Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
52: Bimbang


__ADS_3

Regan menatap Dito yang tiba-tiba datang ke apartemennya dengan membawa makanan dan juga obat-obatan. Dia menatap dengan bingung bingkisan yang dibawa Dito, karna secara tiba-tiba Dito jadi perhatian padanya seperti ini dan itu membuat Regan curiga padanya.


"Tumben lo perhatian sama gue. Gue curiga," kata Regan menatap Dito yang duduk sofa disebrangnya.


Dito berdecak mendengar kata curiga dari mulut Regan. Memangnya salah apa kalau dia perhatian pada sahabatnya? Ya, walaupun itu adalah pemberian Adera dan dia hanya diminta tolong olehnya. "Dih, masih mending gue perhatian lo! Gak tahan aja gue ngeliat muka lo selalu lemes begitu mangkanya gue beliin ini semua." ucap Dito.


Ingin sekali Dito memberi tahu pada Regan bahwa perhatian ini semua bukan darinya melainkan Adera yang menyuruhnya. Namun mengingat janjinya pada Adera untuk tidak memberi tahu Regan membuat Dito diam saja.


Regan membuka kubus bubur ayam yang dibelikan Dito, dia langsung mencoba bubur ayam itu tanpa bicara lagi karna kebetulan dia pun lapar. Dan enak, itulah yang dirasakan Regan saat mencoba bubur ayam itu.


"Gimana sama kekasih baru lo?" tanya Dito membuat Regan menatap kearahnya lagi.


Mendengar kata kekasih dari Dito membuat Regan memutar bola matanya. Dia tidak pernah menganggap Olivia sebagai kekasihnya, dia hanya menggunakannya untuk menjadi alasan Regan bisa melihat Adera dikantor. "Udah lah ngapain bahas dia!" jawab Regan dengan kesal.


"Ya kan gue nanya, bego! Emosi mulu lo!" balas Dito. "Gimana sama Adera?" kali ini Dito mencoba memancing Regan.


Regan terdiam, dia menaruh kubus bubur ayam itu di meja, mendengar nama Adera terus saja membuatnya begitu. "Adera? Dia ada dikamarnya." jawab Regan dengan pelan.


Dito memutar bola matanya. "Bukan itu, maksud gue lo gak timbangin lagi tentang perceraian lo? Siapa tahu semuanya cuma kesalah pahaman aja."


"Gak ada yang namanya kesalah pahaman, dia sama gue udah gak cocok." ucap Regan walau terasa menyakitkan di dadanya.


Dito menghebus nafasnya. Padahal mereka berdua hanya salah paham satu sama lain, tapi kenapa dari mereka tidak ada yang menyadari itu? Dia saja mengetahuinya dari tatapan yang mereka berdua tunjukkan satu sama lain. "Seterah lo lah, itu masalah lo kenapa gue ikut campur."


"Itu karna lo emang tukang ikut campur masalah orang! Gak sadar lo?!" sengit Regan.


"Iya deh. Kalo gitu mau gue cariin cewek lain gak? kenalan bini gue banyak loh, cantik-cantik lagi. Ada yang semok juga bodynya beh mantap deh pokoknya."


Regan mendengus bahkan sampai detik ini pun dia tidak berpikir mencari pengganti atau mencari wanita lain karna hatinya hanya milik Adera. Catat hanya milik Adera. "Gak pengen." tolak Regan dengan keras.

__ADS_1


Dito berdecih. "Kalo gitu perbaiki masalah lo sama Adera apa salahnya?"


Regan terkekeh hambar. "Lo pikir gampang ngebalikin semua itu? Dia udah gak cocok sama gue," Regan mengigit bibirnya. "Dia tersiksa sama gue, gue gak pengen maksa dia lagi, To. Udah cukup bikin dia terluka sama semua paksaan gue."


Bodoh, itulah kata yang pantas untuk Regan. Terlalu bodoh untuk mencintai seseorang, terlalu bodoh untuk memahami hati pasangannya. Kenapa Dito yang menjadi geram jadinya? Namun melihat Regan terus begini dia pun tidak tahan, dia adalah sahabatnya walaupun kadang menyebalkan, Regan tetap sahabatnya dari kecil. Melihatnya begini, Dito juga ikut sedih.


Namun dia bisa apa, semua itu bergantung sendiri pada mereka berdua. Dito tidak berhak ikut campur yang hanya perlu dia lakukan adalah terus berada disamping Regan, menemaninya.


Dito menghebus nafasnya panjang. "Gue nginep disini lah." katanya.


......................


Di rumah sakit.


"Waduh-waduh siapa ini yang baru aja jengukin papa?" ucap papa Jay yang senang karna kehadiran Adera.


Adera tersenyum, dia menyalimi tangan papa Jay. "Gimana keadaan papa? Udah mendingan?" tanya Adera.


"Kamu gimana sehat?" kini giliran papa Jay yang menanyakan keadaan Adera.


Adera mengganggukkan kepalanya. "Sehat kok, pah. Setiap hari kan makan empat kali sehari, hehe," Adera mengengesan.


Papa Jay tertawa. "Alhamdulillah kalo gitu."


Adera menatap sekeliling kamar inap papa Jay, dia mencari-cari keberadaan seseorang. Dalam hatinya dia berharap jika orang itu juga datang kesini.


Melihat Adera celengak-celengok, papa Jay sudah tahu apa yang dicari Adera dan dia pun tersenyum. "Regan lagi beli papa bubur ayam. Nanti juga balik lagi dia." kata papa Jay seakan tahu apa yang dicari Adera.


Pipi Adera memerah karna ketahuan oleh papa Jay, kenapa papa Jay tahu kalau dia mencari keberadaan Regan?

__ADS_1


"Adera," panggil papa Jay dengan lembut.


Adera menatap papa Jay dengan kedua alis terangkat. "Iya kenapa pah? Ada yang papa pengen?" tanya Adera.


Papa Jay menggelengkan kepalanya. "Papa cuma mau tanya."


"Apa pah?"


"Kamu mau cerai sama Regan?"


Seakan disambar petir disiang hari, Adera terdiam dengan dada yang sesak. Pada akhirnya papa Jay pun mengetahui itu padahal belum waktunya dia mengetahui itu semua. Dan Adera pun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap papa Jay.


Tangan papa Jay yang masih dibius terangkat ke atas kepala Adera dimana membuat Adera membeku. "Kamu tenang aja, papa gak marah sama kamu kok. Justru papa lega, karna kalian berdua memutuskan secepat ini sebelum kalian berdua saling menyakiti." ucap papa Jay dengan lembut.


Adera akhirnya mengangkat kepalanya, menatap papa Jay yang tersenyum padanya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Papa harap Adera bisa menemukan kebahagian diluar sana. Papa harap Adera bisa bahagia karna papa tahu nikah karna paksaan itu tidak baik, karna papa juga pernah merasakannya dengan alm mama Regan."


"Papa terlambat menyadari perasaan papa ke mama Regan saat kita sudah berpisah padahal papa yang maksa dia buat nikah sama papa tapi malah papa yang terlambat menyadari cinta papa ke dia. Tapi papa malah mencari kebahagian lainnya dengan wanita lain walaupun pada akhirnya mama Regan lah kebahagiaan papa sebenarnya."


"Dan pada akhirnya kami memilih berpisah, karna papa yakin kalau dia akan bahagia jika bersama orang lain. Papa pernah ngira kalo dia terluka karna menikah dengan papa, ternyata papa salah."


"Jadi sebelum pergi, papa mohon buat Adera menyadari lagi apa yang buat Adera bahagia. Entah itu berpisah atau menetap, kamu harus memilih apa yang buat kamu bahagia, nak. Jangan memaksakan diri." ucap papa Jay.


Adera masih terdiam. Apakah benar jika berpisah membuat mereka berdua bahagia atau sebaliknya membuat mereka berdua terluka. Adera bingung, dia harus memilih yang mana, sedangkan disisi lain dia takut.


"Papa," suara Regan yang menusuk ditelinga Adera. Regan yang baru saja datang itu dengan membawa bubur ayam yang dipesankan papanya langsung mematung melihat punggung gadis yang duduk disebelah bangkar papanya.


"Nah, akhirnya lama banget kamu, Re. Papa udah hampir mati kelaparan nih." celetuk papa Jay.

__ADS_1


Dengan perlahan Adera mencoba menoleh ke belakang dimana Regan berdiri sekarang, seketika tatapan mereka bertemu, lagi.


"Nah karna suami kamu udah datang, kalian pulang bareng aja. Tapi sebelum iti temenin papa sampe bapak Iqbal datang ya."


__ADS_2