Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
39: Dia Baik-Baik Saja?


__ADS_3

Regan membawa Adera ke private room yang ada diruangannya, dia menindurkan Adera dengan hati-hati disana. Mata Adera tertutup namun badannya mengigil, dan itu membuat Regan panik. Baju yang digunakan Adera masih basah, dan itu mungkin yang membuatnya mengigil seperti ini.


Dengan cepat, Regan membuka kemejanya sendiri dan membiarkan tubuh atasnya tela njang. Lalu dia membuka blouse yang dikenakan Adera, dia membuka semua kancingnya dan juga dia langsung membukanya.


Regan bingung, haruskah Regan membuka seluruh pakaian Adera termasuk baju dalamnya karna sekarang seluruh pakaian yang dikenakan Adera basah semua. Namun jika dia tidak membukanya, Adera bisa masuk angin. Jadi tidak ada pilihan lain selain membuka pakaian dalamnya juga.


Setelah terbuka semua, tidak meninggalkan satu pun pakaian dalam Adera terkecuali cd nya, karna hanya CDnya yang tidak terkena basah. Regan dengan cepat memakaikan kemeja putihnya pada tubuh Adera. Setelah itu segera Regan menarik badcover sampai ke leher Adera.


Regan masih panik dan cemas pada Adera, dia pun mengambil ponselnya dari saku celananya, dia akan menghubungi Dito sekarang.


"Hallo, kenapa mabro," suara Dito terdengar dari sebrang sana ketika dia mengangkat panggilan dari Regan.


"Bawa dokter ke ruangan gue." Kata Regan, dia menatap Adera yang masih mengigil diatas ranjang.


"Lo sakit?"


"Bukan, Adera,,, Adera yang sakit."


"Lo dimana?" Tanya Dito, sepertinya dia pun juga cemas.


"Di private room. Cepet kesini!"


Selanjutnya Regan langsung mematikan sambungan. Dia mendekati Adera lagi, duduk disebelah gadis itu berbaring. Dalam benaknya, kenapa Adera bisa sampai basah-basahan seperti ini? Siapa yang membuatnya begini?


Tangan Regan terulur ke pipi Adera. Melihat Adera seperti ini membuat cemas bukan main. "Dasar, bikin orang cemas terus." Gumam Regan sembari menatapi wajah Adera yang pucat pasi.


Tak lama kemudian Dito datang bersama dengan dokter disebelahnya. Begitu dokter itu datang, Regan langsung menyuruhnya untuk memeriksa Adera.


Dokter itu tanpa aba-aba lagi memeriksa Adera menggunakan stetoskop. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh Adera untuk memeriksa detak jantung Adera menggunakan stetoskop itu namun tiba-tiba Regan menahannya membuat sang dokter itu menatap Regan.


Regan tidak sudi jika laki-laki lain melihat tubuh Adera apalagi sekarang Adera hanya menggunakan kemejanya tanpa menggunakan bra. Tubuh Adera hanya boleh dilihat dirinya seorang, suaminya. Ketika dokter itu ingin membuka selimut yang menutupi tubuh Adera, tangan Regan menahan dokter itu.


"Ada apa, pak Regan?" Tanya dokter itu bingung.


"Biar saya saja. Cuma ditempelin ke dadanya kan?"


Dokter itu mengangguk mengerti. Bagaimana pun Regan adalah suaminya jadi dia tidak ingin tubuh istrinya dilihat orang lain termasuk dirinya sendiri.


Regan menempelkan ujung stetoskop itu di dada Adera tanpa membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia memindahkan ujung stetoskop itu agar sang dokter mendengar detak jantungnya.

__ADS_1


Dan tingkah Regan membuat Dito yang melihatnya tidak habis pikir. Tapi dia juga begitu sih, tidak rela dan tidak sudi ada yang melihat tubuh istrinya terkecuali dirinya sendiri.


Setelah sudah memeriksa Adera, sang dokter melepaskan stetoskop itu dan menghebus nafasnya.


"Gimana dok? Istri saya gak kenapa-napa kan dok?" Tanya Regan.


Pertanyaan Regan barusan malah membuat Dito tertawa. "Lo pengen istri lo kenapa-napa?" Dia membuka suara.


Regan berdecak kepada Dito. "Berisik lo!"


Dokter itu ikut terkekeh pelan. Dia menatap Regan yang menunggu jawaban darinya. "Istri pak Regan tidak apa-apa. Hanya demam karna diguyur hujan saja, jadi jangan khawatir." Kata sang dokter.


"Tapi tadi dia pingsan dok."


"Saya mengerti, gejala itu memang sering dirasakan orang demam, pak Regan. Tapi jangan cemas."


Regan menatap istrinya yang masih menutup matanya.


"Saya akan memberi resep untuk pak Regan ambil diapotik," Dokter itu memberi sekertas resep obat pada Regan namun yang mengambilnya malah Dito.


"Saya sarankan agar demamnya turun, kompres menggunakan handuk kecil dibasahi dengan air hangat." Saran dari dokter.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, pak Regan." Pamit dokter itu dan Regan hanya menganggukinya saja.


"Gue ambil obat dulu diapotik." Kata Dito tidak ditanggapi Regan. Lalu Dito beranjak pergi bersama dokter itu keluar dari private room Regan.


Seperginya Dito dan dokter itu, Regan turun dari ranjang, mengambil handuk kecil dari laci lalu dia berlari ke kamar mandi. Dia akan mengambil air hangat dari shower di kamar mandi private roomnya.


Setelah itu Regan kembali, dia langsung menempelkan handuk itu di dahi Adera. Semoga itu akan menurunkan demam Adera. Ditatapnya wajah Adera lagi. "Gue heran. Kenapa bisa lo secantik ini padahal muka lo pucet." Gumam Regan.


Regan tersenyum, tangannya mengusap pipi Adera dengan lembut. Apakah Adera tidak mengingatnya kalau dia lah yang memaksa Regan menikahinya dimasa lalu. Apakah Adera tidak mengingatnya sedikit pun bagaimana mereka bertemu di taman malam itu?


"Cepet sembuh, tuan putri." Regan berbisik ditelinga Adera. Lalu dia merosotkan tubuhnya, berbaring disebelah Adera dengan keadaan tela njang dada.


Masih memandangi wajah pucat Adera, tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Dia memejamkan matanya, sambil memeluk Adera. Semoga Adera cepat sembuh, harapannya sebelum tertidur.


......................


Dalam mimpi Adera..

__ADS_1


Dimalam hari, karna bapak Iqbal pergi berkerja dan belum pulang. Dan juga karna dia takut sendirian, Adera yang baru memasuki usia sepuluh tahun itu  akhirnya memutuskan menunggu bapak Iqbal di taman. Mungkin sebentar lagi bapak Iqbal pulang dan kebetulan dia selalu lewat sana.


Adera kecil bosan, dia duduk diayunan namun dia tidak merasa senang. Dia menunggu bapak Iqbal dengan matanya mencari-cari bapak Iqbal namun bapak Iqbal belum pulang juga.


Berulang kali Adera menghebus nafasnya sambil memanyunkan bibirnya. Dia kesal pada dirinya sendiri, padahal itu rumahnya kenapa dia takut sendirian dirumah?


Namun matanya tidak sengaja tertuju pada seseorang. Seorang laki-laki berseragam SMA, yang terlihat sedang membentak seorang gadis yang juga berseragam dengannya sampai membuat gadis itu menangis.


Adera kecil itu berdecak, ketenangan jadi terganggu karna kakak sma itu. Dengan penasaran apa yang dikatakan pemuda itu dengan gadis dihadapannya, Adera memutuskan untuk mendekati mereka.


Begitu dia mendekat, Adera berjongkok di dekat mereka yang sedang bertengkar. Adera memang tidak mengerti apa yang dikatakan mereka namun yang membuat Adera tertarik adalah ketampanan kakak laki-laki itu yang membuatnya tertarik.


"Regan, tolong terima aku jadi pacar kamu, aku mohon." Gadis berseragam sma itu menangis pada kakak laki-laki berwajah dingin di depannya.


Kakak laki-laki itu tersenyum miring. "Gak punya malu lo? Minta-minta begitu?" Cibir kakak laki-laki itu.


"Aku gak peduli, asal kamu terima aku jadi pacar kamu." Kekeh gadis itu membuat kakak laki-laki itu tertawa geram.


"Gue gak mau! Pergi lo dari padangan gue!" Bentak kakak laki-laki itu.


Gadis itu menangis kejar dan melarikan diri. Setelah kaka laki-laki itu menolaknya berulang kali.


Begitu gadis itu pergi, kakak laki-laki itu menghebus nafasnya gusar, dia menoleh ke samping dan dia dikejutkan dengan Adera yang berjongkok memandanginya sambil memicingkan matanya.


Kakak laki-laki itu memegangi dadanya. "Lo ngapain disitu, cebong?!" Bentak kakak laki-laki itu.


Adera berdiri. Dia berkacak pinggang dihadapan kakak laki-laki itu. "Kakak jahat ya bikin kakak tadi nangis." Ucap Adera.


Kakak laki-laki itu mendengus. "Salah dia, maksa banget buat jadi pacar gue."


"Tapi tetap aja kakak bikin kakak itu nangis." Ucap Adera. "Kalo gitu kakak mau jadi pacar aku?"


Kakak laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya. "Hah?"


"Kakak ganteng kayak pangeran terus aku cantik kayak tuan putri, jadi aku mau jadi istri kakak!" Tegas Adera sambil menunjuk kakak laki-laki itu.


Adera terbangun, dia membuka matanya yang terasa berat. Dia memejamkan matanya dan membukanya lagi.


Kenapa dia bisa memimpikan itu lagi setelah dia sudah melupakannya bertahun-tahun lamanya. Dan kenapa dimimpi itu wajah kakak laki-laki itu tidak terlihat dengan jelas?

__ADS_1


Adera menoleh kesamping. Matanya menemukan wajah Regan yang tertidur menghadap kearahnya. Tapi kenapa dia merasa deja vu saat menatap wajah Regan?


__ADS_2