Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Cemburu?


__ADS_3

“Kenapa kau bisa ada disini?”, Dirga tersenyum melihat wajah terkejut Gita.


“Apa aku mengganggumu?!", bukannya menjawab, Dirga malah balik bertanya


Gita memandang sedikit curiga pada bosnya, taman ini jauh dari tempat tinggalnya. Tidak mungkin secara kebetulan Dirga berada disini bukan?.


“Kau belum menjawab pertanyaanku!”, tanya Gita lagi


“Aku kebetulan lewat!”, jawab Dirga santai. Pria itu menyodorkan air mineral pada


Gita.


"Alasanmu tidak masuk akal!", jawabnya sembari menerima air pemberian Dirga lalu meminumnya


“Kau sedang memikirkan sesuatu?”, tebak Dirga


“Apa kelihatannya seperti itu?”, tanya Gita balik


“Tidak juga, kau lebih kelihatan sedang menahan kantuk. Apa kau begadang semalaman?”,


“Hm, banyak nyamuk dirumahku. Jadi aku tidak bisa tidur!”, alibi perempuan cantik itu


“Komplek semewah ini banyak nyamuk?. Oh, nyamuk nakal maksudmu?. Seperti suara dua sejoli begitu?!”, goda Dirga, Gita mendengus kesal, bagaimana bisa Dirga langsung paham maksud perkataannya.


“Sudahlah, kenapa malah membahas nyamuk!, aku akan pulang sekarang!”, ucap Gita lalu berdiri


“Kau tidak mau menemaniku ke suatu tempat?”, tawar Dirga


“Maaf, hari ini aku ingin menikmati hari liburku. Lain kali saja ya!”, tolaknya halus, Dirga


mengangguk lalu membiarkan wanita itu pergi.


Tanpa mereka sadari, Danar memandang mereka dari mobilnya. Pria itu baru saja


mengantar Tari ke bandara, saat melewati taman komplek, dia tak sengaja melihat


Gita dan Dirga bersama. Entah kenapa, tapi Danar merasa tidak suka melihat kedekatan mereka. Pria itu mencengkram kemudi lalu kembali melajukan mobilnya.


****


Gita berjalan santai memasuki rumahnya. Ditangannya sudah ada bubur ayam yang baru dia beli didekat taman tadi. Gadis itu langsung menuju dapur untuk sarapan, perutnya mulai berdemo. Setelah menaruh sarapannya di piring, Gita memakan sarapannya dengan lahap.


“Kenapa tidak sekalian kau bawa kemari selingkuhanmu itu!”, sinis Danar


“Terima kasih sudah memberiku izin, lain kali aku akan membawanya kemari!”, jawab Gita


santai sambil terus memakan sarapannya


Danar menggeram kesal,


“Kalau kau berani melakukannya, aku akan menyeretmu keluar rumah!”, ancamnya


Gita menatap Danar sinis,


“Selain tidak punya hati, kau juga pria yang plin-plan. Bukankah kau sendiri yang


menyuruhku membawanya kemari. Kenapa sekarang kau marah!”, jawab Gita


“Ini rumahku dan kau istriku. Jadi jangan pernah membawa pria lain masuk kerumah


ini!”, Gita tertawa remeh


“Sekarang kau mengakui aku sebagai istrimu?”, Danar membeku, ia baru saja menyadari perkataannya, “Bukankah istrimu hanya


satu?”, pria itu kembali bungkam


“Istri?. Kenapa rasanya kata itu tidak pantas tersemat untukku. Suamiku menikah lagi secara diam-diam, bahkan sikapnya begitu dingin dan acuh padaku. Apa aku pantas disebut sebagai seorang istri?. Aku memang seorang istri, namun itu hanya sebatas status!”, lanjut Gita sendu

__ADS_1


Perempuan itu meninggalkan Danar yang masih membeku. Danar sendiri juga bingung, kenapa dia bersikap seperti itu pada Gita. Mungkinkah dia mulai simpati atau bahkan


memiliki perasaan pada istri pertamanya?, tidak, cintanya hanya untuk Tari, hanya Tari seorang.


Danar menatap meja makan yang kosong, perutnya lapar dan tidak ada apa-apa untuk


dimakan. Karena berangkat pagi-pagi sekali, dia belum sempat sarapan.


Kakinya berjalan menuju kamar Gita, tangannya mengetuk pintu kamar istri pertamanya itu. Dia seolah melupakan jika mereka baru saja berdebat.


“Ada apa?”, Danar menelan ludah saat melihat Gita yang hanya memakai tanktop dan


hotpans. Tubuhnya terlihat begitu mulus dan menggoda.


“Aku lapar!”, ucapnya pelan


Gita kembali masuk kedalam kamarnya, beberapa menit kemudian, dia keluar dengan baju rumahan yang lebih tertutup. Perempuan cantik itu berjalan ke arah dapur tanpa menghiraukan Danar yang masih menatapnya.


Dengan cekatan Gita mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas. Dia mengiris bawang dan bahan-bahan lainnya. Danar hanya mengamati apa yang Gita lakukan, tanpa


sadar pria itu mengangkat bibirnya. Hatinya mulai menghangat, dia merasa seperti seorang suami yang menanti masakan istrinya. Hahz bukankah memang seperti itu. Gita juga istrinya, terlepas darinya tak pernah menganggapnya istri. Gita berbeda dengan Tari, dia pandai dalam segala hal termasuk memaska. Tari saja tidak pernah memasak untuknya, karena selama ini mereka selalu menikmati masakan Gita. Bahkan makan siang yang selalu Tari antar bukan masakannya sendiri, melainkan memesan dari restoran


favorit mereka.


Setelah beberapa menit, tersaji dua menu kesukaan Danar. Sob iga sapi dan ayam bumbu


Bali. Gita menatanya dipiring lalu menyiapkannya dimeja makan. Tak lupa Gita


juga menyiapkan nasi untuk suaminya.


Danar terus menatap Gita yang mengambilkan nasi dan lauk untuknya.


“Segini cukup?”, tanya Gita sambil memberikan makanan itu pada sumainya


“Cukup, terima kasih!”, Danar memakan makanannya dengan lahap. Gita hendak meninggalkan dapur, namun pria itu mencegahnya


“Temani aku makan!”, Gita hanya mengangguk lalu duduk di meja makan. Perempuan itu hanya diam, sesekali melirik Danar yang lahap memakan masakannya. Hatinya merasa senang karena Danar makan dengan lahap. Andai saja hubungan mereka seperti kebanyakan orang, tentu Gita akan senang sekali.


****


“Kau sudah menunggu lama sayang,?”, tanya pria paruh baya yang datang bersama dengan seorang wanita.


“Papa, mama, aku merindukan kalian!”, Tari memeluk mereka yang ternyata adalah orang tuanya.


“Bukannya mama baru saja pulang mengunjungimu. Dia bahkan membiarkan papa sendirian beberapa hari ini!”, keluh pria paruh baya itu


“Hahahah, papa memang tidak bisa hidup tanpa wanita genit ini!”, ejek Tari membuat Tania melotot


“Sudah-sudah, sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu, kita akan membahas desain


butikmu!”, mereka pergi bersama dengan gembira.


Bukan perempuan seperti yang Tari katakan pada suaminya. Rupanya, arsitek yang


Tari maksud adalah papanya sendiri. Lebih tepatnya, papa tiri yang menyayangi dan mencintainya seperti seorang anak kandung.


****


Empat hari berlalu dan empat hari pula Gita menyiapkan keperluan Danar. Hubungan


mereka memang belum bisa dikatakan mengalami kemajuan. Tapi Danar sudah tidak


sedingin dulu pada Gita. Pria itu bahkan selalu menerima dengan senang hati saat Gita mengambilkan makan untuk dirinya. Seperti malam ini, mereka tengah makan malam bersama.


“Kau mau tambah lagi mas?”, tawar Gita


“Boleh!”, jawabnya sambil memberikan piringnya

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, dibelakang mereka telah berdiri seorang perempuan yang menatap mereka dengan kesal. Dia meremas koper yang dipegangnya.


Kurang ajar, berani perempuan itu mendekati suamiku saat aku tidak ada. Cih, jangan harap aku akan membiarkan hal itu terjadi. Sampai kapanpun, mas Danar hanya milikku. Ucapnya dalam hati.


“Sayang, aku pulang!”,


Deg


Danar membeku, dia menghentikan makannya dan berbalik kemudian manatap Tari yang tersenyum kearahnya. Namun bukan senyum manis seperti biasanya, melainkan sebuah senyum yang menandakan ketidaksukaan. Danar sedikit salah tingkah, apa Tari sudah lama berada dibelakangnya. Apa dia melihat semuanya?. Tidak mau menambah suasana semakin kacau, Danar segera berdiri dan menghampiri istri keduanya.


“Kau sudah pulang sayang?. Kenapa tidak memberitahuku?. Aku kan bisa menjemputmu di bandara!”, ucap Danar sambil menuntun istrinya untuk duduk.


Tari menatap Gita dengan kesal. Ingin sekali dia mencakar dan menjambak perempuan


yang menjadi saingannya itu.


“Aku hanya ingin memberimu kejutan. Tapi sepertinya aku yang dibuat terkejut!”,


Danar langsung menatap Tari dengan gelisah


“Ini tidak seperti yang kau pikirkan sayang. Gita hanya menyiapkan makan malam


untukku, dan ...,!”


“Tidak masalah sayang, aku percaya tidak ada yang terjadi diantara kalian. Lagipula, kau tidak mungkin menghianati cintaku!”, Tari tersenyum mengejek pada Gita


“Tentu saja. Em, apa kamu sudah makan?. Ayo kita makan bersama!”, ajak Danar namun Tari menggeleng


“Aku sudah makan sayang. Kau sudah selesai makan kan?, ayo kita ke kamar, aku sangat merindukanmu!”,


Danar langsung menyambut ajakan istri keduanya. Pria itu berlalu begitu saja tanpa


mengingat Gita. Lagi-lagi Gita harus menahan kekecewaan, dia tersenyum miris. Memangnya apa yang dia harapkan?. Lagipula semuanya tidak akan pernah berubah.


Dua sejoli itu kini sudah berada didalam kamar. Tari mendorong suaminya kasar. Dia menatap dengan nakal. Jujur, Danar rindu tingkah liar istrinya itu. Tari selalu bisa membuatnya gila.


“Aku sangat merindukanmu!”, ujarnya manja


Danar tak membuang waktu. Dia menarik pinggang ramping istri cantiknya lalu mengecup bibir candu kesukaannya.


Rumah itu kembali dipenuhi suara gairah dan ******* yang terdengar saling bersahutan. Mereka saling berbagi keringat dan menghabiskan malam yang begitu panjang. Sementara satu penghuni lainnya harus menahan jerit hatinya.


****


Seperti biasa, Gita sudah berada dimeja makan pagi ini. Dia sedang menikmati sarapan


roti panggangnya. Tak lama Danar datang, namun sendirian. Pria itu duduk lalu mengambil selembar roti tak lupa mengoles selai cokelat diatasnya.


“Sayang!”, Tari datang dengan baju tidur seksinya. Jangan lupakan belahan dada


yang tertampang hampir terlihat. Juga beberapa tanda merah dileher dan dadanya.


“Kau belum bersiap?”, tanya Danar


“Aku merasa lelah sekali. Sudah beberapa hari ini tubuhku terasa tidak nyaman!”, Danar berdiri lalu mengecek kening istrinya


“Tidak panas!”, ucap Danar menatap kekasih hatinya


Dada Gita bergemuruh, firasatnya mengatakan jika madunya bukan sakit biasa.


“Sebaiknya kita periksa ke dokter!”, ucap Danar khawatir


“Tidak perlu sayang. Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu!”, jelas perempuan seksi tersebut


“Ada apa?”, tanya Danar penasaran


Tari melirik Gita yang juga meliriknya. Perempuan itu tersenyum penuh arti

__ADS_1


“Aku ..., hamil!!"


Deg


__ADS_2