Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
42: Gara-Gara Regan


__ADS_3

Setelah sudah sembuh total, Adera kembali ke kantor. Dia berjalan sambil menyapa para karyawan yang lewat sambil tersenyum lebar dan para karyawan pun memperlakukannya dengan baik terkecuali, ah sudahlah Adera tidak ingin mengingat seseorang yang membuatnya hujan-hujan hari itu.


Sampai di depan meja kerjanya, dia masih menyapa dengan sopan semua teman kerjanya yang berada di tim yang sama dengannya terkecuali tidak untuk menyapa Olivia, si ketua tim yang angkuh itu yang menatap Adera dengan penuh benci.


Adera berdecih ketika dia menatap wanita itu lalu dia langsung duduk dimejanya sambil membuka tas selingnya disebelah komputernya.


"Adera?" Sapa Alisia, dia pun baru datang seperti Adera. Dia menatap Adera dengan senyum dibibirnya.


Adera menoleh ke samping dimana meja Alisia disebelahnya. Dia ikut tersenyum lebar pada Alisia.


"Kamu udah sembuh?" Tanya Alisia.


Adera mengganggukkan kepalanya. "Iya nih, mbak. Udah baikkan, alhamdulillah." Jawab Adera.


Alisia menghela nafas lega. "Syukurlah, mbak khawatir banget tau pas kamu jatuh pingsan." Ucap Alisia, memang benar dia sangat cemas dan khawatir pada Adera ketika Adera pingsan dua hari yang lalu.


Adera tertawa pelan. "Maaf ya mbak, bikin mbak khawatir jadinya."


"Kamu itu udah kayak adik mbak sendiri tau!" Seru Alisia.


Adera senang dianggap adik oleh Alisia, karna dulu pun dia sangat mengharapkan jika dia punya seorang kakak. "Mbak juga udah aku anggap kayak kakak sendiri."


Alisia tertawa kecil. Namun matanya tiba-tiba tertuju pada leher Adera, matanya tidak sengaja menangkap bekas kemerahan dileher Adera yang dia pun tahu apa bekas kemerahan itu.


"Ra?"


"Iya mbak?" Jawab Adera dengan kedua alis terangkat.


Mata Alisia masih tertuju pada leher Adera. Dia tersenyum menggoda Adera. "Kamu udah punya pacar ya?" Tanya Alisia.


"Hah?"


Oh iya, Adera lupa kalau dia belum memberitahu kalau dia sudah menikah pada Alisia dan suaminya adalah Regan. Tapi kenapa Alisia menanyakan itu tiba-tiba?


Lengan Alisia menyenggol lengan Adera dengan menggodanya. "Kenapa gak bilang kalo udah punya pacar sih? Sampe mbak sendiri yang tau." Katanya menggoda Adera.


Adera tidak mengerti. Apa maksud Alisia? Kalau dia mencurigai Adera ada sesuatu dengan Regan wajar karna Regan selalu saja datang ke ruangan ini untuk melihatnya namun kenapa tiba-tiba menanyakan tentang kekasih?


"Hah? Maksudnya mbak?" Tanya Adera.


Alisia menunjuk lehernya sendiri untuk memberitahu Adera tentang tanda kemerahan itu. "Itu, ada tandanya. Pacar kamu itu ternyata berani juga ya." Ucap Alisia.


Adera buru-buru mengambil ponsel dari tas ranselnya, dan mengarahkan kamera ke depan lehernya. Seketika dia membulatkan matanya melihat tanda kemerahan dilehernya yang berjumlah tiga. Seketika dia menggerutuki diri sendiri, kenapa dia tidak menyadarinya? Pasti itu ulah Regan kemarin padanya.


Alisia tertawa melihat reaksi Adera. "Siapa sih pacar kamu, Ra? Berani banget dia mainnya."

__ADS_1


Adera mencoba menggosok-gosok lehernya berharap tanda kemerahan itu hilang namun hasilnya nihil, tanda kemerahan itu tidak kunjung hilang juga. "Aku gak punya pacar mbak." Sahut Adera.


Kening Alisia mengkerut. "Terus siapa yang buat, Ra?" Tanya Alisia.


"Wah-wah-wah, liat deh semuanya. Ternyata anak polos ini ternyata, menghanyutkan ya, ups!" Suara Olivia yang menggelegar, yang entah dari kapan sudah berdiri disebelah meja Adera.


"Liat deh liat sini, tanda kalo emang anak magang ini pura-pura polos tapi ternyata palacur, upss sorry." Sambungnya.


Para karyawan serentak menoleh ke arah Adera. Mereka mulai berbisik-bisik dan itu terdengar ditelinga Adera.


Adera mendengus. Dia akan mendengar ocehan wanita itu dahulu sebelum membalasnya. Dia ingin tahu seberapa lamanya wanita itu mengoceh.


"Kemarin, saya liat Adera keluar dari ruangan presdir, malem-malem. Kan kemarin dia absen ya?" Bisik karyawan lainnya.


"Iya, saya juga liat tuh tadi malem. Apa jangan-jangan dia ada sesuatu sama pak Regan atau mungkin sama sekretaris Dito? Seperti kata bu Olivia?" Sambung lainnya.


"Kan, kan! Saya juga berperasangka buruk tentang anak ini. Saya juga tidak percaya dengan wajah sok polos anak magang ini." Olivia mengoceh lagi.


Dan Adera yang mendengarnya hanya menatap Olivia yang mengoceh seperti orang tidak waras padahal dia tidak tahu apa-apa tentangnya.


"Adera Danialova, jujur aja deh. Kamu ini sebenarnya itu anak nakal yang suka menggoda pria yang lebih tua kan?" Olivia mendekatkan wajahnya.


Adera tersenyum tidak percaya. Hebat sekali dia menilai tentang orang lain, lihat gayanya yang sok mengetahui tentangnya. "Wah luarbiasa," akhirnya setelah lama terdiam dan mendengarkan ocehan wanita ular itu, Adera membuka suaranya.


"Luarbiasa, bu Olivia. Anda hebat sekali ya dalam menilai seseorang, saya salut sekali."


"Asal bicara padahal tidak ada bukti atau anda melihatnya secara langsung dengan apa yang anda tuduhan pada saya." Ucap Adera dengan nada santai dimana membuat Olivia terbawa emosi.


"Seperti yang anda lihat, dileher saya memang ada bekas kemerahan. Tapi apa anda tahu siapa yang membuatnya? Bahkan anda saja tidak tahu, bu Olivia." Adera menertawakan Olivia lalu dia menatap Olivia dengan tajam. "Anda belum tahu tentang saya kan? Belum tahu tentang status saya kan? Kenapa anda asal menilai saja bu Olivia?"


Olivia tertawa geram. Dia menatap Adera dengan marah. "Asal menilai? Semua orang juga tau kalau melihat tanda kemerahan itu dileher anda."


Adera tersenyum. "Apa anda tau status saya? Memang di ktp, tertulis saya lajang, alias belum menikah. Tapi bu Oliv." Kata Adera. Dia mengangkat tangan kanannya menunjukkan kalau disalah satu jari tangannya terdapat cincin.


"Saya sudah menikah." Ungkapan Adera membuat semua karyawan termasuk Alisia dan juga Olivia terkejut.


Olivia terkejut, dia menatap jari manis Adera yang memang dilingkarkan dengan cincin. Namun bukan dia namanya kalau percaya begitu saja. "Apa anda pikir saya percaya, Adera?"


Adera memutar bola matanya. "Saya tidak peduli apa anda percaya atau tidak. Karna percaya atau tidaknya anda, itu tidak penting." Ucap Adera dengan senyum miring.


Dia pikir Adera takut dengannya apa? Untuk ketiga kalinya Adera tidak akan membiarkannya ditindas lagi oleh ketua tim itu.


"Saya permisi ke toilet," pamit Adera, dia bangun dari kursinya dan berjalan ke arah toilet.


"Wah, dasar bocah tengik belagu banget lo!" Teriak Olivia kencang dan Adera tidak mempedulikan itu.

__ADS_1


"Alisia kamu percaya?" Tanya karyawan yang disebelah Alisia.


Alisia tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Tentu saja dia percaya, karna dia yakin gadis seperti Adera tidak akan membiarkan laki-laki asing menyentuh tubuhnya. Dia percaya dengan Adera.


......................


Epilog.


Di toilet, Adera melihat lagi bekas kemerahan dilehernya, dia mencoba lagi menggosok-gosoknya berharap bekas itu menghilang namun sia-sia, bekas itu juga tidak kunjung hilang.


Kalau begini jadinya, Adera menyalahkan Regan. Kenapa dia membuat tanda itu ditempat yang terlihat. Mengingat kejadian itu, tiba-tiba pipi Adera memanas. Padahal dia kesal karna Regan membuat tanda itu sembarangan namun disatu sisi dia merasa kupu-kupu berterbangan diperutnya ketika membayangkan apa yang dilakukan Regan kemarin.


Aghhh! Kalau begini Adera bisa gila karna ulah Regan itu.


Adera mengambil ponselnya yang sudah ia simpan disaku celana jeansnya. Dia memotret lehernya beberapa kali dan ingin dikirim ke sahabat-sahabatnya untuk bertanya bagaimana menghilangkan bekas itu.


Squad girls.


(Anggota: Adera, Friska, Rina)


^^^(Foto leher Adera yang ada tanda merahnya)^^^


^^^Cara ngilangin ini gimana?^^^


Ting!


Friska.


Astagfirulloh Adera, apa-apaan kamu mengirim foto beginian?


Ting!


Rina.


Udah gercep nih? Cieee...


^^^Serius oneng, ini gimana cara ngilanginnya, gue jadi pusat perhatian dikantor karna inian, anjir.^^^


Rina.


Sabarin aja.


Friska.


Sabarin aja(2)

__ADS_1


Adera kesal. Percuma saja bertanya pada cecuruk dua itu. Bukannya membantu malah membuat orang kesal.


Lalu sekarang bagaimana dia menghilangkan bekas ini? Dia malu sekali, sungguh. Adera frustasi sekarang. Dan semua ini gara-gara Regan. "Ini semua gara-gara Regan!" Gerutuknya dengan kesal.


__ADS_2