Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
49: Penjelasan


__ADS_3

"Ra, katanya Ale mau ketemu kamu lagi tuh." Kata Alisia kepada Adera, mereka berjalan bersamaan keluar dari kantor.


Adera menoleh, dan tersenyum lebar. Mendengar anak Alisia yang bernama Ale itu membuat mood Adera membaik. Dia suka hal yang imut-imut dan karna Ale anak Alisia itu sangat imut, jadi Adera sangat menyukainya. "Yaudah aku mau main ke rumah mbak lagi ya?" Kata Adera.


Alisia tertawa. Belakangan ini Adera sering bermain ke rumahnya, seperti tengah menghindari sesuatu dan belakangan ini pun Adera terus pulang bersamanya biasanya kan tiba-tiba dia menghilang begitu jam pulang. Tapi Alisia senang karna Ale, anaknya merasa bahagia jika Adera datang ke rumah.


"Mbak Ale buat aku aja ya?" Kata Adera.


"Ya terus mbak dirumah sama siapa? Sendirian dong mbak?"


Adera tertawa kecil. "Abis Ale gemesin sih mbak."


"Haduh," Alisia menggeleng-gelengkangkan kepalanya dimana membuat Adera tertawa.


Langkah mereka berdua terhenti diparkiran, mereka berdua melihat Olivia masuk ke dalam mobil Regan dengan Regan yang membukakan pintu untuknya. Terlihat sekali mereka adalah pasangan yang mesra.


Dan itu membuat Adera menundukkan kepalanya, Regan saja tidak pernah melakukannya semanis itu kenapa dia bisa-bisanya melakukan Olivia begitu? Adera merasa cemburu, itu tidak bisa dibendung lagi.


"Liat tuh, Ra. Ngerasa paling cantik dia karna jadi kekasihnya pak Regan. Kok mbak benci ya ngeliatnya?" Alisia menoleh ke Adera namun dia malah melihat Adera menunundukkan kepalanya sedih.


Alisia menyenggol lengan Adera dengan lengannya. "Kenapa?" Tanya Alisia.


Adera menggelengkan kepalanya. "Enggak kok mbak. Cuma sedih aja gak punya pacar." Ucap Adera.


"Gak punya apanya, tuh ada cowok yang nungguin kamu disana." Alisia menunjuk dan Adera mengikuti arah tunjukkannya itu dan ternyata dia adalah Toni.


Adera menatapnya dari jauh. Apa Toni menunggunya?


"Kenal kan sama itu cowok?" Tanya Alisia sekaligus menggoda Adera.


"Kenal mbak, dia teman sekampus." Jawab Adera.


"Yaudah sana deketin. Siapa tau jadi pacar kan? Lumayan lho, Ra. Ganteng dia tuh." Ujar Alisia.


"Terus mbak?"


"Mbak bisa pulang sendiri. Sana deketin. Semangat, mbak tunggu kabarnya ya!"


Adera menganggukan kepalanya sambil tersenyum kikuk lalu dia menghampiri Toni yang duduk diatas jok motornya sambil celingak-celinguk. Pengakuan cinta dari Toni memang membuat Adera canggung tapi Adera akan menjelaskan semuanya padanya agar tidak ada lagi kesalah pahaman.


Adera melambaikan tangannya begitu Toni menoleh kearahnya berjalan, dia seketika tersenyum lebar pada Adera.


"Hay Ton," sapa Adera begitu dia berdiri di dekat Toni.


Senyum dibibir Toni tidak bisa membohonginya bahwa Toni memang mempunyai perasaan padanya dan itu membuat Adera tidak ingin menyakiti hati Toni begitu dia tahu kenyataannya.

__ADS_1


"Gue nunggu lo," katanya. Adera masih melihat bekas sudut bibir Toni yang robek karna Regan memukulnya malam itu, dia merasa bersalah.


"Seharusnya lo kirim gue pesan dulu."


Toni terkekeh. "Gue pengen kasih lo kejutan."


Adera tertawa kecil. Dia menyentuh sudut bibir Toni dengan tangannya membuat Toni sedikit terkejut. "Ini lo gak papa?" Tanya Adera.


Toni menggelengkan kepalanya.


"Maaf ya soal malam itu. Gue bener-bener minta maaf." Sesal Adera.


Toni tersenyum. "Kalo merasa bersalah, lo harus ikut gue." Dia memberikan helm pada Adera dan langsung diterima Adera.


Toni menyalahkan mesin motornya dan Adera pun menaiki motor besarnya sambil memakai helm yang diberikan Toni padanya. Sepertinya ini timing yang tepat untuk memberi tahu Toni semuanya, tentang dia yang sudah menikah, dia yang menyukai suaminya dan semuanya. Dia akan menjelaskannya pada Toni walau Adera tahu itu pasti menyakiti hati Toni.


"Udah?" Tanya Toni apakah Adera sudah naik kebelakang jok motornya dengan benar.


"Udah." Sahut Adera.


......................


"Nih," Toni memberikan es cream pada Adera dan Adera menerimanya. Dia pun duduk disebelah Adera dikursi taman.


"Thanks," ucap Adera dan dia langsung memakan es creamnya.


Jadi Toni juga mengkhawatirkannya malam itu?


"Gak papa kok. Gue baik-baik aja." Jawab Adera berbohong. Kenyataannya dia sedang tidak baik-baik saja apalagi Regan dan dirinya akan berpisah sebulan lagi.


"Terus orang itu siapa, Ra? Bukannya dia yang ngaku-ngaku lo sebagai suami dikantin hari itu? Tapi dia siapa Ra sebenernya?" Tanya Toni dengan wajah serius.


Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan Toni barusan. Adera menatap Toni dengan mata yang menunjukkan keseriusan. "Ton, gue mau kasih tau lo semuanya." Kata Adera.


Kening Toni mengekerut. "Apa?"


Adera menghebus nafasnya dahulu lalu menjelaskan siapa Regan sebenarnya. "Orang itu, maksud gue cowok yang ngaku suami gue dikantin waktu itu... Dia emang suami gue, Ton." Jujur Adera.


Es cream ditangan Toni terjatuh, dia terkejut dengan apa yang dikatakan Adera barusan. Dunianya seakan hancur bersama hatinya sekarang. "Maksud lo, Ra?"


"Gue udah nikah, Ton. Sama dia. Kita udah nikah dua bulan lalu, tapi kita nikah tanpa cinta tanpa kenal satu sama lain. Mungkin lo pikir gue dijodohin, tapi nyatanya enggak. Dia ngelamar gue di depan bapak gue, dan waktu itu bodohnya gue malah nerima lamarannya." Jelas Adera sambil tersenyum pilu.


Toni tidak bisa berkata apa-apa. Selain terkejut sambil menatap Adera dengan senduh. "Kenapa lo baru ngomong sama gue, Ra?" Kata Toni.


Adera mengigit bibirnya menahan tangisnya. Dia menatap Toni yang serasa tidak percaya dengan yang dia katakan. "Maaf, baru kasih tau sekarang. Gue kira gak papa kalo gue kasih tau lo, ternyata gue salah. Karna kesalahan gue, gue ngehancurin semuanya, Ton." Ucap Adera dengan lirih dikata akhirnya.

__ADS_1


"Bukan cuma hati lo yang gue hancurin, tapi pernikahan gue, gue ngehancurinnya karna kesalahan gue itu." Setetes air mata menetes dari mata Adera. Memang ini semua salahnya, jika saja dia memberi tahu Toni sejak awal mungkin ini semua tidak akan terjadi.


"Jadi?" Mata Toni memancarkan kesedihan yang ketara. Hatinya bagai hancur detik itu juga mendengar ungakapan Adera.


"Maaf, Ton. Maafin gue. Ini salah gue, salah gue. Benci gue Ton, gue emang pantes dibenci lo. Gue bener-bener minta maaf." Sesal Adera.


Toni menggelengkan kepalanya. Mana bisa dia membenci Adera, itu tidak akan pernah. Walau hatinya hancur berkeping-keping seperti ini, ini bukan salah Adera. Ini hanya salah waktu, dia terlambat menyatakan cintanya pada Adera. "Jawab satu hal, Ra. Lo cinta sama suami lo?" Tanya Toni dengan bibir bergetar.


Adera menganggukan kepalanya. Dia menyukai Regan dan mungkin juga mencintainya. Dia baru menyadarinya sekarang. "Gue suka dia, Ton. Tapi gue ngancurin rumah tangga gue, gue bikin rumah tangga kita hancur, Ton. Ini semua salah gue, Ton." Adera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi dia menangis.


"Jangan bilang begitu, Ra."


Adera menghapus airmatanya dengan tangannya. "Akhir-akhir ini gue jadi cegeng, maklumin ya, Ton."


Toni mengusap-usap punggung Adera. "Mau langsung pulang aja?" Tanya Toni.


Adera menganggukkan kepalanya. "Maaf ya, Ton."


Toni tersenyum padal hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Yuk pulang," ajak Toni sambil berdiri dari kursi taman.


Adera pun bangun dari kursi taman.


"Tunggu Ra," Toni menahan Adera yang ingin berjalan dan dia langsung memeluk Adera.


Toni memeluk Adera dengan erat, membenamkan wajahnya dibahu Adera. Ini adalah pelukan terakhir mereka, Toni berjanji akan hal itu.


"Jangan ngerasa bersalah lagi sama gue. Gue suka lo karna kamauan gue dan itu bukan salah lo. Sakit hati gaknya gue pun itu karna gue sendiri, bukan karna lo. Jadi, jangan ngerasa bersalah lagi, gue mohon." Ucap Toni dipelukannya.


Tangan Adera terangkat membalaa peelukan Toni. "Makasih, Ton."


"Kita masih bisa jadi teman kan?"


Adera menganggukan kepalanya.


......................


Epilog.


Regan sehabis menghantar Olivia sampai ke rumahnya, kalau saja dia tidak butuh wanita itu untuk melancarkan tujuannya, dia tidak akan membuang-buang waktu menghantarnya begini.


Namun saat diperjalanan pulang, Regan melihat seseorang yang dia kenal di taman. Karna penasaran, Regan memarkirkan mobilnya ditepi jalan dekat dengan taman itu dan dia juga membuka kaca mobilnya melihat dengan jelas pemandangan yang dia lihat di depan matanya.


Regan berdecih sambil tersenyum pilu melihat Adera berpelukan dengan laki-laki yang dia pukuli malam itu yah, siapa lagi kalau bukan teman sekampus Adera yang bernama Toni itu.


Itu sudah membuktikan kalau Adera memang tidak bahagia dengannya, dia lebih bahagia bersama laki-laki itu tapi Regan tidak bisa membohongi diri sendiri, hatinya benar-benar sakit melihat pemandangan itu.

__ADS_1


Tidak ingin melihat pemandangan itu berlama-lama, Regan segera menjalankan mobilnya kembali. Dia harus melupakan perasaannya pada Adera, itu harus.


__ADS_2