
Setelah kepulangan Rivaldo dan Rina, Adera dan Regan langsung ke kamar mereka. Bersiap untuk tidur karna sekarang sudah jamnya tidur.
Tapi sebelum tidur, Adera memakai serum yang baru ia beli dan itu direkomendasikan langsung oleh Rina. Sebenarnya dia tidak tertarik memakai skincare apapun, tapi karna dia dikatai kucel oleh Rivaldo membuatnya jadi tidak percaya diri dan mencoba produk itu.
Adera menuangkan sedikit serum itu diwajahnya lalu menepuk-nepuknya keseluruh wajahnya dengan brutal. "Aws," ringis Adera, dia merasa kesakitan karna kekencangan menepuk-nepuk wajahnya.
Regan yang melihat itu tertawa. Baru kali ini dia melihat gadis seperti Adera yang tidak tahu cara memakai skincare. Tapi itu terlihat lucu.
Adera menoleh ke Regan yang berbaring diatas ranjang, yang menertawainya. Adera pun memanyunkan bibirnya kepada Regan. "Dih malah diketawain." Kata Adera.
Regan memberhentikan tawanya. "Ya abis kamu lucu." Sahut Regan.
Adera membalikan tubuhnya lagi menghadap cermin. Kali ini dia mengusap-ngusap wajahnya dengan pelan. Padahal saat dia melihat Rina, dia melakukannya seperti itu tapi kenapa itu sedikit sakit?
"Lagian ngapain sih kamu pake gitu-gituan?" Tanya Regan.
"Dibilang kucel sama Rivaldo," jawab Adera dengan bibir cemberut.
Regan terkekeh. "Mau cantik buat siapa emang?" Tanya Regan.
"Eumm, buat cowok-cowok pada terpana sama aku, mungkin." Jawab Adera, dia menoleh pada Regan dan memberikan cengiran khasnya.
Regan mendengus. "Kesini," Regan menjentikkan tangannya, menyuruh Adera bergabung dengannya diatas ranjang.
Karna sudah selesai juga memakai skincarenya, Adera menuruti Regan. Dia naik ke atas ranjang, dengan langsung memeluk Regan.
"Kamu gak perlu itu semua." Kata Regan saat Adera sudah berada disebelahnya dan memeluknya.
Kedua alis Adera terangkat. "Kenapa?" Adera kan juga ingin terlihat cantik dan cemerlang bak sinar matahari pagi untuk Regan.
"Yah karna gak penting." Jawab Regan santai. "Lagipun tanpa pake begituan, kamu udah cantik, selalu." Lanjut Regan sambil memainkan ponsel milik Adera yang ia ambil diatas nangkas.
Adera yang mendengar perkataan Regan tersipu. Bagaimana Regan mengatakan kalau dia cantik, selalu, membuat Adera merasa dia lah wanita yang paling cantik di dunia ini. Bahkan dia merasa lebih cantik dari Selena Gomez. Terlalu percaya diri memang namun itulah Adera.
Adera menatap Regan yang sekarang tengah memainkan ponselnya. Dia pun dengan senyam-senyum mendekati Regan yang duduk bersandar diatas ranjang.
Dan Adera pun naik ke pangkuan Regan, dia langsung memeluk Regan dengan manja, pipinya ia tempelkan ke dada bidang Regan. Mendengarkan detak jantung Regan yang tidak beraturan, yang hanya bekerja jika bersamanya. Mengingat perkataan Regan barusan, Adera sangat bahagia.
Melihat istrinya itu bermanja begitu, Regan terkekeh pelan. Dia sangat menyukai Adera yang bermanja begini.
Jika setiap suami sering kesal karna istrinya manja, Regan berbeda. Dia sangat suka jika Adera bermanja, bahkan walaupun dia bermanja setiap harinya padanya.
"Kenapa, hng?"
__ADS_1
Adera masih senyum-senyum lalu dia menatap Regan yang juga menatapnya. "Aku cantik emang?" Tanya Adera sambil menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
Regan tersenyum. "Gimana ya? Gak sih, biasa aja." Jawab Regan membuat Adera yang mendengarnya tidak percaya. Padahalkan tadi Regan memujinya cantik kenapa sekarang berbeda?
Adera memukul bahu Regan. "Tadi kamu bilang aku cantik. Gimana sih!" Protes Adera. "Atau kamu cuman asal ngomong aja, iya?"
Regan tertawa sambil menganggukan kepalanya. "Mungkin,"
Adera menjadi kesal seketika. Dia memukul bahu Regan lagi dengan kesal. "Ih ngeselin!"
Regan langsung menangkap tangan Adera yang ingin memukulnya lagi untuk ketiga kalinya. Dia menatap Adera lekat-lekat dengan senyuman tipisnya yang hanya dimiliki oleh Adera.
"Apa?" Adera mengangkat kedua alisnya.
"I love you," ucap Regan. Tangannya kini beralih ke pipi Adera, mengusapnya dengan lembut.
Pipi Adera memanas. Dia mengalihkan pandangannya dari Regan, dia tidak kuat terus menatap Regan yang membuat jantungnya cenat-cenut. "Apasih, tiba-tiba," kata Adera.
"Jawab dong." Regan kini memeluk pinggang Adera, membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.
"To," lirih Adera, dia masih malu menatap Regan.
Regan terkekeh gemas. "Gak kedengaran. Ngomong apa sih."
Regan benar-benar gemas dengan istrinya. Apalagi mendengar ucapan Adera barusan.
Drrrtttt!
Suara detaran dari ponsel Regan membuat Adera menjauh dari dada Regan dan menatap Regan yang sudah mengambil ponselnya dari atas nangkas.
"Siapa?" Tanya Adera.
Regan menatap Adera. "Sebentar,"
Regan mengangkat tubuh Adera dari pangkuannya lalu dia berjalan keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan yang entah dari siapa.
Adera yang melihat Regan keluar dari kamar, bertanya-tanya. Siapa yang menelfon Regan sampai menjauh darinya untuk mengangkat telfon itu. Tidak biasanya Regan begitu, dan mungkin ini pertama kalinya.
Tidak ingin berpikir macam-macam, Adera menggelengkan kepalanya. Regan hanya mencintainya, tidak mungkin jika Regan mempunyai wanita lain. Jadi Adera hanya harus mengingat kalau dialah wanita satu-satunya yang dicintai Regan.
Dan tak lama kemudian, Regan kembali ke kamar dengan wajah yang amat dingin. Dia berjalan ke lemari dan memakai kaos oblong dan jaket bombernya dimana membuat Adera langsung mendekati Regan.
"Kamu mau kemana malem-malem begini?" Tanya Adera.
__ADS_1
Regan menatap Adera sembari memakai jaket bombernya ditubuhnya. "Aku mau keluar sebentar," jawab Regan dengan wajah yang tidak biasanya ia tunjukan pada Adera.
Adera mengangkat kedua alisnya. "Kemana?" Tanya Adera lagi.
Regan berdecak. "AKU CUMA KELUAR SEBENTAR, DERA!" Tiba-tiba saja Regan membentaknya.
Dimana membuat Adera terkejut. Memang itu bukan pertama kalinya Regan membentaknya karna Retan juga pernah membentaknya saat mereka bertengkar besar tempo hari namun Adera masih sangat amat terkejut.
Regan menghebus nafasnya, dia memegang pipi Adera. Mungkin dia sadar apa yang telah ia lakukan tadi. "Aku cuma keluar sebentar, gak lama. Jadi, kamu tidur duluan ya. Gak usah nunggu aku." Kata Regan, kali ini dia berbicara lembut.
Adera menganggukan kepalanya.
Sebelum pergi Regan mencium kening Adera dan setelah itu langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan Adera sendirian disana.
"Hati-hati," ucapan Adera mungkin tidak didengar Regan karna dia dengan cepat pergi begitu saja.
Adera menelan lagi ucapan itu, dia duduk di tepi ranjang. Bentakan Regan barusan masih membuatnya terkejut padahal itu bukan pertama kalinya namun entah kenapa Adera merasa itu berbeda.
......................
Epilog.
"Huft, akhirnya kamu datang juga, Regan." Ucap seorang wanita yang duduk membelakangi Regan. "Aku nunggu kamu daritadi bahkan aku nunggu kamu dibandara. Berharap kamu jemput aku disana."
Regan yang berdiri dibelakang wanita itu memasang wajah dinginnya.
Wanita itu berdiri dari kursi dan membalikkan tubuhnya kearah Regan. Wanita berwajah bak dewi itu tersenyum pada Regan sembari mendekati Regan. "Tapi itu gak masalah sekarang,"
"Apa yang kamu inginkan, Saskia?" Tanya Regan, dia sudah tidak bisa membuang-buang waktu karna dia memikirkan Adera, istrinya yang mungkin akan menunggunya.
Wanita cantik seperti dewi itu berdiri tepat dihadapan Regan. Dia masih tersenyum manis pada Regan. "Jangan buru-buru dong. Kamu baru aja datang, kamu mau minum atau makan sesuatu?"
"Or you want something, babe?"
Wanita cantik itu tersenyum menggoda Regan. Namun Regan tetaplah Regan, dia tidaka akan gampang digoda begitu oleh wanita lain meskipun wanita itu secantik bidadari seperti wanita dihadapannya ini.
Regan tidak ada waktu untuk bersantai-santai dengan wanita itu. Yang dia pikirkan, dia harus segera kembali ke Adera, itulah yang ia pikirkan.
"Aku gak punya waktu." Ketus Regan.
Wanita cantik itu cemberut. "Huft, ternyata kamu masih aja jutek dan dingin banget sama aku, ya. Tapi it's ok, aku yakin kamu bakal berubah."
"Apa yang kamu inginkan?" Regan to the point.
__ADS_1
Wanita itu dengan lancangnya mengambil tangan Regan dan menempelkannya ke perutnya yang membuncit. "Dia, anak kita, merindukan papanya, Regan." Ucap Wanita itu dengan senyuman khas alanya.