
Adera merias wajahnya di meja rias. Dia memakai make up seadanya yang ia bisa. Dia memakai bb cream, bedak padat dan juga tidak lupa lipstik.
Sebenarnya Regan membelikannya semua make up lengkap untuknya, bermerek terkenal lagi. Namun karna dia tidak bisa berdandan seperti wanita lainnya kebanyakan, Adera hanya memakai apa yang ia bisa saja seperti yang ia sebutkan tadi.
Setelah sudah merias wajahnya, Adera kini menata rambutnya. Kali ini dia akan membiarkan rambutnya terurai. Melihat rambutnya sudah terlihat rapi, Adera juga memakai kalung berliontin permata perberian dari Regan untuk melengkapkan penampilannya.
Sempurna. Adera sudah merasa dirinya sudah siap pergi ke pernikahan sepupu Regan, dia memang tidak merias wajahnya seperti orang kondangan kebanyakan, tapi sepertinya tidak terlalu buruk.
Lalu Adera bangun dari kursi riasnya dan dia sekarang menatap seluruh pakaian dan riasan wajahnya di depan cermin. Dia terlihat cantik. Sebuah senyum terlukis di bibir Adera melihat penampilannya sendiri. "Ya ampun Dera, kamu cantik banget. Lebih cantik dari Selena Gomez." Ocehnya pada dirinya sendiri lalu kemudian cekikikan tidak jelas.
Tidak ingin membuat Regan menunggu lama, akhirnya Adera berbalik dan berjalan ke luar kamar dan dia langsung terkejut ketika menemukan Regan tengah berdiri menyender diambang pintu sambil memperhatikannya. Sepertinya Regan berada disana sejak tadi, tapi Adera tidak menyadarinya.
"Ya ampun, kaget aku tuh." Kaget Adera. Dia bahkan sampai memegangi dadanya.
Regan tersenyum miring, dia segera mendekati Adera. Dia sangat terpana dengan Adera, setiap saat namun kali ini berbeda. Adera benar-benar membuatnya terpesona.
Regan segera memeluk Adera, menatap wajah gadis itu dari dekat. Demi apapun kecantikan Adera selalu saja membuatnya terpesona begini. Dan hanya Adera yang bisa membuatnya begini.
"Gimana penampilan aku?" Tanya Adera dengan mata berbinar.
"Jelek." Cibir Regan namun tidak benar-benar.
Adera berdecak sebal. Dia memukul dada Regan dengan kesal. "Ckk, nyebelin!" Decak Adera.
Regan lebih mendekatkan wajahnya dan bibirnya mendarat ke telinga Adera. "You look so beautiful, honey." Bisik Regan dan menjauhkan wajahnya lagi. (Kamu terlihat sangat cantik, sayang)
Sudut bibir Adera terangakat. Dia memukul dada Regan sekali lagi. "Kamu mah ih," rengeknya dengan wajah dan suaranya yang menggemaskan.
Regan tertawa kecil. Kenapa gadis itu selalu membuatnya gemas setiap saat? Astaga seadainya Adera tahu bahwa Regan sangat tidak tahan dengan keimutan yang ia miliki.
"Mau langsung berangkat sekarang?" Tanya Adera.
"Pengennya sih enggak, pengennya cuma mau berduaan sama kamu."
Adera memutar bola matanya. "Jangan lagi ya? Aku gak yakin kita cuma berduaan kalo gak ada maksud ke arah tertentu." Sindir Adera.
Regan tertawa mendengarnya, dia mencuri-curi kecupan dibibir Adera singkat dan itu membuat bibirnya ketempelan lipstik Adera dibibirnya.
__ADS_1
Adera yang melihat lipstiknya menempel dibibir Regan langsung heboh. "Ya ampun Regan, liat tuh bibir kamu jadi merah karna lipstik aku." Dengan gerakan cepat, Adera menghapus lipstik dibibir Regan dengan lembut. Matanya dengan teliti mengapusnya.
Tidak bisa diam, Regan mengecup bibir Adera sekali lagi dimana bibirnya tambah merah. Adera menatapnya kesal dan Regan malah tertawa.
"Diem Regan, kita udah mau berangkat lho. Jangan bikin aku marah ya!" Lagi, Adera menghapus bibir Regan dengan tangannya.
Regan menatap Adera, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik istrinya di depannya.
"Udah,"
Sekali lagi Regan ingin mencuri kecupan dibibir Adera namun untungnya Adera sudah terlebih dahulu menghindar. "Jangan lagi Regan!" Geram Adera.
"Sekali lagi aja."
Adera terus menghindar sambil tertawa karna Regan terus mendekatinya dengan bibir memonyong. "Regan ih! Ahaha," Adera kesal sekaligus tertawa dengan Regan.
"Sekali lagi, sayang."
"Gak ih ---hahaha,"
Sesampai di parkiran gedung dimana pernikahan sepupu Regan terlaksanakan, Adera dan Regan turun dari mobil. Mereka langsung berjalan beriringan masuk ke dalam gedung dengan gandengan tangan.
Adera sekarang sudah menjadi percaya diri. Karna suaminya, Regan, dia jadi percaya diri bisa berjalan beriringan dengan Regan begini. Karna Regan terus memujinya berulang kali saat diperjalanan tadi, walaupun dia ingin sekali mencuri kecupan dibibir Adera.
Saat masuk ke dalam gedung, nuasa pernikahan itu sangat membahagiakan terlihat dari dekorasi gedung itu. Adera tahu bahwa pernikahan adalah kenangan membahagiakan seumur hidup, tapi mengingat pernikahannya saat itu dengan Regan.
Pernikahan yang berawal dari paksaan membuatnya sedih saat itu. Tapi semuanya mulai berubah sekarang, dia bahkan sudah menjadi wanita yang paling membahagiakan dan itu karna Regan, suaminya.
Regan dan Adera naik keatas panggung dimana kedua pengantin itu berdiri bersanding disana. Dan Regan bersama Adera mengucap selamat pada sang pengantin yang ternyata mempelai prianya adalah sepupu Regan.
Sepupu Regan yang bernama Damar itu menggoda Regan yang membawa Adera di acara pernikahannya. Adera tidak mengenali dia sebelumnya, sepertinya dia tidak datang saat dipernikahan Regan dan Adera. Dan Adera baru mengetahuinya jika dia adalah anak dari adik papa Jay.
"Hallo kakak ipar cantik deh," sapa Damar pada Adera dimana membuat Adera tersenyum canggung.
Padahalkan umurnya lebih tua dari Adera kenapa dia memanggilnya dengan sebutan kakak ipar?
Regan berdecak sebal. "Gak usah ganjen lo. Liat tuh istri lo udah cemberut." Ketus Regan.
__ADS_1
Damar melihat kearah istrinya dan dia melihat kalau istrinya biasa-biasa saja bahkan istrinya malah lebih memperhatikan Regan dihadapannya. Damar berdecak sebal. "Sayang, jangan natap dia mulu dong. Aku kan lebih tampan dari dia." Rengek Damar pada istrinya.
Istri Damar yang bernama Saras itu berdecak, dia melempar tatapan tajam pada Damar. "Apa sih, kamu aja ngeliatin Adera mulu tuh." Balasnya.
Adera yang melihat sepasang suami istri yang bertengkar kecil itu tertawa pelan. Kenapa mereka terlihat seperti pasangan yang menggemaskan?
"Mar, kemana adek lo? Gak keliatan dia batang hidungnya." Kata Regan memotong pertengkaran kecil Damar dan Saras.
"Sibuk sama ceweknya dia." Jawabnya. "Oh iya, tadi Om Jay, papa gue sama mertua lo lagi main tuh bertigaan. Kayak anak kecil ketemu temennya, sibuk banget." Sambung Damar.
Regan dan Adera yang mendengar itu tertawa pelan. Mengingat memang papa Jay dan bapak Iqbal jadi dekat sekali seperti pertemanan anak kecil. Dan ternyata papa Damar, adik papa Jay ikut bergabung juga. Astaga...
"Dimana?" Tanya Adera penasaran.
"Tau tuh, langsung kabur dia bertigaan." Jawab Damar. "Yaudah sana lah cabut. Tamu-tamu gue pada ngantri pengen jabat tangan gue tuh." Usir Damar.
Regan menoyor kepala Damar dan dia langsung membawa Adera pergi dari sana. Karna memang benar banyak tamu undangan yang mengantri ingin menjabat tangan selamat pada Damar dan Saras.
Regan menarik kursi disalah meja tamu undangan, dia berlaku gentelman pada Adera sekarang sambil menampilkan senyuman limited edisionnya pada Adera. "Silahkan tuan putri," ucapnya membuat Adera tertawa kecil sambil memukulnya pelan.
Adera pun langsung duduk dikursi yang ditarik Regan. Dia tersenyum pada Regan yang juga duduk disebelahnya. Pesta pernikahan ini memang terlihat megah dan mewah, ya pantas saja karna ini pernikahan keluarga Regan yang merupakan anak perusahaan dari Mahardika Groups.
"Kenapa?" Tegur Regan ketika melihat Adera memperhatikan sekeliling gedung.
"Ah, gak papa. Cuma kagum aja sama dekorasinya. Mewah dan klasik." Jawab Adera.
Tangan Regan menggenggam tangan Adera yang berada diatas meja. "Kamu pengen? Aku bisa buat pesta yang lebih mewah dari ini kalo kamu mau."
Adera menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Sayangnya, aku gak tertarik. Aku emang kagum sama pernikahan sepupu kamu, tapi bukan berarti aku pengen juga nikah kayak gini."
Regan dibuat tertegun dengan Adera, memang istrinya itu beda dari wanita lainnya.
"Bang Regan," teriakan seseorang yang sudah Regan duga adalah adik Damar yaitu Rivaldo. Sepupunya yang agak miring tapi juga sangat dekat dengannya.
"Lho, Adera?"
Adera terkejut melihat siapa yang ada di depannya ini. Dia bahkan menutup mulutnya sendiri terkejut melihat Rina bersama Rivaldo berdiri disebelahnya. Apa ini kebetulan?
__ADS_1