
"HAH!!. Es apa?", tanya Gita mengulang pertanyaannya.
"Es Jambu Air, sayang!."
"Jambu Air, yakin?",
Dirga mengangguk semangat, "Kita ke dapur sekarang ya. Aku ingin kamu yang membuatnya!", ucapnya semangat.
Dengan terpaksa Gita mengikuti langkah suaminya menuju dapur. Dirga duduk dimeja makan dengan wajah sumringah. Gita sendiri langsung menyiapkan alat untuk membuat es-nya.
"Loh, ada yang bisa saya bantu, Non?", tanya bibi
"Di kulkas apa ada jambu air Bi?", tanya Gita
"Mana ada Non. Sekarang kan tidak musim. Lagipula tuan besar tidak begitu suka buah itu. Jadi bibi tidak pernah beli!."
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, bibi istirahat saja!."
Bibi langsung pergi meninggalkan dapur. Gita nampak berfikir, dimana dia akan mencari jambu air. Kalau belum musim begini, dimanapun pasti tidak ada. Dia melirik suaminya yang duduk seperti anak kecil sedang menunggu diberi makan ibunya. Astaga, wajahnya itu kenapa memelas sekaligus menggemaskan, sih?.
Ana, ya Ana. Bathin Gita
"Mau kemana?", tanya Dirga yang melihat Gita hendak meninggalkan dapur.
"Mau ambil ponsel, disini tidak ada jambu air. Aku akan menelpon Ana, sepertinya didepan rumahnya ada pohon jambu air!."
"Pakai ponselku saja!", ucap Dirga sambil menyerahkan ponselnya kepada Gita.
Perempuan itu menerima ponsel Dirga dan mencari kontak milik Ana lalu menghubunginya.
"[Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?]", tanya Ana
"[Em, An, ini aku, Gita!]", sahut Gita
"[Oh iya, ada apa Git? Tumben telpon pakai ponselnya si bos!]", tanya Ana
"[An, apa jambu air didepan rumahmu ada yang matang?]", tanya Gita sungkan.
"[Apa bumil sedang ngidam?]", tanya balik Ana.
"[Pak bos yang ngidam!]."
"[Hah, keren juga ya. Yang hamil siapa yang ngidam siapa?. Untung saja jambuku sudah berbuah, walau hanya dua biji]", Ana terkekeh geli diseberang sana.
"[An, maaf merepotkanmu. Apa boleh jambu itu untukku. Aish, kau tidak lihat ekspresi bos mu saat ini. Dia seperti anak kecil yang menunggu diberi makan oleh ibunya]", Gita ikut terkekeh.
__ADS_1
"[Aku akan menyuruh Andre mengantarkannya kesana. Kebetulan dia ada disini]."
"[Terima kasih banyak, An. Kau yang terbaik]."
Guta bernafas lega, untung saja dia ingat jika didepan rumah Ana ada pohon jambu air. Kalau tidak, pasti sekarang dia akan menyuruh pelayan berkeliling hanya untuk mencari buah yang sedang tidak musim itu.
"Bagaimana, ada 'kan?", tanya Dirga
"Ada, tapi cuma dua biji. Sebentar lagi Andre akan mengantarkannya kemari!."
Dirga tersenyum, dia memandangi wajah istrinya yang terlihat semakin cantik dari hari ke hari.
"Kenapa memandangiku terus?", tanya Gita salah tingkah.
"Apa salah kalau seorang suami memandangi istrinya sendiri?."
"Ya tidak, tapi aku risih!."
"Ck, sejak kapan kamu risih, biasanya juga suka kalau aku pandangi terus!."
Gita mendengus, sejak dirinya hamil entah kenapa suaminya semakin menyebalkan. Apa mungkin bawaan bayi, ish mana ada hal seperti itu.
Ibu hamil muda itu memilih menyiapkan bahan lain untuk membuat es jambu air yang di idamkan sang suami.
"Biar aku saja. Jangan dekat-dekat dengan pria manapun. Aku tidak suka!."
Ck, posesifnya kambuh. Bathin Gita
Dirga berjalan kedepan, dia bisa melihat jika Andre sedang duduk di ruang tamu.
"Selamat siang, Pak!", sapa Andre ramah
"Mana jambunya?", todong Dirga
Andre memberikan kresek kecil berisi jambu air yang tadi ia petik didepan rumah tunangannya.
"Kalau begitu, saya pulang dulu Pak!", pamit pria berkulit sawo matang itu.
"Tunggu, kamu belum makan siang kan? Ayo sekalian makan siang disini!."
"Eh, tidak usah Pak!", tolak Andre
"Jangan sungkan, anggap ini perintah!."
Andre mau tidak mau akhirnya mengekori Dirga ke ruang makan. Walau Dirga adalah suami dari sahabat tunangannya. Tetap saja dikantor Andre adalah bawahan, tentu dia merasa sungkan diajak makan bersama bos nya itu.
__ADS_1
"Loh, Andre kamu ajak kemari?", tanya Gita. Andre hanya tersenyum canggung.
"Aku yang suruh, biar dia makan siang dirumah kita. Suruh bibi memasak makan siang untuk kita!", Gita mengangguk, dia segera meminta bibi untuk memasak makan siang untuk mereka. Sementara Dirga memberikan jambu air yang diperolehnya dari Andre pada sang istri.
"Ini jambunya mau dibuat es seperti apa?", tanya Gita
"Di jus, kasih es batu dan gula merah!."
"Gula merah, kamu yakin? Bukannya dikasih susu dan gula pasir!."
"Aku ingin pakai gula merah!."
Gita menghela nafas, dia mencuci jambu tersebut lalu membuang bijinya. Dipotong dan dimasukkan kedalam blender yang sudah dia siapkan. Tak lupa sesuai pesanan Dirga, Gita menambahkan es batu juga gula merah kedalam blender.
"Mau kangsung diminum?", tanya Gita
"Jangan dituang dulu, biarkan dingin didalam blender!." Gita hanya mengangguk, lalu membantu bibi memasak.
Setengah jam kemudian, masakan sudah siap di meja makan. Gita segera memanggil Januar untuk bergabung di meja makan.
"Terima kasih, Nak. Loh, ada Andre juga rupanya!", sapa Januar. Dia mengenal Andre saat pernikahan Dirga dan Gita waktu itu.
"Selamat siang Pak Januar?", sapa Andre ramah
"Siang. Ayo silahkan dinikmati makan siangnya!."
Mereka makan siang bersama dengan hikmat, sesekali bercengkrama santai menambah suasana semakin hangat dan akrab.
"Sayang, es nya mau diminum sekarang?", tanya Gita
"Es apa?", tanya Januar yang tidak tahu
"Es jambu air, Pa. Mas Dirga lagi ngidam, pingin es jambu air dicampur gula merah!", jawab Gita
Januar bergidik ngeri mendengar penuturan sang menantu. Pasti es itu rasanya sangat aneh.
"Tolong ambilkan es-nya sekarang, sayang!."
Gita berdiri kemudian mengambil gelas dan menuangkan es jambu air berwarna merah kecoklatan itu.
"Ini!", Gita menyerahkan es nya kepada Dirga. Namun pria itu tidak meminumnya, dia justru tersenyum ke arah Andre.
"Andre, tolong kamu minum jus itu!."
Glek
__ADS_1