Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Menyetujui Permintaan Mertua


__ADS_3

Tari masih termenung ditempat. Apalah dia salah dengar barusan?.


"M-mama mengatakan apa?", tanyanya kembali


"Aku akan menerimamu sebagai menantuku!", jawab Anisa dengan santai.


Tari tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Bak mendapat durian runtuh, setelah menjadi istri Danar satu-satunya. Kini Anisa mau menerimanya sebagai menantu. Astaga, mimpi dia semalam hingga begitu beruntung hari ini?.


"Mama tidak bercanda kan?", tanyanya masih tak percaya.


"Apa aku kelihatan sedang bercanda?", Tari menggeleng, "Tapi aku punya satu permintaan untukmu. Dan aku harap kau menyetujuinya!",


Tari menatap mama mertuanya ragu. Apa lagi permintaan yang harus dia penuhi?. Atau perempuan itu ingin Tari meninggalkan Danar?. Tidak, Tari tidak akan melakukannya.


"Kenapa diam?. Bukankah kau sudah lama ingin mendapat restu dariku?", tanya Anisa dengan santai. Wanita paruh baya itu melangkah ke arah sofa kemudian duduk dengan anggun.


"Apa ini hanya akal-akalan mama agar aku menjauhi mas Danar?", tanya Tari curiga


Anisa tersenyum sinis,


"Selain hanya tahu mengangkang. Kau juga suka menuduh!", sindirnya telak. Tari nampak memberenggut kesal. "Aku ingin kau dan Danar tinggal dirumahku. Apa kau keberatan dengan syarat yang aku ajukan?", lanjut Anisa


Tari nampak berfikir, haruskah dia menyetujui syarat dari mertuanya. Hanya tinggal bersama bukan?, toh wanita tua itu sekarang sibuk mengurus perusahaan. Mereka hanya akan bertemu saat pagi dan malam saja. Pikir Tari


"Hanya itu?",


"Ya, aku ingin anak dan menantuku tinggal denganku. Aku sedikit kesepian jika tinggal dirumah sendirian!", jawab Anisa lirih


Ucapan Anisa sedikit menyentuh hati Tari. Dia bahkan sudah memanggilnya dengan sebutan menantu. Bukankah sekarang adalah kesempatannya meraih hati sang mertua. Tidak ada lagi penghalang baginya, dan mungkin, rumah tangganya dengan Danar akan semakin membaik.

__ADS_1


"Baiklah Ma, aku setuju untuk tinggal dengan mama!", Anisa tersenyum tipis.


"Aku menunggu kedatangan kalian dirumah!", ucapnya seraya meninggalkan butik menantunya.


Tari melompat kegirangan. Kenapa tidak dari dulu saja dia menghasut Danar untuk menceraikan Gita. Hari yang dia nantikan akhirnya tiba. Dengan perasaan senang, dia mengambil tas dan kunci mobil. Tari memutuskan pulang kerumah untuk bersiap pindah kerumah sang mertua.


****


"Kau yakin mau tinggal dengan Anisa?", tanya Anita diseberang telpon.


"Yakin Ma. Bukankah momen ini yang selama ini aku tunggu-tunggu!", jawab Tari santai. Dia mengemudi sambil memasang earphone di telinganya.


"Kau yakin Anisa tidak sedang merencanakan sesuatu?",


Tari memutar bola matanya, kenapa mamanya jadi menyebalkan seperti ini.


"Bukan begitu anak bodoh. Mama hanya khawatir dia akan membalas mama melalui dirimu. Kau tahu masa lalu kami bukan?", ucap Anita gusar


Tari mendengus kesal,


"Masa lalu mama, ya urusan mama. Tidak ada sangkut pautnya denganku. Lagipula, ini kesempatanku meraih hatinya. Akan kubuat dia menyayangi aku seperti dia menyayangi Gita!",


Anisa terdengar menghela nafas berat,


"Kau tidak tahu siapa Anisa, Tari. Dia tidak akan luluh padamu begitu saja. Ja ... !",


Tut


Tari mematikan panggilannya. Dia hanya merasa kesal karena mamanya terlalu berlebihan. Lagipula, dia yakin kali ini Anisa benar-benar menerimanya. Hanya dirinya yang menjadi menantu dikeluarga Adiaksa.

__ADS_1


Mobil yang dikendarainya sudah memasuki halaman rumah. Tari segera turun dari mobil kemudian masuk kedalam. Dia menghela nafas saat melihat Danar hanya duduk termenung seperti mayat hidup. Dengan perasaan geram, ia menghampiri suaminya.


"Mas, mau sampai kapan kamu seperti ini?",


Danar menoleh sekilas, kemudian kembali melamun. Tari memilih duduk disamping suaminya.


"Mas, lihat aku. Kenapa kamu jadi seperti ini?. Kemana Danar yang dulu aku kenal?. Kau sekarang mengabaikan aku. Mana janji cintamu dulu, mana senyum yang selalu menghiasi wajahmu. Aku sedih melihatmu seperti ini!", lirih Tari


Danar menghela nafas, dia memang sedih karena kehilangan Gita. Tapi, bukankah masih ada Tari. Wanita yang dia cintai sejak dulu. Dia juga sadar sudah menyakiti Tari beberapa hari ini.


"Mas, aku mohon kembalilah seperti dulu!",


Danar memeluk istrinya, dia masih mencintai Tari. Danar tak mau kehilangan Tari seperti dia kehilangan Gita.


"Maafkan aku Tari. Maaf sudah menyakitimu. Aku janji akan berubah. Kamu mau kan, memulai semuanya dari awal denganku?",


Tari mengangguk, dia sampai meneteskan air mata karena haru. Lengkap sudah kebahagiaan.


Danar memeluk istrinya dengan erat, berbeda dengan yang dia ucapkan. Nyatanya dia masih memikirkan Gita.


Tari mengurai pelukannya, dia menatap suaminya sambil tersenyum,


"Mas, tadi mama Anisa menemuiku. Dia sudah memberi kita restu. Aku semakin bahagia Mas!",


"Benarkah?", tanya Danar tak percaya


"Iya. Sekarang, ayo kita bersiap. Mama meminta kita tinggal dirumahnya dan aku sudah menyetujui hal itu!",


Deg

__ADS_1


__ADS_2