
"Wah gila sih. Kemarin-marin galau sampe mabok, eh sekarang lo malah senyum-senyum kayak orang gila? Luar biasa, cepet banget lo ngelupain Adera sesingkat ini padahal bucinnya sampe nauzubillah." Cibir Dito melihat Regan datang keruangannya sambil tersenyum-senyum tidak jelas begini.
Dia heran apa yang membuat Regan sebahagia ini, yang Dito tahu bukan kah Regan memutuskan pindah apartemen agar bisa menjauhi Adera dengan begitu dia bisa melupakan gadis itu namun melihat Regan sebahagia ini, Dito jadi tidak yakin dengan perasaan Regan pada Adera.
Regan berdecak mendengar cibiran Dito. Padahal hati Regan sedang berbunga-bunga karna Adera dan sekretaris sialan itu malah mengubah mood Regan jadi rusak seketika.
Dito memang belum tahu jika Regan dan Adera kembali berbaikan bahkan mereka kembali bersama karna Adera menahannya pergi saat Regan akan pergi dari apartemen dan juga Adera sudah menyatakan rasa sukanya pada Regan. Dan itu semua belum diketahui sahabat sekaligus sekretarisnya, Dito.
"Ckk, gue udah baikan." Decak Regan sebal. Dia menyenderkan kepalanya disenderan sofa yang ada diruangan Dito.
Dito terkejut, dia bahkan menutup mulutnya sendiri karna mendengar itu. Tapi reaksinya sangat berlebihan, ya karna itu adalah Dito. Orang yang paling banyak drama. "Hahh? Lo serius? Gak ngigo lo?"
Regan lagi-lagi berdecak. "Lo pikir gue sebucin itu sampe ngehayal?" Kesal Regan.
Dan Dito menganggukinya. "Lo bener-bener bucin, Gan. Sumpah gue tuh capek ngurusin lo yang patah hati setiap harinya." Kata Dito dengan drama yang ia buat.
"Ya! Gue gak sebucin itu sama Adera!" Bantah Regan dengan pipi memerah.
Dito tersenyum jahil melihat Regan malu-malu begitu. Dia mendekati Regan dan duduk disebelah Regan dengan wajah yang menyebalkan. "Gak sebucin itu, huh? Lo yakin? Setiap malem dateng ke rumah gue, ngegalauin Adera bahkan sampe nangisin Adera pas mabuk. Yakin gak sebucin itu sama Adera?"
Regan yang sebal dengan Dito langsung menjitak kepalanya. Ingin sekali Regan memukulnya bukan menjitaknya, tapi Regan sedikit menghargai Dito, karna Dito lah tempat dia curhat waktu itu.
"Gue udah baikan. Kalo gak percaya tanya aja sama orangnya langsung. Dia juga udah bilang suka sama gue tuh." Ucap Regan dengan wajah datar.
"Suka sama lo?" Beo Dito, tidak percaya apa yang dikatakan Regan barusan.
Regan memutar bola matanya. "Iya." Jawabnya malas.
"Serius? Wah, beneran? Kok gue gak percaya?" Heboh Dito.
Akhirnya dia tidak akan menemani Regan meminum-minum alkohol lagi yang membuatnya kerepotan karna harus membawa Regan yang mabuk ke apartemennya. Jadi dia tidak akan kerepotan lagi dan dia senang.
"Terus-terus? Udah pembobolan belom?" Tanya Dito dengan semangat.
__ADS_1
Regan menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya dan itu membuat Dito kecewa karna tidak bisa mendengarkan cerita malam pertama Regan yang dipastikan Dito sangat panas.
"Kenapa?" Tanya Dito.
"Dia lagi datang bulan." Jawab Regan dengan lemas.
Dito tertawa mendengarnya. Dia kira Regan masih tidak berani menyentuh istrinya sendiri. "Hahaha, kasian amat lo. Gue kira lonya yang masih gak berani nyentuh dia."
Regan berdecak. "Gue bukan gak berani atau takut buat nyentuh dia kemarin-marin. Gue cuma lagi nunggu timing yang bagus ngelakuinnya." Tukas Regan.
"Oh iya ya, lo bilang nunggu Adera sampe nerima lo dulu. Huft, untungnya gue gak nunda malam pertama. Istri gue malah yang nyosor duluan." Ucap Dito dan dia jadi mengingat malam pertamanya dengan Ratih saat itu. "Ratih, Ratih," Dia menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana Ratih dengan beraninya nyosor duluan.
Regan berdecih. "Itu karna istri lo yang agak rada-rada. Adera beda dari Ratih. Gue tau sifatnya, gak mungkin dia berani nyosor duluan kayak istri lo." Regan tidak terima jika istrinya dibandingkan dengan Ratih, istri Dito.
"Iya deh. Yang bucin sama Adera dari Adera masih kecil. Tapi jujur ya, lo itu malah kaya pedofil tau gak pas suka sama Adera pas dia umur sepuluh tahun."
"Ya terus?" Sebelah alis Regan terangkat.
"Aneh aja seorang Regan Geraldo yang jadi pujaan cewek-cewek disekolah bahkan diluar sekolah, bucinnya sama anak yang baru umur sepuluh tahun."
......................
"Mbak,"
Alisia yang sedang menikmati bekalnya menoleh sambil mengangkat kedua alisnya.
Adera mendekatkan kursinya pada kursi Alisia. "Mbak boleh tanya gak?"
Alisia menganggukan kepalanya. "Iya dong. Emang apa?" Jawab Alisia.
Adera memilin bibirnya sebelum bertanya pada Alisia. Dia menatap karyawan lainnya yang sepi karna sekarang Adera menikmati makan siang bersama Alisia di dalam ruangan. Lalu Adera menatap Alisia dengan serius. "Mbak, mau tanya tentang tutorial malam pertama dong?"
Alisia tersedak mendengar perkataan Adera yang bertanya tentang tutorial malam pertama. Dengan cepat Alisia mengambil airnya dan meminumnya hingga habis lalu menatap Adera lagi. "Maksud kamu apa?" Nada bicara Alisia meninggi bahkan setengah berteriak.
__ADS_1
Adera meringis pelan. "Minta tutorial malam pertama, mbak. Mbak kan udah berpengalaman."
Alisia memegang kedua bahu Adera membuat Adera langsung terkejut. Dia menatap Adera dengan mata penuh selidik. "Kamu mau praktekin sama siapa, Adera?" Tanya Alisia dengan nada tegas.
"Mbak, aku kan udah kasih tau kalo aku udah nikah." Kata Adera.
"Siapa? Kenapa kamu gak kasih tau mbak?"
"Aku kira mbak Ratih udah cerita sama mbak. Mangkanya aku gak cerita apa-apa sama mbak."
Alisia menghebus nafasnya. "Terus siapa suami kamu? Kenapa dia gak kelihatan? Hubungan kalian baik-baik aja?" Tanya Alisia dengan tegas.
Mata Adera melihat-lihat sekeliling lagi, takut ada yang mendengar perbicaraan mereka. Dan dia menatap Alisia lagi yang menatapnya dengan tegas. "Regan, dia suami aku mbak." Adera berbisik.
"Regan? Maksud kamu pak Regan, presiden direktur kita?" Tentu saja Alisia sangat terkejut mendengarnya.
Semua jadi masuk akal sekarang. Kenapa tiba-tiba Regan ada dikantor ini dan juga kenapa Regan selalu datang ke ruangan ini. Sekarang masuk akal bagi Alisia, karna sebelumnya Regan tidak datang ke kantor ini, tempatnya adalah dikantor pusat dan tiba-tiba saja menetap beberapa hari disini. Dan itu semua karna Adera.
"Jadi pak Regan suami kamu?" Tidak sengaja Alisia membesarkan suaranya karna saking terkejutnya.
Adera menjadi meringis mendengar, takut ada yang mendengarnya. "Mbak ini privasi."
Alisia menganggukan kepalanya. "Pantes aja pak Regan kayak cari curi-curi pandang sama kamu. Ternyata kalian suami-istri toh."
"Iya mbak, kaget ya kalo aku yang jadi istrinya dia?"
"Gak kok, justru pas denger kalo kamu istrinya.. mbak ngerasa, dia milih istri yang tepat. Tapi aneh deh, kenapa pak Regan ngencanin Olivia?"
"Itu karna kita bertengkar, mbak. Kita hampir aja cerai dan itu karna salah aku. Tapi sekarang, semuanya udah baik-baik aja. Aku sama dia, kita mulai dari awal." Kata Adera.
Alisia tersenyum mendengarnya. "Baguslah, rumah tangga mau gak berakhir seperti mbak. Maksud mbak, bukan mbak ngedoin rumah tangga kamu jadi kayak mbak, lho."
Adera tertawa kecil. "Iya mbak aku tau. Jadi gimana tutorialnya?"
__ADS_1
Alisia menyuruh Adera lebih mendekat dan membisikan Adera. "Buat suami kamu terang sang pas pertama kali ngeliat kamu." Bisik Alisia dimana membuat pipi Adera memerah mendengarnya. "Nanti mbak kasih tau apa yang harus kamu lakuin dan kamu kenakan. Oke?"