
Langkah Tari seketika berhenti. Tangannya mengepal erat. "Sampai kapan kamu bisa melupakan wanita itu?!."
Danar mengerjap kaget. Dia berbalik lalu menatap istrinya yang entah sejak kapan berada disana.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Danar. Setelah menyakiti aku dengan menikahi Anya, sekarang kau mengatakan masih mencintai mantan istri tercintamu, Gita. Kau anggap aku ini apa, hah!!. Masih kurangkah luka yang kamu berikan padaku?!." Tari berujar dengan lirih. Keputusannya pulang kerumah sepertinya bukan pilihan yang tepat.
"Maafkan aku, Tari. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku ternyata mencintai Gita. Dan masih mencintai dia hingga saat ini!."
Tari tertawa miris, "Lalu bagaimana denganku? Kamu masih mencintai aku?. Atau ... Cintamu padaku sudah hilang sejak kau kehilangan Gita?."
Danar bungkam, hal itu membuat Tari kembali tertawa miris. Rupanya, kini Danar sudah tidak mencintainya. Pantas saja, dia seolah tidak peduli dengan rasa sakit yang Tari alami belakangan ini.
"Kau tahu, hal apa yang paling aku sesali di dunia ini?."
Danar menatap istrinya dengan perasaan bersalah. Tidak ada niat hati menyakiti perasaan Tari. Tapi mau bagaimana lagi, perasaannya pada Tari menguap begitu saja.
"Aku menyesal pernah mengenalmu. Aku menyesal karena mencintaimu. Dan aku menyesal karena memilihmu sebagai suamiku!!."
Deg
Danar memandang wajah Tari yang semakin sendu. "Aku sungguh minta maaf, Tari. Aku ....!"
"Maafmu tidak akan merubah semuanya!", Tari tertawa, "Aku yang salah. Dan aku yang bodoh karena percaya pada janji-janjimu yang nyatanya, sama sekali tidak bisa dipercaya. Hubungan kita hanya tinggal menunggu saat untuk hancur. Atau bahkan, sudah hancur!!."
Tari masuk kedalam kamar mandi. Dia lebih memilih mengurung diri disana daripada harus berhadapan dengan Danar. Entah apa yang akan Tari rencanakan. Hanya dia yang tahu.
*
*
__ADS_1
*
Suasana meja makan terasa sunyi. Padahal ada empat orang yang sedang makan disana. Anisa hanya melirik putra dan para menantunya. Anya makan dengan diam, Tari hanya mengaduk makanannya tanpa minat. Sedangkan Danar terlihat beberapa kali menghela nafas.
"Kalian bertengkar?", pertanyaan Anisa membuat ketiga kompak menatap wanita paruh baya itu.
"Tidak!", jawab Anya
"Tanyakan pada putra tersayang, Mama!", sahut Tari
"Ada apa, Danar?. Kenapa diantara kalian tidak ada yang saling bertegur sapa?. Suasana sudah seperti di kuburan saja. Padahal disini ada banyak orang!!", ujar Anisa.
"Tidak ada masalah apa-apa, Ma. Aku sedang lelah!", sahut Danar dengan nada datar.
"Lelah karena memikirkan istri orang!", sindir Tari.
Anisa menghela nafas, "Sudahlah. Lebih baik makan dalam kondisi diam. Daripada makan sambil berdebat!", putus Anisa
Kini hanya tinggal Anisa dan Danar yang masih berada di meja makan.
"Kamu bertengkar dengan Tari? Kenapa?."
Danar menarik nafas lalu menghembuskan ya kasar, "Tari mendengar ucapanku saat aku berkata masih mencintai Gita!."
"Kamu gila!!."
"Ya, aku tahu aku memang gila. Aku gila karena telah melepas wanita baik yang aku sia-siakan!."
Anisa terlihat menahan emosi. "Sudah berapa kali mama katakan, lupakan Gita!! Percuma kamu terus memiliki perasaan padanya. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya!! Jangan mengusik kebahagiaannya dengan perasaan konyolmu itu!!."
__ADS_1
Danar menatap mamanya, "Aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku, Ma. Aku mencintai Gita hingga saat ini!!."
Anisa tertawa sinis, "Kenapa baru sekarang kamu bilang cinta, Sejak dulu kemana saja? Kamu yang membuangnya, Danar. Kamu yang membuat Gita lepas dari hidupmu. Kamu!! Jadi dengan sangat mama mohon, lupakan Gita. Dia sudah bahagia. Belajarlah mencintai kedua istrimu, terutama Anya yang saat ini sedang mengandung anakmu. Jangan hanya memikirkan diri sendiri dengan keegoisanmu dan menyakiti perasaan istri-istrimu!! Jadilah laki yang bertanggung jawab. Jangan jadi pec*ndang. Semua yang terjadi adalah takdir yang tidak bisa kamu hindari. Daripada kamu selalu menyesali masa lalu. Sebaiknya syukuri yang kamu miliki saat ini, jaga baik-baik sebelum kamu merasakan kehilangan untuk kedua kalinya!."
Sret
Anisa dan Danar kompak menoleh ke arah suara. Mereka terperangah melihat Tari menggeret dua koper besar di kedua tangannya.
"Tari, kamu mau kemana membawa koper-koper itu?", tanya Anisa
Tari menatap mertuanya kemudian menatap Danar. "Aku mau pergi dari rumah ini!."
Jawaban Tari membuat Danar terkejut, "Kamu mau kemana? Kenapa tiba tiba ingin pergi dari rumah ini?."
Tari tertawa sinis, "Lalu aku harus bagaimana? Tinggal bersama denganmu yang sudah tidak mencintaiku. Bahkan masih mencintai mantan istrimu? Hahaha, maaf Danar. Aku tidak mau!!." Tari menggeret kopernya menuju luar.
"Tari, kita bisa bicarakan ini baik-baik!", pinta Anisa sambil mengejar menantunya.
"Maaf, Ma. Aku sudah tidak tahan lagi. Bukankah selama ini, keberadaanku disini tidak pernah dianggap?", Anisa terlihat bersalah mendengar ucapan menantu pertamanya, "Untuk apa aku terus menyakiti diri sendiri. Aku bebaskan Danar menjalani hidupnya tanpa aku lagi!."
"Maksud kamu apa, Tari?", tanya Danar serius.
"Sampai jumpa di pengadilan agama. Aku sudah menyuruh pengacaraku menyiapkan berkas perceraian kita!!".
*
*
Nah lo, kok mbak Tari malah mau mengajukan cerai. Katanya ga mau kalah. Ini kok....
__ADS_1
Kira-kira, apa rencana Tari ya. Benarkah dia memang akan menggugat cerai Danar?