
Setelah menetralkan kembali keadaan nya, ibu Ningsih mencoba bangkit untuk berdiri, masih terasa tertinggal cekikkan yang Ikram berikan tepat di leher nya,
Seakan tangan itu masih setia bertengger disana..
Dengan wajah memerah, Ibu Ningsih mencoba berjalan menuju keruangan putri nya Wulan..
Sebenarnya saat ini dia benar-benar merasa sangat lelah, karena harus melakukan pemakaman sendirian dengan dibantu para pembantu dan supir yang ada dirumah Wulan
Tidak ada tetangga atau pun kerabat yang mendatangi kematian Indra, sedangkan pak Adam, dia lebih memilih menjaga Wulan yang masih drop dari pada harus mengikuti acara pemakaman menantu nya tersebut
Sesampainya di ruang perawatan kelas menengah, Ibu Ningsih langsung membuka pintu dan masuk kedalam,
"Assalamu'alaikum " ucap ibu Ningsih ketus
"Walaikumsalam, bagaimana proses pemakaman nya buk? apa sudah selesai? " tanya pak Adam yang sedang duduk di samping ranjang Wulan
"Menurut mu bagaimana pak..! jangan menambah beban ku saat ini, aku sudah sangat lelah " jawab ibu Ningsih marah
"Ya sudah, aku tidak akan menanyakan apa pun lagi"
"Ini semua gara gara Ikram sialan, karena dia menantu ku meninggal dunia, sekarang bagaimana cara kita mengobati penyakit Wulan yang semakin parah, aku tidak mau jika harta kita yang sudah susah payah kita kumpulkan habis begitu saja" ucap Ibu Ningsih mulai khawatir
__ADS_1
"Buk..., apa kau tidak bisa berfikir dengan jernih, saat ini anak kita sedang kritis,bukan nya berdoa untuk kesembuhan nya, kau bisa bisa nya malah membahas tentang harta" Teriak pak Adam kesal
"Biarkan saja, itu kesalahan anak mu sendiri karena tidak mau menuruti semua ucapan yang aku perintah kan, bukan nya sewaktu baru menikah dengan Indra, penyakit yang dia derita mulai menghilang, tapi karena Ikram sialan itu, dia kembali sakit bukan? aku tidak mau tahu, jika Wulan sudah sadar nanti, aku akan menyuruh nya untuk menjual semua harta peninggalan dari Indra"
"Terserah kau lah, aku pun sudah lelah berdebat dengan mu" ucap pak Adam pasrah
Tak lama kemudian, terdengar suara lenguhan yang keluar dari bibir Wulan,
Seperti nya Wulan mulai sadar dari pingsan nya yang sudah terjadi selama hampir 1 harian..
Dengan perlahan, Wulan membuka mata dan menetralkan pandangan nya,,
Sungguh pak Adam tidak pernah menyangka, jika kehidupan putri satu satu nya itu, akan mengalami nasib yang sangat menyedihkan, Dokter yang menangani Wulan dahulu yang ada di rumah sakit Harapan, sudah menjelaskan jika Wulan mengalami depresi berat, akibat beban fikiran yang terlalu berat, dan hal itu lah yang menyebab kan jiwa nya drop dan tak semangat untuk sembuh kembali,
"Nak... akhirnya kamu sadar juga putri ayah" ucap pak Adam menahan kesedihan nya..
"Ayah.....,, apa Wulan berada di rumah sakit lagi? " tanya Wulan dengan wajah pucat
"Iya nak, kamu.. kamu harus semangat ya! jangan terlalu banyak fikiran, mulai sekarang, fikirkan kesembuhan mu Wulan, dan lupakan masa lalu yang ada di benak mu itu"
"Aku....., aku tidak bisa Ayah, maaf, aku benar-benar tidak bisa, aku sudah mencoba nya, tapi ternyata sangat sulit Ayah, maafin Wulan" ucap Wulan menunduk sambil menangis
__ADS_1
Pak Adam. yang melihat keadaan putri nya benar-benar rapuh pun, langsung memeluk Wulan dengan erat, sungguh rasa penyesalan mulai menyeruak ke dalam hati nya, andai saja dulu sebelum Wulan menandatangani surat perceraian kepada Ikram,
Dan pak Adam bersikeras menentang nya, lalu langsung menemui Ikram dan mengatakan jika Wulan sakit dan harus di selamat kan, pasti saat ini penderitaan Wulan tidak akan seperti ini, Karena dia masih memiliki dua orang yang Wulan cintai dan mencintai nya juga
"Ayah yang seharusnya minta maaf nak, karena ayah sudah tidak tegas terhadap ibu mu, andai dulu ayah menentang keras perjanjian yang kau lakukan kepada Indra, pasti penderitaan seperti ini tidak akan menimpa mu nak" ucap ayah penuh penyesalan
"Hiks.... hiks.., mas Indra bukan suami yang baik yah, dia selalu menekan batin dan jiwa ku, dan dia selalu mengancam ku yah, hidup ku benar-benar hancur saat ini, apa ayah tau, jika sekarang mas Ikram sudah sangat membenciku, dia jijik melihat ku yah, dan yang lebih menyakitkan lagi, putri ku sendiri, tidak mau melihat ku, dia takut dan benci dengan bunda nya sendiri, aku... aku benar-benar gak sanggup ayah, aku menyerah,..."
Ucap Wulan yang mulai mengeluarkan segala problem di kehidupan nya selama ini,
Tampa mereka tahu, jika wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi tunggu itu ternyata ikut menangis dan tercubit hati nya, saat melihat putri nya sendiri hancur se hancur nya,
Sungguh, Ibu Ningsih tidak pernah menyangka, jika pilihan yang dia paksakan untuk Wulan demi keselamatan Wulan, dan ke hidupan mewah, ternyata berujung dengan penderitaan,...
"Maafin ibu Wulan, ini semua kesalahan ibu, ibu yang sudah memaksa dan mempengaruhi kamu, ibu benar-benar tidak sanggup melihat kamu hancur Wulan,.. " ucap Ibu Ningsih di dalam hati
Visual Wulan
__ADS_1