
"Lupain, lupain, lupain!" Gumam Adera. Besar dan panjang. Agghhh kenapa dia masih saja mengingatnya. Menjijikan.
Adera terus memukul-mukul kepalanya supaya dia lupa ingatan akan hal itu. Namun ingatan itu masih saja lewat diingatannya seperti kaset yang diputar ulang diotaknya.
Tak berselang lama kemudian, Regan masuk kedalam kamarnya yang dimana sudah ada Adera disana yang sedang duduk bersila diatas ranjang sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Lupain benda besar-panjang itu, gue mohon..." gumam Adera namun bisa di dengar Regan.
Regan menyeringai mendengar gumaman Adera. Mungkin dia masih mengingat jelas tubuhnya dan tubuh pusatnya. Entah kenapa bukannya malu karna dilihat tubuh telan_jangnya oleh gadis, Regan malah menginginkan Adera untuk melihatnya terus menerus. Gila memang tapi keinginan itu keluar secara sendirinya.
Menyadari kehadiran Regan, Adera menoleh kearah Regan yang hanya memakai handuk dililitkan di pinggangnya.
Entah kenapa mata Adera dengan lancangnya menatap kearah pusat tubuh Regan dan bahkan dia melototinya beberapa detik lalu kemudian dia dengan secepat kilat masuk kedalam selimut menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.
Melihat tingkah Adera malah membuat Regan terkekeh gemas. Dia dengan ide mesumnya mendekati Adera dan duduk ditepi ranjang tepatnya disebelah Adera yang menutupi seluruh badannya dengan selimut.
"Deroyyy, mau liat peliharaan gue gak?" Dengan jahilnya Regan menusuk-nusuk tubuh Adera dengan telunjuknya.
"Udah tau, kucing putih kan?" Sahut Adera yang berada di dalam selimut.
"Bukan, ada lagi. Dia gak kalah lucu dari si putih. Mau liat gak?" Goda Regan.
Adera membuka selimutnya sedikit sampai ke hidungnya, matanya menatap sosok Regan yang duduk dengan telanjang dada ditepi ranjang. "Hewan apaan?" Tanya Adera.
"Yang lo liat tadi di kamar mandi." Goda Regan dengan berbisik.
Wajah Adera memerah, dia kembali menutup wajahnya dengan selimut. "Dasar b*go!"
Regan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Adera. Dia bangun dari ranjang, dan berjalan ke lemari besar di kamarnya.
"Mau liat gue pake baju gak?" Goda Regan lagi.
"Gak bakal dan gak akan pernah."
Regan tertawa lagi sambil memakai pakaiannya.
Setelah memakai celana boxing dan celana polos berwarna putih, Regan bergabung dengan Adera di atas ranjang. Dia melompat dan berbaring membuat tubuh Adera ikut melompat karnanya. Adera mengintip dari balik selimut dan itu diketahui Regan.
"Gak usah ngintip-ngintip, gue udah pake baju." Kata Regan membuat Adera menyingkirkan selimut sampai ke dadanya.
Adera menghebus nafas lega tapi dia merasa tidak nyaman tidur satu ranjang dengan Regan.
"Kenapa?" Tanya Regan melihat Adera gelisah.
"Gue belum terbiasa tidur bareng cowok selain bapak. Jadi agak kurang nyaman." Jawab Adera dengan jujur.
"Lo belom pernah pacaran ya?" Tanya Regan, menerka-nerka.
__ADS_1
Adera mengangguki.
"Wah, berarti gue lelaki pertama dalam segala hal tentang lo dong." Kata Regan, tidak tahu kenapa dia merasa bangga.
"Maksudnya?" Tanya Adera, kurang paham dengan perkataan Regan.
Regan memiringkan tubuhnya menghadap Adera. "Gue yang pertama kali megang tangan lo, gue yang pertama kali cium kening sama pipi lo dan gue yang pertama kali tidur satu ranjang sama lo. Jadi, gue adalah cinta pertama lo." Amsumsi Regan malah membuat Adera kesal. Semua itu kan karna paksaan.
"Dan nanti gue orang yang akan ngambil kesucian lo." Lanjut Regan.
"Kenapa sih, daritadi lo ngomongnya ke situ mulu. Segitu maunya ya lo?" Kesal Adera.
"Kata siapa? Gak tuh." Elak Regan.
"Cih, dasar! Emang semua cowok itu sama aja ya. Pengennya cuma tubuh perempuan doang, mangkanya sampai sekarang gue benci banget sama yang namanya cowok termasuk lo."
Regan terdiam lalu dia bergerak membelakangi Adera. "Udah lah gue mau tidur. Ngobrol sama lo bikin gue mual."
"Enggak masuk akal!"
"Tidur." Perintah Regan.
Adera berdecih sambil membalik tubuhnya membelakangi Regan. Sekarang mereka saling membelakangi satu sama lain.
"Kalo gue tidur jangan berani sentuh gue ya!" Adera memperingatkan.
"Heem." Sahut Regan.
Pagi harinya, Regan terbangun karna suara shower dari kamar mandi yang berisik. Dia membalik badannya menjadi tungkurap dan mencoba untuk tidur sebentar lagi.
Di kamar mandi Adera sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia pun sudah mengambil baju ganti dan baju untuk dia pergi ke kampus nantinya.
Dia mengambil kaos disro milik Regan yang kebesaran ditubuhnya. Dan untungnya celana jeans yang ia pakai kemarin ia masukkan kedalam tas ranselnya. Jadi dia bisa memakainya lagi.
Setelah sudah merapikan diri dan memakai baju lengkap, Adera keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar. Adera heran padahal ada kamar mandi di dalam kamar kenapa Regan menggunakan kamar mandi utama di living room? Mengherankan.
Adera menggeleng-gelengkan kepalanya melihat orang gila itu masih tertidur nyenyak diatas ranjang.
Adera menghampiri Regan, dia berjongkok disebelah ranjang, memperhatikan dengan seksama wajah Regan yang tertidur.
Sebenarnya ketampanan Regan memang tidak duniawi. Wajahnya malah terlihat seperti animasi jepang, seperti tidak nyata.
Kulitnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, bulu matanya yang panjang, juga bibir tipisnya yang ranum. Siapa sih di dunia ini yang tidak mabuk dalam visualnya? Terkecuali Adera sih, wkwkwk.
Tak lama kemudian, Regan membuka matanya. Seketika tatapan mata mereka bertemu dalam beberapa detik namun dengan segera Adera berdiri, memukul wajah Regan dengan bantal berkali-kali membuat Regan menggeram kesal.
"Bangun coy, udah siang!" Teriak Adera.
__ADS_1
"Iya-iya gue bangun." Regan menyahut dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Regan terduduk ditepi ranjang, dia menggaruk-garuk rambutnya sambil menguap lebar. Dia menatap Adera yang sudah rapi. "Lo mau kemana?" Tanya Regan.
"Ke kampus, gue ada kelas pagi." Jawab Adera, dia tengah menyisir rambutnya yang setengah basah.
"Lo udah mandi duluan?"
"Ya iyalah." Jawab Adera singkat.
Regan mendengus kesal. "Lo lupa apa yang harus lo lakuin di pagi hari sama di malam hari?"
Adera berpura-pura lupa, dia ingat harus memandikan Regan sesuai apa yang ditulis di surat perjanjian. Tapi dia tidak mau memandikan Regan, memangnya dia itu bayi apa harus dimandikan?
"Emang ada apa sih?" Pura-pura lupa.
"Sekarang lo pura-pura lupa lagi, hah? Fix, nanti gue tempel surat itu dimana-mana termasuk dijidat lo biar lo gak lupa lagi." Kesal Regan.
"Lagian gak masuk akal banget, masa minta dimandiin, emang lo anak kecil yang gak bisa mandi sendiri?" Balas Adera.
"Ya karna itu tugas lo!" Dengus Regan kesal.
Adera mengangkat sudut bibirnya, mencibir Regan.
"Terpaksa gue undur dulu, kalo besok lo gak ngerjain tugas lo sebagai seorang istri, lo liat aja apa yang gue lakuin." Ancam Regan.
Bukannya takut Adera malah meledek Regan dengan wajah menyebalkannya.
"Buruan mandi sana." Suruh Adera.
"Iyaiya." Regan menyahut dengan malas. "Tapi tunggu, lo tadi mandi dikamar mandi mana?" Tanya Regan.
Adera menunjuk kamar mandi yang ada dikamar.
"Lo mandi disana?" Tanyanya sekali lagi.
"Iya." Jawab Adera singkat.
"Lo tau gak, kamar mandi itu belum gue pake sejak awal karna cuma di khususin buat gue mandi bareng sama istri!" Ucap Regan.
Adera menganga tidak percaya. "Hah? Lo beneran gila ya?"
"Iya gue gila! Puas?!" Regan berjalan melewati Adera keluar dari kamar. Dia akan mandi di kamar mandi utama.
Adera benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir seorang Regan Galendra Mahardika.
......................
__ADS_1
VISUAL REGAN GERALDO MAHARDIKA