
"Regan lepasin gak!" Adera meminta agar Regan melepaskan dekapannya dan membiarkannya pergi tapi Regan tidak melakukannya juga bahkan sampai Adera marah-marah Regan sama sekali tidak melepaskannya.
"Temenin aku tidur." Kata Regan dengan suara seraknya, dia masih saja mengurung tubuh Adera di dekapannya padahal Adera sudah berulang kali memberontak dan mencoba mencubitnya namun itu tidak membuat seorang Regan Geraldo goyah begitu saja.
"Aku harus masak, beres-beres emang aku harus nemenin kamu doang? Lagi pun aku belum mandi, lho." Adera masih berusaha melepaskan diri dari Regan.
Regan berdecak pelan. "Aku cuma minta kamu temenin aku tidur." Kata Regan seakan harus ditaati Adera dimana membuat Adera akhirnya pasrah dan mau tak mau menurutinya.
Adera menatap wajah Regan dan tidak sengaja tatatapan mereka bertemu dalam jarak sedekat ini. Sudah lama tidak sedekat itu membuat keduanya berdebar tidak karuan apalagi kondisi jantung Adera yang sudah tidak tertolong itu.
Melihat wajah Regan dalam sedekat ini entah kenapa membuat Adera berdebar begini padahal ini bukan pertama kalinya mereka berdekatan begitu tapi itu menjadi pertama kalinya dalam lima tahun ini jadi wajar saja Adera merasakan debaran itu lagi.
"K-kayaknya kalo tidur posisinya begini susah deh. Lagipun aku berat kan ya?" Adera berusaha mungkin tetap santai, dia masih berusaha terlepas dari Regan karna berada diatas Regan seperti itu membuat Adera merasa getaran aneh.
"Gak mau, aku bisa tidur begini dan kamu gak terlalu berat sampe bikin aku sesek nafas." Tolak Regan dimana membuat Adera yang mendengarnya kesal sendiri.
Memangnya Regan tidak tahu apa bagaimana keadaan debaran jantung Adera yang serasa bernyanyi dengan lantang dan mungkin Regan juga mendengarnya, Adera yakin itu.
"Nyebelin!" Gerutu Adera, dia tidak ingin terus bertatapan dengan Regan lebih lama lagi, jadi dia hanya merebahkan kepalanya didada Regan walau memalukan tapi kan bisa menghidari kontak mata dengan Regan.
Regan diam-diam tersenyum, sudah lama sekali mereka tidak berpelukan begini. Sekarang Regan malah lebih seperti anak remaja labil yang tengah jatuh cinta saking bahagianya dia saat ini.
"Ah, jangan dicium dong leher aku. Kamu sengaja mau goda aku ya?" Desah Regan disengaja saat merasakan bibir Adera menyentuh lehernya.
"Biarin, kamu aja sengaja gak mau lepasin aku!" Sok santai sekali Adera itu padahal wajahnya sangat memerah saat ini.
"Aku kangen tidur meluk kamu, sayang. Emang gak boleh?"
Lagi-lagi Adera merasa asing ketika Regan memanggilnya dengan sebutan 'sayang' atau mungkin karna sudah lama tidak mendengarnya lagi lima tahun ini membuat Adera merasa asing?
__ADS_1
"Kamu bisa tidur tanpa harus meluk aku!" Omel Adera.
"Gak bisa, aku gak bisa tidur bahkan lima tahun ini aku gak bisa tidur nyenyak. Jadi biarin aku meluk kamu hari ini aja." Kata Regan.
Adera yang mendengar perkataan Regan langsung bungkam. Adera kira selama lima tahun ini Adera lah yang paling menderita ternyata Regan juga sama menderitanya mendengar dia tidak bisa tidur dengan nyenyak selama lima tahun ini. Seberapa menderitanya Regan saat Adera tidak ada disampingnya? Adera penasaran dengan itu.
"Kamu tau, aku hampir gak bisa tidur setiap malam cuma mikirin kamu. Aku selalu nyalahin diri aku sendiri kalo aja saat aku aku bisa nahan kamu dan ngejelasin dengan sejelas-jelasnya, tapi ternyata aku kehilangan kamu. Aku sampe jadi gila karna kamu, Adera." Ucap Regan.
Adera mengangkat kepalanya, menatap wajah Regan. Tangannya terangkat ke pipi Regan, mengusapnya dengan lembut.
Adera sadar sekarang, bukan cuma dirinya yang menderita, ada Regan juga yang menderita karnanya. Dan seharusnya Adera tidak selalu menyalahkan Regan apalagi sampai memusuhi Regan. Bagaimana pun perasaan Adera masih untuk Regan begitu pun sebaliknya.
"Tadi ngomongnya mau tidur tapi ngoceh mulu. Tidur aja, ngomongnya nanti aja juga bisa. Sekarang kamu harus istirahat, ngerti?"
Dan Regan menganggukinya. "Tapi kamu jangan pergi kemana-mana, temenin aku sampe aku kebangun." Ucap Regan dengan nada manja.
Adera menganggukinya. "Iya, aku nemenin kamu. Mangkanya tidur, kalo gak nanti aku tinggalin jemput Raga!"
......................
Raka yang baru saja pulang dari sekolah kanak-kanaknya berdecak melihat sang mama dan papa tidur dengan berpelukan di siang bolong begini. Padahal Raka sudah menunggu jemputan dari sang mama eh ternyata mamanya tertidur dengan nyenyak disebelah papanya.
Tidak terima mereka hanya tidur berduaan, Raka membuang tas bermotif spidermannya ke sembarang arah lalu membuka sepatu dan kaos kakinya sekalian setelah itu langsung melompat dengan gaya dan mendarat di perut sang papa hingga membuat Regan yang tadinya tertidur nyenyak langsung terkejut dengan aksi nakal anaknya.
Adera juga langsung terbangun begitu Regan teriak, dia langsung menatap Raka yang duduk diatas perut Regan dengan wajah songongnya.
Mungkin Raka kesal karna tidak ada yang menjemputnya sedangkan kedua orangtuanya malah asik-asikan tidur bersama. Berpelukan lagi, Raka merasa tidak terima dengan itu.
"Raka, gak boleh begitu dong! Kamu apa-apaan sih!" Omel Adera, dia langsung membangunkan tubuhnya dan langsung menjewer kuping anak nakalnya itu.
__ADS_1
"Ya abis mama gak jemput aku eh malah tidur udah gitu tidur bareng papa lagi peluk-pelukan lagi, dosa nanti mau?" Omel Raka balik pada Adera.
Adera memilin bibirnya sambil melirik Regan yang masih merebahkan tubuhnya dengan Raka yang masih duduk diperutnya lalu menatap anaknya lagi yang sekarang melipat kedua tangannya di dada.
"Ya gak dosa lah, orang kita mau buat adik buat kamu emang kamu gak mau?" Bukan Adera yang menjawab melainkan Regan dengan nada kesal karna waktu tidurnya bersama Adera terganggu karna anaknya sendiri.
Wajah Raka langsung memerah begitu mendengar kata adik dari mulut Regan, papanya. Dia langsung tidak suka ketika Regan membicarakan adik baru untuknya. "Siapa yang mau adik? Aku gak mau adik! Kenapa dibuat?" Raka berucap dengan wajah yang terlihat kesal.
Melihat Raka menjadi kesal membuat Regan menelan slivanya susah payah. Kalau saja Raka tidak menginginkan adik bagaimana jika dia meminta haknya pada Adera? Astaga, di situasi seperti ini dia malah memikirkan ke hal itu padahal putranya sendiri sekarang tengah merajuk.
"Iya kok gak, siapa yang mau buat adik? Gak, papa boong gak usah di dengerin ya?" Bujuk Adera, dia mengusap-usap rambut Raka dengan lembut.
Raka langsung beralih memeluk Adera, dia seketika langsung bermanja pada mamanya. Biasalah anak umur segitu, sedang manja-manjanya pada mamanya.
"Emang Raka gak mau punya adik?" Regan bertanya, dia mencoba untuk memancing Raka.
Raka melepaskan pelukannya pada Adera, dia menatap Regan dengan wajah tegasnya. "Aku gak mau punya adik!" Jawab Raka dengan tegas.
"Emang kenapa? Lucu tau punya adik lagi." Lagi-lagi Regan mencoba memancing anaknya itu.
"Aku udah lucu jadi aku gak butuh adik! Aku lucu kan ya mah?" Kata Raka sembari bertanya pada mamanya.
Adera sontak mengangguki saja takut jika anaknya itu mengamuk. Bagaimana pun Raka masih kecil, mungkin dia masih tidak rela jika kasih sayang Adera terbagi.
Pada akhirnya Regan hanya mendesah pasrah. Anaknya itu tidak bisa diajak berkerja sama. Jika begini jadinya, Regan pasti tidak punya kesempatan membuat anak lagi dengan Adera. Walaupun gampang baginya membujuk Adera tapi tetap saja, dia ingin mempunyai anak lagi dan Raka, anak sulungnya itu tidak mengizinkannya. Apalah dayanya sekarang.
Adera menatap Regan yang seakan kecewa. Dia tidak mengerti kenapa sebegitu kecewanya Regan hanya karna Raka tidak menginginkan seorang adik?
Adera mengerti jika Regan mempunyai naluri hasrat yang tertahan padanya, dia kan bisa saja memaksa dan memintanya padanya seperti biasa dia lakukan lima tahun yang lalu namun kenapa wajah Regan menjadi kecewa begitu?
__ADS_1
"Mah aku lapar," rengek Raka.