
Seperti biasa Regan akan menemui gadis kecil itu, setelah sepulang sekolah. Sungguh, akhir-akhir ini Regan jadi sering bermain dengan bocah kecil itu daripada teman-temannya dan karna itulah dia sering diejek teman-temannya.
Karna Adera pernah mengatakan kalau dia adalah pacar Regan di depan teman-temannya, Regan jadi sering diejek dengan sebutan 'pedofil' karna bagi mereka Regan memacari seorang anak kecil yang bahkan belum belia. Padahal kan nyatanya Regan tidak pernah serius menanggapi Adera yang selalu bilang pacarnya. Ya namanya juga bocil, belum mengerti apa-apa.
Namun saat Regan sudah sampai ditaman, Regan melihat Adera tengah bertengkar dengan anak laki-laki sepantarannya. Karna penasaran, Regan segera mendekati mereka yang tengah bertengkar itu.
"Gara-gara kamu tuh, Dera, Gibran jadi masuk rumah sakit!" kata seorang anak laki-laki dihadapan Adera.
Adera membantahnya dengan menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Bukan aku! Orang dia sakit kok, kenapa nyalahin aku?" balas Adera tidak terima disalahkan.
"Ya karna kamu bilang kamu udah punya pacar, dia jadi masuk rumah sakit!" balas anak laki-laki itu lagi.
"Aku emang udah punya pacar, pacarku itu kak Regan. Kenapa bisa Gibran sakit karna aku?"
Regan menepuk jidatnya sendiri mendengar perkataan Adera, kenapa gadis kecil itu masih saja berkata begitu. Ya ampun, bisa-bisa semua orang jadi salah paham dengannya.
"Adera," panggil Regan.
Begitu Regan memanggilnya, Adera tersenyum lebar dan memeluk Regan ya walaupun tinggi Adera hanya sampai perut Regan saja. "Kak Regan!!" senang Adera.
"Kakak, dia nakal tuh. Masa aku disalahin karna Gibran sakit," adu Adera pada Regan begitu dia melepaskan pelukannya.
Regan berjongkok, dia mengangkat sebelah alisnya pada anak laki-laki yang melipat kedua tangannya di dada seakan menantang Regan. "Gibran? Emang siapa dia?" tanya Regan dengan Adera.
"Gibran anak orang kaya yang katanya suka sama aku, tapi aku bilang aku udah punya pacar tapi dia malah nyalahin aku karna Gibran sakit. Emang salah aku ya?" cerita Adera dengan wajah polosnya yang lucu.
Regan tertawa kecil, dasar anak bocah. Begitulah yang dipikirkan Regan. "Enggak, bukan salah lo." kata Regan.
"Ih, itu semua salah pacarnya Adera! Masa udah besar pacaran sama anak kecil!" Ketus anak laki-laki itu menunjuk Regan.
Regan mengangkat kedua alisnya, dia menunjuk dirinya sendiri. "Gue? Gue bukan pacar Adera, ya kan?"
Wajah Adera seketika menjadi sedih mendengar ucapan Regan. "Bohong! katanya kak Regan pacar aku?" teriak Adera dengan kesal.
"Adera, lo masih kecil. Gue gak mau sama anak kecil, nanti kalo lo udah besar, baru nanti kita pacaran ya? Gak pacaran lagi deh, langsung nikah kita." ucap Regan berusaha menenangkan Adera yang sudah menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Adera menghapus air matanya sendiri. Dia menatap Regan dengan mata polosnya. Dia akhirnya mengganggukan kepalanya.
Dan itu membuat Regan tersenyum, ternyata gampang sekali membuat gadis kecil itu luluh. Tapi ini adalah hari terakhirnya menemui Adera, Regan sedikit sedih.
Dan semua itu tidak berlangsung lama, Regan yang takut jika rival perusahaan papanya sampai salah menargetkan dan menyakiti Adera hanya karna dia dekat dengan Regan yang merupakan penerus utama Mahardika Groups.
Dan akhirnya Regan terpaksa menjauhi gadis kecil itu, dia tidak pernah menemui gadis itu lagi setelah malam itu padahal dia tahu kalau Adera masih sering menunggunya ditaman.
Seperti sudah memiliki ikatan, Regan merasa sedih karna jauh dari Adera. Dia sudah menganggap Adera seperti adiknya sendiri namun karna keadaan lah yang membuatnya menjauhi gadis itu.
"Lo gak temenin si bocil imut itu lagi?" Tanya Dito, dia tahu kalau Regan sering menemui Adera kecil ditaman itu.
Regan menggelengkan kepalanya. "Gak, gue takut musuh perusahaan gue malah salah sasaran nyakitin dia. Ya lo tau kan gimana kejamnya rival papa gue itu."
"Tapi lo beneran suka sama itu anak? Lo pedo ya?"
Regan berdecak. "Gue cuma anggap dia kayak adek gue. Lo tau kan gue pengen banget punya adek cewek dulu."
Rendy manggut-manggut.
......................
Sepuluh tahun berlalu begitu cepat. Begitu cepat Regan bertumbuh sampai sudah menjadi penerus Mahardika Groups, dimana dia sekarang sudah menjabat sebagai pemimpin utama perusahaan itu atau bisa dibilang presiden direktur Mahardika Group. Dan itu sudah empat tahun yang lalu dia menjabatnya.
Sekarang umur Regan sudah memasukki dua puluh tujuh, namun dia masih sendiri alias single. Padahal papanya sering menyuruhnya cepat-cepat menikah tapi mau bagaimana lagi, tidak ada seorang wanita pun yang berhasil menarik perhatiannya.
Bagi Regan, wanita tidaklah penting dalam hidupnya. Toh, dia juga tidak pernah tertarik dengan wanita atau gadis. Sama sekali tidak. Bukannya dia tidak tertarik dengan wanita, tapi dia belum merasakan perasaan ketertarikannya pada wanita.
Dan kini pria maskulin itu tengah berada di club malam. Dia datang kesana bersama teman-temannya. Ya tau lah apa lagi kalau tidak mencuci otak pada wanita-wanita seksi disana.
Semua teman Regan termasuk Dito, sudah meluncurkan aksinya bermain dengan wanita disebelahnya. Tapi tidak dengan Regan, dia hanya memainkan ponselnya. Tidak tertarik dengan semua itu padahal seorang wanita blasteran dengan tubuhnya yang seksi tengah menggodanya disebelahnya.
Tapi Regan lah Regan, dia tidak akan tergoda dengan wanita itu sekali pun, meskipun dia telan jang bulat dihadapan Regan juga, Regan tidak akan tertarik dengannya. Dan itulah alasan kenapa Regan masih perjaka hingga sekarang.
Bruk!
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan VVIP yang dipesan Regan dan teman-temannya terbuka lebar. Menampakan seorang gadis bersama kedua temannya yang seperti tengah menggerebek seseorang.
Dan itu membuat semua yang ada diruangan itu langsung terkejut termasuk Regan. Bukannya terkejut, tapi kali ini seperti sebuah magnet yang membuat Regan tertarik sedikit dengan itu.
"Gak ada Dion, Na." Kata gadis berambut panjang, dia berbicara dengan kedua temannya.
"Iya, gak ada tuh. Sia-sia kalo gini kita gerebek orang." Sahut seorang gadis berambut setengah panjang.
Gadis berambut setengah panjang itu menatap satu persatu teman-teman Regan yang tengah menikmati wanita mereka. Dan tiba-tiba dia berdecih cukup keras.
"Eh, gadis kecil, apa yang kalian lakukan?" Tegur salah satu teman Regan.
"Kita disini mau gerebek teman sekampus kita, om. Tapi salah alamat, maaf ya om udah ganggu." Kata gadis berambut panjang.
Dan keributan itu membuat Regan terpaku untuk pertama kalinya. Seorang gadis berambut setengah panjang itu menarik perhatiannya dengan tatapan pertama.
Seorang Regan Galendra Mahardika dibuat terpesona dengan seorang gadis yang baru belia itu. Dan itu pertama kalinya dalam hidupnya dia dibuat terpesona begitu dengan seorang gadis.
"Udah yuk, kita pergi aja. Nino and the geng gak ada disini tuh."
"Kalian mau gabung?" tanya teman Regan yang mungkin tertarik dengan salah satu gadis-gadis itu.
Ketiga gadis itu menggelengkan kepalanya. "Maaf ya, Om. Tapi kami ini pelajar yang amat suci, masuk kesini aja kita berdoa dulu, om." sahut salah satunya.
"Bye Om!"
Sebelum pergi gadis berambut setengah panjang itu tidak sengaja menatap Regan yang duduk dipaling ujung bersama wanita blasteran disebelahnya. Seketika tatapan mereka bertemu beberapa detik karna selanjutnya gadis itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, mencibir lalu pergi bersama teman-temannya.
Kegaduhan itu tidak membuat teman-teman Regan marah atau sebagainya. Karna bagi mereka itulah kesenangan sesungguhnya, seorang gadis cantik yang baru saja belia dengan beraninya mengganggu acara mereka.
Bahkan ada yang terang-terangan bilang tertarik dengan gadis-gadis tadi termasuk gadis berambut setengah panjang tadi.
Sepertinya Regan harus menemui gadis itu secepatnya. Dia harus mendapatkan informasi dari gadis tadi. Tapi entah kenapa melihat wajah gadis tadi mengingatkan Regan dengan Adera Danialova, gadis kecil yang pernah ia temui.
Wajah gadis itu sangat mirip dan membuat Regan yakin kalau itu adalah benar-benar dia. "Adera, we meet again," gumamnya sambil tersenyum.
__ADS_1