
"Jadi Raka itu beneran anaknya Adera dan anak lo?" Tanya Dito, dia tidak terkejut juga sih mendengar itu. Melihat wajah Raka pertama kali Dito sudah menduganya jika memang dia adalah anak dari Adera dan Regan. Mungkin karna kemiripian wajahnya.
Regan menganggukan kepalanya. "Iya, walau Adera terus bilang Raka bukan anak gue sih. Tapi gue yakin Raka anak kandung gue." Jawab Regan dengan yakin.
Dito manggut-manggut. Karna Dito harus pergi ke luar kota mengurus perusahaan disana seminggu yang lalu, Dito jadi baru mengetahuinya kalau Regan sudah bertemu dengan istri tercintanya lagi.
Ya, walaupun Dito yang menemukannya terlebih dahulu dan sudah tahu jika Adera bekerja di perusahaan Anggara maka dari itu malam itu Dito menyuruh Regan datang ke pesta perusahaan Anggara dan ternyata benar dia menemuinya disana.
"Terus gimana sama Adera? Dia udah nerima lo lagi blumm?" Tanya Dito lagi.
Regan menggelengkan kepalanya. "Belum, dia masih nutup hatinya buat gue." Jawab Regan membuat Dito berdecak kasihan.
"Terus lo mau ngapain?"
"Ya kalo bisa gue mau dapetin hati Adera lagi sih tapi sial, anak gue To. Gak mau berkerja sama, bandel banget. Dia gak mau berbagi mamanya sama gue." Kata Regan dengan dramatis.
"Kasian amat lo. Udah ketemu bini yang telah lama hilang eh gak dapet apa-apa. Mending sama gue aja deh, Gan. Gue siap kok jadi pengganti Adera dihati lo." Dengan jahilnya tangan Dito menggerayang di dada Regan dimana membuat Regan jijik dan menepisnya dengan kasar.
"Jijik gue. Inget udah punya bini sama anak ego lo!" Cibir Regan.
"Ye lagian daripada sendiri dalam rasa sakit, mending sama temen lo ini yang setia tiada tara."
"Mending gue sendiri daripada harus sama lo, jijik gue."
Dito tertawa kencang.
"Lo ada saran gak, bikin Adera luluh lagi?" Tanya Regan, tumben sekali dia meminta saran dari Dito.
Dito berpikir sejenak lalu dia mempunyai ide untuk Regan. "Gimana kalo pura-pura sakit?" Kata Dito.
__ADS_1
"Pura-pura sakit gimana?" Tanya Regan dengan sebela alis terangkat.
"Lo punya alergi udang kan?"
Mendengar kata Dito membuat Regan menjetikkan jarinya, dia tahu apa yang dikatakan Dito. Dan dia sudah punya cara agar Adera terus menemaninya sepanjang hari dan juga bisa meluluhkan hatinya sekaligus. Dan semoga Adera akan luluh dengan ide itu.
......................
"Mama, kok papa belum kesini ya?" Kata Raka bertanya pada Adera.
Adera yang sedang mengelus-elus rambut Raga yang tiduran dipangkuannya, mengangkat kedua alisnya. Benar juga, kenapa lelaki itu tumben sekali tidak kesini? Biasanya jika Adera pulang dari kantor, Adera langsung melihat wajahnya namun kenapa hari ini dia tidak kemari?
Dan kenapa juga Adera jadi memikirkan lelaki itu? Tidak peduli mau datang atau tidaknya dia, mungkin saja dia tengah menikmati waktu bersama wanita lain. Tapi kenapa tiba-tiba Adera jadi kesal membayangkan itu.
"Mama gak tau, mungkin dia sibuk sekarang." Jawab Adera masih mengelus-elus rambut anaknya yang menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Huft, padahal Raka mau kasih tau nilai Raka ke papa." Kata anak TK itu dengan kecewa.
Raka mengganggukkan kepalanya. Dia akan menunggu papanya datang, karna dari pulang sekolah Raka bersemangat ingin menunjukkan nilainya kepada Regan tapi sampai sekarang Regan belum datang juga membuat Raka sedikit kecewa dengan papanya.
Tok tok tok!
Raka langsung bangun ketika mendengar suara ketukan itu, dia langsung menatap Adera dengan mata berbinar, dia kembali semangat. "Mah itu papa." Kata Raka dengan semangatnya kembali.
Adera tersenyum, dia mengusap rambut Raka dahulu sebelum beranjak dari sofa dan berjalan ke pintu, membuka pintu untuk Regan diikuti Raka dibelakangnya.
Ketika Adera membuka pintu, seketika Adera langsung dikejutkan begitu ia membuka pintu, tubuh Regan terjatuh kepelukan Adera. Untung saja buru-buru Adera menangkapnya jika tidak sudah dipastikan Regan akan terjatuh dilantai rumahnya.
Adera terkejut bukan main, Adera bisa merasakan tubuh Regan melemas. Dan bukan hanya Adera yang terkejut, Raka pun yang melihat papanya tidak sadarkan diri. Untung saja mamanya memegangnya jika tidak Raka tidak tahu apa yang terjadi dengan papanya itu.
__ADS_1
Sejujurnya Adera tidak bisa menahan tubuh Regan lebih lama, dia tidak kuat menahan tubuh Regan yang melemah tapi tidak mungkin juga Adera langsung melepaskannya begitu saja.
Tidak tahan untuk menahannya lagi, Adera menggunakan sisa tenaganya membawa tubuh Regan ke sofa. Menidurkan tubuh Regan disana walau agak kasar namun Adera bisa menidurkan tubuh Regan disana. Adera juga menaikkan kedua kaki Regan yang masih ada dilantai ke atas sofa setelah itu dia menatap Regan dengan cemas.
"Mama, papa kenapa?" Tanya Raka, dia pun sama cemasnya dengan mamanya.
Tangan Adera sontak memeriksa suhu badan Regan di dahinya dan ternyata suhu badannya sangat panas. Adera khawatir bukan main. "Papa kamu sakit, sayang. Kamu tolong bawa air hanget dibaskom sama handuk kecil ya?" Kata Adera.
Raka langsung mengganggukinya dan berlari ke dapur. Ketahuilah, walau umurnya masih lima tahun tapi Raka sudah bisa membantu mamanya termasuk hanya menggambil air dibaskom.
Adera melihat wajah Regan yang benar-benar memerah, nafas Raga pun tidak teratur. Apa yang terjadi dengan Regan padahal tadi pagi dia terlihat begitu segar kenapa tiba-tiba sakit begini?
Tak lama kemudian Raka keluar dari dapur dengan membawa baskom berisi air hangat dengab handuk kecil sekalian. Dia langsung memberikannya pada Adera.
Tanpa menunggu lagi, Adera langsung membasahi handuk kecil itu diair hangat dibaskom lalu memerasnya setelah itu menempelkan handuk itu didahi Regan.
"Raka, tolong ambil hp mama ya? Kita panggil dokter, takutnya papa kamu kenapa-kenapa." Kata Adera.
"Iya mah," Raka mengambil ponsel Adera di kamarnya begitu sudah mengambilnya, Raka berlari keluar dari kamar dan memberikannya pada Adera.
"Makasih, sayang." Ucap Adera.
Karna terlalu khawatir dengan kondisi Regan, Adera mengetik nomer dokter kenalannya begitu dia ingin menempelkan ponselnya ke telinga, tiba-tiba saja tangan Regan menahannya.
"Gak usah panggil dokter, aku gak mau." Kata Regan dengan suara lemah.
Adera menatap Regan dengan kekhawatiran yang kentara. "Tapi kita harus tetep manggil dokter, kalo gak nanti kamu kenapa-kenapa." Ucap Adera.
Regan menggelengkan kepalanya. "Aku cuma butuh kamu, bukan dokter atau siapapun itu. Jadi jangan panggil dia kesini, ya?"
__ADS_1
Adera menurutinya, dia mematikan panggilan padahal dokter yang ia telfon sudah mengangkat panggilannya. Dia menatap Regan dengan mata yang penuh dengan kekhawatiran yang kentara dan Regan bahagia, rencana yang ia buat ternyata berhasil melihat betapa khawatirnya Adera padanya.