Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Akhirnya


__ADS_3

"Mama, kenapa mama nangis tadi malam?" Tanya Raka pada Adera yang duduk melamun di ruang tamu menatap televisi yang sedang menyalah dengan tatapan kosong.


Tadi malam, sepulang dari pesta perusahaan, Adera tiba-tiba saja menangis sambil memeluk Raka yang tertidur. Walau Raka saat itu terbangun karna mendengar suara tangisan mamanya tapi Raka tetap berpura-pura tidur. Dan tentu itu membuat anak berumur lima tahun itu khawatir pada mamanya.


Adera tersadar dari lamunannya ketika Raka bertanya padanya. Adera menoleh ke anaknya itu yang duduk disebelahnya, dia berusaha memberikan senyumannya pada Raka walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian tadi malam.


Tangan Adera terangkat ke pipi Raka, mengusapnya dengan lembut. "Mama gak papa, sayang." Jawab Adera.


Raka sedih, dia tahu jika mamanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Walaupun dia masih berumur lima tahun, tapi cara berpikir Raka lebih dari anak sepantarannya karna itu lah dia mengetahui kalau mamanya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Mama bohong," kata Raka, dia menundukkan kepalanya.


"Raka, mama gak bohong, sayang. Raka kan tau mama gak pernah bohong sama Raka." Ucap Adera dengan lembut.


Rala kembali menatap Adera dengan kedua alis terangkat. "Kalo gitu kenapa mama nangis tadi malam?" Tanya Raka.


Kini Adera yang menundukkan kepalanya. Rupanya tangisan tadi malam sampai membangunkan Raka. Dan Adera kembali menatap Raka lagi dengan senyuman dibibirnya. "Mama cuma lagi sedih aja." Jawab Adera dengan senyuman hangat dibibirnya.


Namun jawaban Adera tidak membuat Raka puas. "Kenapa mama sedih? Siapa yang buat mama sedih? Kasih tau Raka siapa orangnya, biar aku pukul dia." Ucap Raka dengan raut wajah marah namun tetap saja terlihat polos bahkan terlihat mengemaskan.


Adera terkekeh pelan. "Gak usah sayang, mama cuma kesel kok. Gak papa, gak usah dipukul orangnya."


"Ya abis mama sering nangis, aku gak suka ada yang bikin mama nangis begitu."


Adera terdiam, jadi Raka mengetahuinya jika akhir-akhir ini dia sering menangis. Tapi ketahuilah, Adera pun tidak tahu alasan kenapa dia sering menangis akhir-akhir ini. Dia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini dia menjadi cengeng tanpa sebab.


"Apa gara-gara Raka nakal?" Kata Raka dengan nada sedih.


Adera menggelengkan kepalanya. "Gak, sayang. Bukan karna Raka. Raka kan anak mama yang baik." Adera memeluk Raka dan memberikan kecupan dipucuk kepalanya.


"Oh iya, mama denger dari nenek Amira, kemarin ada om yang ngantar kamu kesini? Siapa? Kamu kok gak cerita ke mama?" Adera mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya aku lupa cerita sama mama." Raka menatap Adera dengan wajah yang kembali cerah.

__ADS_1


"Cerita dong."


"Aku kemarin ketemu om ganteng dan baik. Aku pengen ketemuin mama sama om itu tapi mama belum pulang jadi om itu pulang deh." Cerita Raka dengan semangatnya kembali.


Adera tersenyum. "Seganteng apa emang om itu, hm? Emang ada yang lebih ganteng dari anak mama?" Adera menyentuh hidung mancung Raka dengan gemas.


Raka menggaruk-garuk rambutnya. "Pokoknya ganteng deh walau pun masih gantengan aku sih. Pokoknya mama pasti suka sama dia."


Kedua alis Adera terangkat. "Emang kamu rela mama sama dia?" Tanya Adera.


Raka menganggukan kepalanya dengan kencang. "Aku mau punya papa kayak dia!" Serunya.


Adera tertawa pelan. "Kenapa gak guru Rian aja?" Goda Adera dan Raka menggelenginya dengan cepat.


"Aku gak suka pak guru, dia kan masih sekolah kan sama kayak aku jadi gak mau punya papa yang masih masih sekolah," ucap Raka dengan lucunya.


"Masa sih? Tapi mama lebih suka guru Rian daripada om itu." Adera masih ingin menggoda anaknya itu.


Raka mengembungkan pipinya. "Mama aja belum ngeliat om ganteng itu!" Marahnya.


Namun seketika Adera dan Raka langsung terdiam begitu mendengar ketukan pintu yang berasal dari pintu rumahnya. Adera menatap ke arah pintu, dia menyerngitkan dahinya.


Bu Amira baru saja pulang kampung tadibpagi dan mungkin akan tinggal disana dalam waktu yang lama dan siapa yang mengetuk pintu rumahnya? Memang ini masih pukul delapan malam, namun siapa yang datang? Tumben sekali.


Adera bangun dari sofa, dia menatap Raka sebentar. "Tunggu, mama mau buka pintu dulu." Kata Adera.


Rala juga ikut bangun dari sofa, dia mengikuti Adera. Entah kenapa hati Raka berkata jika yang datang itu adalah papa barunya. Karna kan kemarin om itu bilang kalau dia akan kembali lagi, membawakannya mainan baru jadi dia berasumsi kalau itu adalah Regan.


Begitu Adera membukakan pintu, dia dibuat memantung lagi ditempat bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak melihat siapa yang berdiri dihadapannya tepatnya melihat orang yang datang ke rumahnya.


Dan yang membuat Adera lebih terkejut adalah ketika Raka langsung berlari memeluk orang dihadapannya dengan senyuman lebar.


"Papa!!" Seru Raka ketika memeluk Regan.

__ADS_1


Ya, orang yang datang itu adalah Regan. Entah takdir atau apa, Regan membulatkan matanya melihat sosok gadisnya dihadapannya. Mereka saling menatap dengan mata yang membulat, mungkin terkejut satu sama lain.


Dada Adera seketika langsung sesak melihat wajah Regan, Adera tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tepat dihadapannya. Dan lagi yang membuatnya sesak adalah ketika Raga memanggil Regan dengan panggilan 'papa'. Hatinya benar-benar sesak bukan main.


"Mama, ini om yang udah jadi papa baru aku!" Dengan semangatnya Raka mengenali Regan kepada Adera.


Regan sama terkejutnya begitu Raka memanggil Adera dengan sebutan 'mama'. Dia terkejut walaupun dia sudah pernah mengiranya namun tetap saja itu membuatnya terkejut.


Namun dengan mata berkaca-kaca menatap Adera, Regan memberikan senyuman pada Adera. "Mama?"


Adera menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Dia langsung menarik Raka dari Regan. Hatinya begitu menyesakkan melihat orang yang ia rindukan lima tahun ini namun dia tidak bisa melupakan luka dihatinya yang belum sembuh.


"Jadi Raka, anak kita, Adera? Anak kita?" Regan sudah mengira itu semua setelah melihat wajah Raka pertama kalinya dan sekarang sudah jelas sekarang.


Adera menggelengkan kepalanya. "B-bukan, dia bukan anak kamu."


Raga yang tidak mengerti apapun hanya diam saja, menatap Adera dan Regan secara bersamaan. Dia sama sekali tidak mengerti situasi ini.


"Bohong, Raga anak aku kan?" Tanya Regan sekali lagi.


Adera mengigit bibir bawahnya, menahan tangisnya. Dia menggelengkan kepalanya lagi. Dia memang anak kamu, Ragan. "Bukan!" Jawab Adera dengan nada meninggi.


"DIA BUKAN ANAK KAMU! JADI SEKARANG PERGI! PERGI DARI SINI!" bentak Adera dengan kencang dengan airmata yang terus mengalir.


Mungkin bentakan Adera barusan mengundang para tentangga untuk melihat apa yang terjadi sekarang.


Raka yang seakan tidak mengerti kondisi saat ini hanya bisa melongo melihat Adera yang menangis dan berteriak pada Regan, papa barunya.


"Mama, kenapa mama marah sama papa baru aku? Mama jangan marah dong kan papa aku baik." Kata Raka dengan wajah polosnya.


Adera menatap anaknya yang polos itu. Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Adera memberitahu Raka jika orang yang ia sebut 'papa' memang papanya. Bagaimana dia memberitahunya pada anaknya itu?


Regan tersenyum, dia berjongkok di hadapan Raka berdiri agar sejajar dengan Raga. Dia tersenyum pada Raka lalu langsung memeluk anaknya. Dan Adera yang melihatnya tidak bisa menahan airmata untuk keluar, dia tidak tahan menahannya lagi.

__ADS_1


"Maaf papa terlambat datang, nak." Ucap Regan pada Raka, dia langsung membawa Raka ke pelukannya.


__ADS_2