
Sudah pukul dua belas malam, dan Regan baru saja pulang ke apartemen. Dia berjalan ke kamar dengan berjalan tanpa bersuara. Regan sudah menduga kalau Adera sudah tidur dijam segini dan dia juga tidak ingin sampai membangunkan istrinya itu.
Dengan gerakan perlahan dan hati-hati Regan membuka pintu kamar dan kemudian menutup pintunya lagi dengan pelan-pelan. Dia sudah seperti seorang maling yang sedang melakukan tugasnya mencuri.
Regan berjalan ke ranjang dimana Adera sekarang tertidur membelakanginya dan mulai membaringkan tubuhnya disebelah Adera sambil memeluknya dari belakang, Regan terkejut ketika merasakan tubuh Adera bergetar.
Karna cemas Regan langsung membalik tubuh Adera, dia melihat Adera menangis dan itu membuat Regan terkejut bukan main. Apakah Adera sudah mengetahuinya? Itulah yang dipikirkan Regan.
"Hei, Dera," kata Regan dengan nada lembut.
Adera menatap Regan dan langsung memeluknya tanpa aba-aba. Dia bahkan menaikkan sebelah kakinya ke tubuh Regan seakan tengah memeluk sebuah guling.
"Kenapa, hng?" Tanya Regan.
"Aku sedih, huhu," isak Adera.
"Sedih kenapa?" Tanya Regan dengan tegas, dia takut jika Adera sudah mengetahui hal yang seberusaha mungkin ia tutupi.
"Pemeran utamanya cowoknya meninggal, huhu, sedih.." jawab Adera dengan isakan.
Kening Regan mengkerut. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Adera barusan. "Pemeran utama mati? Siapa yang mati?"
"Itu aku nonton drakor rekomendasi Rina Friska tapi ternyata sad ending. Cowoknya mati kasihannnn,"
Regan tertawa pelan. Jadi dia menangisi pemeran dalam drama? Hampir saja Regan berpikir macam-macam dan ternyata Adera menangis hanya karna menonton drama? Astaga.
"Jadi kamu nangisi cowok lain, gitu?" Regan mengusap airmata Adera sambil menatap wajah Adera yang sudah berhenti menangis.
"Gimana gak nangis coba? Cowoknya berkorban buat pacarnya eh malah mati. Kan kasian."
Regan tertawa pelan lagi. "Yaudah namanya juga film. Cerita fiktif, buat apa ditangisin sih?"
Adera cemberut. Tidak tahu saja Regan bagaimana sedihnya drama yang ia tonton tadi. Dia saja sampai masih membayangkannya walau dia sudah menyelesaikan drama itu setengah jam yang lalu.
Tangan Regan mengusap rambut Adera dengan lembut. "Kenapa belum tidur, hng?"
"Kamu juga kenapa baru pulang?" Adera membalik bertanya dengan sengit.
"Jadi kamu nunggu aku?"
Adera menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Regan menghebus nafasnya gusar, karna dia terus dihalang Saskia untuk pulang dia sampai membuat istrinya menunggu seperti ini dan itu membuatnya geram sendiri. "Seharusnya jangan nunggu aku, kamu harusnya tidur duluan aja." Ucap Regan.
"Aku gak bisa tidur," cicit Adera terdengar menggemaskan ditelinga Regan.
"Mau aku tidurin?" Goda Regan dimana langsung mendapat pukulan dari sang istri.
"Aku mau cerita deh,"
Regan menompang kepalanya dengan tangan kanannya, dia akan mendengarkan cerita dari istrinya. "Cerita apa?"
Adera menatap Regan dengan serius. "Aku kan tadi kerumah bang Dito kan ya, jengukin mbak Ratih. Tapi--" Adera menggantung perkataannya dimana membuat Regan penasaran.
Regan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
Adera menahan senyumnya berhasil membuat Regan penasaran lalu dengan secepat kilat Adera mengecup bibir Regan dimana membuat sang empu tersenyum karna aksinya. "I love u, udah gitu aja." Kata Adera dengan membisik dikata 'i love u'
Regan seketika tersenyum. "Apa ini heh?"
Adera tertawa. Dia hanya ingin membuat Regan penasaran hanya itu. Haha.
......................
Ke esokan paginya, Adera membuka hordeng jendela dengan begitu sinar matahari memantul ke wajah Regan yang masih tertidur diranjang dengan posisi tengkurab.
Dan akhirnya Adera mendekati Regan, berusaha membangunkannya lagi. Dia yakin kali ini dia bisa membangunkan Regan.
Adera duduk ditepi ranjang dimana Regan sekarang tidur memiring kearahnya, dia menatap wajah Regan yang damai saat tertidur. Seketika dia merasa tertegun dengan ketampanan yang surgawi milik Regan.
Sampai sekarang pun Adera masih tidak percaya kalau dia bisa menikahi lelaki dihadapannya ini. Apakah memang ini takdir? Astaga rasa-rasanya Adera ingin mengatakan pada dunia bahwa Regan Geraldo adalah miliknya, hanya miliknya.
Namun tiba-tiba Adera terpekik ketika Regan secara tiba-tiba langsung menariknya ke dalam pelukannya. Dia terpekik terkejut.
"Akhhh," pekik Adera ketika Regan menariknya ke dalam pelukannya.
Adera kesal, jadi Regan berpura-pura tidur padahal dia sudah terbangun? Dan dia malah mengambil kesempatan darinya?
Adera menatap Regan yang masih menutup matanya, apakah dia masih tertidur atau hanya berpura-pura tidur namun tidak bisa dipungkiri kalau Adera gemas dengan wajah bantal Regan dari dekat begini.
"Bangun, sayang," bisik Adera tepat di depan bibir Regan lalu dia mengecupnya dan itu berhasil membuat Regan bereaksi.
Regan membuka matanya dengan kedua sudut bibirnya mengedut menahan senyumnya. Seketika tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
"Pagi, sayang." Sapa Regan dengan suara serak orang bangun tidur.
Adera memutar bola matanya. "Pagi bibirmu, ini udah siang, Regan." Kesalnya.
Regan tersenyum, walau dia masih setengah bangun, dia bisa merasakan kecupan Adera tadi apalagi mendengar Adera membangunkannya dengan lembut tadi. "Jam berapa sekarang?" Tanya Regan.
"Eumm, jam sebelas kurang." Jawab Adera.
"Mau jalan-jalan hari ini?" Ajak Regan, ya karna sekarang hari libur, jadi dia ingin berkencan sehari ini.
Adera berpikir sejenak. "Eumm, jalan-jalan? Berarti kencan dong ya?"
Regan terkekeh pelan. "Ya kalo kamu nganggep itu kencan gak papa. Gimana mau gak?"
Adera tersenyum. Berhubung dia jarang jalan-jalan keluar bersama Regan, jadi tidak masalah kalau hari ini dia berkencan dengan Regan. "Yaudah, kita kencan." Jawab Adera dengan senyuman manisnya.
"Tapi sebelum itu," Regan mengubah posisi Adera yang tadinya berada diatasnya berubah dibawah kungkuhannya dan itu membuat Adera terpekik lagi untuk kedua kalinya.
Regan menatap Adera yang berada kungkuhannya, dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Adera. "Cantik," puji Regan dimana membuat Adera merona. Padahal itu bukan pertama kalinya Regan memujinya, tapi tetap saja berefek sama bagi Adera.
"Yaudah kamu mandi sana." Suruh Adera.
Bukannya menurut apa yang disuruh Adera, Regan malah menidurkan kepalanya diantara dada Adera. Menjadikan dada Adera sebagai bantal. "Sebentar lagi." Ucap Regan.
Tidak bisa dipungkiri kalau dada Adera menenangkan Regan bahkan bantalan dada Adera membuatnya nyaman. Entahlah walau ukurannya tidak besar dan tidak kecil, Regan selalu nyaman dan tenang jika tidur dibantalan dada Adera.
"Kangen aku tuh sama bantal kesayangan aku." Kata Regan membuat Adera tersenyum.
Adera mengusap-ngusap rambut Regan dengan lembut. Biarlah dia seperti itu, karna akhir-akhir ini Adera merindukan sosok manja Regan seperti ini. "Yaudah, yang kenyang deh." Kata Adera.
"Aku mau cerita deh, akhir-akhir ini aku ngerasa perasaan aku... maksudnya perasaan aku gak karuan." Ujar Adera bercerita kalau akhir-akhir ini hatinya merasa tidak karuan.
Regan mengangkat kepalanya menatap Adera. Dia mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" Tanyanya.
Adera menggelengkan kepalanya, dia pun tidak tahu kenapa bahkan dia selalu mempertanyakan itu. "Aku gak tau, perasaan aku jadi gak jelas. Aku selalu takut."
"Takut apa hng? Kasih tau aku."
"Aku takut kamu ninggalin aku demi wanita lain,"
Regan terdiam beberapa detik mendengar perkataan Adera barusan. Raut sedih diwajah Adera membuatnya terdiam. Dan akhirnya Regan membuka suaranya lagi.
__ADS_1
"Kamu gak usah pikirin itu. Aku gak akan ninggalin kamu. Aku cinta kamu, cuma kamu. Jadi jangan berpikir kalo aku bakal berpaling dari kamu. Karna itu gak akan pernah. Kamu kehidupan aku, kamu segalanya bagi aku justru sebaliknya. Aku takut kamu ninggalin aku, Dera." Regan berkata dengan raut wajah sedih yang ketara.
Adera menghebus nafasnya, kedua tangannya memegang kedua pipi Regan. Dia tersenyum, dia bahagia Regan mengatakan itu setidaknya dia mengetahui kalau Regan hanya mencintainya, selamanya. Jadi untuk sementara waktu mungkin rasa takut itu menghilang tapi dia tidak yakin apakah perasaan takut itu akan benar-benar menghilang.