
"Ra, gue suka lo." Ungkap Toni dan dia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Adera yang dimana membuat Adera terkejut dan membeku.
Adera mengepalkan tangannya, sudut matanya berair. Dia tidak melakukan apa-apa hanya terdiam membeku, dia terkejut dengan ungkapan Toni. Regan, nama itu terlintas dipikiran Adera. Apa dia baru saja mengkhiyanati Regan dengan membiarkan laki-laki lain mencium bibirnya.
Tiba-tiba saja kerah baju Toni ditarik seseorang dan kemudian melayangkan pukulan diwajah Toni dimana membuat Toni tersungkur. Tidak membiarkan Toni berdiri, orang itu terus melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Toni hingga membuat Toni tidak berdaya.
Buk!
Buk!
Adera yang melihatnya langsung terkejut. Dia menatap wajah Regan yang berapi-rapi memukul wajah Toni dengan kepalan tangannya.
Dengan segera, Adera menahan Regan yang terus melayangkan pukulan pada Toni, dia memegangi tangan Regan yang terus dilayangkannya ke wajah Toni. "Regan! Udah!" Teriak Adera dengan airmata yang berjatuhan dipipinya.
Adera takut jika Regan bisa-bisa menghabisi Toni dengan kepalan tangannya padahal itu semua adalah salahnya. "Regan udah!" Tangis Adera mengencang.
Sontak Regan memberhentikan aksinya memukuli Toni, dia menatap Adera yang memegangi tangannya sambil menangis disebelahnya. Regan menatap Adera, hatinya dipenuhi rasa marah, sedih dan keputus asaan. Dia menatap Adera dengan mata yang memancarkan amarah.
"Udah!" Tangis Adera makin mengencang.
"Kita pulang!" Regan menarik lengan Adera dengan kasar namun tangan Toni menahan Regan membawa Adera pergi dari sana.
Entah dari kapan Toni sudah terbangun yang pasti wajah Toni sekarang babak belur. "Jangan bawa Adera." Pintanya.
Regan menatap Toni dengan dingin lalu dia menyeringai padanya. "Lepasin, atau gue pastiin lo mati di tangan gue hari ini." Ancam Regan, tidak main-main.
Toni menggelengkan kepalanya. "Gue rela mati, tapi jangan bawa Adera!" Ucapnya dengan mata tajam.
Regan menyeringai. Dia akan mengabulkan permintaan Toni untuk membunuhnya disini namun Adera menahannya lagi sambil menangis sesugukan.
"Berhenti nyakitin dia, gue mohon.." Adera memohon Regan untuk berhenti untuk menyakiti Toni lagi dimana membuat dada Regan sesak.
Dibanding dirinya, Adera malah memilih laki-laki itu dan memohon agar dia tidak menyakitinya lagi? Sungguh, dada Regan serasa sesak mendengar itu.
Tatapan Adera beralih pada Toni yang babak belur. Dia berusaha tersenyum padahal masih menangis. "Ton, gue gak papa. Jangan khawatir." Kaya Adera pada Toni.
__ADS_1
Toni bimbang. Dia tidak ingin melepaskan tangan Adera dan membiarkan orang itu membawa Adera namun disatu sisi dia,, akhirnya Toni memutuskan untuk melepaskan tangan Adera, dia menundukkan kepalanya.
Setelah Toni melepaskan tangan Adera, dengan cepat Regan membawa Adera pergi dari sana dengan menarik dengan kasar lengan Adera.
Adera mengikuti Regan dari belakang dengan tangannya ditarik kasar dengan Regan. Memang menyakitkan namun dia tahu kalau ini semua adalah salahnya. Namun tidak bisa dibendung lagi kalau lengannya benar-benar merasakan sakit.
Seperginya Adera, Friska, gadis itu yang tadinya hanya memperhatikan keributan itu dari jauh langsung menghampiri Toni. Dia mendekati Toni yang berdiri memandangi punggung Adera dari belakang.
Dia melihat dengan jelas saat Toni mencium Adera, Regan yang datang dan langsung menghantamnya. Dia melihat jelas itu semua namun dia menyadari sesuatu ketika melihat itu semuanya. Bahwa dia pun merasakan sakit dihatinya melihat Toni begini.
"Friska," gumam Toni ketika melihat Friska ada dihadapannya, tersenyum padanya.
"Lo gak papa?"
"Emang keliatan ya gue gak papa? Nyata nya emang gue lagi gak baik-baik aja, Fris." Ucap Toni dengan pilu.
Tidak tahan lagi, Friska akhirnya memeluk Toni. Toni pernah menolongnya, memberi semangat lagi padanya setelah dia putus dengan mantan pacarnya, dan kini giliran Friksa yang menolongnya.
......................
Regan menatap Adera dengan tatapan dingin. Dia tidak menyangka jika Adera lebih mempedulikan laki-laki itu dibanding dirinya sendiri, suaminya. Dan itu membuatnya semakin marah pada Adera.
"Terus? Lo nyalahin gue karna gue mukul dia pas gue tau dia nyium apa yang udah jadi milik gue?" Balas Regan dengan nada yang amat sangat dingin.
"Tapi gak seharusnya lo nyakitin dia. Dia baru aja berduka karna perceraian orangtuanya." Ucap Adera.
Regan menyeringai. "Dan karna dia lagi berduka lo ngebiarin dia nyium lo, Adera?"
Apakah Adera tidak tahu bahwa hati Regan juga sedang berduka saat melihatnya berciuman dengan Toni. Hatinya bagai memanas dan sesak melihat pemandangan itu, bagaimana dia bisa hanya diam saja melihat istrinya dicium lelaki lain di depan matanya?
"Gue gak biarin dia. Gue kaget, gue gak tau kalo dia bakal ngelakuin itu ke gue."
Regan tertawa mendengar perkataan Adera. "NYATANYA DIA UDAH NYIUM LO DAN LO CUMA DIEM AJA, ADERA!" Bentak Regan, pertama kalinya pada Adera.
Setetes airmata jatuh dari pipinya begitu Regan membentaknya dengan lantangnya. Buru-buru dia menghapusnya lagi. "Gue gak tau jalan pikiran lo kemana." Kata Adera.
__ADS_1
Regan geram, dia mengacak rambutnya frustasi. "Lo nikmatinnya bukan?"
"GUE GAK NIKMATIN ITU, REGAN!" Bentak Adera kali ini. "Gak sama kali." Lanjutnya.
Regan menyeringai miring. "Apa lo pikir gue percaya, hah?"
"Gue gak peduli lo mau percaya atau gak sama gue."
"Tapi bagus deh gue beruntung bisa ngeliat kedok lo hari ini. Gue malah jadi percaya dan yakin sama kata-kata teman sekantor lo kalo lo emang cewek murahan." Ucap Regan.
Plak!
Adera yang mendengar itu terluka, sontak dia melayangkan tamparan di pipi Regan dengan mata yang memerah dan airmata yang terus mengalir di pipinya. Dia tidak percaya Regan akan berbicara seperti, menghinanya seperti itu. Dia tidak percaya apa yang dikatan Regan barusan.
Dunia seakan berhenti saat ini dan detik itu juga. Adera yang terluka karna ucapan menghina untuknya juga Regan yang semakin terluka merasakan tamparan yang baru saja Adera layangkan di pipinya.
Namun Regan malah menyeringai sambil memegangi pipinya, dia kembali menatap Adera.
"Lo keterlaluan Regan!" Adera marah dan sedih secara bersamaan.
"Apa gue? LO YANG KETERLALUAN ADERA, LO MAININ PERASAAN GUE!" bentak Regan.
"KASIH TAU GUE KAPAN GUE MAININ PERASAAN LO, REGAN! YANG ADA LO YANG SELALU MAININ HATI GUE!" balas Adera juga membentak.
Regan menatap Adera dengan sedih, dia terdiam sejenak, dia hanya menatap Adera dengan mata memancarkan kesedihan yang luar biasa. Kalau saja Adera tahu perasaannya. "Sekarang lo mau bilang kalo lo tersiksa sama pernikahan ini, kan Adera?" Intonasi Regan lebih rendah dari yang tadi.
Adera menganggukan kepalanya sambil menangis. "Iya, gue tersiksa sama pernikahan ini. gue tersiksa sama semuanya. Gue muak sama sifat lo yang sok ngatur lo itu, gue muak sama lo. Lo cuma jadi penghacur kehidupan gue! Datangnya lo kehidupan gue buat hidup gue hancur! Lo puas?!" Tanpa sadar Adera mengatakan itu semua padahal dalam hatinya dia tidak ingin mengatakan itu.
Mendengar itu Regan tersenyum pilu. Jadi, ternyata dia hanya penghancur hidup Adera. Iya, dia memang penghancur yang datang dalam hidup Adera. Dia mengerti sekarang, Adera tersiksa dan menyesal menikah dengannya. Seharusnya dia tidak memaksanya menikah kala itu.
Regan menatap Adera dengan mata berkaca-kaca. "Benar, gue yang maksa penikahan ini padahal lo tersiksa sama ini semua. Pernikahan yang penuh paksaan ini. Gue yang bikin hidup lo yang damai itu jadi hancur. Gue baru sadar sekarang." Ucap Regan.
Adera ingin sekali mengatakan itu tidak benar. Dia hanya terlalu emosi tadi jadi tidak sadar mengatakan itu semua.
"Kalo gitu, mari kita pisah."
__ADS_1