Bangkitnya Pria Terhina

Bangkitnya Pria Terhina
Cinta bertemu bunda Wulan


__ADS_3

"Tunggu.... berhenti disitu..!!!!!


Panggil seseorang yang berada tak jauh dari belakang tubuh Sinta,


Sinta yang merasa ada yang memanggilnya pun langsung menghentikan langkah nya dan berbalik badan menatap orang tersebut..


Terlihat oleh Sinta, pria paruh baya yang sudah berdiri dengan wajah mendung, seakan menampakkan jika ada beban berat yang sedang dia tanggung saat ini..


Pria paruh baya itu menatap intens wajah Cinta yang saat ini masih berdiri sambil memegang tangan Sinta dengan erat..


"Bapak memanggil saya? " tanya Sinta penasaran


"Iya nak, ini.. putri mu menjatuhkan cepit rambut nya"


Jawab pria paruh baya yang tak lain adalah pak Adam,


"Oh, terimakasih pak, saya tidak memperhatikan nya tadi" ucap Sinta tersenyum


Sedangkan pak Adam saat ini masih betah menatap wajah Cinta yang sangat tidak asing untuk nya, persis hampir sama dengan wajah Wulan disaat dia masih kecil dulu


" Apa saya boleh bertanya nak..? "


"Iya, silahkan, bapak mau bertanya apa ya? "


"Maaf jika bapak lancang, tapi bapak sangat familiar dengan wajah gadis kecil ini, apa dia putri mu nak? " tanya pak Adam penasaran


"Oh..., iya dia memang putri saya pak, tapi bukan putri kandung, saya adalah calon ibu sambung untuk anak ini" jelas Sinta sopan


"Oh...., pantas saja wajah kalian berdua terlihat berbeda, jujur saja, wajah putri mu itu mengingat kan saya dengan putri saya sewaktu dia masih kecil"


"Benarkah pak..? pasti putri bapak juga sangat cantik ya, persis seperti putri saya"


ucap Sinta bangga, tak lama kemudian, terdengar suara Cinta yang mulai memanggil manggil Sinta sambil menarik tangan nya..


"Mama... ayo kita kesana, Cinta udah pengen naik perosotan itu ma, Cinta juga pengen naik ayunan, ayo ma... "


Ajak Cinta secara paksa sambil menarik tubuh Sinta, dengan terpaksa, Sinta pun mengikuti langkah kaki Cinta menjauhi pak Adam,


"Maaf Pak, saya permisi.. "

__ADS_1


Ujar Sinta dengan suara yang mulai menjauh,


Meninggal kan pak Adam yang saat ini sedang berdiri dengan wajah terkejut dan bertanya tanya...


"Sepertinya aku tidak salah mendengar, anak itu tadi menyebut diri nya Cinta..., ya Tuhan....!! tidak mungkin hanya kebetulan saja, apa mungkin dia memang anak Wulan, cucu kandung ku... "


Tampa banyak berfikir, pak Adam langsung berlari menuju ke tempat Wulan berhenti, dimana Wulan sedang menatap bunga bunga yang bermekaran.


Sesampai nya di samping kursi roda milik Wulan, pak Adam langsung memberikan botol minum yang dia pegang ke tangan Wulan,


"Minumlah lah nak, maaf jika bapak sedikit lama"


Ucap pak Adam, membantu Wulan untuk meminum air yang ada di botol,


Setelah itu, Wulan kembali menatap bunga bunga bermekaran yang menurut nya sangat indah dan cantik


"Aku seperti bunga bermekaran itu kan pak"


Ucap Wulan membuat pak Adam langsung berjongkok di samping kursi roda milik nya..


"Iya nak, kamu persis seperti bunga itu, terlihat cantik dan indah" Jawab pak Adam


"Wulan, bapak mohon, mulai sekarang kamu harus iklhas dan tetap berjuang nak.., agar kamu bisa kembali sembuh seperti dahulu"


"Pak...., andai saja waktu bisa aku putar kembali, aku sangat ingin kembali ke masa dimana aku masih menjadi istri dari mas Ikram, seandainya aku tidak egois dan memikirkan keinginan ku sendiri waktu itu, pasti saat ini kami sudah hidup dengan bahagia,"


Ucap Wulan tersenyum, mengabaikan perkataan dari Pak Adam,


Pak Adam yang melihat tingkah anak nya seperti itu pun, mulai khawatir dan berinisiatif untuk membawa nya menemui gadis kecil yang bernama Cinta


"Wulan, ayo ikut bapak, bapak akan menunjukkan sesuatu untukmu yang bisa membuat kamu semangat kembali, jika pun dia bukan anak yang bapak curigai, setidak nya kamu bisa tersenyum melihat anak anak kecil yang sedang bermain di taman"


Ucap pak Adam, sambil mendorong kursi roda Wulan menuju ke arah taman yang tersedia permainan untuk anak anak yang ada di rumah sakit..


Dari kejauhan, pak Adam dapat melihat anak yang bernama Cinta sedang tertawa gembira dengan ibu nya itu, mereka menaiki ayunan dan saling bercanda ria,


Dengan semangat, pak Adam mempercepat dorongan nya, agar Wulan bisa menatap anak kecil itu, sebelum dia bergegas pergi dari taman,


Sesampainya di depan Sinta dan Cinta, pak Adam pun langsung menyapa mereka berdua, dan detik kemudian, Wulan dan Sinta mulai menatap satu sama lain dengan mata yang membulat hampir keluar, masih teringat jelas dalam memori mereka masing-masing dengan kejadian beberapa bulan yang lalu...

__ADS_1


Sinta dengan cepat memegang tangan Cinta dengan erat dan menurunkan nya dari ayunan..


Dia mulai mengambil ancang ancang untuk melindungi Cinta dengan kedua tangan dan kaki nya...


"Kau.....!!! " teriak Sinta terkejut


Tapi tidak dengan Wulan, saat ini dia sedang menangis dengan sangat pilu sambil menatap Cinta yang ada di balik tubuh Sinta


"Anak ku Cinta....!!! " Teriak Wulan bahagia..


"Bunda.....!!!! "


teriak Cinta mengintip wajah Wulan, membuat Pak Adam langsung terkejut setelah mendengar panggilan yang di layangkan oleh gadis kecil itu..


Pak Adam yang merasakan ada yang tidak beres dengan sikap Sinta wanita yang menjadi calon ibu sambung Cinta pun langsung berusaha mencairkan suasana..


"Nak..., jadi benar jika anak itu adalah anak mu Cinta" tanya pak Adam lembut


"Iya pak, dia anak ku, yang belum sempat aku kenal kan kepada bapak, lihat lah pak, saat ini putri ku sendiri membenci ku dan takut untuk melihat ku pak.. "


Tangisan Wulan mulai pecah, membuat Sinta langsung iba melihat nya, Sinta mulai meneliti keadaan Wulan yang sangat berbanding kebalik dengan beberapa bulan yang lalu,


Dulu dia terlihat sangat cantik dan modis, ditambah dengan gaya nya yang angkuh dan sok berkuasa, tapi sekarang, benar benar kebalikan nya, wajah cantik itu terlihat pucat dan lusuh, bahkan tubuh nya tampak kurus serta menaiki kursi roda, terlihat sangat lemah dan menyedihkan


Sinta dengan bijak langsung menarik tangan Cinta agar berani menatap wajah bunda nya tersebut..


"Ayo sayang, temui bunda kamu...! " ajak Sinta lembut


"Tapi... Cinta takut ma, nanti bunda kayak dulu, tarik tangan Cinta dan marah marahi Cinta ma"


"Tidak sayang, mama Janji akan menemani kamu disini, lihat bunda kamu sudah menangis sayang, kamu gak boleh buat bunda sedih"


Ucap Sinta lembut, membuat Cinta langsung berjalan memberanikan diri menatap wajah Wulan yang sedang menangis..


"Peluk lah anak kamu Wulan, aku yakin dia juga sangat merindukan mu"


ucap Sinta sambil mendorong tubuh Cinta mendekati Wulan, dengan cepat Wulan langsung memeluk tubuh Cinta dengan erat,


Tampa terasa air mata Sinta ikut berlinang melihat pemandangan yang sangat menyedihkan itu..

__ADS_1


__ADS_2