Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Kemarahan Dirga


__ADS_3

"Dirga ..., tolong!!"


Deg


Dada Dirga tiba-tiba berdenyut nyeri. Dia sudah berada dikantor. Namun perasaannya tidak tenang sejak tadi. Sudah pukul 8 tapi Gita belum juga datang. Ponselnya juga tidak aktif.


"Kamu dimana Git!!", ucapnya bermonolog sendiri


Karena merasa tidak tenang, Dirga segera keluar kantor. Dia akan ke rumah Gita. Sejak semalam, perasaannya resah. Namun Dirga menepis pikiran negatifnya, lagipula Gita menyuruhnya pergi dan menolak ajakannya. Dirga yakin, Gita pasti baik-baik saja.


"Semoga tidak terjadi sesuatu padamu!", Dirga berdoa dalam hati


Dirga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam hati ia terus memanjatkan doa. Setelah Dua puluh lima menit, akhirnya dia sampai dirumah Gita. Rumah itu tampak sepi, mobil Danar tidak ada, hanya ada mobil Gita. Artinya, Gita pasti ada dirumah. Mungkin saja Danar sedang menghukumnya dan melarangnya ke kantor, pikirnya.


Dirga memencet bel, namun tidak ada respon. Pria itu kembali memencet bel hingga beberapa kali, namun tidak sama saja.


"Kamu siapa??", tanya Anisa


Pria itu menatap wanita paruh baya yang kini berdiri didepannya.


"Saya Dirga, atasan Gita!", Anisa menatap Dirga dengan tatapan menyelidik,


"Saya kemari karena Gita tidak datang ke kantor. Ponselnya juga tidak aktif, saya hanya khawatir padanya!", ucap Dirga kala sadar akan tatapan curiga mertua Gita.


"Kau khawatir pada menantuku!", tanya Anisa


Dirga menatap canggung,


"Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Anda tidak perlu salah paham!", jelas Dirga


Sepertinya pria ini menaruh perasaan pada menantuku. Apa sudah saatnya aku melepas Gita!, gumam Anisa dalam hati


"Mari masuk, mungkin Gita sakit. Ponselnya benar tidak aktif, aku juga khawatir padanya!", Dirga mengikuti Anisa memasuki rumahnya.


"Silahkan tunggu sebentar!", Dirga mengangguk lalu duduk diruang tamu


Anisa berjalan menuju kamar tamu. Matanya membola saat melihat menantunya tergeletak tak sadarkan diri dilantai.


"Gita!!!, apa yang terjadi nak!", teriak Anisa.


Dirga yang mendengar teriakan Anisa langsung berlari ke dalam.


"Gita!!", Dirga begitu khawatir melihat Gita tak sadarkan diri, apalagi melihat banyaknya darah dilantai. Pria itu memeriksanya, bukan. Darah itu sudah mengering dan Dirga pastikan itu bukan darah Gita. Pria itu menghela nafas lega. Dirga tak menghiraukan tangisan Anisa, dia menggendong Gita dan akan membawanya kerumah sakit. Dirga membuka pintu mobil lalu memasukkannya kedalam. Anisa ikut duduk di bangku belakang untuk menemani menantunya. Pria tampan itu mulai mengendarai mobilnya.


"Maafkan aku nak, maafkan aku!", Anisa menangis sambil memangku menantunya. Entah apa yang terjadi, tapi Anisa memiliki firasat, semua ini pasti ada hubungannya dengan putra dan menantu keduanya.


****


"Suster tolong!!", teriak Dirga ketika sampai di lobi


Beberapa perawat datang membawa brankar, kemudian membawa Gita ke ruang UGD. Bertepatan dengan itu, mereka melihat Danar dan Tari keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Danar!!", ucap Anisa


Danar menatap mamanya datar, sementara Tari tetap duduk dikursi rodanya.


"Danar, Gita tidak sadarkan diri. Sepertinya dia jatuh dari tangga. Dokter masih menanganinya", ucap Anisa memberi tahu


"Jadi dia belum mati?", tanya Danar sinis


Deg


Anisa menatap putranya tak percaya. Kenapa Danar malah mengharap Gita mati.


"Apa kau yang melakukan semua ini padanya?", tanya Anisa ragu. Tidak mungkin putranya akan melakukan hal sejahat itu.


"Benar, aku yang sudah mencelakainya!!",


Bug


Satu pukulan Dirga layangkan ke wajah Danar.


"Apa yang kau lakukan padanya hah?. Apa salahnya hingga kau tega mencelakinya", teriak Dirga


Bug


Danar membalas pukulan Dirga,


"Biarkan saja dia mati. Dia sudah membunuh bayiku, dia mendorong Tari dari tangga. Seharusnya dia juga mati sama seperti bayiku!!", ucap Danar dengan nada tinggi


"Brensek, beraninya kau mengatakan hal itu!",


"Tolong jangan buat keributan, ini dirumah sakit. Jika kalian ingin adu jotos, sebaiknya pergi ke ring tinju!", tegur security


Mereka semua terdiam, Danar menatap mamanya sendu juga kecewa. Begitupun Anisa, dia mematap putranya dengan pandangan tanpa arti, lebih tepatnya, dia menatap kebodohan Danar. Cinta telah membuat putranya gila.


"Mama kecewa padamu Danar. Mama kecewa, kamu berubah menjadi pria jahat sekarang?", ucap Anisa


"Aku seperti ini karena dia, Tari keguguran karena wanita sialan itu. Mama sekarang senang kan?. Tentu saja, mama pasti senang. Sejak awal mama memang meragukan bayi yang Tari kandung. Dia bahkan pergi sebelum bisa melihat dunia !", Danar tersenyum miris


"Kamu sudah ....!",


"Ayo kita pulang mas!", potong Tari


Danar kembali mendorong kursi roda istrinya, meninggalkan Dirga juga mamanya. Anisa menatap kepergian putranya dengan hati penuh kecewa. Setelah susah payah membesarkannya seorang diri. Kini Danar lebih memilih orang lain daripada dirinya, orang yang melahirkannya.


"Putra anda menyia-nyiakan berlian hanya demi batu kerikil!", cibir Dirga


"Kau benar, Danar memang bodoh. Maaf, karena kau harus berkelahi dengannya!", sesal Anisa


"Tidak masalah, aku juga minta maaf karena memukul putramu berkali-kali!!",


"Dia memang pantas menerimanya!", Anisa tersenyum miris, "Aku membesarkannya dengan susah payah. Tapi lihatlah, dia bahkan lebih memilih cintanya dari pada orang yang melahirkannya!", gumam Anisa sendu

__ADS_1


"Aku tidak tahu seperti apa permasalahan kalian. Tapi aku sungguh menyayangkan sikap Danar pada anda!!", ujar pria tampan tersebut


"Kau benar, semua ini karena aku tidak merestui hubungan mereka. Putraku menikahi wanita itu diam-diam, tanpa memberi tahu ataupun meminta restu dariku!!",


"Anda terlihat membenci Tari, kenapa?",


"Itu urusanku, aku tidak bisa menceritakannya", jawab Anisa tegas


Dirga tersenyum,


"Apa karena mamanya adalah perebut mantan suami anda?", Anisa menatap Dirga terkejut


"Kau, seberapa banyak yang kau tahu?. Apa sebegitu inginnya kau mendapatkan menantuku hingga kau mencari tahu semuanya?", tuduh Anisa


Dirga kembali tersenyum


"Tania adalah mantan ibu tiriku. Dia meninggalkan papaku saat papa bangkrut. Setelahnya, dia menikah dengan suami anda!",


Anisa kembali dikejutkan dengan perkataan Dirga.


"Jadi kau ...?",


"Selain aku menyukai Gita. Aku hanya ingin melindunginya. Aku tahu betul siapa mereka. Gita tak akan mampu melawan para ular itu sendirian!", jelas Dirga. Pintu ruang darurat terbuka, baik Anisa dan Dirga langsung menghampiri dokter yang menangani menantunya.


"Bagaimana keadaan menantu saya dok?", tanya Anisa khawatir


"Pasien mengalami retak dibahu sebelah kiri. Seluruh tubuhnya memar juga terdapat luka di pelipis mata kanan. Saat ini pasien sudah sadar. Tapi dia harus dirawat disini hingga kondisinya benar-benar pulih!", jelas dokter


Anisa dan Dirga tidak menyangka Gita mengalami retak dibahu. Tapi mereka lega karena Gita sudah siuman. Kini mereka mengikuti suater yang membawa Gita untuk dipindahkan ke ruang perawatan.


"Maafkan semua perbuatan putra mama nak. Kau harus dirawat disini karena ulahnya!", ucap Anisa menyesal. Sungguh dia merasa bersalah karena perbuatan putranya


Gita tersenyum lemah, dia menatap Anisa dan Dirga bergantian.


"Aku tidak apa-apa ma!!", ucapnya lemah, Anisa menggeleng


"Kamu tidak baik-baik saja. Kamu sakit, kamu terluka. Bukqn hanya ragamu tapi juga hatimu!!",


Gita kembali menangis, Anisa yang melihat hal itu langsung memeluk menantunya.


"Aku tidak mendorongnya ma, aku tidak membunuh bayi Tari dan Danar. Tari sudah jatuh dari tangga saat aku keluar kamar!", ucap Gita sesegukan


Dirga menatap Gita perih, dia sakit hati melihat wanita yang dia cintai menangis. Apalagi karena pria bedebah seperti Danar.


"Sttt, mama tahu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mama tahu kamu tidak bersalah!",


Gita kembali menggeleng, dia menatap mertuanya dengan sedih


"Tapi masa Danar menyalahkan aku ma. Dia mengatakan jika aku pembunuh. Aku bukan pembunuh, bukan!!", lirih Gita


"Git, jangan dengarkan ucapan Danar. Dia tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Kami percaya padamu. Jangan pikirkan apapun, yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu!", tutur Dirga

__ADS_1


Gita mengusap air matanya.


"Aku ingin berpisah!",


__ADS_2