Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
26: Tutorial Dari Bestie


__ADS_3

Di kampus, Adera menggali harta karun dari hidung sambil menatap keatas langit-langit kelas. Itu kebiasaannya jika dosen belum datang.


Sambil menghayalkan sesuatu sambil mencari harta karun itu hal yang indah bagi Adera Danialova. Seperti sekarang, entah khayalan darimana, dia malah menghayal jika dia bulan madu dengan Regan di bali.


Namun entah kenapa Adera menikmati khayalan itu. Khayalan yang kotor yang ada dipikiran Adera. Adera tersadar apa yang baru saja dia khayalkan bersama Regan. Dia langsung menepuk-nepuk kepalanya berkali-kali sambil mengumpati Regan padahal Regan tidak salah apa-apa.


Pikirannya ternodai semenjak Adera bertemu dengan Regan. Jadi dia menyalahkan laki-laki itu sambil mengumpatinya.


"Adera!" Friska mengageti Adera dari belakang untung saja Adera terkejut.


Friska menyengir kuda pada Adera yang menatapnya dengan kesal. Friska langsung duduk dikursinya di depan Adera sambil menghadap ke belakang. "Bengong bae lo." Katanya.


"Tumben lo baru dateng. Biasanya dateng subuh-subuh." Kata Adera.


Friska berdecak. "Enggak ege. Tadi gue udah dateng lebih awal kayak biasa, tapi tiba-tiba gue ketemu cowok gue lagi sama cewek lain." Cerita Friska membuat Adera menyengitkan dahinya.


Mata Friska memang terlihat seperti sehabis menangis. Dia jadi ikut sedih melihat sahabatnya begitu, padahal Friska yang ia kenal orang yang bodo amatan ternyata dia juga bisa sakit hati karna laki-laki.


"Kok bisa?" Tanya Adera.


"Dari kemarin itu pas gue berangkat diantar sama bang ojek kesayangan gue, gue ngeliat dia lagi mesra-mesraan sama cewek lain ditukang bubur. Gue emang sih gak langsung mikir negative, gue mikir kalo itu cuma temennya, tapi bukan cuma hari itu dia jalan sama cewek itu, gue juga sempet ngajak dia jalan, terus dia bilang dia gak bisa karna ada acara keluarga. Terus gue juga ngeliat dia lagi sama cewek itu di dermaga. Nyesek gak sih?" Cerita panjang Friska, terlihat sekali wajahnya menahan sedih.


Adera ikut sedih mendengarnya. Dasar bajingan, berani sekali laki-laki itu menyakiti hati Friska yang polos ini. Laki-laki seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. "Terus lo udah putus sama dia?"


Friska menganggukan kepalanya. "Udah, gue langsung putusin dia ditempat gue ngeliat dia sama cewek itu. Dan yang bikin paling nyesek itu, cewek yang jalan sama dia itu temen kecil gue, Ra." Friska tidak bisa menahan airmatanya lagi. Dia meneteskan airmata didepan Adera.


Adera mengusap airmata Friska. Tidak seharusnya Friska menangisi laki-laki bajingan seperti itu namun Adera tahu betapa menyakitkannya mengetahui orang yang menusuknya adalah sahabatnya sendiri.


Mungkin jika Adera diposisi seperti Friska, dia akan merasakan perasaan yang sama.


"Udah ya, Fris. Sabar." Adera menenangkan Friska.


"Abis nyakitin banget, Ra. Terus barusan dia kesini, nyamperin gue, minta gue buat balik lagi sama dia dan bilang kalo yang gue liat itu salah. Gue berusaha ngehindar dong dan nolak dia tapi yang dapetin kata-katanya yang seakan ngehina gue Ra, bahkan dia ngehina orangtua gue." Friska menahan tangisnya.


"Untung disana ada Toni yang baru aja dateng ke kampus. Toni yang denger itu semua, dia ngebantu gue. Dia mukulin bajingan itu, sumpah ya, Ra. Gue seneng banget si bajingan itu di pukulin Toni. Gue harus berterimakasih ke Toni." Lanjut Friska.


Adera tertawa kecil mendengar nada bicara Friska tidak sesedih tadi. Malah dia dengan penuh semangat menceritakan bagaimana mantan kekasihnya dihabisi Toni habis-habisan.


Tidak sadar karna mendengarkan cerita Friska, Toni datang ke kelas dan melewati meja mereka. Dan begitu Toni melewati mejanya, Adera dan Friska saling lihat-lihatan. Panjang umur, mereka menceritakannya dan orangnya datang. Benar-benar kebetulan.


"Toni!" Panggil Friska ketika Toni sudan duduk dikursinya.


Toni menoleh ke belakang dimana Friska dan Adera menatapnya. "Kenapa?" Sahutnya.

__ADS_1


"Terimse ya, tadi udah bantuin gue pukulin itu orang." Friska berterimakasih pada Toni.


Namun tatapan Toni terarah pada Adera yang menatapnya dengan wajah polos. Dia menganggukan kepalanya pada Friska. "Kalo butuh bantuan gue, bilang aja." Kata Toni sambil menatap ke depan lagi.


"Sip! Tengkyu!" Semangat Friska.


Adera menyenggol lengan Friska. Dugaannya semua orang ternyata salah karna Toni memang baik tuh kepada orang lain bukan cuma dirinya contohnya saja Friska.


"Ciee," Adera mencie kan Friska.


"Apa sih ege. Orang baru patah hati malah di ciein."


Adera tertawa.


"Wah, Friska sayang habis nangis ya?" Seru laki-laki bernama Chandra yang adalah pembuat onar. Dia meledek Friska, biasalah dia kan memang sering meledek orang, Adera saja pernah diledeknya habis-habisan sampai Adera darah tinggi.


"Apaan sih lo gentong!" Sahut Friska kesal.


"Ulu ulu, sini sini abang Chandra kasih obat penenang  yang ampuh." Chandra mencari kesempatan pada Friska tapi untung saja Friska terlebih dahulu memukul perutnya yang agak membuncit itu.


"Gentong genit!" Cibir Friska.


......................


Friska memang sering nongkrong bareng Adera dan Rina. Malah mereka bersahabat bertiga, namun kemarin-marin Friska sedang sibuk dengan deadlinenya yang belum selesai jadi dia tidak bersama dengan Rina dan Adera kemarin.


Rina berdecak sebal karna digoda begitu dengan Friska. "Ciee yang abis putus." Rina membalas godaan Rina.


"Enggak ege. Anggap aja gue gak punya pacar kaya dia." Friska menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Setuju, jangan dianggap cowok dia mah." Adera menimpali perkataan Friska.


"Iya, sih. Kayak bencong gak sih?" Rina malah ikut-ikutan padahal tadi dia yang menggoda Friska.


"Bener sekali bestie. Gue tuh benci banget tau sama cowok kayak dia." Friska menyetujuhi perkataan Rina.


Adera memasukkan siomay ke dalam mulutnya. Dia ingin sekali membicarakan Regan dengan mereka berdua namun dia tidak punya keberanian dengan itu. Mendengar setiap kali teman-temannya selalu curhat tentang laki-laki padanya, Adera jadi merasa malu curhat pada mereka. Karna Adera tipe orang yang suka menjadi pendengar bukan pencerita.


Menyadari Adera terdiam begitu seperti kambing congek. Friska menyenggol lengan Adera hingga Adera tersadar. "Lo kenapa ege?" Tanyanya.


"Iya, akhir-akhir ini lo banyak diem, Ra. Gak banyak bacot. Kenapa sih lo?" Tanya Rina juga merasa khawatir dengan sahabatnya itu.


Sepertinya tidak adil jika Adera tidak curhat pada mereka padahal mereka selalu percaya pada Adera untuk mendengarkan kisah mereka. Jadi Adera akan mulai terbuka mulai sekarang pada sahabat-sahabatnya itu.

__ADS_1


"Gue mau cerita. Tapi jangan heboh ya!" Adera memperingatkan kedua sahabatnya yang heboh kalau mengetahui apa-apa.


Rina dan Friska mengangguk secara bersamaan.


Adera mengehus nafasnya sebelum bercerita. "Sebelumnya gue bakal ngasih tau Friska yang belum tau apa-apa. Gue udah nikah, hampir sebulan lalu."


Pernyataan Adera membuat Friska menganga tidak percaya. "Lo udah nikah? Kok baru ngomong sama gue sih, Ra? Terus kenapa gue gak diundang ke pernikahan lo? Terus siapa suami lo? Buruan kasih tau." Pertanyaan bejibun dari Friska membuat Adera menggaruk-garukka  kepalanya yang tidak gatal.


"Nah kan Friska aja kaget dengernya. Apalagi gue, Fris." Rina menimpali.


"Gue nikah sama orang yang gak gue kenal." Jawab Adera.


"Hah? Maksud lo, lo dijodohin?"


Adera menggelengkan kepalanya. "Gak, dia itu tiba-tiba datang kerumah gue, terus ngelamar gue. Gue sama bapak gue juga gak kenal dia."


"Kok bisa?"


"Ya gitu deh. Semuanya jalan begitu aja." Adera mengangkat kedua bahunya.


"Terus kasih tau apa yang pengen lo ceritain." Tekan Rina.


"Gue belom ngelakuin malam pertama."


Jawaban Adera membuat Rina dan Friska teriak terkejut. Kan benar kata Adera sahabatnya itu pasti heboh.


"Lo gimana sih? Kok gak ngelakuin? Apa suami lo cuma jadiin lo pembantu aja, iya?" Rina sudah terbawa emosi.


"Bilang Ra, kalo emang dia jadiin lo kayak pembantu. Biar gue sleding dia." Friska menambahkan.


Adera menggelengkan kepalanya. "Gue yang larang dia nyentuh gue."


Kedua kalinya Rina dan Friska berteriak heboh dan itu membuat Adera meringis pelan.


"Yang bener aja lo, Ra. Baru kita mau dengerin kisah hot malam pertama lo." Kata Rina.


"Ho'oh. Tadinya gue mau minta tutorial ngelayanin suami."


"Gila lo. Mau denger kisah begituan." Celetuk Adera.


"Kayaknya lo butuh tutorial deh, Ra." Sebuah ide dari Friska.


"Setuju dan kita bakal bantuin lo sampai sukses ngelayanin suami lo." Rina menyetujuhi ide Friska.

__ADS_1


Adera tersenyum kikuk. Tadi saja dia tidak menceritakannya pada kedua sahabatnya yang gila itu. Dia menyesal sekarang.


__ADS_2