
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Adera keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandinya.
Dia menatap ke ranjang, tidak ada Regan disana. Padahal tadi dia mendengar suara Regan yang berontak ingin masuk ke dalam kamar mandi, ingin bergabung mandi dengannya. Namun kemana dia?
Tapi tidak apa-apalah, tidak adanya Regan membuat Adera bisa memakai bajunya tanpa adanya gangguan dari Regan yang malah selalu saja langsung membawanya ke ranjang begitu mendapati Adera hanya memakai jubah mandi seperti ini.
Dengan segera, Adera memakai baju tidurnya. Dia menyelesaikan memakai baju dalam sekejap. Karna dia buru-buru takut Regan masuk dan malah mengacaukannya. Lalu Adera langsung duduk ditepi ranjang. Mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas menggunakan handuk kecil.
Tak lama kemudian, Regan kembali ke kamar, menatap Adera yang sudah memakai bajunya. Dan dia pun langsung mendekati Adera yang duduk ditepi ranjang.
"Abis darimana?" Tanya Adera.
Regan duduk disebelah Adera, menatap istrinya itu yang juga menatapnya. "Keluar balkon sebentar." Jawab Regan.
"Kamu ngerokok ya?" Tanya Adera karna dia menyium asap rokok dari mulut Regan.
Regan menganggukinya dengan santai. "Iya, kenapa emangnya?" Jawab Regan sambil mengambil handuk kecil dari tangan Adera. Dia mengambil alih, mengeringkan rambut Adera menggunakan handuk itu.
Adera diam saja dengan perlakuan Regan yang sekarang mengeringkan rambutnya. "Apa enaknya ngerokok? Malah cuma bikin paru-paru jadi burik." Kata Adera.
Regan yang mendengarnya terkekeh pelan. "Itu buat penghilang stres, sayang." Ucap Regan.
"Stres?" Adera menatap Regan dengan kerutan dikeningnya. Merasa ada yang janggal diucapan Regan barusan. "Kamu lagi ada masalah?" Tanyanya.
Bukannya menjawab, Regan malah menidurkan Adera diatas ranjang dengan begitu dia merangkak keatas tubuh Adera dan menidurkan kepalanya diatas dada Adera.
Dimana malah membuat Adera khawatir dengan perlakuan Regan itu. Karna tidak biasanya dia begini walaupun sering sih tidur diatas dada Adera, tapi kali ini Adera merasa ada sesuatu yang Regan sembunyikan darinya.
"Regan, kamu kenapa sih?" Tangan Adera mengusap-ngusap rambut Regan.
__ADS_1
"Gak papa, cuma mau tidur kayak gini." Jawab Regan yang semakin membuat Adera yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya.
Tapi Adera juga tidak bisa memaksa Regan menceritakannya. Mungkin saja dia punya alasan lain untuk menyembunyikan darinya walaupun Adera sendiri merasa khawatir padanya.
"Seneng seru-seruan sama sahabat kamu tadi?" Sekarang Regan lah yang bertanya.
"Ya gak seneng juga sih, biasa aja seruan-seruannya. Tapi tadi, aku ketemu Toni."
Regan langsung mengangkat kepalanya dari dada Adera dan menatap Adera dengan sebelah alis terangkat. "Kamu ketemuan sama dia lagi, Dera?"
"Ih bukan, tadi itu pas mau pulang. Aku kan nungguin kamu sama Friska, eh dia dateng mau jemput Friska. Terus gak sengaja kita ketemu deh,"
Regan mendengus. "Terus kamu seneng ketemu dia lagi?"
Adera memuk lengan Regan yang menyela perkataannya. "Dengerin dulu, Regan. Jadi dia tuh deket sama Friska, ya dia juga ngejemput Friska tadi. Aku juga gak sengaja ketemu dia, tapi aku ngerasa bersalah." Ujar Adera.
"Kenapa ngerasa bersalah? Kamu emang punya perasaan sama dia ya?" Tuduh Regan.
Regan menghebus nafasnya. "Dera, jangan mikirin cowok lain. Aku cemburu, lho."
"Kenapa cemburu?"
"Karna ada lelaki lain dipikiran kamu yang bikin aku cemburu. Pikiran, hati dan tubuh kamu itu cuma milik aku. Only mine. Inget itu di jidat kamu." Telunjuk Regan menyentuh dahi Adera lalu dia kembali menindurkan kepalanya diatas dada Adera. Dada Adera benar-benar membuat Regan nyaman.
"Yah, aku tau," Adera memutar bola matanya. "Tapi tunggu deh, kenapa ya setiap kali aku ngeliat kamu itu, aku ngerasa muka kamu itu familiar. Tapi aku gak inget." Kata Adera.
Perkataan Adera membuat Regan mengangkat kepalanya lagi, dia menatap Adera lekat-lekat. "Kamu gak inget aku?"
Adera mengingat-ingat lalu menggelengkan kepalanya. Dia memang merasa wajah Regan itu seperti familiar tapi dia tidak ingat apapun tentang Regan. "Aku gak inget apapun, emang kita pernah ketemu ya sebelumnya? Kapan, dimana?"
__ADS_1
Regan mengehela nafasnya lagi, ternyata benar Adera tidak ingat tentangnya dimasa lalu. "Kita pernah ketemu pertama kalinya ditaman, tapi waktu itu kamu cuma bocah umur sepuluh tahun yang nunggu bapaknya pulang disana." Ungkap Regan.
Adera diam sejenak mengingatnya lalu begitu dia menyadarinya, Adera membuka mulutnya dengan tangan yang menutupinya. Dia ingat sekarang, wajah pemuda SMA itu yang sering muncul dimimpinya seketika menjadi jelas. "Jadi itu kamu? Kakak SMA yang nolak cewek ditaman?" Adera tidak percaya.
Regan tersenyum melihat reaksi Adera. "Iya, itu aku. Pangeran tampan yang diajak nikah sama bocah."
Adera makin terkejut. Jadi pemuda yang ia ajak menikah waktu umur sepuluh tahun itu adalah Regan? Astaga, kenapa Adera tidak menyadarinya. Jadi, sekarang Adera tahu, bukan Regan yang memaksanya menikah melainkan adalah dirinya yang masih bocah.
"Kenapa? Kaget?"
Adera merasa tidak percaya. Jadi pemuda itu adalah Regan? Pemuda yang membuatnya menangis karna kepergian pemuda itu padahal waktu itu dia masih terbilang anak kecil. "Aku gak percaya, sumpah. Kok bisa? Maksud aku, kok bisa kita ketemu lagi?"
Regan terkekeh. "Karna kita udah ditakdirkan, sayang." Ucap Regan sambil mengusap pipi Adera lembut.
"Tapi kenapa gitu lho? Aku inget banget kamu nolak aku sampe bikin aku nangis tapi kenapa bisa kita nikah begini?" Adera masih tidak percaya.
"Kan aku pernah bilang, aku bakal nerima kamu kalo kamu punya susu sebesar ini." Dengan jahil Regan mere mas sebelah dada Adera dan langsung mendapat pukulan dari Adera.
Adera tersenyum. Pemuda yang selalu menemaninya saat dia menunggu bapaknya pulang ditaman saat itu adalah Regan? Sungguh sulit dipercaya. Dan ternyata pemuda yang ia anggap sebagai cinta pertamanya itu adalah suaminya sendiri? Adera masih tidak percaya.
"Kenapa?"
"Masih gak percaya aja."
Regan tersenyum. Dia pindah berbaring di sebelah Adera lalu membawa Adera ke dalam dekapannya. "Nostalgianya besok aja. Sekarang waktunya tidur." Kata Regan.
Adera tersenyum, dia pun menyembunyikan wajahnya di dada bidang Regan. "Selamat tidur," ucap Adera.
"Gak ada kecupan selamat tidurnya nih?"
__ADS_1
Oh iya Adera lupa, kecupan selamat malam yang sudah menjadi keseringan mereka ketika ingin tidur. Adera pun langsung mengecup singkat bibir Regan tanpa bicara lagi. Dia tersenyum pada Regan. "Selamat tidur," ucap Adera sekali lagi.
Regan ikut tersenyum, dia semakin memeluk tubuh Adera. "Selamat tidur, sayang," balasnya.