengan mata melotot. Dia tertawa kecil melihat reaksi Adera seperti itu.
"Kenapa, hng?" Tanya Regan.
"I-itu bakalan masuk emangnya?" Tanya Adera dengan takut.
Regan menganggukinya. "Kamu udah gak sabar?"
"P-pelan-pelan, Regan. Ini kan pertama kalinya buat aku." Kata Adera.
"Kamu pikir aku bakal langsung brutal gitu? Aku juga tau ini yang pertama kalinya buat kamu. Jadi, percaya sama aku, oke?" Ucap Regan dengan lembut dimana membuat Adera sontak menganggukinya.
Regan memposisikan bendanya ditubuh inti Adera, dia terus menatap Adera yang terlihat begitu gemetaran. Dia tahu karna ini pertama kalinya bagi Adera, Adera jadi seperti ini.
Kedua tangan Adera memeluk tubuh Regan ketika ujung benda Regan sudah menyentuh inti tubuhnya. Dia memeluk Regan dengan erat.
"Aku masukin ya."
Adera menganggukan kepalanya lagi.
Jleb! Regan memasukkannya ke dalam tubuh Adera. Belum juga masuk setengahnya, Regan merasa ada sesuatu yang robek karnanya. Mungkin itu adalah selaput darah Adera yang sobek karnanya.
Seketika Adera merasakan sakit luarbiasa pada bagian bawahnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menancapkan kuku-kukunya di punggung Regan saking merasakan sakit pada bagian bawahnya. "Sakit," lirih Adera bahkan dia air mata keluar dari sudut matanya.
Regan yang melihatnya, buru-buru mengusap airmata Adera menggunakan ibu jarinya. Dia tahu jika Adera merasakan kesakitan yang luarbiasa pada bagian bawahnya. Regan pun langsung mencium bibir Adera dengan lembut. Mengalihkan rasa sakit Adera dengan ciumannya.
Perlahan-lahan Regan mulai mendorong miliknya lagi lebih sampai miliknya benar-benar tertelan oleh tubuh Adera. Walaupun Regan merasa sempit luarbiasa pada milik Adera yang ia masuki.
Ketika tubuh Adera mulai beradaptasi dengan kehadiran dirinya di dalam tubuhnya, Regan menatap Adera lagi. "Boleh aku gerakin?" Tanyanya.
Lagi-lagi Adera menganggukinya.
Begitu mendapat persetujuan dari Adera, Regan mulai menggerakan tubuhnya secara perlahan. Memang sangat sempit tapi Regan berusaha menggerakannya karna pertama kalinya dia merasa senikmat ini, bahkan benar-benar nikmat sampai Regan tidak bisa berpikir apapun.
__ADS_1
Dan beberapa menit kemudian, Dengan posisi yang berbeda, Adera dibuat mende sah panjang karna Regan. Juga Regan yang tidak bisa mengucapkan dengan kata-kata betapa nikmatnya tubuh istrinya yang baru dia jamah. Regan bahkan menggerang seiring menggoyangkan tubuhnya.
Dan malam ini, menjadi malam yang panjang bagi sepasang suami istri yang baru saja memulai rumah tangga mereka. Malam ini, mereka merasakan kenikmatan dari keduanya sampai hajat mendatangi mereka.
......................
Ke esokkan paginya, Adera membuka matanya ketika cahaya matahari dari jendela kamar mengenai wajahnya. Adera mengerjab-ngerjabkan matanya, memperjelas penglihatannya.
Begitu penglihatannya sudah jelas, hal pertama yang matanya lihat adalah Regan yang sudah terbangun dan sedang memandangi dirinya disebelahnya.
Seketika Regan tersenyum ketika melihat Adera sudah membuka matanya dan menatap dirinya. "Akhirnya bangun juga." Kata Regan dengan suaranya yang seksi itu.
"Tumben bangun duluan, biasanya aku mulu yang bangunin kamu." Kata Adera dengan suara orang khas bangun tidur.
"Lah, emang gak boleh aku bangun duluan gitu?" Sewot Regan.
Adera berdecak. "Apaan sih, pagi-pagi udah sewot. Nyebelin!" Cibir Adera.
Regan terkekeh. "Gimana tidur kamu, tuan putri?" Tanya Regan.
Dan pertanyaan itu membuat pipi Adera memerah seketika, tiba-tiba bayang-bayang tentang kejadian panasnya dengan Regan tadi malam membuat Adera mengingatnya lagi.
"Seharusnya aku yang tanya begitu. Gimana tidur kamu, tuan Regan? Nyenyak?" Adera balik bertanya.
Adera memukul dada bidang Regan, pipinya bersemu merah. "Ih apa sih!"
Regan tertawa renyah. Dia mendaratkan kecupan pagi hari dibibir Adera dimana membuat Adera sedikit terkejut. "Hadiah buat kamu karna udah nyerahin mahkota kamu sama aku." Ucap Regan.
"Y-ya iyalah. Kan kamu suami aku. Jadi itu hak kamu lah." Gugup Adera. Kenapa Regan bisa seromantis ini, astaga!!!
"Apa kamu pengen hadiah lebih, hem?" Goda Regan.
"Ih apa sih!"
Regan tertawa. "Tapi kamu mau tau sesuatu gak?"
Adera mengangkat kedua alisnya. "Apa?" Tanyanya.
"Setiap pagi semua laki-laki mengalami ereksi." Kata Regan dengan maksud tertentu.
Adera tidak mengerti apa yang dikatakan Regan. "Maksudnya?" Bingung Adera.
__ADS_1
Senyum penuh arti tercetak dibibir Regan, dia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Adera sampai dada mereka terbenturan. Regan ingin Adera merasakan kalau adik kecilnya sekarang sedang ereksi apalagi mengingat Adera masih dalam keadaan naked.
Adera melototkan matanya kala dia merasakan benda mengeras yang menyentuh tubuh intinya. Dia jadi mengerti sekarang apa yang dimaksud perkataan Regan tadi. Sesuatu yang ereksi itu adalah benda milik Regan yang mengeras. Dan itu membuat Adera seperti ambigu.
"Dia kebangun setiap paginya." Ucap Regan dengan nada rendah dimana membuat suaranya jadi terdengar seksi.
Adera langsung menjauh dari Regan. Tidak mungkin dia melakukannya lagi dengan tubuh berkeringat begitu apalagi kejadian tadi malam sedikit membuat tubuhnya nyeri.
Melihat tolakan dari Adera membuat Regan mendesah kecewa. Padahal dia sangat ingin merasakan kehangatan tubuh Adera lagi. "Adera, kamu gak kasihan sama dia?"
"I-itu aku kerasa nyeri." Tolak Adera. Dia memang merasakannya ketika tubuhnya bergerak, sesuatu pada dirinya terasa nyeri.
"Kita bisa pelan-pelan." Bujuk Regan.
Adera berdecak. "Pelan-pelan? Itu cuma perkataan kamu diawal, lama-lama kamu itu brutal tau gak! Gimana jadi gak nyeri!" Omel Adera.
"Ya itu karna kamu lah."
"Lah kok karna aku?"
"Salah kamu bikin nikmat." Regan mengatakannya dengan frontal dan itu membuat pipi Adera memanas.
Tapi entah kenapa Adera merasa kesal dengan Regan yang selalu saja berbicara dengan frontal begitu. Dia pun langsung bangun dan duduk ditepi ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia harus menghindar sebelum dia diterkam lagi oleh seringala yang kelaparan itu.
"Aku mau mandi." Kata Adera.
Regan pun ikut terbangun. Dengan semangat dia tersenyum lebar. Dia punya ide lain.
Melihat Regan ikut terbangun membuat Adera melototkan matanya pada Regan. "Ngapain ikut bangun sih?"
Regan turun dari ranjang, tanpa persetujuan dari Adera, dia menggendong tubuh Adera. Melempar selimut yang menutupi tubuh indah istrinya dimana membuat Adera terpekik terkejut dengan perlakuan Regan.
Sontak Adera melingkarkan kedua tangannya dileher Regan, dia takut terjatuh. "Kamu apa-apaan sih!" Kesal Adera.
"Katanya itu kamu sakit. Aku cuma mau bantu kamu ke kamar mandi aja." Jawab Regan dengan senyuman nakalnya.
"Jangan macam-macam ya!" Adera mengingatkan Regan.
"Emang mau macam-macam." Ucap Regan dengan tidak berdosa.
"Let's we having fun, Dera!" Kata Regan lalu membawa Adera ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Regan!!!" Teriak Adera.
Akhirnya tujuan kamar mandi itu tercapai juga. Kamar mandi yang bertujuan hanya untuk Regan mandi bersama dengan Adera akhirnya tersampaikan juga.