
"Adera,"
Adera menoleh kearah orang yang memanggilnya dan orang itu ternyata rekan kerjanya. "Iya, ada apa?" Sahut Adera.
Rekan kerja Adera itu mengodekan dengan matanya. "Dipanggil tuh sama pak CEO," kata rekan kerja Adera yang merupakan seorang pria yang lebih tua dari Adera.
Adera menghela nafasnya, kenapa selalu dia yang terus dipanggil pak CEO? Padahal dia tidak melakukan kesalahan hari ini namun ada saja atasannya itu mencari gara-gara dengannya.
Rekan kerja itu tertawa melihat ekspresi Adera yang pasrah. "Semangat dong, Adera. Jangan lemes gitu, semangat cari papa buat Raka." Goda rekan kerjanya itu.
Adera menghebus nafasnya gusar. Tidak akan dia menjadikan pak CEO menyebalkan itu sebagai papa Raga. Bagaimana bisa, dia saja orang yang paling dibenci Adera bagaimana bisa menjadi papa untuk Raga? Tidak akan pernah.
Dengan malas Adera bangun dari kursi kerjanya dan berjalan menuju ruangan pak CEO yang sangat Adera benci. Lihat saja nanti pasti Adera akan kena marah tanpa tahu apa kesalahannya.
Sesampai di depan ruangan CEO, Adera dengan malas masuk begitu saja ke ruangannya. Karna sudah terbiasa juga, jadi dia tidak peduli meskipun itu adalah CEO-nya sendiri.
Terlihat pak CEO yang duduk dimeja kerjanya seperti sudah menunggu Adera masuk ke ruangannya. CEO-nya itu menyambutnya dengan wajah datar nan dingin yang ingin sekali Adera melayangkan pukulan di wajah itu.
"Selamat siang, pak Zayn." Sapa Adera, tidak niat.
CEO itu menatap Adera dengan sebelah alis terangkat. "Kemari, Adera Danialova," dengan gaya angkuhnya dia memanggil Adera mendekatinya.
Dengan malas, Adera mendekati meja kerjanya lalu duduk dikursi hadapannya. Ingat, dengan wajah yang jutek, dia menatap Zayn, sang CEO yang sangat Adera benci.
"Ada apa, pak memanggil saya kesini?" Tanya Adera, dia tidak ingin berlama-lama disana.
Sebelah alis Zayn terangkat. "Apa itu sikap yang kamu tunjukkan kepada CEO-mu, Adera?"
Adera memutar bola matanya. Dia berdiri dari kursi lalu membungkukkan tubuhnya dihadapan Zayn. "Maafkan saya, pak Zayn." Lalu Adera kembali duduk dikursinya setelah mengatakan permintaan maaf yang tidak niat itu.
Bukannya kurang ngajar pada atasannya, hanya saja Adera sudah terlalu benci pada CEO-nya itu. Sering sekali Adera kena marahnya bahkan Adera pun kadang-kadang tidak tahu dimana kesalahannya. Karna keseringan dimarahi olehnya, Adera juga pernah menangis karna perlakuan semena-mena CEO-nya itu padanya, dan itu semua karna pak CEO menyebalkan di hadapannya itu. Adera membencinya.
__ADS_1
Zayn menghebus nafasnya. "Saya akan berbicara langsung ke intinya alasan kenapa saya memanggil kamu ke ruangan saya." Kata Zayn.
Kedua alis Adera terangkat, tumben sekali dia berbicara santai begitu pada Adera. Biasanya dia langsung memarahinya tanpa sebab entah karna apapun tapi kenapa Adera merasa hari ini dia lebih santai padanya?
"Apa kamu bisa makan malam dengan saya malam ini, Adera?"
Eh?
Adera dibuat ngebug seketika dengan perkataan Zayn barusan itu. Apa dia salah dengar? Zayn mengajaknya makan malam bersamanya? Tidak bisa dipercaya. Zayn barusan mengatakan itu padanya.
"Mungkin kamu pikir kepala saya terbentur karna berbicara ini pada kamu. Tapi saya serius, anggap saja ini permintaan maaf dari saya untuk kamu karna sering melakukan kamu dengan kasar dan semena-mena." Ucap Zayn, dengan serius.
Adera menundukkan kepalanya. Tidak ada kesenangan dari hatinya saat Zayn mengajaknya makan malam bersama. Dia hanya mengingat betapa menyakitkannya perlakuan Zayn padanya.
"Maaf pak, kalau untuk memaafkan bapak saya bisa tapi kalau untuk makan malam dengan anda, maaf sepertinya saya tidak bisa." Tolak Adera dengan wajah tegas.
"Kenapa? Apa kamu punya laki-laki lain?" Zayn mengangkat tangannya, menopang dagunya menatap Adera dengan sebelah alis terangkat.
Zayn menyeringai miring. Dia tidak percaya baru saja ditolak seorang wanita dan itu membuat Zayn terhina. "Jangan salah paham, saya hanya mengajak kamu makan malam biasa bukan berarti saya memperlakukan kamu spesial, jadi jangan salah paham dengan itu semua."
"Saya tahu, saya malah sangat tahu kalau saya adalah orang yang paling anda benci kan? Mangkanya setiap orang lain membuat kesalahan, anda malah menjadikan saya sebagai kambing hitam, menyalahkan saya atas kesalahan yang dibuat orang lain.
Bukan kah itu membuktikan kalau saya adalah orang yang anda benci? Mana mungkin saya merasa saya spesial karna ajakan anda itu?" Adera mengeluarkan semuanya pada Zayn kali ini.
Tidak peduli dia akan dipecat atau apa setelah ini, pokoknya kan dia sudah menyampaikan semua kekesalannya pada atasannya itu.
"Bagus kalau kamu tahu diri, Adera. Saya tidak mau jika nantinya kamu malah salah paham dengan saya."
"Saya memang sadar diri." Balas Adera tidak ingin kalah.
Zayn terkekeh pelan. "Baiklah, Adera kamu boleh keluar dari ruangan saya." Usir Zayn.
__ADS_1
Adera langsung bangun dari kursi. Dia menatap Zayn dengan tajam. "Kalo gitu saya permisi." Pamit Adera dengan nada ketus.
"Adera Danialova,"
Baru ingin keluar dari ruangannya, Adera kembali dipanggil membuat Adera memberhentikan langkahnya dan membalik badannya lagi kearah meja kerja Zayn.
Zayn tersenyum pada Adera, bukannya merasa terpesona dengan senyuman yang diberikan Zayn padanya, Adera malah merasa merinding karna senyumam itu.
"Gaji kamu saya potong karna baru saja menolak ajakan makan malam dari saya." Kata Zayn dengan kejinya.
Adera menahan emosinya. Dia mengepalkan kedua tangannya, rasanya ingin sekali melayangkan satu pukulan ke wajah yang menyebalkan itu. "Terserah, potong semua gaji saya juga gak papa. Saya tidak peduli, sama sekali!" Ketus Adera lalu beranjak pergi dari ruangan Zayn dengan hati yang kesal sambil mengumpati Zayn dengan pelan.
Dikursinya, Zayn yang melihat dan mendengar perkataan Adera barusan malah tertawa. Dia memutar-mutarkan kursinya dengan perasaan yang puas karna membuat wanita itu kesal dengannya.
Walaupun dia merasa terhina ketika wanita itu menolak ajakan makam malamnya namun melihat wajah wanita itu yang kesal dengannya membuatnya sangat puas.
Sambil berjalan ke kursi kerjanya lagi, Adera masih mengumpati manusia menyebalkan itu. Dia sangat kesal sampai-sampai ingin melampiaskam amarahnya namun dia hanya menahannya dalam hati.
Adera duduk dikursi kerjanya dengan perasaan yang amat kesal. Manusia keji itu, Adera sangat membencinya. Seenaknya saja memperlakukan Adera seperti itu dan apa katanya tadi, dia akan memotong gajinya karna menolak ajakannya? Apakah benar itu ajakan untuk permintaan maaf?
"Ya ampun, Ra. Aku tau pak Zayn begitu mempesona tapi jangan salah tingkahnya disini dong?" Ledek rekan kerja Adera yang kebetulan disebelahnya.
Adera menatap rekan kerjannya dengan wajah kesal. "Siapa yang salting coba? Gak ada salting-saltingan yang ada sinting karna ngadepin dia!" Sahut Adera.
"Uhhh, Adera, jangan malu-malu gitu dong. Raka kayaknya emang butuh papa baru tuh." Ledek rekan kerja Adera lainnya.
"Dan yang dibutuhin Raka bukan dia." Sahut Adera lagi.
"Jangan benci-benci gitu ah, Ra sama pak Zayn. Nanti jadi cinta berabe lho."
"Gak akan pernah!"
__ADS_1
Semua rekan kerja Adera tertawa bersamaan karna puas meledek mama muda itu. Mereka puas sekali dengan wajah Adera setiap kali keluar dari ruangan pak CEO dan itu juga membuat mereka mendukung Adera dan Zayn. Entah alasannya apa, padahal mereka tahu kalau Adera sangat membenci Zayn.