
"Emang aku gak papa gak masuk ke kantor hari ini?" Adera menyenderkan kepalanya di bahu Regan.
Mereka sekarang tengah menikmati film action yang mereka tonton. Menikmati hari libur dadakan berduaan dengan Regan seharian.
"Gak papa. Kamu lupa, perusahaan itu punya aku, jadi jangan khawatir, oke." Jawab Regan sambil berbangga diri.
Adera berdecak. Kalau saja Regan tidak melakukannya di dalam kamar mandi sekali, Adera tidak mungkin sampai absen dari kantor sekarang. Dan dia juga tidak mungkin berleha-leha begini dengan Regan disini kalau saja Regan tidak melakukan itu padanya lagi.
"Gara-gara kamu ya! Hari ini aku harus libur dari kantor. Padahal aku karyawan magang, gak seharusnya berlaku seenaknya begini." Decak Adera, dia memanyunkan bibirnya.
"Kamu gak mau temenin suami kamu dirumah, heh?" Sengit Regan, dia tidak suka mendengar perkataan Adera seolah-olah Adera tidak suka berduaan dengannya saat ini.
Adera meringis pelan, dia menatap Regan yang menatapnya dengan wajah datarnya. Lalu dia menampilkan senyumnya dan kembali menyenderkan kepalanya dibahunya dengan manja. "Aku seneng kok." Kata Adera dengan nada yang menggemaskan.
Regan tersenyum melihatnya. "Good girl. Sekarang yang perlu kamu lakuin, temenin aku seharian. Paham?"
Adera memutar bolamatanya. Mulai lagi sifat menyebalkan dari Regan yang tukangnya memerintah tapi dia merindukannya. "Iya-iya." Sahut Adera.
Adera mengambil salah satu cemilan yang tersedia diatas meja. Dan dia membuka bungkusnya dengan tenaga ekstra namun karna dirinya masih lemas karna harus melayani Regan tadi dikamar mandi, Adera tidak kuat membukanya. Lalu dia menatap Regan dengan bibir cemberut bak seekor ayam yang menggemaskan. "Susah," cicitnya.
Regan terkekeh geli, dia mengambil cemilan dari tangan Adera dan membukanya dengan gampangnya lalu dia memberikannya lagi pada Adera. "Mangkanya mulai besok olahraga, biar bisa nandingin aku diranjang." Cibir Regan dimana membuat Adera sebal mendengarnya.
Adera mengangkat sebelah sudut bibirnya mencibir Regan. Kemudian dia langsung menikmati cemilan itu dengan mata yang fokus kembali pada film di depan matanya.
Di adegan film action itu terdapat banyak adegan kekerasan, pertarungan yang epik juga ada sedikit adegan dewasanya. Adera memang tidak pernah tahu film itu sebelumnya, Regan yang memilih film itu.
Tapi bagi Adera yang penyuka genre action lumayan juga. Ehh, jangan salah paham! Bukan adegan dewasanya maksudnya, tapi adegan pertarungannya yang seru.
"Sumpah peran utamanya, ganteng benget... udah ganteng, hot pula.... uchh, gemes!" Celoteh Adera, mengomentari peran utama di dalam film itu.
Regan yang mendengarnya lansung berdecih. Apa-apaan istrinya itu, seleranya buruk sekali. Peran utamanya botak begitu dimananya tampan.
Padahal Regan lebih tampan dan lebih panas dari dia tapi kenapa Adera tidak menyadarinya? Bahkan Regan lebih unggul dari peran utama itu, karna dia punya rambut sedangkan peran utama difilm itu tidak ada.
__ADS_1
Mendengar Regan berdecih, Adera jadi menoleh kearahnya dengan kedua alis terangkat. "Kenapa?" Tanya Adera.
"Mending kamu pergi periksa mata sana! Orang botak begitu dibilang ganteng, darimananya!" Sewot Regan.
"Aku? Periksa mata? Kenapa emangnya? Mata aku sehat-sehat aja tuh." Balas Adera dengan sewot juga.
"Ya masa cowok kayak gitu kamu bilang ganteng? Sadar Dera, suami mu ini lebih seratus kali lipat dari dia."
"Hah? Jadi sekarang kamu bangga gitu sama kegantengan kamu? Gak sangka ya, Regan."
"Aku ngomong hal yang fakta." Tidak terima Regan.
"Emang bagi wanita-wanita lain kamu itu ganteng, tapi bagi aku biasa-biasa aja tuh."
Regan dibuat kesal dengan istrinya itu. "Itu karna mata kamu bermasalah, Dera."
"Mata aku sehat-sehat aja tuh. Gak perlu ada yang diperiksa." Adera memutar bola matanya jutek.
Regan mendengus kesal. Jadi Adera lebih memilih memuji peran utama itu daripada dirinya? Sial, Regan sangat kesal sekarang.
"Cantik." Kata Regan tiba-tiba dimana membuat Adera kembali menatapnya dengan kedua alis terangkat.
"Siapa yang cantik?" Tanya Adera.
Regan menunjuk televisi dimana menampilkan peran wanita yang memang terlihat sangat cantik dan juga seksi. Memang Adera saja yang bisa memuji pria lain, Regan juga bisa.
Adera mendengus kesal. Wanita itu memang sangat cantik tapi tumben sekali Regan memuji wanita begitu. Dan Adera jadi kesal seketika. Adera pun menatap Regan dengan tajam. "Dia cantik?"
Regan menganggukkan kepalanya. "Iya, seksi juga dia."
Adera mengangkat sudut bibirnya, menatap Regan dengan kesal. Dan Regan yang melihat itu merasa ingin tertawa, melihat bagaimana wajah Adera sekarang.
"Kalo gitu nikahin aja tuh dia." Celetuk Adera dengan wajah judesnya. "Dia juga kayaknya cocok tuh jadi patner kamu diranjang." Cibir Adera.
__ADS_1
Adera mengatakan itu bukan karna bicara asal. Karna film itu menampilkan adegan dewasanya dimana wanita yang dibilang cantik oleh Regan itu bergerak seperti wanita liar. Dan Adera tidak menyukainya.
Regan terkekeh geli, dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang melihat Adera marah begitu. Oh asatagaa.... Regan ingin sekali mengigit bibir Adera saking gemasnya.
"Apa? Siapa yang berpikiran begitu?" Kata Regan memancing Adera.
"Ya aku tau pasti kamu mikirnya begitu kan? Udahlah, semua otak cowok itu gampang banget dibaca kalo lagi ngeliat cewek cantik sama seksi. Grrr, nyebelin!" Unek-unek yang dikeluarkan Adera.
Ahh, sifat sok tahu tentang laki-laki itu mulai lagi. Tapi Regan sangat menyukainya membuat Adera kesal, itu adalah hal yang begitu menyenangkan baginya.
"Dia emang cantik, seksi juga. Tapi aku gak ada pikiran buat nikahin dia, Dera." Ucap Regan dia menopang dagu menghadap Adera yang meranjuk padanya.
Bibir Adera mengikuti kata-kata Regan seakan mencibirnya lalu dia berdecih sambil menatap Regan dengan kesal. "Ngomong sana sama tembok!" Ketus Adera.
"Perlu kamu tau, nyonya Adera Mahardika, aku gak tertarik tuh sama dia." Sekarang Regan membujuk Adera. Dia sudah lelah melihat bagaimana menggemaskan istrinya itu.
"Gak tertarik apanya? Kamu bilang dia cantik, seksi juga? Gimana bisa kalo kamu bilang gak tertarik sama dia." Omel Adera.
"Kamu juga, muji si botak seakan kamu pengen banget tuh dinikahin dia."
"Kata siapa gak tuh. Aku tuh cuma terpesona sama dia. Salah emang?"
"Salah lah. Kamu terpesona sama si botak itu sedangkan suami kamu ini, lebih mempesona dari dia."
"Kan aku bilang itu dari sudut pandang wanita lain. Aku gak."
Regan mendekatkan wajahnya dimana membuat Adera ikut menjauhkan wajahnya. "Segitu gak menariknya aku dimata kamu, Dera?" Nada bicara Regan terdengar dingin dan juga begitu menusuk Adera.
Pipi Adera memerah. Bohong sekali dia tidak terpesona dengan pesona yang dimiliki suaminya. Tidak mungkin dia tidak terpesona dengan ketampanan dan kepanasan Regan, walau dia terlambat menyadarinya.
"G-gak kok. Kamu juga mempesona." Ucap Adera, pada akhirnya dia harus mengalah saja. Dia tidak sanggup melihat mata Regan yang menatapnya begitu.
"Dari sudut pandang mana?" Sebelah alis Regan terangkat.
__ADS_1
"Eumm, s-semuanya. Wajah kamu, tubuh kamu. Kamu itu pahatan yang sempurna yang pernah aku temuin." Jujur Adera.
Kedua sudut bibir Regan terangkat. Dia lebih mendekatkan wajahnya sampai bibirnya dengan bibir Adera tinggal sesenti saja. "Kamu tenang aja. Gak ada yang lebih baik dari kamu yang jadi patner ranjang aku. You're the one and only, Adera Danialova." Bisik Regan dengan suara yang, oh may got, sedikit lagi Adera merasa ingin meningoy saja rasanya.