
Karna ulah Regan yang membuat Adera sampai tidak bisa berjalan karna kakinya yang terlalu lemas jadi Regan menggendongnya ke meja makan. Regan akan menuruti permintaan Adera yang ingin makan mie instan. Dan dia yang akan membuatkannya berhubung Adera masih lemas karnanya jadi dia yang akan memasakan Adera malam ini.
Regan mendudukkan Adera di kursi, dia menatap Adera yang juga menatapnya dengan mata berbinar-binar. Mungkin sudah tidak memakan mie instans buatan Regan.
"Kamu tunggu disini, aku masak dulu." Kata Regan dan Adera menganggukinya dengan senyuman lebar.
Lalu Regan beranjak dari sana dan pergi ke dapur, dia segera membuatkan sang pujaan hatinya mie instan walaupun itu mie intan biasa tapi Regan akan membuatnya spesial untuk Adera.
Sambil menunggu Regan membuatkannya mie instan, Adera membuka ponsel Regan yang tadi ia bawa dari kamar. Saat menyalahkan ponselnya, Adera tersenyum ketika melihat fotonya dijadikan wallpaper oleh Regan.
Foto yang Adera pun tidak ingat kapan itu dipotret. Yang pasti itu adalah hasil potret Regan yang diam-diam memfoto dirinya saat begong. Tapi kenapa Adera merasa kalau dirinya cantik difoto itu? Padahal kan dia difoto itu sedang begong tapi kenapa dia bisa secantik ini?
"Regan," panggil Adera.
Regan yang tengah menunggu air mendidih menyahut dari dapur. "Kenapa?" Sahut Regan.
"Aku cantik emang?" Tanya Adera, padahal Regan sudah memujinya berulang kali kalau dirinya cantik tapi tetap saja Adera menanyakan itu pada Adera.
"Coba aja kamu tanya aja sama gogle, cantik gak kamu." Jawab Regan, Adera yakin kalau Regan yang mendengar pertanyaannya tertawa kecil.
Adera cekikikan sendiri. Dia memang cantik, itulah yang sering Regan katakan padanya jadi untuk apa Adera bertanya lagi pada Regan.
Senyuman Adera seketika pudar begitu dia mendapatkan notif pesan dari ponsel Regan. Dia terdiam seketika begitu membaca pesan yang dikirimkan untuk Regan.
Pesan yang dikirimkan untuk Regan membuatnya tercegang, Adera bahkan terus menatapi pesan itu dengan mencoba berpikir positif tentang suaminya. Namun lagi-lagi dia harus berpikir positif pada Regan dan itu membuat hatinya tidak yakin.
"Sayang," Regan mendekati Adera sembari membawa mie instans yang sudah siap tapi kehadiran Regan itu tidak membuat Adera tersadar.
Regan menatap bingung Adera yang terdiam sambil menatapi ponselnya. Bahkan saat Regan menaruh mie yang disediakan dimangkuk kaca di meja makan tidak membuat Adera bergeming.
__ADS_1
Akhirnya Regan memegang bahu Adera dan Adera pun menyadari kehadiran Regan. Dia langsung menatap Regan. "Kamu kenapa sih, hng?" Tanya Regan.
Adera menggelengkan kepalanya. "Gak, gak papa. Aku cuma lagi bengong aja tadi." Jawab Adera berusaha menyembunyikan sesuatu.
Adera menaruh ponsel Regan di atas meja lalu Adera menatap mie yang dibuat Regan. Dia tersenyum mengangkat mangkok mie itu ke hadapannya, dia mengedus wangi mie buatan Regan.
Tanpa aba-aba lagi Adera langsung menyuap suapan pertama mie itu dan dia dibuat kagum dengan rasanya. Dia menatap Regan dengan mata melotot. "Enak banget," kata Adera lalu menyuap mie itu lagi.
Regan pun jadi senang, dia ikut duduk disebelah Adera, memperhatikan istrinya itu makan mie buatannya dengan lahap. Tidak sia-sia dia memasukkan semua bumbu yang ada dan ternyata hasilnya pun tidak sia-sia.
Adera menyuapi Regan mie itu dan Regan pun langsung menyuapnya. "Enak kan? Ih kok kamu jago masak sih?" Mata Adera penuh dengan semangat.
Regan mengunyah mie suapan Adera sembari menompang dagunya, memperhatikan Adera dengan senyum yang tercetak dibibirnya. Setiap kali bersama dengan Adera cintanya pada Adera tambah besar bahkan terus bertambah seiringnya waktu.
Adera mencoba mengalihkan perasaan berpersangka buruk tentang pesan yang dikirim diponsel Regan tadi. Dia tidak ingin berperisangka buruk pada Regan karna dia yakin bahwa Regan hanya mencintainya namun perasaan itu tidak kunjung hilang juga.
"Enak banget sumpah," ucap Adera ketika mie di dalam mangkuk kaca itu habis ludes ia makan dan Adera pun menatap Regan yang tengah memperhatikannya.
Regan tersenyum tidak percaya saat Adera memanggilnya dengan sebutan 'daddy'. Dia bahkan merasakan darahnya berdesir ketika Adera mengatakan itu. "Apa? Daddy?"
Adera menganggukkan kepalanya. "Ya siapa tau kan dalam waktu dekat ini aku hamil? Jadi harus terbiasa nantinya." Kata Adera.
"Kamu hamil?" Tanya Regan, dia mendekati Adera dengan mata yang berbinar.
Adera menggelengkan kepalanya. "Belum," bibir Adera cemberut.
Regan menghebus nafasnya panjang. Padahal dia sudah sangat menunggu Adera mengandung anak darinya namun apalah dayanya. Sepertinya Regan harus berusaha lebih keras agar Adera bisa cepat-cepat mengandung anaknya.
Melihat wajah Regan yang seperti kecewa membuat Adera sedih. Dia pun memegang lengan Regan. "Sabar ya, nanti juga bakal membuahkan hasil." Kata Adera.
__ADS_1
Regan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia menarik tangan Adera, menggenggamnya. "Iya. Aku bakal berusaha lebih keras lagi buat anak."
Adera memukul dada Regan pelan. Itu memang kemauannya saja dan Regan tertawa.
"Oh iya, tadi ada pesan yang masuk tuh." Adera memberi tahu Regan.
Seketika wajah Regan jadi cemas, dia langsung mengambil ponselnya yang berada dimeja makan lalu langsung melihat pesan yang diberi tahu Adera.
Melihat wajah Regan seperti itu entah kenapa membuat Adera semakin yakin dengan prasangkanya tentang Regan namun dia menepis pikiran itu.
"Dari siapa?" Tanya Adera seolah tidak tahu apa-apa.
Regan menatap Adera lagi. "Oh ini, dari temen aku." Jawab Regan yang membuat Adera tidak percaya karna dia berbohong pada Adera.
Adera manggut-manggut, terlihat sekali kalau Regan menutupi sesuatu darinya melihat bagaimana cemasnya waktu Adera bilang ada yang mengirimnya pesan.
"Sayang, aku mau keluar sebentar, kamu gak papa kan aku tinggal?" Kata Regan.
Rupanya Regan langsung ingin menemui si pengirim pesan itu dan itu semakin membuat Adera berpikir macam-macam.
"Kemana emang?" Tanya Adera dengan kedua alis terangkat.
"Keluar sebentar aja, gak papa kan?"
Adera akhirnya mengganggukinya.
Regan tersenyum. "Kamu mau aku gendong dulu ke kamar?"
Adera menggelengkan kepalanya. "Gak usah, aku udah sedikit bertenaga kok. Ke kamar aja, aku bisa sendiri." Ucap Adera.
__ADS_1
"Kalo gitu aku pergi dulu," Regan bangun dari kursi. Sebelum pergi dia menyempatkan mencium kening Adera dulu lalu menyempatkan mengatakan kata-kata yang sering diucapkan Regan padanya. "I love u," katanya lalu beranjak pergi dari sana.
Adera hanya diam saja. Biasanya dia akan membalasnya ketika Regan mengatakan itu namun kali ini dia diam saja. Dia masih bertarung dengan pikirannya tentang pesan tadi juga Regan. Entahlah, perasaannya seolah tidak enak akhir-akhir ini. Dia pun tidak tahu apa penyebabnya.