
Regan menatap Adera dengan sedih, dia terdiam sejenak, dia hanya menatap Adera dengan mata memancarkan kesedihan yang luar biasa. Kalau saja Adera tahu perasaannya. "Sekarang lo mau bilang kalo lo tersiksa sama pernikahan ini, kan Adera?" Intonasi Regan lebih rendah dari yang tadi.
Adera menganggukan kepalanya sambil menangis. "Iya, gue tersiksa sama pernikahan ini. gue tersiksa sama semuanya. Gue muak sama sifat lo yang sok ngatur lo itu, gue muak sama lo. Lo cuma jadi penghacur kehidupan gue! Datangnya lo kehidupan gue buat hidup gue hancur! Lo puas?!" Tanpa sadar Adera mengatakan itu semua padahal dalam hatinya dia tidak ingin mengatakan itu.
Mendengar itu Regan tersenyum pilu. Jadi, ternyata dia hanya penghancur hidup Adera. Iya, dia memang penghancur yang datang dalam hidup Adera. Dia mengerti sekarang, Adera tersiksa dan menyesal menikah dengannya. Seharusnya dia tidak memaksanya menikah kala itu.
Regan menatap Adera dengan mata berkaca-kaca. "Benar, gue yang maksa penikahan ini padahal lo tersiksa sama ini semua. Pernikahan yang penuh paksaan. Gue yang bikin hidup lo yang damai itu jadi hancur. Gue baru sadar sekarang." Ucap Regan.
Adera ingin sekali mengatakan itu tidak benar. Dia hanya terlalu emosi tadi jadi tidak sadar mengatakan itu semua.
"Kalo gitu, mari kita pisah." Putus Regan dimana membuat Adera membeku ditempat.
Dunia Adera seakan hancur detik itu juga mendengar keputusan Regan barusan. Bukan itu yang di inginkan Adera, sungguh. Tapi kenapa Regan memutuskannya begitu saja?
"Maaf bikin lo tersiksa sama pernikahan ini. Gue yang salah karna gue yakin lo bakal bahagia sama pernikahan kita dan ternyata gue salah. Gue yang salah ngartiin semuanya. Maaf." Sesal Regan dengan mata berkaca-kaca menatap Adera yang membeku hanya menangis tanpa suara.
"Sekarang lo bebas ngelakuin apapun yang lo mau. Lo bebas ngelakuinnya karna gak ada lagi orang yang sok ngatur lo, kan? Lakuin sesuatu yang bikin lo bahagia meskipun bukan sama gue."
Adera menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Lidahnya keluh seakan tidak ingin berkerja sama dengan hatinya.
"Tapi gue mohon buat lo tunggu sampai sebulan. Sampai papa keluar dari rumah sakit dan gue bakal coba ngejelasin sama papa tentang perceraian pernikahan kita. Gue mohon tunggu sebentar lagi."
"Tapi tenang aja, mulai dari sekarang. Detik ini juga, gue gak akan ikut campur sama urusan lo. Lakuin apa yang lo lakuin sebelum ketemu gue, Dera. Semoga lo bahagia, Adera." Regan mengusap pipi Adera lembut sambil tersenyum lalu dia beranjak pergi keluar apartemen, meninggalkan Adera sendirian disana. Dia butuh ketenangan diluar sana.
Seperginya Regan, Adera merosot duduk dilantai. Dia menangis dengan kencang. Menutup mulutnya dengan tangannya, menangis sejadi-jadinya disana.
Dia tidak percaya kalau pernikahan mereka akan berakhir seperti ini dan ini semua karna salahnya. Karna kesalahannya, dia menghancurkan pernikahannya. Karna keegoisannya, dia menghancurkan hati Regan. Semua ini salahnya dan dia tidak bisa menghindar lagi.
Sedangkan disisi lain. Regan masuk ke dalam mobilnya. Dia memijat pelipisnya, tanpa sadar dia mengeluarkan air mata. Ketakutannya akhirnya terwujud juga yaitu berpisah dengan Adera.
__ADS_1
Namun Regan harus menerimanya, dia tidak ingin Adera terus terluka dan tersiksa dengan pernikahan mereka. Dia ingin Adera bahagia, tidak ada cara lain selain ketakutannya itu sendiri, yaitu berpisah.
Dalam waktu yang sama kedua pasangan itu menangis di tempat yang berbeda. Mereka menangisi pasangannya dengan perasaan yang menyesal.
......................
Di club malam, Regan terus meneguk alkohol dengan Dito yang menemaninya minum. Dia harus melupakan kejadian tadi dengan meminum alkohol sebanyak mungkin.
Dito yang melihat Regan tidak henti-hentinya meneguk alkohol, merasa ikut turut bersedih. Dia tahu betul bagaimana Regan mencintai Adera, bahkan cinta itu selalu tumbuh jika dia menatap Adera. Dan dia juga tahu bagaimana sedihnya Regan ketika gadis yang ia puja tidak bahagia dengannya. Dia tidak punya pilihan lain selain menceraikannya.
Karna bagi pria, kebahagiaan gadis yang mereka cintai adalah utama. Walau tidak kebanyakan pria yang berpikiran begitu tapi Dito pun merasakan hal yang sama jika istrinya merasa tidak bahagia dengannya. Dia akan melakukan apapun agar istrinya bahagia walaupun dengan cara bercerai.
Regan menuangkan alkohol itu lagi ke dalam gelas kecilnya lalu meneguknya dengan sekali tegukan. "Tambah lagi!" Pintanya pada bar tender.
Dito tidak bisa membiarkan Regan lagi. Dia sudah banyak minum, bahkan dia sudah meminum sebanyak lima botol dan dia ingin tambah lagi? Dito tidak akan membiarkannya lagi. "Gue tau lo lagi patah hati. Tapi gak baik bego minum banyak begini." Nasihat Dito.
Regan menatap Dito dengan mata yang sayu. "Tau apa lo, hah? Gue harus ngelupain Adera dari pikiran gue! Dan jalan satu-satunya cuma minum." Jawabnya.
Regan menatap Dito. "Adera gak bahagia sama gue, To. Dia tersiksa nikah sama gue. Seharusnya gue gak maksa dia kayak gini." Ucapnya parau.
"Gue ngerti. Tapi gak seharusnya lo begini, Gan. Lo kelihatan menyedihkan tau gak."
Regan terkekeh. "I know. Saking cintanya gue sama dia, gue jadi menyedihkan begini."
"Kasih gue minumannya lagi, To." Regan menondongkan gelas kecil agar Dito menuangkan minuman alkohol itu ke dalam gelasnya.
Mau tak mau, Dito menuangkan alkohol itu lagi di gelas Regan dan Regan langsung meneguknya hingga habis. Lalu dia menaruh gelas itu cukup keras memang tidak terdengar karna suara di yang begitu menusuk telinga namun dia memijit pelipisnya yang mulai merasakan pening.
"Kan, seharusnya tadi gue larang lo minum. Kesehatan lo bisa keganggu karna alkohol, Gan!" Omel Dito.
__ADS_1
"Percuma aja, To. Minum atau gaknya gue, gue gak bisa ngubah apapun. Jadi santai aja." Ucap Regan.
Dito memutar bola matanya malas. Orang yang patah hati memang membanggongkan.
"Hallo, tampan." Tiba-tiba saja dua wanita berpakaian seksi mendekati Regan dan Dito.
Dito meringis. Regan sangat sensitif terhadap wanita apalagi saat dalam keadaan mabuk begini, jadi Dito harus bersedia jika terjadi apa-apa.
"Tampan, kenapa sendirian aja? Gak pengen ditemani nih?" Kata wanita yang mendekati Regan sambil membelai pipi Regan.
Regan berdecak, dia menepis tangan wanita itu dengan kasar. "Pergi!" Bentak Regan.
Kan dibilang juga apa. Regan sangat sensitif pada wanita terkecuali saat dia bersama Adera. Dito harus berjaga-jaga takut-takut wanita itu disakiti Regan.
"Kok galak sih? Kan sendirian, emang gak mau ditemanin?" Wanita memanyunkan bibirnya.
Regan menatap wanita itu dengan mata sayu. "lo itu bukan Adera! Gue gak butuh siapapun terkecuali dia! Sana pergi!" Usir Regan.
"Yaudah lah. Bye, tampan!"
Sebelum pergi, wanita dengan beraninya mencium pipi Regan membuat lipstik yang digunakan wanita itu menempel di pipi Regan dan setelah itu dia pergi bersama wanita yang sedang menggoda Dito tadi.
"Eh kok lo cium sih?" Tanya teman wanita itu.
"Abisnya ganteng sama hot banget. Coba aja bisa main diranjang bareng itu orang." Jawab wanita yang mencium Regan tadi.
"Hahaha, emang sih, temannya juga tuh. Tapi gue ditolak, katanya udah nikah."
Samar-samar Dito mendengar percakapan kedua wanita itu. Dia ingin tertawa melihat wanita itu dengan beraninya mencium pipi Regan.
__ADS_1
Regan menatap Dito dengan mata sayu tapi malah terlihat seperti orang bodoh dimata Dito. "Ngapain tadi itu cewek tadi?" Tanyanya.
Dito mengangkat kedua bahunya sambil menahan tawanya melihat bekas lipstik wanita tadi di pipi Regan.