
"A-aku lagi datang bulan." Ucap Adera dimana membuat tangan Regan terhenti.
Kata-kata itu membuat Regan mendesah kecewa padahal dia sudah bersemangat menerkam Adera malam ini dan juga sangat bergairah namun mendengar Adera tengah datang bulan, Regan jadi merasa hampa. Adik kecilnya berdiri dibawah saja, bahkan mengeras dibalik celananya seakan mendesak ingin keluar tapi sepertinya Regan harus menundanya.
Regan menatap Adera yang memilin bibirnya. "Dari kapan?" Tanya Regan dengan lemas.
"Eumm, dua hari yang lalu, selesainya mungkin sekitar tiga hari lagi." jawab Adera dimana membuat Regan pasrah untuk menunda malam pertamanya dengan Adera.
Regan mendengus. "Harus nunggu, huh?" Dengus Regan.
Adera meringis sambil menganggukkan kepalanya karna membuat Regan kecewa tapi kan Regan duluan yang menyerangnya tadi. Tapi Adera tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia pun ingin menginginkan lebih dari Regan.
Regan mendesah kecewa. Dia menjatuhkan kepalanya didada Adera karna lemas harus menundanya padahal adik kecilnya sudah benar-benar berdiri kokoh dan mengeras.
"Maaf ya," cicit Adera, merasa bersalah.
Regan mengangkat kepalanya lagi dan menatap Adera dengan kening mengkerut. "Kenapa harus minta maaf?" Tanya Regan heran.
Adera memilin bibirnya lagi. "Karna kesalahan aku kemarin. Maaf," cicit Adera.
"Itu bukan salah kamu." Tangan Regan tergerak mengusap pipi Adera dengan lembut. "Kita berdua cuma korban. Jadi jangan salahin diri sendiri."
Bibir Adera memanyun. "Tapi ini semua karna aku. Aku yang bikin kita jadi kacau, aku juga yang bikin kita pengen pisah."
Regan terkekeh. "Udah lah. Gak usah dipikirin."
"Kamu mau tau gak sih, gimana sedihnya aku pas kamu bilang mau pisah. Aku tidur dikamar ini sendirian, nangis setiap malam. Aku ngerasa kesepian, tanpa kamu." Kata Adera membuat Regan membeku.
Regan pun merasa hal yang sama. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan juga setiap malam merasa kesepian dan hanya bisa memikirkan wajah Adera yang membuatnya merindukkannya sampai hampir mati.
"Terus kamu udah gugat aku dipengadilan?" Tanya Adera dengan serius.
"Aku bohong. Niatnya pengen gugat kamu pas aku udah pindah. Tapi ternyata aku gak nyangka kamu nahan aku pergi pake meluk lagi." Regan tersenyum menggoda Adera.
Pipi Adera terasa memanas. Dia memukul dada bidang Regan pelan. "N-nyebelin!"
Regan tertawa kecil. "Kamu jadi kurusan." Ucap Regan.
__ADS_1
"Ah masa sih? Gak tuh, emang badan aku kurus kan?"
"Emang, tapi anehnya, ini kamu malah berisi." Dengan jahilnya Regan meremas dada kiri Adera membuat Adera langsung memukulnya dengan kencang kali ini. Tapi itu malah membuat Regan tertawa.
"Semua cowok itu sama aja pasti suka banget sama dada perempuan. Suka komentar lagi, idih!" Cibir Adera.
Regan tertawa kecil. "Karna semua cowok itu suka sama kekenyalan. Contohnya ini salah satunya." Baru ingin meremasnya lagi Adera buru-buru menepisnya sambil berdecak.
"Udah ah, aku mau ke kamar mandi dulu." Adera mendorong dada bidang Regan agar menjauh darinya.
Dan Regan menjauhkan tubuhnya, dia mengubah posisinya menjadi duduk ditepi ranjang dengan menatap Adera dengan intens.
Adera merapikan rambutnya yang berantakan karna berciuman dengan Regan tadi, dia menatap dirinya dicermin dan matanya membulat melihat lehernya yang penuh dengan tanda kemerahan yang dibuat Regan. Dia langsung menatap Regan dengan tajam. "Kamu ini nyebelin banget ya! Udah tau tanda begini butuh berapa hari buat hilang, ah kamu mah!" Omel Adera pada Regan.
Regan mengangkat kedua bahunya tidak peduli. "Itu stempel kepemilikan, Dera." Jawabnya dengan santai.
Adera menggeram kesal. Bagaimana kalau ada rumor tentangnya lagi di kantor seperti waktu itu? Dan lagi bagaimana menutupi ini besok saat dia pergi ke kantor. "Kamu tau kan, kemarin karna tanda beginian aku dicap ******* sama teman sekantor aku. Kenapa malah bikin kejadian itu keulang lagi?" Geram Adera.
Regan mengangkat sebelah alisnya mendengar omelan Adera.
"Kalo begini, gimana aku mau ke kantor. Pasti aku jadi bulan-bulanan karyawan di kantor lagi!"
"Gak ada yang percaya. Mereka bilang aku cuma bohong aja biar gak kelihatan busuknya." Ucap Adera dengan bibir cemberut.
Regan berdecih. Berani sekali mereka mengatakan hal itu pada Aderanya. Lihat saja apa yang dia lakukan besok pada mereka. Kalau pergi Regan harus merobek-robek dalang yang mengatai Adera begitu, siapa lagi kalau bukan kekasih rekayasanya yaitu Olivia.
"Aku bakal bilang kalo kamu istri aku." Kata Regan tapi Adera menggelenginya.
"Enggak, Regan. Dikantor itu lagi panas-panasnya gosipin kamu sama Olivia. Kalo kamu ngungkapin siapa aku, aku gak tau apa yang mereka lakuin ke aku, apalagi yang ngedukung hubungan kamu sama Olivia." Ucap Adera dengan wajah sedih.
Regan mendekati Adera, dia memeluk Adera dari belakang. Menatap wajah Adera dari pantulan cermin di depannya. "Dera, terus kamu mau aku ngelakuin apa? Aku cuma diam, ngedenger semua hinaan mereka tentang kamu?"
"Aku gak tau," Adera menundukkan kepalanya lalu mendonggakan kepalanya lagi menatap wajah Regan dari cermin. "Aku pengen tanya sesuatu sama kamu."
"Apa?"
"Kamu beneran ngejalin hubungan sama Olivia?" Tanya Adera dengan wajah serius.
__ADS_1
Regan menghela nafasnya. "Kamu pikir aku mau sama dia? Aku terpaksa ngedeketin dia karna kamu."
"Lah kok aku?"
"Karna mau dijadiin alasan buat ketemu kamu di kantor."
Pipi Adera memanas mendengarnya. Bagaimana Regan bisa melakukan itu semua hanya karna ingin bertemu dengannya di kantor?
Aneh juga, padahal mereka baru saja berbaikan kenapa seakan dekat lagi? Seakan tidak terjadi apa-apa dengan mereka dan bersikap seperti biasanya hanya saja Regan mengubah ucapannya dengan aku-kamu. Mungkin hanya itu yang berubah.
"Gak percaya tuh. Olivia cantik, badannya juga seksi, gak mungkin kamu gak tergoda." Adera memutar bola matanya.
Regan terkekeh. "Kamu mau aku tergoda sama dia? Iya?" Goda Regan.
Adera mengangkat kedua bahunya. "Gak tau."
"Terus gimana sama kamu, hah? Bukannya kamu juga pacaran sama dia, hah?" Regan membalikkan Adera.
"Toni cuma temen tuh. Gak lebih." Jawab Adera dengan jutek.
"Cih! Temen?" Decih Regan mendengar kata teman dari mulut Adera.
"Udah ah, aku mau ke kamar mandi. Minggir," Adera melepaskan tangan Regan yang memeluknya dari belakang.
Lalu Adera berjalan ke arah kamar mandi tapi dia memberhentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan pintu kamar mandi. Dia membalikan badannya lagi ke Regan yang masih berdiri di depan meja rias sambil memperhatikannya.
"Kenapa?" Tanya Regan dengan nada ketus.
Adera menggelengkan kepalanya. "Aku baru sadar kamu udah ganti ngomong sama aku pake aku-kamu. Aneh banget." Kata Adera.
Regan mendengus. Bukannya dia yang menyuruhnya mengganti berbicara dengannya dengan kata aku-kamu?
"Kamu mau aku ngomong kayak awal lagi?" Sebelah alis Regan terangkat.
Adera menggelengkan kepalanya. "Enggak, terusin aja. Berarti kamu udah berubah dari Regan yang kayak preman sekarang malah kayak,,, mafia."
Apa hubungannya ya ampun. Regan dibuat tidak mengerti dengan istrinya itu. Menyebalkan memang namun itu tetap menggemaskan dimata Regan.
__ADS_1
"Bye, aku mau ke kamar mandi dulu." Pamitnya lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.