
"Nak, siapa yang berani mengirim barang seperti itu padamu?", tanya Januar tak kalah terkejut melihat paket yang dikirimkan untuk menantunya. Boneka wanita hamil yang berlumuran darah.
"Aku tidak tahu, Pa. Tapi papa jangan khawatir. Aku akan mencari tahu siapa pengirim paket misterius ini!", Gita berucap setenang mungkin. Ia tak mau membuat mertuanya khawatir jika dirinya terlihat panik. Walau sebenarnya jantungnya berdegup begitu kencang.
"Hubungi Dirga, dia harus tahu masalah ini!", perintah Januar.
"Papa tenang dulu, aku tidak mau mengganggu pekerjaan Mas Dirga. Nanti saat dia pulang, aku akan memberi tahu masalah ini. Aku mohon Papa jangan terlalu memikirkan hal ini. Papa harus menjaga kesehatan papa!."
Januar menghela nafas, "Papa hanya terkejut. Siapa dan punya maksud apa orang itu mengirim paket mengerikan ini padamu?."
"Entahlah, Pa. Padahal aku merasa tidak memiliki musuh!."
"Papa akan menghubungi orang Papa untuk mengusut masalah ini!." Gita mengangguk, dia juga harus menghargai usaha mertuanya. Walau berada di atas kursi roda, Januar masih bisa menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keluarganya.
"Sebaiknya sekarang Papa istirahat. Ayo, aku antarkan ke kamar!."
Gita mendorong kursi rodanya ke kamar Januar. Dengan bantuan bibi, Gita membaringkan mertuanya diranjang.
"Terima kasih. Orang papa sudah mengurus hal ini. Sekarang kamu sebaiknya juga istirahat. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Biar masalah ini menjadi urusan Papa dan Dirga!."
"Iya, Pa. Aku juga akan istirahat!."
Gita segera meninggalkan kamar mertuanya. Dia menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah berada didalam kamar, Gita menghubungi Linda, asistennya. Selain menanyakan keadaan butik, Gita juga meminta Linda mencari tahu pengirim paket misterius itu. Tentunya melalui orang suruhannya.
Disaat Gita sedang mencari informasi mengenai pengirim paket misterius itu. Dirga sudah lebih dulu bertindak. Orang suruhannya sudah memberi tahu masalah ini dan tentunya suami Gita itu langsung membalas dengan kejutan yang akan membuat mereka histeris.
__ADS_1
"Beraninya dia mengusik ketenangan istriku. Kalian benar-benar ingin bermain denganku, rupanya!", Dirga menyeringai. Entah apa yang pria itu lakukan.
*
*
*
"APA - APAAN INI! SIAPA YANG BERANI MENGIRIM INI PADAKU?", teriak Tari.
"Ada apa?", mata Tania melotot.
Karangan bunga bertuliskan "Selamat Atas Pernikahan Kedua Suamimu, Mentari!" tepat berada dipintu masuk apartemennya.
"Kurang ajar! Siapa yang berani bermain-main denganku?."
Tari mengepalkan tangan, "Sialan. Beraninya kamu melakukan itu padaku!."
"Kenapa kau selalu mengganggu kehidupan kami!!", timpal Tania.
Dirga berjalan semakin mendekat, membuat Tari dan ibunya mundur perlahan. "Itu balasan karena kalian berani mengganggu ketenangan istriku. Kau mencari lawan yang salah, adikku sayang. Kau bertindak sekali, aku akan membalas berkali-kali!."
"Cih, wanita sialan itu memang pantas mendapatkannya. Seharusnya dia mati bersama bayinya waktu itu!!", Tari berkata dengan sinis.
"Mulutmu perlu diberi pelajaran. Kau selalu menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri!."
__ADS_1
"Semua ini salah Gita. Dia masuk dan mengganggu hubunganku dengan Danar. Bahkan setelah aku berhasil menyingkirkannya dari rumah tangga kami, dia masih membayangi hubungan kami. Kau tahu, gara-gara istrimu murahanmu itu, Danar harus menikahi wanita lain. Aku membencinya!!."
Prok
Prok
Prok
Dirga bertepuk tangan, hal itu membuat Tania dan Tari heran.
"Hebat!! Kau selalu melimpahkan kesalahanmu pada orang lain. Bukankah aku pernah memperingatkanmu untuk introspeksi diri!. Rupanya kau tidak mengindahkan peringatanku. Kalau begitu, terimalah kejutan dariku!!."
Dirga melangkah dengan langkah santai. "Ah, aku lupa. Aku juga ada kejutan untukmu, mantan mamaku!!", Dirga menyeringai, menampilkan senyuman yang sangat mengerikan.
"Hallo, apa!!." Tari menatap Dirga dengan tajam, "Bre*sek. Apa yang kau lakukan pada butikku?", tanya Tari berteriak.
"Ada apa Tari?."
"Itu hanya sedikit peringatan karena kau berani mengusik kenyamanan ratuku. Lagipula, kau tidak punya kemampuan. Butikmu juga akan bangkrut sebentar lagi!", cibir Dirga.
Pria itu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang tampak begitu emosi.
"Kurang ajar, seharusnya dulu aku melenyapkan anak sialan itu. Sekarang dia menghambat jalan kita!!", geram Tania
"Selamat pagi. Ada paket untuk ibu Tania!."
__ADS_1
Dengan kesal Tania mengambil paket yang dikirim untuknya. Seketika wajahnya memucat, tangannya gemetar.
"Apa ini, Ma??."