Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
62: Makanan Penutup


__ADS_3

"Regan!" Teriak Adera sambil mendaratkan bokongnya diatas kursi meja makan.


Adera memanggil Regan untuk makan malam karna pria itu masih saja rebahan diatas sofa panjang sambil memainkan ponselnya. Adera menduga pasti pria itu sedang bermain game online. Dasar sudah tua malah masih saja bermain game online. Adera tidak mengerti.


Tak lama kemudian Regan datang dengan telan--jang dada sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan. Kebiasaan Regan saat diapartemen itu adalah mengacak-ngacak rambutnya sampai berantakan tapi anehnya itu malah membuatnya semakin tampan.


Regan menarik kursi disebelah Adera, dia menatap gadis itu yang sedang menyedoki nasi dan laukan yang ia masak ke piringnya lalu setelah sudah, Adera menaruh piring itu lagi di hadapan Regan.


Segera Regan melahapnya karna perutnya selalu merasa lapar jika mencium masakan Adera. Dia memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Seperti biasanya masakan Adera seakan memanjakan lidahnya.


Sebelum melahap makanannya, Adera memperhatikan Regan dahulu. Dia ingin dipuji atas makanan yang ia masak malan ini. Karna bagi Adera, pujian dari Regan membuatnya lebih bersemangat. "Gimana, gimana?" Tanya Adera menatap Regan dengan mata sungguh-sungguh.


Regan menatap Adera, dia tersenyum padanya dan menganggukan kepalanya. "Enak enak." Pujinya.


Seketika senyuman Adera melebar. Dia merasa sangat senang mendengar pujian dari suaminya. Setelah mendengar pujian itu, Adera jadi berselera untuk memakan masakannya sendiri.


Selesai makan, dan menghabiskan makanan mereka. Regan dan Adera langsung saling menatap satu sama lain.


"Kamu gak harus selalu masak buat aku kok." Kata Regan tiba-tiba membuat Adera mengangkat kedua alisnya tidak mengerti.


Tangan Regan mengambil nasi yang tertinggal disudut bibir Adera. "Karna tugas kamu cuma melayani aku diranjang." Ucap Regan dengan santai.


Sontak Adera memukul lengan Regan. Bisa-bisanya dia bicara begitu. "Kamu pikir aku ******* gitu? Cuma layani kamu diranjang?" Kesal Adera, dia merasa seperti disamakan dengan wanita murahan daripada seorang istri.


"Siapa yang bilang, hng? Aku cuma gak mau kamu kecapekan nantinya." Ucap Regan dengan lembut.


Adera berdecak. "Terus? Aku cuma punya kewajiban buat ngelayanin kamu diranjang aja gitu? Regan, aku ini istri kamu, lho."


Regan tersenyum. Dia tidak bisa menahan senyumnya karna ucapan Adera barusan. Sepertinya Adera memang gadis yang tepat untuknya. Bahkan Regan merasa beruntung karna menemukan gadis seperti Adera.


"Lah malah senyum-senyum lagi sekarang, nyebelin!" jutek Adera. Dia memalingkan wajahnya dari wajah Regan saking kesalnya dengan Regan.


Melihat itu, Regan terkekeh, dia langsung menarik dagu Adera agar menatap kearahnya lagi.


"Apa lagi?" Jutek Adera pada Regan dan malah membuat Regan tertawa kecil.


"Jadi Adera Danialova ngambek sekarang, heh?" Goda Regan.


"Ya abis kamu nyebelin."

__ADS_1


"Maaf, sayang." Regan meminta maaf.


Pipi Adera memanas seketika mendengar Regan memanggilnya dengan sebutan sayang. Astaga, kenapa tiba-tiba Regan menjadi semanis ini dan itu membuat jantung Adera tidak kuat merasakan detakan jantungnya yang berdetak lebih cepat.


"J-jangan begitu lagi." Gugup Adera dia membuang pandangannya segera.


Regan tersenyum gemas pada reaksi istrinya itu. "Dera," panggil Regan dengan suara yang amat lembut.


Adera kembali menatap wajah Regan dengan kening mengkerut.


"Kamu lupa makanan penutupnya, sayang." Kata Regan dimana membuat pipi Adera kembali memerah.


Kenapa saat Regan memanggilnya begitu, Adera jadi malu? Dan kenapa Regan jadi semakin,,,, ah tidak tahu lah.


"A-apa?" Tanya Adera.


Regan menepuk pahanya, menyuruh Adera berpindah ke atas pangkuannya. Dia meminta makanan penutup dari Adera dan itu hanya bisa dilakukan jika Adera naik keatas pangkuannya.


Entah setan dari mana, Adera malah menurutinya. Dia berpindah duduk diatas pangkuan Regan dengan menghadap ke Regan langsung dan melingkarkan kedua tangannya di leher Regan. Dia memang tidak mengerti apa yang dimaksud makanan penutup seperti yang dikatakan Regan tadi, dia hanya mengikuti kemauannya saja.


Regan tersenyum. Itu membuatnya semakin terlihat tampan dengan senyumannya yang menawan. Dan senyuman itu hanya milik Adera seorang.


Regan terkekeh mendengarnya. "Aku tau."


Kedua alis Adera terangkat. "Terus?" Tanyanya.


Regan tersenyum, dia mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri dimana membuat Adera tersenyum malu-malu sambil membelakangi anak rambutnya ke belakang daun telinga.


Adera menunjuk bibirnya sendiri memastikan apa yang dimaksud Regan dari makanan penutup itu bibirnya sendiri dan Regan menganggukkinya dengan senyuman dibibirnya.


Sebelum Adera mendaratkan bibirnya ke bibir Regan, Adera membasahi dahulu bibirnya supaya saat berciuman dengan Regan, bibirnya tidak terasa kering.


Setelah sudah, Adera langsung mendaratkan bibirnya di bibir Regan. Menciumnya dengan lembut. Regan pun membalas ciuman dari Adera, tangannya bergerak memeluk pinggang Adera, membuat tubuh mereka sangat dekat sekarang.


Tidak ada lum--atan panas diciuman mereka kali ini. Mereka berciuman dengan lembut, santai, dan tenang seakan sangat menikmati ciuman yang tanpa nafsu itu.


Setelah sudah puas, Adera dan Regan dengan bersamaan melepaskan pangutan mereka, seketika mereka saling menatap satu sama lain.


Regan mengecup bibir Adera ketika tatapan mereka bertemu dan perlakuan itu membuat pipi Adera memanas. Bahkan dia terus-terus mengecup bibir Adera ketika Adera menatapnya. Perlakuan itu memang membuat pipi Adera memanas namun disisi lain, dia jadi tertawa karna Regan terus mengecupnya seperti itu.

__ADS_1


"Udah ih," rengek Adera, dengan bumbu tawa kecil.


"Aku cinta kamu," ungkap Regan dengan mata keseriusan dengan apa yang ia ungkapkan pada Adera.


Karna Adera kurang jelas mendengarnya, Adera menatap Regan dengan kerutan dikeningnya, merasa perkataan Regan ada yang mengganjal. "Hah?"


Regan mendengus. "Gak jadi."


Adera terdiam. Apa yang dia dengar tadi itu hanya perasaannya saja? Tidak, itu tidak mungkin. Berulang kali Adera memastikan bahwa apa yang dia dengar tadi itu hanya perasaannya saja. Regan benar-benar mengungkapkan kata-kata itu, tidak mungkin.


"Oh iya, besok ada pernikahan sepupu aku." Kata Regan.


"Beneran? Ih kok kamu gak bilang apa-apa kemarin-marin. Kebiasaan deh, kalo ngasih tau apa-apa dadakan." Celetuk Adera.


Regan tertawa kecil sambil mengusap-usap pipi mulus Adera. "Ya abis aku lupa, gimana dong?"


"Seenggaknya jangan dadakan dong. Aku kan jadinya gak nyari baju dadakan. Ih kamu mah nyebelin."


"Kemarin-marin gak inget, sayang. Pikiran aku dipenuhi sama kamu, bukan tentang pernikahan itu." Ucap Regan.


Adera diam sejenak. Memang benar sih, mereka baru berbaikan empat hari yang lalu, pasti Regan tidak mengingat itu. Tapi seharusnya Regan tidak memberitahunya dadakan begini. "Terus gimana sekarang? Dipernikahan itu juga pasti kita ketemu saudara-saudara kamu kan? Dan aku juga harusnya siap-siap. Ah kamu mah!"


"Yaudah tenang aja sih,"


Adera menghebus nafasnya. "Aku jadi gerogi sekarang mau ketemu keluarga besar kamu, waktu dipernikahan kita kan cuma sedikit yang dateng, pasti disana banyak kan?"


Regan tersenyum. "Tenang aja, oke? Aku bakal cemburu kalo kamu segerogi itu ketemu saudara aku."


Adera memutar bola matanya, tidak mengerti. "Kok cemburu?"


"Karna disana banyak sepupu laki-laki aku. Awas aja sampe main mata sama mereka." Belum apa-apa Regan sudah mengancam begitu tapi itu malah membuat Adera tersenyum jahil.


Dengan gerakan nakal, Adera menyentuh dada bidang Regan. "Jadi disana ada sepupu kamu yang gak kalah ganteng dong dari kamu." Goda Adera.


"Dera, jangan mancing." Geram Regan.


"Gimana kalo aku jatuh cinta dari salah satu dari mereka?"


"Aku pastiin kamu bakal aku bikin gak bisa jalan selama berbulan-bulan." Ancam Regan malah membuat Adera tertawa renyah.

__ADS_1


Ternyata memancing Regan cemburu, ternyata seru juga. Bukan cuma ancamannya, juga wajah pria itu yang berubah menjadi cemberut lucu.


__ADS_2