
"I-iya Ma!!", jawab Tari gugup. Dia memejamkan mata sejenak, menahan denyut dihatinya kala mengatakan hal yang sebenarnya pada Anisa. Tentu saja karena Tari mengingat perkataan Anisa soal merelakan Danar menikahi wanita lain.
Anisa menghela nafas kasar, "Kau sudah tahu itu sejak lama, Danar?", Anisa beralih bertanya pada putranya. Danar mengangguk pelan.
"Seharusnya kamu mengingatkan Tari, Danar!!. Kamu sebagai seorang suami harus bisa membimbingnya kejalan yang lebih baik. Menegurnya kalau dia berbuat salah. Bukan membiarkannya dan berakibat merugikan banyak orang!!", ucap Anisa marah.
"Dia merugikan dirinya sendiri, nyonya Anisa. Siapa lagi yang dia rugikan?. Tidak ada", potong Tania tak terima.
Anisa menatap nyalang perempuan disampingnya. Kalau saja dia wanita jahat, sudah Anisa dorong mantan madunya kejalan.
"Tentu saja putraku dan aku. Putraku dan aku menginginkan seorang bayi. Tapi karena kecerobohan putrimu, kami belum bisa memilikinya. Apa kau tidak bisa mengajarinya hal yang baik. Apa kamu hanya tahu untuk mengajarinya menjadi merebut suami orang dan mengajarinya sebagai perokok juga peminum. Ibu macam apa kamu ini!!", sarkas Anisa
Tari memandang keluar jendela, jujur dia menyesal. Hubungannya dengan Danar baru saja membaik dan sekarang sepertinya akan kembali renggang karena kondisinya. Ditambah ocehan mama dan mertuanya yang semakin membuatnya pusing.
"Itu karena pergaulannya sendiri. Aku kan tidak berada disampingnya 24 jam. Jadi bukan sepenuhnya salahku!!",
Tania menahan kesal karena Anisa menyalahkannya dan menganggapnya tidak becus mendidik putrinya. Tenru saja dia tidak terima. Semua terjadi saat Tari kuliah diluar negeri. Putrinya mulai mengenal adat barat yang bebas. Tania kan tidak mengawasinya 24 jam, jadi bukan salahnya juga.Lagipula Tari sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang baik dan tidak baik. Kenapa jadi dirinya yang disalahkan, enak saja.
Semuanya bungkam tanpa mengatakan apa-apa. Hingga mobil yang ditumpangi Danar beserta keluargnya telah sampai dirumah. Semua penghuni mobil turun lalu masuk kedalam rumah. Tari yang memang sedang dalam kondisi hatinya sedang tidak baik segera melangkah menuju kamarnya. Namun perkataan sang mertua mampu membuat hatinya semakin didera rasa khawatir yang lebih banyak.
__ADS_1
"Jika suatu saat aku meminta Danar menikah lagi, kamu harus menerimanya Tari!!",
Tari terkesiap, jujur dia tidak akan siap dan tidak akan pernah sanggup untuk berbagi suami. Apa gunanya dia menyingkirkan Gita jika akhirnya akan hadir wanita baru dalam rumah tangganya. Tidak ada wanita yang mau membagi cinta apalagi membagi suami. Termasuk dirinya.
"Kita bisa melakukan berbagai cara agar Tari bisa hamil. Bayi tabung salah satunya!!", ucap Tania
"Tentu saja. Aku akan memberinya kesempatan untuk melakukan apapun agar dia bisa hamil. Tapi jika semua tidak berjalan baik. Aku harap Tari berbesar hati untuk dimadu!!", ucap Anisa tegas.
"Ma, sudahlah. Jangan bahas masalah ini. Ini pasti berat untuk Tari. Setidaknya, jangan menambah bebannya lagi!!", pinta Danar
"Ini semua karena kebodohanmu!!. Harusnya kamu sudah memiliki anak berusia tiga tahun, jika saja kamu tidak menyia-nyiakan wanita terbaik pilihan mama. Kamu lihat sekarang, bagaimana pilihan kamu?. Dan lihat juga Gita yang sudah bahagia dengan suami barunya!!",
"Sebaiknya anda pulang, nyonya Tania!!", ucap Anisa saat melihat Tania hendak menyusul putrinya.
"Aku akan menemani Tari. Dia membutuhkan aku saat ini!!",
"Danar, minta supir mengantar mertuamu ke apartemen Tari!!", Danar mengangguk membuat Tania mendengus kesal.
Aku akan membalas ini suatu saat nanti, dasar wanita sombong!. Berani sekali dia mengusirku!"
__ADS_1
*
*
*
Seorang gadis masih setia memeluk lututnya, dia terus menitikkan air mata kala mengingat kejadian naas yang menimpanya tiga hari yang lalu. Bayangan kejadian menyakitkan itu kembali menghampiri ingatannya. Dan hanya tangis yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekecewaan pada takdir.
Anya Rosalia, gasia berusia 22 tahun. Seorang gadis yatim piatu yang tinggal dipinggiran kota. Sebagai seorang wanita yang memiliki paras cukup menarik, Anya bisa bekerja disalah satu perusahaan besar di ibukota, Royal Company. Tentu saja bukan hanya karena parasnya, tapi karena kemampuannya. Dia pribadi yang sopan namun sedikit tertutup. Itulah kenapa dia tidak memiliki banyak teman.
Hidup sebagai kalangan menengah membuatnya harus bekerja keras agar bisa hidup layak. Ibu meninggal saat dia masih kecil dan beberapa bulan yang lalu, ayahnya juga meninggalkannya karena sakit paru-paru.
Saat makam ayahnya masih basah, seorang rentenir datang menagih hutang sebesar 25 juta. Tentu Anya terkejut, dia tidak pernah meminjam uang kepada rentenir itu. Dan rupanya, sang paman yang merupakan kakak dari ayahnya-lah yang meminjam uang tersebut. Tidak sampai disitu, sertifikat rumah telah dijadikan jaminan hutang. Dan kalau dirinya tidak bisa membayar hutang tersebut. Maka rumahnya akan disita. Tentu Anya tidak akan membiarkan rumah peninggalan orang tuanya diambil orang. Dia akan melakukan apapun untuk membayar hutang tersebut setelah pamannya melarikan diri.
Gaji Anya diperusahaan cukup besar, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan terpaksa dia bekerja di klub malam sebagai pelayan pengantar minuman. Namun malam naas itu tak bisa ia hindari. Dan sejak saat itu, dia semakin menyendiri. Tidak memiliki saudara dan teman dekat, membuatnya tak bisa mempercayai siapapun sekarang. Dan karena kejadian itu, dirinya tidak bisa hidup tenang. Apapun yang dia lakukan selalu saja mengingat malam kelam itu.
Ayah, Ibu, kenapa nasibku seperti ini. Kenapa kalian tidak membawaku pergi dengan kalian. Anya lelah Yah, Bu. Anya ingin ikut kalian.
Begitulah kepiluan hati Anya, namun sesaat dia sadar. Jika dirinya masih diberi kesempatan untuk hidup, itu artinya dia harus kuat menjalani semuanya.
__ADS_1
Jika suatu saat aku bertemu dengan pria itu. Aku tidak akan memaafkannya. Dia sudah menghancurkan hidupku. Membuatku menjadi wanita hina yang tidak berharga.